Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 11


__ADS_3

Aluna mengurung diri di kamar selama dua hari, tidak mau makan. Saat ibu mengajak makan, kembali mulutnya terkunci, hanya tangisan yang terdengar.


Kalau aku bilang, biasalah perasaan remaja yang lagi putus cinta. Saat ini hati Aluna pasti kecewa, dia udah bela-belain minggat dari sini, berharap pacarnya akan mau membawanya pergi, memberi tempat tinggal, nyatanya? Digo bahkan memintanya kembali. Mereka bertengkar dan pria itu pergi meninggalkan Aluna di tempat aku menemukannya sedang menangis.


Begitu kami memasuki pekarangan rumah, ibu yang tampak menunggu di depan pintu, berlari menyambut kedatangan kami.


Senyum ibu terlihat cerah, melayangkan tatapan terima kasih padaku. "Ibu tahu kamu bukan orang jahat, pasti khawatir akan keadaan Aluna," cicit ibu ketika Aluna berada di kamar mandi.


Entah karena omelan ibu, atau karena memang khawatir akan keadaan gadis itu, aku memacu motorku menuju area berkumpul Digo, karena aku sudah pernah ke tempat itu, jadi tidak perlu meraba-raba lagi.


"Jun, panggil istri kamu, ajak makan," pinta ibu. Istri? Kenapa mendengar nya terasa geli di telinga. Harusnya kalau memang dia adalah istriku, bukan berniat kabur sama pria lain.


"Juna! Kamu dengar gak Ibu ngomong apa?"


"Dengar, Bu. Biarin aja. Kalau gak mau makan, artinya gak lapar. Aku lapar, Bu, kita makan duluan."


Ibu hanya melihat dengan sorot tajam sembari geleng-geleng. Merasa tidak ditanggapi, Ibu batal menyendok nasi ke piringnya, menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi. Terus saja menatapku melahap makan malam ku. Ibu kalah, dia pun meninggalkan ku seorang diri.


Ku lirik pintu kamarku. Rasa kesal ku pada gadis itu semakin menebal. Gara-gara tingkahnya, dia sudah merusak hubungan baik antara ibu dan anak.


Namun, lagi-lagi aku pria berhati lembut. Demi tidak mau melihat ibuku sedih, aku pun merendahkan hatiku untuk menemui Aluna.


Tok... Tok... Tok...


Hanya formalitas, tanpa dipersilakan masuk, aku juga sudah berada di kamarku sendiri. Wanita itu masih larut dalam tangisnya. Kadang aku berpikir, apa mungkin gadis itu punya stok air mata yang banyak?


Aku sengaja meletakkan piring di meja yang ada di samping ranjang, demi meminta perhatiannya, karena tangisnya, dia bahkan tidak sadar kalau aku sudah berada di sana.


"Mau apa lu masuk? Lu mau ngetawain gua, ya?" hardiknya menatap marah padaku.

__ADS_1


Aku masih diam, berdiri tegak di tempatku dengan melipat tangan di dada.


"Kamu harus makan. Itu aku bawa."


"Gak sudi! Bawa aja sana!"


Kalau saja ini adikku, pasti sudah aku jitak. Boleh aja, sih, patah hati atau marah sama pacar, tapi ya, gak menyiksa diri juga kayak gini. Aku dan Tania juga pernah bertengkar, tapi aku yakin gadisku itu tidak ngambek hingga gak makan kayak bocah kecil ini.


"Ngapain lu masih di sana? Pergi, sana!"


"Heh! Ini kamar ku, rumahku. Kau itu yang numpang, gak seharusnya kau ngusir-ngusir seenak jidat mu!"


Sikap diamku selama ini pecah. Anak ini benar-benar harus diberi didikan agar bisa menghargai orang lain.


Terbukti, nada bicaraku yang tinggi, membuatnya terdiam, menatap ku dengan bola mata merah yang tampak lelah menangis itu. Detik itu juga dia diam.


Saat itu juga, aku sadar, kalau gadis itu ada kalanya harus ditegaskan, agar mengerti bahwa setiap manusia itu, harus saling menghormati.


Terus saja dia mengamati tangan ku yang memegang sendok, lalu setelah isi sendok lengkap akan nasi, sayur, dan ikan, aku menyodorkan ke depannya.


"Gak mau!"


"Makan. Biar kamu punya kekuatan untuk nangis lagi. Pura-pura kuat dan bahagia itu perlu energi."


Dia diam, tak bergeming sedikitpun menanggapi omonganku. "Gua gak lap..."


Kalimat itu menggantung di udara, terpenggal oleh bunyi yang berasal dari perutnya yang menjelaskan keadaannya saat ini.


"Buka mulut mu!"

__ADS_1


Malu-malu, dan dengan wajah kemerahan Aluna akhirnya membuka mulutnya, menerima suapanku.


Suapan pertama disambut dengan baik, lalu suapan kedua, dan seterusnya jadi tidak merasa malu, bahkan kini tampak tidak sabaran menunggu suapan berikutnya.


Aku mengulum senyum, tapi berusaha untuk tidak terlihat. Jangan sampai gadis manja ini ngambek lagi, berasa ditertawakan hingga kembali ke mode awal, yaitu mogok makan.


Pada akhirnya makana itu ludes, dan pada suapan terakhir, kami saling adu pandang, tapi buru-buru Aluna membuang muka.


"Enak?" tanyaku menunggu reaksinya sekaligus jawabannya, tapi tentu saja itu mustahil. Namun, sikap diamnya aku anggap tanda setuju akan omongan ku.


"Sesekali ucapkan terima kasih pada Ibu, dia memasak ini untuk mu, agar kau mau makan. Aku yang anak kandungnya saja, tidak berani menyusahkan beliau sebanyak ini."


Aku keluar tanpa menunggu jawabannya. Mungkin ucapan itu menyesap ke relung hatinya, atau mungkin juga dia abaikan seperti biasa, masuk telinga kanan keluar telinga kiri.


Tak lama aku kembali, membawakan segelas air hangat yang kali ini dia terima tanpa adanya perdebatan panjang.


Sebelum keluar, aku memberi sedikit wejangan, terserah dia mau dengar atau gak.


"Sebagai wanita, seharusnya kau memiliki harga diri, menjaga dirimu agar orang lain menghargai dan tidak menyepelekan mu. Dalam berpacaran, pertengkaran itu biasa, fokus saja pada dirimu, sekolah mu dan masa depanmu. Kalau dia benar-benar sayang padamu, dia akan menyesal sudah menyakiti hatimu, dan kembali mencarimu. Aku harap kau berubah, berpikir lah dewasa, jangan karena kemarahan mu pada Opa dan juga rasa kesal pada pernikahan ini kau tidak mau sekolah lagi. Semua bisa dibicarakan. Kalau kau bisa membuktikan pada Opa Jer bahwa kau bisa menyelesaikan sekolahmu dengan baik dan tepat waktu, aku yakin apapun permintaan mu pada Opa, akan dikabulkan, tidak terkecuali mengakhiri pernikahan ini!"


Aluna terlihat terkesiap mendengar ucapan ku yang panjang kali lebar. Dia diam, menatap ku sekilas, lalu kembali membuang muka, menyelamatkan ego dan harga dirinya yang setinggi Himalaya.


Aku keluar dari kamar setelah mengambil sarung dari lemari. Lagi-lagi ibu sudah menungguku di luar kamar. Tanpa berkata apapun, hanya mengusap punggungku, tapi aku tahu apa arti usapan ditambah senyum bangga itu.


"Pamit dulu, Bu," ucapku yang juga sedikit merasa malu.


Ibu hanya mengangguk. Aku melangkah keluar rumah, merasakan udara dingin yang menusuk tulangku yang sudah ku bungkus oleh jaket tebal. Malam ini, giliran ku ronda di komplek perumahan kami.


Seperti ibu, aku juga merasakan lega dalam dada. Kalimat terakhir ku itu sekolah menjadi motivasi untuk Aluna bisa bangkit dan menata hidupnya lagi. Jika dia lulus dengan nilai memuaskan, Opa Jer pasti bangga. Soal perceraian, asalkan lulus SMA, hal itu pasti terjadi.

__ADS_1


Memikirkan statusku yang akan jadi duda, aku hanya bisa meringis, karena mengingatkanku bahwa Tania akan tiba Senin depan, dan aku harus menyiapkan penjelasan panjang dan lengkap, dan berharap semoga saja Tania bisa mengerti.


__ADS_2