
"Makasih ya, udah mau repot-repot ngantar aku pulang," ucap Mei setelah mobil berhenti di depan pintu lobi apartemennya.
"Sama-sama. Aku juga bosan di sana. Sekalian menikmati angin malam," jawab Juna tersenyum. Dia tidak bohong. Kalau pun tadi Bram tidak menawarkannya untuk mengantar Mei, Juna juga sudah niat menawarkan dirinya.
"Makasih juga udah mau direpotkan berhenti beli makanan dulu buat teman aku."
"Iya, sama-sama."
"Next, kita bisa ketemu lagi, kan, Jun?" Wajah Mei tampak menunduk malu. Sejak awal dia ngobrol dengan Juna, Mei sudah tahu kalau pria itu berbeda. Sangat berkharisma dan jangan lupakan, wajah tampannya menjadi nilai plus.
"Iya. Udah malam, kamu masuk sana."
***
Itu menjadi pertemuan pertama, dan kali pertama Juna mengantar Mei. Pada hari berikutnya, keduanya kerap jalan bersama.
Juna mengakui kalau Mei gadis yang pintar dan juga istimewa. Pemikiran luas dan terpenting mampir mengimbangi Juna saat berkomunikasi.
"Gimana, udah kamu sikat?" tanya Bram yang ikut bergabung di ruang tamu bersama Juna dan Rizal. Pertanyaan itu tentu saja ditujukan untuk Juna.
Pada awal mengendus kedekatan Juna dengan Mei, Bram merasa tidak terima, bahkan keduanya sempat adu argumen. Kalau tidak ada Rizal saat itu, bisa saja keduanya baku hantam.
Berawal saat Bram mendapati Mei yang berkunjung ke apartemen mereka, dan keduanya berencana untuk malam mingguan.
"Kalian? Jadi selama ini kalian ada hubungan di belakang ku?" hardik Bram yang saat itu baru tiba di apartemen, beradu pandang dengan Juna. Lalu hatinya seakan tidak terima, mengalihkan pandangan pada Mei. "Jadi ini alasan kamu nolak, setiap aku ajak jalan? Dasar murahan!"
"Kamu kenapa, Bram? Jaga ucapan kamu. Hargai Mei! Jangan jadi banci dengan menyakiti hati wanita!" salak Juna.
Dia bisa melihat kesedihan di mata Mei. Wanita mana yang tidak akan sakit hatinya kalau dihina seperti itu.
"Kamu mau sok jago belain dia? Ingat Jun, aku yang lebih dulu kenal sama dia. Tega kamu Jun, menikung gebetan teman!"
__ADS_1
"Siapa yang menikung?" Bentak Juna yang sudah mulai panas. Biasanya dia akan menjadi orang yang lebih tenang dalam menyikapi masalah apapun, tapi kali ini di merasa badmood, pasalnya siang tadi saat bertemu klien, Juna seolah melihat Aluna.
Asli, wajahnya pucat bak melihat hantu. Kakinya tanpa dikomando berjalan mengejar sosok mirip Aluna, tapi keramaian di tempat itu membuatnya kehilangan jejak.
"Ya, kau lah!"
"Kau menuduh ku? Jadi apa mau mu?" tantang Juna melempar jaket jeans yang sejak tadi dia pegang. Bersiap jika memang duel dengan Bram tidak terelakkan lagi.
"Sudah. Kalian jangan bertengkar. Ingat kita ini teman. Jangan gara-gara wanita kalian berantam. Bram, kamu gak pantas bicara seperti itu. Hak Mei kalau dia milih siapa," ujar Rizal berdiri di tengah kedua temannya.
Mei yang sejak tadi membeku hanya bisa menahan napas. Takut benar-benar terjadi pertengkaran.
"Asal kau tahu, aku tidak merebut Mei. Kami hanya berteman. Kalau memang dia menyukai mu dan kau tidak suka kami berteman, aku akan menolak ajakannya!" Amarah juga sudah tidak terbendung. Dia paling benci di fitnah.
Setiap dia pergi dengan Mei, karena gadis itu minta ditemani ke beberapa tempat. Alasan karena tidak punya teman pria, serta menjaga keselamatannya, membuat Juna tidak kuasa menolak.
Dihardik oleh Juna, membuat nyali Bram ciut. Juna memang sangat disegani oleh keduanya. Walau Rizal yang lebih dulu bekerja di perusahaan itu, tapi jabatan Juna jauh di atas mereka karena kecerdasannya.
Juna melangkah keluar apartemen. Rizal mengikuti langkah Juna. Biar Bram dan Mei bicara berdua dulu.
Sejak itu, permasalahan terselesaikan. Bram bisa menerima penolakan Mei yang dengan tegas mengatakan kalau dirinya tidak punya perasaan apapun pada Bram. Dan untuk hubungan dengan Juna, Mei justru jadi curhat padanya.
"Aku suka sama Juna, tapi beberapa kali kami jalan, jelas dia menunjukkan ketidak tertarik kan nya padaku."
Mimik wajah Mei terlihat sedih. Gadis itu harus terima cintanya bertepuk sebelah tangan. Saat jalan dengan Bram, Mei sama sekali tidak punya perasaan apapun, beda saat bersama Juna. Mei hanya berharap suatu hari Juna akan menyukainya.
"Sikat? Memangnya gigi?" jawab Juna tanpa mengalihkan pandangan pada layar televisi.
"Hargai dong pengorbananku, Jun. Aku udah mundur demi kau!"
"Ye, mundur? Yang ada memang Mei gak punya perasaan sama kau!" timpal Rizal berhasil buat pecah tawa mereka bertiga.
__ADS_1
Persahabatan mereka jadi lebih kuat. Bram tidak lagi punya dendam pada Juna. Saat Juna tidak mengungkapkan perasaannya karena memang tidak punya perasaan cinta pada Mei, setidaknya untuk saat ini, membuat Bram sadar, hati tidak bisa dipaksakan.
"Besok kita jadi datang ke acara Mei?" tanya Bram antusias. Baru beberapa menit lalu, Mei mengingatkannya lewat chat singkat.
Juna hanya mengangguk sementara Rizal menyatukan ujung telunjuk dan jempolnya.
***
Acara itu hanya sekedar kegiatan penggalangan dana untuk membantu para pasien yang ada di rumah sakit.
Mei yang bekerja sebagai dokter umum di rumah sakit swasta itu menjadi salah satu panitia dalam acara berbagi kasih itu.
"Akhirnya kalian datang juga. Yuk, duduk. Itu anak-anak yang dirawat di rumah sakit ini, dengan uluran tangan para dermawan. Jadi, akan ada lelang nanti, kalian aku undang ke sini, untuk membeli hasil lukisan atau pun karya mereka," ucap Mei tersenyum, memilih berdiri tepat di samping Juna.
"Di sini banyak orang Indo, ya, Mei?" tanya Rizal memperhatikan banyak tamu undangan yang berasal dari negara mereka.
"Iya, banyak. Di sini juga ada beberapa mahasiswa kedokteran, yang ikut bantu jadi panitia penggalangan dana ini. Ayo aku kenalkan sama sepupu dan teman-temannya," ucap Mei mengajak mereka sedikit masuk ke dalam gedung.
Juna memperhatikan anak-anak yang berkepala pelontos. Kanker mungkin merenggut kebebasan mereka, tapi tidak dengan kebahagiaan. Mereka tampak bermain dengan ceria kala dua orang pria memberikan balon.
"Ling, kenalin teman-teman kakak," ucap Mei mencolek salah satu dari empat gadis yang sedang mencoba mendekor panggung yang nantinya untuk pertunjukan menari anak-anak.
Gadis itu berbalik dan tersenyum pada ketiga pria yang sejak tadi sudah mencuri banyak perhatian para gadis.
"Ling-Ling, Kak," ucap gadis berkaca mata itu menyalami ketiganya. Diikuti oleh ketiga temannya. Benar kan, tidak ada yang bisa mengalihkan pandangan pada Juna meski pria itu hanya memberikan senyum kakunya.
"Loh, teman kamu satu lagi mana?" Mei memperhatikan sekeliling, gadis yang sering menginap di apartemen mereka yang menjadi sahabat dekat adik sepupunya tidak tampak.
"Iya, ya. Mana dia..." Lingling mengedarkan pandangannya, mencari hingga berhenti pada sosok gadis cantik dengan rambut dicepol, berjalan ke arah mereka. Semua mata memandang, hingga dia tiba di dekat Lingling dan menyadari salah satu dari orang-orang itu ada yang dia kenal.
"Aluna?" desis Juna tanpa sadar.
__ADS_1