
Sah!
Rasanya masih belum percaya kalau aku sudah menikahi Aluna, muridku yang manja dan sangat keras kepala.
Setengah jam lalu acara itu selesai, dan kami dinyatakan sah sebagai suami istri. Aluna tidak hentinya menangis kala pengambilan sumpah pernikahan di depan penghulu.
Jelas dia masih dan tidak akan terima dengan pernikahan ini. Berulang kali dia melayangkan tatapan penuh kebencian padaku. Kalau diibaratkan benda tajam, tatapan tajam itu sudah sejak tadi menebas leherku.
Asal dia tahu, ya, aku juga tidak sudi menikah dengannya. Hingga saat ini, aku belum memberitahu Tania. Aduh, bagaimana ini? Minggu depan Tania akan pulang dari Jerman dan dia pasti akan mencariku.
Lamunan panjangku buyar mendengar langkah Opa dan juga ibu yang memasuki ruangan tempat aku dan Aluna berada.
Aku sempatkan mendongak, menoleh ke arah Aluna, sekaligus mengabaikan tatapan membunuh dari Aluna. Dalam satu ruangan, kamu duduk berdampingan setelah tadi selesai melakukan akad. Cincin di jari manisnya- milik ibu- masih melingkar di sana.
Anehnya, melihat hal itu kenapa jantungku jadi berdebar, ku layangkan pandanganku ke arah lain, jangan sampai saling adu pandang dengannya.
"Kalian kenapa masih berdiam diri seperti itu, ngobrol, dong," ucap Opa Jer tersenyum padaku, sedikitpun tidak sudi menoleh pada Aluna.
__ADS_1
Opa Jer saat ini sedang berada di tingkat kemarahan paling tinggi. Dia marah sebesar-besarnya pada gadis biang onar itu.
Dua hari sebelum menikah, Aluna kabur dari rumah. Dicari kemanapun tidak menemukan gadis itu. Opa Jer bahkan sudah mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari gadis itu. Imbasnya, aku juga harus ikut mencari.
Padahal, lebih baik gadis itu pergi yang jauh, agar pernikahan kami batal sekalian. Nyatanya, tidak mudah bersembunyi dari Opa Jer. Malam kabur dari ruang, subuhnya gadis itu sudah ditemukan di sebuah sirkuit dadakan yang dijadikan reli balap liar bagi anak-anak berandal yang katanya ingin mencari jati diri, padahal justru menjerumuskan ke dalam pergaulan yang salah, dan acap kali dianggap sampah masyarakat.
Aluna ditarik paksa, bahkan di depan ku, Opa Jer menampar gadis itu. Amarahnya semakin mencuat kala Aluna masih tetap menentang.
"Aku lebih baik mati dari pada harus menikah dengan pilihan Opa. Bagiku dia hanya anjing penjilat yang berharap diberi maka. Aku akan tetap pergi dengan Digo, terserah Opa setuju atau gak! lebih baik mulai sekarang kita tidak punya hubungan keluarga lagi, dan Opa gak punya hak mengatur ku!"
Tangan Opa sudah melayang di udara, tinggal diayunkan ke pipi Alana. Namun, dorongan besar untuk melindungi gadis itu tiba-tiba saja muncul. Reflek aku maju di antar keduanya, menarik tangan Aluna dan membuatnya berdiri di belakang ku.
Aku sendiri gak tahu apa yang baru saja aku perbuat. Harusnya aku biarkan saja gadis tengil ini digampar lagi, terlebih karena baru saja dia menghinaku. Namun, sungguh aku gak tega melihatnya di tampar untuk kedua kalinya.
Mungkin, rasa sakit di pipi bisa hilang dalam beberapa jam, tapi ingatan yang menorehkan luka itu akan sudah untuk dilupakan dan itu akan jadi duri dalam suatu hubungan.
"Jangan ikut campur, Juna! Ini urusan Opa dengan gadis nakal ini. Kau belum menikah dengannya, jadi belum punya hak untuk membelanya!"
__ADS_1
Opa mundur, lalu menjatuhkan dirinya duduk di sofa masih dengan embusan napas yang beras. Bibirnya mencabik, tapi tidak jelas apa yang dikatakan oleh Opa Jer.
"Aku mohon, Opa. Dia akan jadi pengantin besok, masa harus dengan wajah memar? Apa nanti kata para tamu?"
Opa Jer tampak menimbang sesaat, lalu mengangguk. "Kau harus berterima kasih pada Juna. Dia menyelamatkanmu dari amukanku saat ini!"
Tampaknya Aluna tidak akan pernah sudi melakukan hal itu. Biarkan saja lah...
"Ada apa Opa minta aku ke sini?" desak Aluna, dia sudah kebal mendapat kabar buruk. Memangnya ada yang lebih buruk dari menjadi istri Arjuna Weda, guru cool di sekolahnya.
Aluna melirik sekilas ke arah Ibu yang sejak keluar dari ruang kerja Opa Jer terlihat murung.
"Opa sudah bicara dengan mertuamu, dan beliau setuju. Kamu itu menantu satu-satunya dalam keluarga mereka, karena Juna anak tunggal. Jadi, baik-baik lah bersikap terhadap mertuamu." Nasehat Opa tentu saja diabaikan oleh Aluna.
"Terus?" lanjut Aluna ketus. Sudah jam dua siang dia ingin segera bergegas pergi dari sana, teman-temannya sudah menunggu, terlebih Digo. Pria itu akan mengikuti balap liar lagi. Kata Digo, kalau menang, Digo pasti memberikan padanya untuk foya-foya kan.
Kalau bukan karena nasehat Digo yang mengatakan kalau dia akan tetap ada di sisi Aluna, meski apapun yang terjadi, gadis itu tidak akan mau pulang.
__ADS_1
"Jangan takut, kamu pulang, ya, Sayang. Apapun yang dikatakan dan dilakukan Opa mu, jangan kamu lawan. Kita biarkan keadaan kondusif dulu, lalu setelah Opamu tenang, kita kabur berdua!" tukas Digo menenangkan Aluna saat gadis itu kami jemput.
"Karena kamu sudah menikah, jadi, sekarang kamu adalah tanggungan Juna, oleh karena itu, mulai saat ini, kamu akan tinggal dengan Juna di rumah mertuamu!"