Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 68


__ADS_3

Satu hal yang disadari Dimas, sekuat apapun dia memaksakan kehendaknya untuk menahan Aluna di sisinya, akan sia-sia. Tidak ada gunanya mendapatkan fisik Aluna tapi hatinya untuk orang lain.


Jadi dia merelakan Aluna meski rasa sakit di hatinya membuat dadanya sesak. Empat tahun lebih menunggu gadis itu buka hati untuknya, tapi ternyata alam berkata lain. Dia hanya diminta untuk menjaga Aluna hingga pemiliknya kembali.


"Terima kasih, Mas, sudah mau datang ke acara kami," ucap Juna yang berdiri dengan gagah di samping Aluna. Dimas dengan kepala tegak, menghadiri acara resepsi mereka.


Mungkin malam itu senyumnya tidak tulus seratus persen, tapi bisa dia jamin kalau dia berusaha ikhlas.


"Semoga kalian bahagia selalu bahagia," ucap Dimas menggenggam erat tangan Aluna. Ini mungkin jadi jabatan terakhir pada Aluna dari dirinya.


Juna menatap lekat wajah istri, meneliti riak wajah Aluna, apakah tersimpan mimik penyesalan atas perpisahan dengan Dimas, tapi syukur, tidak ada sama sekali.


Bisa dia pahami, kalau air mata Aluna tadi hanya sekedar ucapan haru sekaligus terima kasihnya atas kebaikan Dimas. Juna juga merasa hutang budi karena Dimas sudah menjaga istri dan anaknya dengan baik.


***


"Kamu tadi menitikkan air mata, apa karena sedih pisah sama Dimas?" celetuk Juna menggoda. Dia tidak ingin suasana jadi sedih seperti sekarang ini. Masa resepsi pernikahan mereka jadi dingin, bukannya seharusnya menghangatkan hubungan mereka?


"Juna! Gak usah mikir yang aneh-aneh, deh!" Kening Aluna berkerut dan bibirnya cemberut. Jelas tuduhan Juna tidak masuk akal. Apa masih butuh pembuktian tentang kesetiaan dan isi hatinya?


"Makanya jangan cemberut dan diam aja, dong. Suami di samping malah dianggurin." Juna meraih jemari Aluna dan mendekatkan ke bibirnya. Perasaan bangga dan juga bahagia kala di jari Aluna kembali disematkan cincin ibunya, benda pengikat sejak mula mereka menikah. Namun, di jari gadis itu tidak hanya ada cincin sakral itu, tapi juga cincin pernikahan mereka yang dipesan Juna secara khusus. Ada ukiran nama mereka di lingkaran bagian dalam cincin.


"Senyum dong, Sayang," bisik Juna, mendekatkan wajahnya ke pipi Aluna. Selagi tidak ada tamu yang naik untuk menyelami mereka lagi, jadi waktu singkat itu Juna gunakan untuk memuja istrinya saja. "Aku sangat mencintaimu, dan terima kasih sudah mau menjadi istriku. Al, jangan pernah tinggalkan aku, ya."


"Iya, Mas. Aku juga gak mau pisah lagi sama kamu."


Senyum Juna mengembang. Dia senang mendengar jawaban Aluna, tapi ada kata yang menggelitik hatinya.


"Mas?"


Wajah Aluna memerah dan dia memilih menundukkan wajahnya agar dapat menyembunyikan betapa saat ini dia sedang dilanda malu.


"Mas?" ulang Juna lebih merapatkan tubuhnya. Memiringkan wajahnya agar bisa melihat Aluna dari sisi kiri bawah wajahnya.


"Al....,"

__ADS_1


"Iih, udah, deh. Bisa gak jangan godain aku terus? Aku malu!"


"Kamu tadi panggil aku 'mas'?"


Aluna hanya mengangguk, masih sedikit malu mengakui kalau dirinya memanggil Juna dengan sebutan mas.


"Kenapa?"


"Kenapa apanya? Mas gak suka?"


"Ya suka lah. Tapi kok tumben?"


"Tadi ibu nasehati aku, dan aku rasa apa yang dikatakan ibu benar. Gak baik istri panggil suaminya dengan nama."


"Terima kasih, Sayang." Juna menarik kepala Aluna dan mengecup kening istrinya itu. Wanita yang sangat dia cintai meski berawal dari benci. Siswi nakal yang dulu melawannya kini duduk di sampingnya, menyandang status sebagai istri dan juga ibu dari anaknya.


***


"Bangun, dong, Mas, mau sampai kapan tidur terus?"


Tania mengirimkan mereka tiket sekaligus voucher menginap di hotel termewah dan megah di Jerman, tapi Aluna memilih Bali sebagai tempat mereka berbulan madu.


Bukan karena tidak menghargai kado Tania, tapi nanti saja lah. Dia ingin memiliki Juna seorang diri. Kalau mereka ke Jerman, pasti harus singgah ke rumah teman-teman mereka termasuk, Tania.


"Mas," rengek Aluna kembali membangunkan Juna. Pria itu bahkan tidak membuka mata meski dibangunkan, justru tangannya menarik Aluna kembali ke pelukannya.


"Nanti aja bangunnya. Kamu kenapa cepat sekali turun dari ranjang? Istirahatlah yang cukup, Sayang, karena kamu butuh banyak energi untuk nanti malam.


Pipi Aluna memerah. Mereka sudah jadi suami istri, tapi kenapa dia masih saja malu jika suaminya berkata sedikit vulgar padanya. Bukankah pasangan suami istri memang harus se-terbuka itu?


"Aku lapar," cicit Aluna. Pipi yang menempel di dada bidang suaminya, membuat Aluna bisa mendengar detak jantung pria itu.


"Lapar? Gimana kalau kamu makan aku aja? Aku rela," jawab Juna dengan suara berat, bibirnya menyunggingkan senyum menggoda.


"Iih, aku serius, Mas. Aku lapar. Tenaga ku kamu kuras semalaman. Dasar singa jantan kelaparan, gak ada puas-puasnya," jawab Aluna yang mulai berani mengatakan isi pikirannya. Tapi akibatnya, pipinya semakin memerah karena perkataannya itu.

__ADS_1


"Hahahaha, siapa suruh kamu begitu nikmat. Kamu tuh legit, buat nagih. Ini aja aku udah mau minta lagi. Boleh, ya?"


"Mas Juna!" Aluna mencubit pinggang suaminya pelan. Kenapa suaminya itu bisa membahas hal intim mereka dengan begitu santai?


Aluna bukan tidak suka, sangat suka malah. Dia menikmati sentuhan Juna di kulitnya. Membakar setiap jengkal kulitnya yang memanas oleh sentuhan. Aliran darahnya terasa cepat berlomba dengan detak jantungnya.


Juna begitu tahu cara memanjakan tubuhnya, memberikan kenikmatan yang buatnya selalu ingin menjerit dan meminta lagi. Kalau juga mengajaknya lagi, dia pasti akan bersedia, kapanpun pria itu inginkan, tapi tidak bisa diabaikan kalau menciptakan kenikmatan itu butuh tenaga. Dengan kata lain, perut juga harus diisi.


"Ya sudah, kita jalan-jalan sambil cari makan. Nanti malam giliran kamu yang aku makan lagi. Aku suka setiap kamu mendesah di bawahku. Aku menyukai lekukan tubuhmu yang meliuk di bawahku. Tapi nanti malam, kau ingin kau menguasai permainan. Kamu di atas," bisik Juna mengerlingkan mata.


"Aku ingin kamu mengeluarkan semua hasratmu, Sayang. Aku tahu kau punya gairah dan hasrat yang besar, dan aku suka. Jangan pernah malu padaku. Aku adalah dirimu, begitupun kamu adalah aku." Juna menangkup dagu Aluna dan memaksa gadis itu untuk melihat matanya.


"Aku mencintaimu," lanjut Juna lembut, lalu mendaratkan ciuman panas yang lembut dan penuh damba.


Aluna menikmati ciuman itu, lalu setelah pria itu melepaskannya, Aluna mendudukkan dirinya. Juna masih belum mau melepaskan, ikut duduk dan memeluk Aluna dari belakang. Tangannya menyibakkan rambut panjang Aluna demi bisa mencercap tengkuk gadis itu.


Sebuah tanda kemerahan tercipta di sana. Juna harus menahan diri untuk tidak menciptakan di tempat lain pada tubuh wanita itu.


***


Pasangan yang tampak berbahagia itu menyusuri bibir pantai dengan jemari saling terkait. Senyum bahagia tidak lekang dari bibir mereka.


"Kenapa ngeliatin aku begitu, sih, Mas?" Aluna berhenti berjalan Sejak tadi, Juna terus mengamati wajahnya, kalau memang ada yang ingin disampaikan Juna, maka dia siap mendengar.


"Aku begitu bahagia. Serasa mimpi bisa berjalan bersamamu di sini, menikmati semua keindahan dan kebahagiaan yang saat ini memuncah dalam hatiku. Terima kasih, Sayang, karena cintamu yang begitu besar, mampu bertahan dengan kesedihan dan penderitaan. Terima kasih sudah menungguku, menjadi ibu yang baik bagi Dewa. Kau segalanya bagiku, Al. Jangan pernah meninggalkan ku lagi, Sayang," ucap Juna parau, suaranya tercekat menahan air mata yang coba tumpah. Diraihnya pinggang gadis itu, membawa Aluna dalam pelukannya, dengan sumpah yang dia ucapkan kembali dalam hati. Selamanya hanya kebahagiaan yang akan dia berikan pada Aluna, murid manjanya yang pada awalnya terpaksa dia nikahi dan kini berubah jadi cinta tulus.


*


*


*


Hai semua, maaf ya, baru muncul lagi. Maaf novelnya acak2 an suka berulang. Akhirnya novel ini tamat dengan happy ending. Terima kasih sudah setia menunggu dan mendukung novel ini.


Untuk beberapa bulan ke depan, author mungkin tidak akan menulis novel baru dulu, melanjutkan novel on going yang ada. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2