
"Wajah lu kusut gitu, kenapa? Jangan bilang lu masih ribut sama Pak Juna?" ujar Hanum mengamati wajah gua.
"Gua baik. Cuma sedikit lelah karena semalaman belajar," jawab gua disela mulut terbuka lebar menguap. Gua benar-benar mengantuk. Gua mau buktikan sama Juna, tanpa dia gua juga bisa belajar sendiri dan ujian kali ini akan mendapat nilai yang bagus.
"Ntar gua liat jawaban lu, ya?" Hanum tersenyum lebar, menunjukkan barisan giginya yang putih bersih.
"Makanya kamu belajar. Udah tahu mau ujian," sosor ku menguap untuk kesekian kalinya.
Dua jam penuh ujian berlangsung, dan selama itu juga gua berusaha untuk menyelesaikan soal dengan baik.
"Siap tidak siap, silakan tinggalkan kelas!"
Suara guru pengawas ujian menggema disusul oleh suara sorak anak-anak yang masih belum menyelesaikan ujiannya.
Gua lihat Nuka bangkit dari duduknya. Sebelum keluar ruangan menyeringai ke arah gua seolah mengejek. Dasar cewek sarap! Dia pikir cuma dia yang bisa mengerjakan soal ini?
"Gua doain lu gak lulus!" serunya sembari tertawa, membawa ejekannya keluar dari ruangan.
"Ayo, buruan keluar!" kembali guru memperingatkan yang buat gua segera mengambil tas.
"Ayo, Num." Gua sudah memimpin langkah di depan. Ini adalah hari ketiga ujian akhir sekolah. Minggu depan ujan akhir nasional menanti, dan setelahnya selamat tinggal buat bangku sekolah. Artinya, selamat tinggal juga buat Juna.
Gua dan Juna udah gak pernah membahas apapun tentang kita. Malam itu adalah malam kekecewaan gua yang terbesar untuk dia. Sehari semalam gua menangis. Menolak bujukan Juna untuk makan dan tidak menggubris apapun yang dia katakan. Gua mengambil waktu untuk diri gua sendiri. Menyadari kalau gua mengejar cinta pria yang salah.
Ketika esoknya ibu pulang, gua menyudahi kesedihan gua. Bertekad untuk melupakan Juna dan fokus untuk ujian akhir gua.
"Kita harus merayakan selesai nya ujian akhir. Besok sampai seminggu lamanya bakal libur, dan bisa bangun siang, malas-malasan dan shopping," teriak Hanum penuh gembira, menyeret tanganku untuk segera keluar dari gerbang.
"Gua pulang, deh. Walau libur seminggu, tapi bukan untuk senang-senang, tapi belajar lebih keras karena ujian yang sebenarnya malah Minggu depan," jawab gua menolak ajakan Hanum. Bukan gua gak pengen cuci mata di mall, pengen banget, tapi tahu sendiri duit gua di dompet cuma 100 ribu doang.
__ADS_1
"Please, dong, Al. Gua mumet, nih, belajar terus. Ayo, dong."
"Lu aja ya, Num. Gua juga gak punya duit. Gimana kalau gua kepincut barang yang kita lihat di mall?"
Setelah Hanum tahu tentang kehidupan gua yang sekarang, perasaan gua cerita lebih plong, gak ada yang harus gua sembunyikan lagi dari dia.
"Kayak sama siapa aja, sih. Udah." Hanum benar-benar memaksa gua untuk ikut. Setengah jam kemudian, taksi online yang bawa kita berdua, berhenti di depan mall terbesar yang ada di kota ini.
Hampir semua toko kami masuki. Keadaan yang tidak bisa dibantah, saat wanita mempunya beban pikiran, serta kemelut dalam hatinya, solusi untuk mengembalikan moodnya dapat dilakukan dengan shopping.
Lelah, kaki rasanya gempor, tapi gak bisa gua sangkal kalau hal itu buat gua gembira, melupakan kesediaan gua sejenak.
"Kita makan dulu, lapar." Hanum menarik tangan gua masuk ke dalam restoran Jepang. "Gua pengen makan ramen."
Gua nurut aja, toh, yang bayar juga Hanum. Sebenernya saat ini gua lagi gak ingin makan ramen, demi Hanum, gua tutup mulut.
Ponsel gua berbunyi saat itu, sembari masuk ke restoran gua balas chat dari Pak Kim yang memberitahukan tentang keadaan Opa yang sudah semakin membaik. Begitu seriusnya sampai gua gak lihat kalau Hanum berdiri di jalur yang kami tuju hingga tanpa sengaja aku menabrak punggung Hanum.
"Noh, lihat. Itu Pak Juna, kan?"
Pandangan gua mengikuti arah telunjuk Hanum. Benar. Itu Juna. Dia lagi sama Tania. Hati gua kembali berdenyut sakit. Apaan sih, gua, gak banget. Bukannya gua udah janji bakal move on? Kenapa masih terasa sakit kalau lihat dia sama cewek lain?
"Gila! Lihat, tuh, Al. Ceweknya gatal banget pake acara menggenggam tangan pak Juna. Siapa, sih, cewek itu? Dasar pelakor! Ayo, Al, kita labrak wanita itu!"
Tanpa sempat menyuarakan penolakan atas ide Hanum, gua sudah diseret gadis itu untuk berdiri tepat di samping meja Juna dan Tania.
"Al?!" pekik Juna kaget, bahkan sampai bangkit dari duduknya yang terkejut karena kehadiran gua di depannya.
Wajah Juna terlihat pucat dan tak mampu berkata-kata.
__ADS_1
"Bapak ngapain di sini? Sama siapa ini?" Cercal Hanum tidak sabaran, seolah dialah yang jadi istri Juna, terbakar cemburu karena melihat suaminya berduaan dengan wanita lain. Hanum terang-terangan melepas tatapan mematikan, tidak bersahabat pada Tania.
"Saya... Eh, kalian ngapian di sini?" Juna mengalihkan pembicaraan.
"Kita baru shopping, dan ini mau makan, terus ngelihat Bapak dengan gadis lain. Ini maksud apa?"
Buru-buru, gua segera mengambil andil mulai bagian sini, jangan sampai Tania tahu kalau kita sudah menikah.
"Maaf, Kak. Kita udah mengganggu. Kami permisi dulu," ucap gua menarik tangan Hanum untuk keluar, tapi gadis yang saat ini dilanda amarah dan rasa cemburu itu, mengempaskan pegangan gua.
Sebenarnya apa yang dilakukan Hanum saat ini merupakan perwakilan dari dalam hati gua. Gua menyeret Hanum tanpa sekali pun menoleh pada Juna.
"Tunggu, kenapa kalian pergi? Kita makan bareng, yuk?" Tawar Tania yang berhasil menyumbat mulut Hanum seketika.
Hanum pun duduk, begitu pun aku, meski sangat terpaksa. Tania yang memesan untuk ku karena aku hanya diam di meja itu. Tak lama, pesanan kami datang.
"Ayo, dimakan," ucap Tania ramah. Ini adalah karakter dia yang sebenarnya atau memang hanya sekadar pencitraan?
Perut gua sebenarnya lapar banget, tapi masih gengsi.
"Kamu makan juga, Al." Juna berkata lembut sama gua. Dia emang begitu, seolah tidak pernah menyakiti hati gua, terus menunjukkan perhatiannya, tapi lagi-lagi gua abaikan.
"Kalian habis belanja?" tanya Tania menatap gua lalu pada Hanum. Gua benar-benar deg-degan, jangan sampai Hanum buka suara dan memberitahu Tania kalau gua dan Juna suami istri. Meski benci sama Juna yang plin-plan, tapi gua gak ingin hubungan mereka hancur karena gua.
"Iya. Maaf ya, Mbak. Mbak ini siapa, ya? Kok sama Pak Juna?" Hanum mulai mengeluarkan pertanyaan mengerikan.
"Oh, aku? Pacarnya Juna, guru kalian," jawab Tania masih dengan senyum berserinya.
Tanpa tersenyum aja Tania sangat cantik, apa lagi kalau tersenyum kayak gini. Pantas saja Juna sangat mencintainya. Beda jauh sama gua yang gak pernah tersenyum, muka jutek kayak kata dia diawal kami menikah.
__ADS_1
"Pacar? Gak salah, Mbak? Pak Juna 'kan, suami Aluna!"