Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 23


__ADS_3

Berulang kali aku membujuk Alana untuk mau bicara denganku, tetap saja tidak berhasil. Diam tetap bungkam, tidak menjelaskan alasan kemarahannya.


Dua malam berikutnya, aku mendengarnya menangis. Aku pikir suara apa. Tidurku yang telah terlelap, seketika terbangun. Ruang kamar gelap, sepi dan mencekam. Ku paksakan memandang sekeliling ku lalu tertuju ke arah Aluna, lantas aku melirik jam di ponselku, pukul dua pagi.


Apa yang membuat gadis itu menangis di pagi buta ini?


Hal pertama yang aku lakukan tentu saja memusatkan pandangan sumber suara. Aku segera mendudukkan diri, mengamati punggung yang kerap membelakangi ku, dan saat ini, berguncang hebat, menandakan pemiliknya sedang merusak keras menahan tangisnya.


Kekhawatiran membuatku segera bangkit dan mendekat. Ku beranikan duduk di sisi tempat tidur.


"Al, kenapa menangis? Ada apa?" tanya ku lembut seraya meraba punggung gadis itu.


Seketika Aluna duduk dan masuk ke dalam pelukanku. Tangisnya yang sejak awal ditahan, kini pecah memekakkan telinga, menggema dalam ruangan.


Aku diam, membiarkan dia menghabiskan sisa air mata yang mungkin sejak tadi sudah niat dia keluarkan.


Aluna masih tidak mau menjawab. Terus menangis sembari mengeratkan pelukannya. Telapak tanganku naik turun di punggungnya. Aku tebak mungkin gadis itu ketakutan karena listrik padam.


"Ssssttt, udah jangan takut, ada aku di sini." bisikku menenangkan.


Perlahan tangis Alana berhenti, hanya terdengar de*sahan napas yang mulai teratur.


"Kamu kenapa?"

__ADS_1


"Kenapa sih, listriknya padam?"


Berarti benar, kan, dia nangis karena ketakutan lampu padam.


"Di sini memang biasa ada pemadaman listrik bergilir. Mungkin daerah ini kebagian sekarang. Jangan takut, ada aku di sini."


"Kamu tadi dari mana aja, sih? Jangan bilang pergi kerja serabutan lagi. Pulang sampe malam, kapan ngajarin gua les?"


Aku jadi merasa bersalah. Aluna ternyata duduk di teras rumah menungguku pulang. Dia pikir aku kerja, padahal sedang bersama Tania. Aku tampak buruk, seolah jadi suami kang selingkuh.


"Aku minta maaf, ya," ucapku lembut.


Entah masih belum sadar, Aluna masih tetap memelukku. Aku takut kalau dia sampai dengar debar jantungku yang berdetak kian hebat. Aku pikir, setelah dia tenang dan tidak menangis lagi, Aluna akan menarik diri, nyata gadis itu masih betah berlama-lama dalam pelukan, seolah menjadi tempat kesukaannya sekarang.


"Harus janji, kalau pulang lama, harus kabarin!"


Cukup lama kami diam. Saling berpelukan di kegelapan malam. Kenapa sekarang aku justru berharap kalau listrik akan padam hingga hari terang?


Ku rasakan beban pada tubuhku semakin berat, tampaknya Aluna sudah tertidur pulas. Setengah hatiku mendesak untuk merebahkan Aluna, dan setengahnya lagi menginginkan agar Aluna tetap berada di posisinya saat ini.


***


Sinar cahaya masuk ke dalam kamar, menembus, menyilaukan mata. Perlahan, kubuka bola mataku, silau, tapi tetap aku paksakan untuk tetap terbuka.

__ADS_1


Pergelangan tanganku terasa mati rasa, ku lirik beban yang menimpa. Wajah Aluna yang masih terpejam begitu cantik, baik bidadari surga, meski aku belum pernah ke surga.


Aku memilih diam mengamati Aluna, alih-alih membangunkan gadis itu. Aku masih belum puas. Dan entah kenapa setiap melakukan hal itu, aku harus siap merasakan detak jantung yang bekerja lebih cepat lagi.


Aku juga gak ingat, kapan kami berbaring bersama, seingatku, saat aku menenangkannya, kami masih berpelukan erat. Aku bahkan masih bisa merasakan tubuhnya yang menekan, menempel di dadaku. Wangi rambutnya yang terus menarikku untuk menempatkan bibir di atas kepalanya.


Aluna menggeliat, seakan dia sadar kalau aku sedang mengamatinya dan dia tidak suka. Bola kami saling bersitatap kala Aluna membuka mata. Satu detik, satu menit...


Aluna mendapatkan kembali kesadarannya dan buru-buru menarik diri, terduduk dengan rona merah di pipinya yang sangat jelas terlihat. Malu, pasti itu.


"Kenapa kamu ada di sini? Kamu mau mengambil kesempatan, ya?"


Apa? Jadi gini, balasan atas kebaikan ku menenangkan dia? Menemaninya sepanjang malam dan mengorbankan lenganku? Sungguh gak nyangka.


"Kesempatan apa? Kamu gak ingat nangis-nangis tadi malam? Pas mau pindah, kamu tahan."


Kulihat pipinya memerah lalu menunduk, gak bisa berkata-kata.


"Udah, sana. Aku mau mandi."


"Kan, libur," jawabku mengingatkan. Siapa tahu dia lupa.


Namun, Aluna tetap memilih turun dan masuk ke luar dari kamar setelah mengambil handuk baru dari dalam lemari. Ku pandangi lagi ranjang tempat kami menghabiskan malam berdua, sudah terlalu jauh ternyata. Tidak pernah sekalipun terpikirkan untuk menghabiskan malam di satu tempat.

__ADS_1


"Kamu masih di sini?!" Pekiknya, terkejut mendapati ku masih duduk di tepi ranjang. Mataku segera ku alihkan pada objek lain yang ada di kamar itu setelah terperangah pada pundak tela*njang mulus dan meresahkan.


"A-aku mau mandi, nungguin kamu keluar dari kamar mandi," jawabku kikuk. Siapa suruh dia keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk saja. Bagaimana saat melintas menuju kamar, ada tamu di ruang tamu. Aku harus menasehatinya. Tidak sudi kalau orang lain melihat tubuh mulusnya.


__ADS_2