
(Juna)
"Al...."
"Jawab aja, Jun. Kamu ada terima uang dari Opa 1 M?" Ku lihat wajahnya sudah memerah. Membayang guratan kekecewaan di paras cantiknya.
"Itu..."
Bulir bening menggenangi netra indah, yang selama ini buat ku sangat terpesona. Jelas, Aluna terlihat berusaha keras menahan agar tetesan itu tidak turun. "Jadi benar? Kamu nikah sama aku karena diimingi uang sama Opa? Perasaan cinta yang kamu bilang sama aku, gak benar adanya?"
"Aku bisa jelaskan, Al," aku menarik tangannya karena ku lihat dia sudah pasang langkah ingin pergi.
"Gak perlu, Jun. Aku gak akan pernah lagi mau mengenalmu. Jangan pernah mencariku. Ternyata, apa yang dikatakan Opa benar, kalau cinta mu palsu!"
Aluna memutar tubuhnya bersiap pergi, tapi tubuh ibu yang muncul diambang pintu menahan gadis itu.
"Ibu mohon, kita dengar penjelasan Juna. Setelah itu, kalau tidak masuk akal menurut mu, kamu boleh pergi, dan ibu juga gak akan memaafkannya," ujar ibu dengan tatapan memohon pada Aluna lalu menoleh ke arahku, sorot yang menunggu penjelasan.
Kedua wanita yang sangat berarti dalam hidupku itu duduk berdampingan. Aku yang berdiri, menjadi serba salah, dan sejujurnya mentalku sempat down. Ibu belum pulih betul, dan aku sangat ingat bagaimana keadaan ibu saat mengetahui pernikahan kami hanya sebuah pernikahan kontrak. Kini, haruskah ibu kembali drop mengetahui kalau benar, Opa Jer mengirimi ku uang?
Aku mengutuk pria itu yang tidak punya perasaan itu. Saat pertemuan terakhir, aku sudah menolak uang itu, tapi saat subuh tadi, aku terbangun untuk sholat, dan setelah mengaktifkan ponselku, saat itu lah pesan Opa Jer masuk, menyampaikan kalau dia sudah mengirim ku uang.
Padahal rencananya aku mau menemui Opa Jer hari ini seusai mengisi nilai siswa, karena lusa harua ku serahkan pada kepala sekolah sekaligus surat pengunduran diri yang dimintanya.
Namun, belum sempat aku mengembalikan uang itu, Aluna sudah datang. Seandainya aku tahu nomor rekening Opa, detik itu juga segera ku kembalikan.
"Juna, mau sampai kapan kamu berdiri memandangi Ibu dan Aluna? Jelaskan semuanya. Tidak cukupkah selama ini Ibu sudah kamu bohongi? Kebohongan apa lagi kali ini?"
Nah, kan, aku semakin merasa terpuruk. Kenapa posisiku jadi terjepit seperti ini?
__ADS_1
"Ibu, aku...,"
"Kamu menerima uang itu?" potong ibu. Pasti sejak tadi ibu dengar pembicaraan kamu dari luar.
"Iya, Bu," jawabku bak terpidana mati. Mengakui, tapi dengan latar belakang yang sama sekali berbeda.
Tangis Aluna pecah, sangat lirih. Bisa ku rasakan kalau dia sangat kecewa padaku. Dalam benaknya, aku pasti mau menikah dengannya karena mengincar harta dan uang opa nya. Aku benar-benar terjepit kali ini.
"Kamu kenapa, Juna? Istighfar! Apa pernah Ibu mengajarkan kamu hal yang tidak benar seperti ini? Kamu bilang Opa menjodohkan kalian karena ingin Aluna menjadi gadis yang baik, memintamu mengarahkan dan membimbingnya. Ibu ikut senang, dan merestui pernikahan kalian karena Ibu memang ingin kamu menikah, ingin punya cucu," ucap ibu lirih. Tidak bisa terelakkan lagi, air mata ibu pun merembes di pipinya, melihatku dengan tatapan kekecewaan yang besar.
Mungkin kalau bisa dia ingin mengganti ku dengan anak tetangga depan yang sangat berbakti dan selalu dipuji warga komplek perumahan ini.
"Ibu, aku pamit pulang," ujar Aluna denah suara serak, menghapus air mata dengan punggung tangannya.
"Tunggu, Al. Kamu harus dengar penjelasan ku," ucapku berlutut di depan Aluna dan ibu.
"Perlu, Al. Aku tahu saat ini dalam pikiran mu aku adalah pria yang buruk. Aku memang dijanjikan mendapat uang itu, tapi aku sudah menolaknya saat mencarimu ke rumah Opa, memintanya untuk merestui hubungan kita. Kalau kamu gak percaya, kamu bisa tanya Opa," ucapku mulai menjelaskan. Sebisa mungkin akan ku perbaiki yang sudah hampir binasa ini.
"Lantas, kenapa kamu terima uang itu? Kenapa uang itu masih ada di rekening mu?"
Aduh, gimana menjelaskan hal ini. Kalau aku bilang yang sebenarnya, apa Aluna akan percaya?
"Aku menerima pagi ini, dan berniat mengembalikannya hari ini juga," jawabku pasrah. Tatapan wajah Aluna masih tampak mengintrogasi kejujuran ku.
"Kalau benar kamu gak mau uang itu, harusnya begitu kamu terima, segera kembalikan, bukan malah duduk di sini dengan tenang. Kamu gak tahu, semalaman aku gak bisa tidur karena mikirin ini!" Tangis Aluna kembali pecah.
Aku menarik punggungnya ingin membawanya ke dalam pelukan, mengurangi kesedihannya, tapi dia menolak.
"Atau benar apa kata Opa, kalau niatmu mempertahankan aku, menginginkan uang yang lebih besar? Mengharapkan warisanku?"
__ADS_1
Jujur, aku tersinggung. Harga diriku sebagai laki-laki sudah diinjak-injak Aluna dan keluarganya. Lebih sakit lagi, Aluna yang katanya mencintaiku, lebih percaya pada Opanya, sedikitpun tidak mengenalku. Apa aku sehina itu?
Aku diam. Kali ini, bukan hanya Aluna yang terluka, tapi aku juga. Jadi, saat gadis itu pergi, aku bergeming di tempatku berlutut. Tidak ada niat mengejar, dan ibu juga sudah meninggalkan ku masuk ke kamarnya.
***
Berulang kali ku pejamkan mataku, tetap saja tidak bisa terlelap. Terlalu banyak yang ku pikirkan hingga rasa kantukku tidak menyapa.
Aku memikirkan Aluna. Ternyata cintaku begitu besar padanya. Meski saat mendengar perkataannya yang menyakitkan pagi tadi buatku mengambil keputusan untuk melupakan nya, nyatanya malam ini aku kembali mengingatnya. Hatiku masih tidak sanggup melupakan Aluna. Hatiku ingin bersamanya.
Semakin aku pikirkan, aku semakin yakin kalau tetap ingin memperjuangkan cintaku padanya.
Biarlah malam ini kami sama-sama mendinginkan kepala, agar besok bangun, lebih tenang, karena aku akan mencarinya besok, terserah dia mau menemui ku atau tidak. Kemanapun aku akan mencarinya sampai dia mau memaafkanku.
***
"Ini, Pak. Nilai semua siswa dari pelajaran yang saya bawa, dan ini surat pengunduran diri saya yang Bapak minta," ucapku meletakkan berkas di atas meja kepala sekolah sekaligus sebuah amplop berisi suatu pengunduran diri.
Ini kan, yang Opa Jer inginkan? Setelah semua keinginannya tercapai, kini dia bahkan membuangku dari sekolah ini. Tapi tidak apa, aku juga ingin keluar dari sekolah ini, menggapai impian ku bekerjasama di perusahaan besar.
Aku tidak mau lagi di bawah kendali Opa Jer. Setelah ini aku akan menemuinya untuk mengembalikan uang ini.
"Terima kasih, Pak Juna. Maaf, bukan bermaksud untuk memberhentikan Bapak, tapi... Bapak pahamlah posisi saya," jawab kepala sekolah merasa tidak enak hati karena ikut berperan serta mengusirku dari sekolah ini.
"Santai aja, Pak. Saya paham, kok. Terima kasih untuk bimbingannya selama ini. Saya pamit dulu, Pak," ucapku mengangguk hormat lalu tersenyum.
"Aku menyempatkan ke ruang guru, mengambil beberapa barang-barang ku, sekaligus pamit pada rekan guru-guru. Tentu saja mereka terkejut, terlebih Iren yang sampai menangis. Aku tidak perlu menjelaskan apapun.
Ku langkahkan kakiku menyelusuri koridor hingga gerbang sekolah. Di pintu masuk, aku berpapasan dengan Opa.
__ADS_1