
Sorot mata Juna lurus menatap Aluna yang sedang meliukkan tubuhnya menari di depan Rizal. 10 menit berlangsung dan cukup untuk membakar dadanya.
Aluna benar-benar tahu bagaimana cara membuatnya gila. Awalnya gadis itu menolak tegas ajakan mereka yang ingin singgah ke klub, tapi karena Juna menawarkan diri untuk mengantarnya, secepat kilat dia menerima ajakan itu.
Tampaknya Aluna tahu kalau Rizal sukai dirinya hingga memutuskan untuk menghukum Juna dengan menerima perhatian dari Rizal.
"Kamu gak mau dance juga kayak mereka?" tanya Mei yang setia duduk bersama Juna di kursi mereka. awalnya Bram tentu saja menawarkan tangannya kepada Mei, tapi dengan tegas gadis itu menolak karena berharap Juna lah yang mengajaknya berdansa. Tidak ingin kala malu, Bram mengajak Lingling yang disambut hangat gadis itu.
Namun setelah dua lagu berlalu Juna masih tetap betah duduk di kursinya menghabiskan cairan yang membakar tenggorokan yang berada di gelasnya.
"Aku lagi malas, Mei. Sorry, ya."
Mei hanya mengangguk sembari tersenyum. meskipun dia ingin sekali berdansa dengan Juna, tapi kalau pria itu tidak mau dan hanya memilih duduk, maka dia rela menemaninya. Bukankah yang terpenting mereka tetap bersama?
Keempatnya kembali ke meja, bergabung dengan Mei dan Juna dengan wajah riang. Juna secara terang-terangan menatap wajah Aluna. Ingin sekali menghentakkan gadis itu, agar dia sadar bahwa apa yang sudah dia lakukan membuat Juna marah.
"Panas, ya, seru juga," celetuk Lingling. Mulai mengambil posisi masing-masing mengitari meja bundar. Rizal yang jalan paling belakang, buat Aluna masuk dan duduk di samping Juna dalam keadaan terpaksa.
"Bersenang-senang?" tanya Juna dengan menaikkan sebelah alisnya. Benar-benar gadis itu sudah buatnya terbakar cemburu yang sanggup membuatnya saling bunuh dengan pria mana pun demi mendapatkan hati gadis itu.
"Ya, begitu lah. Gak lihat keringat yang membasahi tubuh ku? Basah sampai ke dalam-dalamnya," bisik Aluna pada kalimat yang terakhir. Sudut bibirnya terangkat, tersenyum mengejek Juna.
Juna memiringkan kepalanya, agar apa yang akan dia bisikkan di telinga gadis itu hanya sebagai konsumsi mereka saja. "Oh, begitu. Perkataanmu mengingatkan ku, bagaimana bentuk dan rasanya."
Sontak, wajah Aluna memerah se-merahnya. Niat ingin balas dendam pada Juna dengan memprovokasi perasaan pria itu, tapi justru Aluna yang kena getahnya.
Memori kembali berputar pada malam panas yang mereka lalui. Tidak sempurna, tapi cukup buatnya terbakar hingga tubuhnya hanya bisa merinding dengan membayangkan tubuh Juna saja.
__ADS_1
"Dasar brengsek!" umpat Aluna dalam hati, melotot pada Juna. Tapi dia sudah membulatkan tekad untuk menghancurkan pria itu sebagaimana sudah dilakukan Juna padanya.
"Kasihan sekali kau, masih terbelenggu pada kenangan tak berarti. Kau harus bisa move on. Itu hanya malam terkutuk yang tidak berarti dan aku sudah tidak ingat rasanya."
Dada Juna naik turun. Gadis itu sudah menguji kesabarannya hingga batas terendah.
"Terkutuklah hatiku yang hanya bisa mencintai gadis sialan seperti dia!" umpat Juna mati kamus, mengepal tinjunya demi menahan amarah.
"Aku tidak yakin, Manis. Atau kalau pun kau sudah lupa, aku siap mengingatkanmu kembali, bagaimana caramu mengerang di bawah ku," tantang Juna menaikkan satu alisnya. Dia tidak akan mudah kalah dari gadis sombong itu.
"Tutup mulutmu, dasar kau brengsek! Ingat, aku gak mau siapapun dari mereka tahu kalau kita saling kenal, bahkan pernah terlibat dalam pernikahan gila itu!" ucap Aluna tajam, masih dengan suara pelan, agar tidak ada yang mendengar. Syukurnya, hentakan musik yang dimainkan DJ membuat obrolan mereka tenggelam.
"Aku ke toilet dulu," ucap Mei berkata lembut pada Juna, membawa leher Juna ke arahnya.
"Iya. Hati-hati."
Aluna membuang muka. Kebencian dirasakannya kembali pada Juna karena bersikap lembut pada gadis lain.
"Aku juga mau ke toilet." Aluna berdiri, melewati Rizal mengejar langkah Mei.
Gadis itu hanya mencari alasan. Dia tidak benar-benar ingin ke toilet. Buktinya, dia hanya mencuci tangan di wastafel, menunggu Mei keluar.
"Al, kamu buat terkejut aja," ujar Mei tersentak begitu buka pintu wajah Aluna menyambut. Kamu ngantri mau ke sini?" Mei menunjuk bilik toilet yang dia pakai tadi.
"Oh, gak, Kak. Cuma mau cuci tangan sama benerin make up."
Seketika niat Aluna yang ingin mengintrogasi Mei batal. Dia tidak ingin gegabah hingga Mei jadi curiga. Selama ini dia tidak tahu kalau Juna lah yang mengantar Mei pulang, padahal beberapa kali dia menginap di apartemen mereka.
__ADS_1
Tujuan Mei datang ke Jerman memang ingin mencari pria yang sudah berhasil mematahkan hatinya. Berniat ingin membuktikan kalau Juna masih hidup dan pantas menerima balas dendamnya.
Beberapa informasi yang dia dapatkan sebelum berangkat, membuatnya semakin dekat dengan target, seperti tempat kerja Juna, tapi sayangnya beberapa kali datang ke sana hanya sekedar mengintai, Aluna tidak pernah bertemu dengan pria itu.
Sampai hari ini, Lingling memaksanya untuk ikut acara charity itu dan mempertemukan dirinya dengan Juna, mantan suami, atau lebih tepatnya masih berstatus suaminya.
Banyak yang terjadi selama dua tahun perpisahan mereka. Beberapa bagian membuat Aluna membenci dan rasanya sulit untuk memaafkan Juna.
"Kak Mei udah lama kenal sama Rizal dan teman-temannya?" Meluncur juga pertanyaan itu.
"Gak terlalu lama, sih, tapi cukup lah buat aku mengenal Juna. Kau tahu, Al, aku jatuh cinta pada Juna, dan sangat mencintainya."
Aluna tidak terkejut. Sorot mata Mei setiap memandang Juna menjelaskan lebih dari cukup.
"Kakak yakin sudah mengenalnya dengan baik? Latar belakangnya?"
Mei diam sesaat. Dia memang tidak pernah berpikir terlalu jauh. Siapa Juna sebenarnya, dari keluarga yang bagaimana, apakah dia punya masa lalu yang buruk, semisal berhubungan dengan tindakan kriminal. Sedikitpun tidak pernah. Mei hanya mengikuti kata hatinya. Juna adalah pria yang baik dan dia pantas untuk dicinta olehnya.
"Aku gak peduli bagaimana masa lalunya. Aku mengenal Juna yang sekarang dan ingin menggenggam tangannya melewati masa depan."
Jawab Mei membuat ulu hati Aluna sakit. Mei yang begitu lembut saja bisa melihat sisi baik Juna, mencintai hingga seperti kuntum bunga yang merindukan hujan di musim kemarau. Begitupun dengan Tania. Lantas, apa yang salah dengan dirinya?
Keduanya kembali ke meja. Tampaknya yang lain sudah bersiap-siap untuk pulang.
"Loh, kita udah mau pulang?" tanya Mei menatap Juna.
"Iya, Mei. Udah jam 11 malam. Besok kami ada janji ketemuan dengan klien."
__ADS_1
Lagi-lagi Aluna melihat Mei mengangguk patuh. Keenam nya berjalan beriringan, dengan sedikit canggung Mei memberanikan diri melingkarkan tangan di lengan Juna.
"Kamu yang antar pulang, ya?"