
Aku harus menghubungi kepala sekolah, meminta izin untuk tidak masuk hari ini dan meminta kelas ku untuk diganti oleh pak Surya atau guru lain yang mampu.
"Lantas bagaimana keadaan Tuan Jer?" Terdengar nada khawatir dari Pak Ridwan. Aku tidak perlu menutupi alasanku izin karena beliau juga sudah tahu mengenai pernikahan ku dengan Aluna dan mengapa aku harus ada di rumah sakit saat ini.
"Sudah siuman, Pak. Oh, iya, Pak, saya juga ingin minta izin Aluna juga tidak bisa masuk, di sini, jagain Opa Jer."
"Jangan dipikirkan. Kamu jaga Pak Yayasan, nanti saya datang jenguk."
Seharusnya aku sudah bisa tenang, kembali ke kamar dan berbicara dengan Opa Jer. Semuanya akan tidak ada masalah, jika saja bapak kepala sekolah tidak membawa serta para guru untuk datan menjenguk Opa Jer.
Sialnya, karena pihak rumah sakit sangat menghormati Opa Jer, serta berada di ruang VVIP, jadi berapapun orang yang datang besuk pasti diizinkan.
"Loh, Pak Juna ada di sini juga?" tanya Bu Mutia sedikit terkejut. Tidak hanya dia, dua orang guru lainnya, Pak Dito dan juga Iren ikut menatapku dengan penuh tanda tanya.
Aku tentu saja kalang kabut. Mau jawab apa? Jangan sampai mereka tahu kalau aku sudah menikah dengan Aluna.
"Mmm... Saya... Tadi diminta kepala sekolah langsung ke rumah sakit duluan, demi menjenguk Op... Pak Jer, sebagai utusan dari pihak sekolah, untuk menunjukkan sikap hormat dan juga peduli kita pada bapak yayasan," jawabku terbata, memutar otak dengan cepat untuk memberikan jawaban yang pas, lalu melirik pada pak Ridwan untuk meminta bantuannya. Bagaimanapun ini semua juga karena beliau. Ngapain sih, bawa-bawa rekan guru segala?
"Oh, iya, benar. Saya yang minta Pak Juna untuk segera meluncur ke rumah sakit, gak usah masuk hari ini," timpal kepala sekolah.
Untungnya para guru itu percaya. Lalu satu persatu mengucapkan ungkapan simpatinya atas keadaan Opa Jer saat ini dan berharap Opa Jer bisa segera sembuh.
"Aluna, kamu yang sabar ya, Nak," ucap Bu Mutia menepuk lembut pundak Aluna yang sejak kemarin tidak mau jauh dari Opanya.
"Terima kasih, Bu," jawab Aluna sopan dan hal itu justru buat semua pasang mata di dalam ruangan itu tertuju padanya.
Tidak akan ada yang menduga kalau Aluna bisa menjawab sesopan dan se-ramah itu. Biasanya gadis itu akan bersikap jutek pada setiap orang yang mengajaknya bicara.
Aku melirik Opa Jer yang juga sempat tercengang, lalu sekilas senyum tipis melengkung di bibirnya.
Semua mengobrol dengan Opa. Dokter sebelumnya sudah memperingatkan kalau Opa tidak boleh lama dijenguk dan banyak diajak ngobrol, jadi mereka berupaya mengambil kesempatan untuk mengajak bicara Opa, berusaha mengambil simpati Opa.
Aku menarik diri sedikit menjauh, di sudut ruangan, berharap mereka mengabaikanku. Jangan sampai ada lagi pertanyaan untuk ku yang akan sulit aku jawab.
__ADS_1
"Kamu kelihatan kecapean, kantung matamu juga parah, kamu kurang tidur?"
Aku mendongak, Iren sudah berdiri di hadapanku. Dia melirik bangku kosong di sampingku dan memilih mendudukinya.
"Eh, Ren. Iya, banyak kerjaan yang harus aku selesaikan, jadi kurang waktu untuk beristirahat."
Aku memberikannya senyum, canggung karena tatapan Iren sedikit berbeda. Kenapa baru sekarang aku menyadari Iren menatapku dengan pandangan berbeda.
"Kamu jaga kesehatan, jangan sampai sakit," ucapnya lagi. Tidak hanya itu, aku yang bengok tidak sempat mengelak kala dia memegang pipiku, dan lebih horor lagi, tepat kala itu Aluna melihat ke arah kami dengan tatapan marah.
"Aku baik-baik aja, Ren. Aku ke luar dulu, beli minum," ucapku bangkit. Sumpah, Aluna seram. Kalau tatapan itu diumpamakan sebuah pedang dan diarahkan ke arahku, pasti leherku sudah terlepas dari kepala.
"Jun... Juna, tunggu," teriak Iren yang ternyata malah mengikuti ku.
Aduh! Niat hati ingin menghindari gadis itu, kini malah dikejar. Namun, menjauhkan rasa curiga, akhirnya aku memperlambat langkahku. Jangan sampai Iren sadar aku menghindarinya.
"Loh, Ren, kamu ngikutin aku? Ada apa?"
"Kamu mau kemana?"
"Aku ikut, ya."
***
Sejam kemudian, ruangan Opa jadi mendadak sepi, semua tamu undangan sudah pulang. Aluna juga tidak tampak, memilih masuk ke kamar tamu tunggu, mengunci dari dalam.
"Sini!" seru Opa Jer ketika melihat ku masuk ke dalam ruangan.
Aku menurut, mendekat ke arah Opa Jer.
"Kamu dan Aluna gak ada hubungan apapun, kan?"
Pertanyaan menohok itu serta-merta membuatku terbatuk. Sama sekali tidak menyangka kalau Opa akan melempar pertanyaan aneh seperti itu.
__ADS_1
Perlahan aku menggeleng. Memang tidak punya hubungan apapun, kan?
"Jujur kamu!" Opa Jer yang sudah bisa bergerak bebas, merasa hebat dengan duduk di atas ranjang dan menyandarkan punggungnya di headboard ranjang rumah sakit.
Aku mengangguk lagi. Kali ini aku menambahkan raut yakin di wajahku.
"Bagus! Karena Opa tidak ingin mendengar ada kisah cinta diantara kalian berdua. Ingat tugasmu. Ingat siapa kamu dan siapa Aluna. Jangan sampai ada drama konyol sebelum kalian bercerai nanti!"
"Aku tahu, Opa!" jawabnya kali ini dengan bersuara. Aku bosan diingatkan akan statusku. Dengan harga diri yang aku punya, aku menjawab agar Opa tidak perlu sangksi pada kinerjaku.
Hingga sore baru Aluna keluar. Itu pun karena dipaksa Opa, menemaninya makan siang.
Bertiga kami makan dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing, terlebih aku. Banyak yang harus aku pikirkan.
Di saat makan, ponselku berdering. Aku mohon izin mengangkat telepon yang ternyata dari Tania yang saat ini masih di Jerman.
Dua Minggu lalu gadis itu kembali bertolak ke Jerman, mengurus berkas kepindahannya ke sini. Dia memutuskan untuk menolak pekerjaan di perusahaan ternama yang menjadi impiannya hanya demi bisa dekat dengan ku.
Aku bersiap bangkit, untuk menjawab telepon di luar, tapi hardikan dari Aluna membuat tubuhku kaku.
"Angkat di sini aja!"
Tegas dan tidak terbantahkan. Aku melirik pada Opa Jer, seolah ingin meminta saran atau lebih tepatnya menjelaskan pada Aluna, kalau tidak pantas kalau aku bicara di depan mereka, terlebih saat ini sedang makan. Tapi apa yang terjadi?
"Benar kata Aluna. Kenapa kamu harus jawab telepon di luar? Di sini aja!"
Ada yang aneh dengan Kakek dan cucu ini. Keduanya buat aku takut. Tidak punya pilihan lain, aku terpaksa menjawab panggilan Tania yang terus berdering berulangkali.
Glek!
Aku menelan saliva ku sebelum menggeser tombol hijau pada layar ponselku.
"Halo, Tan?"
__ADS_1
Dan semua pasang mata tertuju padaku, seolah menunggu apa yang akan kami bicarakan, terlebih Aluna yang tampak sangat tidak senang.