Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 27


__ADS_3

(Aluna)


"Mau sampai kapan diam-diaman begini?" Hanum mulai buka suara. Setengah jam kami duduk di cafe es krim.


Gua senang, karena dia mau menerima ajakan gua untuk ngobrol bareng, setelah sekian lama kami tidak saling tegur.


"Makasih, ya, udah mau ngobrol bareng gua lagi." Gua tersenyum. Jujur, gua sayang banget sama Hanum, satu-satunya teman yang gua percaya dan buat nyaman.


Hanum terdiam. Gua jadi kikuk. Saat meminta nya ngobrol di belakang perpustakaan, gua udah siapkan keberanian dan juga puluhan kalimat penjelas, tapi kenapa jadi bingung harus mulai dari mana.


"Num, gua minta maaf, gua tahu, gua udah salah sama lu. Harusnya gua cerita masalah gua dengan Digo. Sumpah, gua gak ada niatan buat bohong ke elu. Saat itu gua emang rencananya mau pulang, tapi di tengah jalan, Digo nyamperin gua dan minta ngobrol."


Hanum masih diam. Gua gemes banget sama dia, ngomong apa, kek. Kalau dia terus diam begini, gua, kan, jadi makin mati kutu.


"Lu cinta banget ya sama dia?" Akhirnya Hanum buka bicara.


Gua menoleh, bangkit dari lamunan panjang. Bukan, gua bukan mikirin Digo, entah kenapa pria itu jadi objek ke sekian yang bertamu dalam benak gua.


"Gua juga gak tahu gimana perasaan gua, Num. Kalau pertanyaan ini lu sampaikan sebulan lalu, mungkin dengan lantang gua akan jawab kalau gua sangat mencintai Digo, satu-satunya pria yang gua pilih jadi pasangan hidup gua."


Pandanganku kembali mengarah ke depan, memandang taman sekolah yang terawat oleh pak Dadang, tukang kebun sekolah yang rajinnya patut dapat penghargaan.


Tanpa melihat, aku tahu saat ini Hanum masih tetap menatapku. Tampaknya sedang menyusun kalimat yang diusahakan tidak menyakiti hatiku.


"Mungkin perasaan lu udah bergeser. Mungkin masih ada, tapi sisa sedikit. Kemungkinan besarnya, ada orang lain yang sudah menggeser posisi Digo!"


Analisa Hanum ingin gua bantah. Siapa coba yang berhasil masuk ke hati gua? Selama ini hanya Digo yang ada dalam hidup gua, sampai...


Sial! Gak mungkin. Gua segera menepis pemikiran aneh yang persekian detik masuk dalam benak gua.


"Jawab, Al. Please, jangan bohongi gua lagi. Lu lagi suka sama seseorang, ya?" Tuntut Hanum dengan menggebu-gebu.


"Gak, gak ada, Num. Lu tau sendiri gua cuma dekat sama Digo." Gua menggigit bibir bawah. Benar kan jawaban gua? Memangnya siapa cowok yang gua suka selain Digo?


Gua mengentak kaki ke tanah. Kenapa setiap coba meyakinkan diri, justru wajah Juna yang muncul.


"Serius?"

__ADS_1


"Iya, Num. Masa gua bohong."


"Oke deh, gua percaya. Berarti kalau gitu, perasaan lu berubah karena sikap dia yang udah nyakitin lu," putus Hanum.


Gua coba mengangguk meski gak yakin. Gua sendiri bingung dengan perasaan gua saat ini. Biasanya gua pasti nyariin Digo kalau pria itu sehari aja gak ngubungi, ini udah hampir dua Minggu, gua santai aja.


"Eh, Al, giliran gua mau cerita," tukas Hanum, wajahnya kini berubah ceria. Tampaknya dia sedang bahagia.


"Iya, cerita aja, Num, gua dengar."


"Gua putuskan benar-benar buat ngejar Pak Juna, dan lu tahu gua udah gercep cari info tentang pak Juna. Gua udah tahu tempat tinggalnya!"


Bola mata gua membulat. Gak nyangka Hanum udah secepat itu bergerak. Mampus gua, kalau sampai dia tahu alamat Juna, dia juga bakalan tahu kalau gua juga tinggal di sana.


"Lu serius suka sama beliau?" Gua mencoba tenang, padahal dadaku udah sesak. Kalut kalau sampai Hanum tahu tentang gua yang nikah sama Juna.


"Bisa dibilang, pak Juna cinta pertama gua. Dan fyi, gua udah minta bokap gua ngubungi pak Juna buat jadi guru privat gua. Dan paling senangnya, Pak Juna bersedia," tukas Hanum dengan senyum menghiasi wajahnya.


Gua semakin sesak. Apa-apaan Juna menerima tawaran jadi mentor Hanum. Jangan-jangan Juna suka lagi dengan Hanum?


Setelahnya Hanum bercerita tentang rencana dia untuk memikat Juna yang sedikitpun gak gua dengarkan lagi. Kepala gua mumet, pengen banget ketemu sama pria itu, terus pengen maki dia.


Disela ceritanya, Hanum minta pendapat gua tentang trik menarik hati cowok. Telinga gua panas, setiap pertanyaan Hanum seolah cambukan di tubuh gua, sakit.


Untung bel masuk bunyi. Gua terhindar dari kewajiban menjawab pertanyaan Hanum.


***


"Ayo naik," suara Juna gua abaikan. Gua mempercepat langkah biar jadi jawaban bagi Juna kalau gua gak mau pulang bareng dia.


Gua pulang sore bukan karena nungguin dia ya, tapi karena gua nungguin Digo yang memohon agar gua tunggu di gerbang sekolah. Sial, dua jam nunggu, Digo gak muncul, bahkan ponselnya gak aktif.


Terakhir, gua putuskan buat jalan ke simpang empat. Jalanan udah sepi, gak ada lagi anak-anak sekolah. Mana warna langit mulai abu-abu lagi.


Tahu gak, sih, dia kalau saat ini gua sebel banget sama dia. Belum kelar masalah Tania, ini ditambah lagi dengan teman dekat gua. Kenapa sih, cewek-cewek pada suka sama dia? Apa hebat nya?


Bukan gua gak tahu kalau di setiap kelas banyak siswi-siswi yang suka sama dia. Bahkan gua juga tahu kalau ada siswi yang sampai nekat ngirim surat cinta. Dih, nyebelin!

__ADS_1


"Al, ayo dong, naik, nanti dilihat teman-teman kamu."


Oh, jadi dia takut ada yang lihat kita bareng? Yaudah, pergi sana! Ngapain ngejar gua!


"Kita beli es krim, yuk?"


Dih, lu pikir gua bocah, disogok sama es krim? Gua mempercepat langkah, tapi tetap aja Juna mengejar.


"Pergi, lu!"


"Kamu kenapa lagi? Apa lagi salah aku?"


"Bodo! Gua empet liat muka lu! Pergi sana!" Gua rasakan bola mata gua panas, kayak orang mau nangis. Nih, kan, gua benci sama diri gua yang cengeng.


"Kita pulang bareng. Kalau ada masalah atau mengganjal di hati kamu, kita bicarakan baik-baik." Juna tetap bertahan mengikuti langkah gua.


"Ogah!" Gua mempercepat langkah, bahkan kali ini disisipi oleh lari kecil yang gua tahu gak guna.


"Ayo, dong, Al. Naik. Udah sore, mendung lagi."


Gua diam. Tetap diam dengan langkah cepat.


"Aluna, please..."


Gua gak tahu harus salut atau malah harus marah sama Juna, meski gua udah bentak, tetap aja bertahan bujuk gua.


Pikiran gua kacau. Gua tahu, sikap gua semakin menunjukkan sikap kekanak-kanakan, tapi bodo amat. Gua milih lari.


Gak ada lagi suara motor yang melaju pelan, berganti derap langkah kaki seorang pria yang tak lama menangkap lenganku.


"Kita pulang ya, aku mohon. Aku minta maaf kalau buat kamu sedih atau marah hari ini."


Langkah gua terpaksa berhenti, menoleh pada wajahnya. Disini kelemahan gua, gak ngerti lagi sama cowok ini, kenapa masih bisa sabar menghadapi gua yang meledak-ledak kayak gini. Satu hal lagi, dia bisa ngomong ke gua dengan suara lembut tanpa emosi sedikitpun meski gua udah bersikap nyebelin.


Gua malu, menunduk dan akhirnya mengikuti langkahnya. Tatapan gua tertuju pada ujung tumit sepatu Juna.


Di atas motor, hatiku gua semakin kacau, saat Juna menarik tangan gua dan melingkarkan di perutnya.

__ADS_1


__ADS_2