Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 65


__ADS_3

Ungkapan cinta dari bibir Juna semakin membuat Aluna ingin menangis karena haru. Pernyataan yang selama ini hanya berada dalam angan-angannya saja.


Setiap sentuhan Juna, masih tetap sama seperti yang dia ingat lima tahun lalu, begitu lembut dan memabukkan. Pria itu seolah pemilik tubuhnya, tahu bagian mana yang akan terbakar jika disentuh lebih intens.


Aluna masih bersemayam dalam pelukan Juna. Tidak sedikitpun berani mengangkat wajahnya yang saat ini dia benamkan di dada pria itu.


"Apa yang buatmu tersenyum?" suara Juna membuat Aluna segera mengunci bibir. Bahkan senyumnya yang sejak tadi menghiasi bibir tipisnya segera menghilang.


Tanpa mengangkat kepala, Aluna berusaha mengintip wajah Juna, masih seperti tadi, mata tertutup. Lantas bagaimana pria itu bisa mengetahui kalau dirinya sejak tadi tidak henti tersenyum?


"Kau mau bilang, atau aku akan melahapmu sekali lagi?" lanjut Juna menggulingkan tubuh Aluna hingga berada tepat di bawah Juna.


Gadis itu tidak bisa mengelak. Pipinya yang bersemu merah menandakan kalau saat ini dia tidak sanggup ditatap Juna dengan kilat mata yang penuh mendamba. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau mereka kembali mengulang lagi percintaan yang penuh kenikmatan itu.


"Ampun... Iya, aku akan bilang," jerit Aluna ketika Juna bersiap mencium kembali dada gadis itu. Lihat saja, bulu kuduknya meremang hanya dengan sentuhan kecil dari ujung bibir Juna.


Juna menopang kepalanya dengan satu tangan, menghadap ke arah Aluna dengan posisi miring. Seperti biasa, setiap memandang wajah cantik gadis manja itu, dia akan selalu terpukau, dan merasakan damai dalam hatinya.


"Aku menunggu," ucap Juna dengan senyum di bibirnya yang berhasil membuat Aluna kikuk.


"Bisakah kau jangan terlalu dalam menatapku? Aku malu!"


"Kenapa harus malu? Semua yang ada pada dirimu juga sudah aku lihat dan aku sentuh," goda Juna mendekatkan wajahnya. Satu kecupan mendarat di kening Aluna. Tindakan manis itu membuat Aluna merasa sangat dicintainya.


"Iih, Juna! Bisa gak jangan ngomong se-frontal itu? Aku makin malu, nih!"


Juna tidak ingin membuat Aluna jadi tidak nyaman. Kembali dia merebahkan tubuhnya, lalu menarik gadis itu masuk kembali ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Jadi, kenapa kau tersenyum?"


"Aku gak nyangka aja kalau aku bisa kembali jatuh ke pelukanmu. Aku pikir saat semuanya telah usai, aku akan kembali meninggalkan mu, seperti malam itu. Syukurlah, gak ada pesan masuk ke ponselmu yang buatku hancur lagi," terang Aluna dengan suara tercekat. Dia diam, tapi juga tahu kalau saat ini air mata gadis itu mungkin sudah merebak di pelupuk matanya.


Juna menarik tubuh Aluna semakin merapat ke tubuhnya. Memberikan ciuman lama di puncak kepala gadis itu. Dia menyadari kalau Aluna menyimpan kesedihan serta penyesalan atas tindakannya malam itu.


Terlebih setelah gadis itu mendengar penjelasan dari Tania. Namun Juna tidak mau menyalahkan tindakan Aluna yang tidak punya pertimbangan. Anggap saja perpisahan panjang ini adalah satu ujian yang harus mereka lalui hingga satu sama lain menyadari kalau mereka saling mencintai.


"Jangan terlalu menyalahkan dirimu. Anggap saja ini semua memang harus kita lalui agar cinta kita semakin kuat. Yang terpenting dari semua, tidak jadi soal selama apa kita berpisah, asal kembali bisa bersama, itu sudah lebih dari cukup."


"Al," Juna menangkup dagu Aluna, memohon gadis itu melihat matanya.


"Aku mencintaimu. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Memilikimu dalam hidupku. Menikahlah denganku," pintanya dengan begitu tegas tapi tetap sarat akan permohonan.


"Aku akan bicara pada suamimu. Aku akan bilang, kalau kita saling mencintai, dan ingin bersama. Tidak ada gunanya dia menahan mu di sisinya, karena pria yang kau cintai bukan dirinya, tapi aku!"


Wajar, sih. Selama ini Dimas selalu pasang badan untuknya dan Dewa. Dimas pria yang baik, hanya sayang, hati Aluna tidak bisa perpindahan ke lain hati.


Aluna menangkap pipi Juna dengan kedua tangannya. Gemas banget melihat riak wajah Juna yang begitu tertekan dan hampir putus asa.


Juna tentu sadar, adalah dosa meniduri istri orang lain. Tapi akal sehatnya mati dengan perasaan cintanya yang begitu besar pada Aluna.


Dulu, mereka adalah suami istri, tapi tidak sekalipun melakukan hubungan intim. Kenapa setelah berpisah, baru menyadari kalau keduanya lebih baik bersama karena saling cinta?


Aluna menggesekkan ujung hidungnya pada ujung hidung Juna, lalu tidak tahan melihat wajah Juna yang gelisah menunggu jawabannya, Aluna menyapukan bibirnya pada bibir Juna.


"Dimas bukan suamiku. Aku tidak menikah dengan pria manapun selain dirimu."

__ADS_1


Bola mata Juna kembali bersinar. Satu rintangan sudah jelas dipatahkan. Sejak kesadarannya muncul, dia sempat mengutuk dirinya karena sudah mengambil kesempatan dengan menodai Aluna yang kini menjadi istri orang lain.


"Benarkah, Al? Jadi benar, kamu gak menikah sama Dimas?"


Aluna mengangguk dan tersenyum. Perasaan hangat dia rasakan di hatinya karena sudah membuat Juna begitu gembira.


"Oh, ini hal yang baik. Jadi, benar dugaannya, kalau Dewa anakku? Dewa darah daging ku? Anak kita?"


Aluna jadi semakin gemas dan ingin menggoda Juna. Dia memilih untuk diam sambil memandang pria itu yang tengah menunggu jawabannya.


"Jawab, Al. Aku mohon, Sayang."


Aluna jadi tidak tahan melihat wajah menderita Juna. Memelas meminta jawaban Aluna, baru dia bisa tenang.


"Iya. Dewa anak kamu. Darah daging mu. Bahkan sifat dingin dan sok cool nya nurun dari kamu!"


"Terima kasih, Sayangku. Terima kasih sudah buatku sangat bahagia!"


Juna melompat dari ranjang, bersorak gembira, tanpa sadar dirinya saat ini tidak mengenakan sehelai benangpun.


Aluna hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucu Juna yang bak anak kecil yang diberitahukan akan mendapat hadiah besar.


"Kalau begitu, kita harus segera bicara pada Opa mu. Aku ingin melamarmu lagi. Aku ingin menikah mu, Al. Kamu mau 'kan menikah denganku?"


Senyum Aluna sirna. Inilah yang jadi pergumulan dalam benaknya. Apa mungkin Opanya akan mau mengizinkan mereka menikah? Terlebih selama ini Opa Jer sangat membenci Juna, ditambah lagi ketika mengetahui Aluna hamil anak Juna, tapi pria itu seolah tidak mau bertanggung jawab.


Sebenarnya semua hanya kesalahpahaman. Juna bukan tidak mau bertanggung jawab, dia justru pergi mencari Aluna, tapi tidak menemukan karena dibawa pergi oleh Opa Jer, menyembunyikan kehamilan Aluna hingga gadis itu melahirkan.

__ADS_1


Opa Jer juga tidak bisa disalahkan, dia ingin yang terbaik untuk gadis itu. Ingin mengerikan tempat yang tenang dan nyaman selama masa kehamilan Aluna agar gadis itu tidak tertekan oleh sanksi sosial masyarakat karena hamil dan dianggap tidak punya ayah untuk anaknya.


__ADS_2