
Niat hati ingin protes saat Juna bawa gua masuk ke warung pecel lele, tapi gak jadi. Lagian mau apa coba? Nyogok gua?
"Kita makan dulu ya," ucapnya mematikan mesin motor, sementara gua masih ogah turun.
"Kemarin kata ibu kamu pengen banget makan ayam goreng sambal terasi, tapi karena belum sempat masakin, jadi tahan selera. Nah, sekarang kita makan dulu."
"Gua gak lapar!" Dari intonasi gua aja udah gak bersahabat, tapi masih aja dia betah bujuk gua.
"Makan, ya. Aku lapar nih," Juna masih coba bujuk gua. "Aku belum sempat makan dari siang, diminta pak kepala sekolah ngurus berkas siswa yang akan ikut olimpiade matematika tahun ini."
Gua mendengarkan. Kabar itu juga sampai ke telinga gua. Salah satu perwakilannya malah dari kelas gua, si Nuka. Ingat gadis itu, gua jadi tambah kesal. Namun, kalau ingat Juna belum makan, gua jadi gak tega.
Hati gua kenapa, sih, mulai lemah sama dia?
"Please...," ragu dengan tatapan yang selalu bisa buat jantungku jedag-jedug gak karuan. Perasaan pas baru kenal sama Juna, gak gini banget.
"Ya udah, tapi gua gak makan, temani lu aja." Tak ingin mendengar protesnya, gua udah melangkah masuk lebih dulu ke warung yang sekelilingnya ditutupi kain spanduk bergambar beraneka olahan menu, dari ayam, ikan, sampai seafood.
"Bu, nasi ayam penyet dua, ya," teriak Juna, yang diangguk penjual dengan tambahan senyum ramah.
"Satu aja, aku gak makan!"
"Makan ya, gak enak juga makan sendiri."
Gak ngerti lagi ngomong gimana sama Juna. Pria itu belakangan bersikap overprotektif banget, dan kesalnya gua justru meng-iya-kan setiap permintaannya, apa lagi kalau udah dengan tatapan memohonnya.
Pelayan warung makan itu datang, membawa pesanan Juna, dan benar saja dua porsi.
Gua tetap diam, tidak menyentuh makanan yang terhidang dengan kepulan asap dan aroma menggoda. Gengsi, udah janji kalau gua gak akan makan, kan?
"Makan, Al," bujuknya lagi. Berhenti menyuapkan nasi yang tadi sudah ada di jari-jarinya yang dirapatkan. Biasanya kalau gua lihat pelayan di rumah Opa makan dengan tangan, gua pasti mau muntah, dan menganggap itu jorok.
Prinsip tetap gua pegang, meski perut gua pengen banget menyicipi. Hari ini gak sempat sarapan, cuma makan roti, karena subuh tadi ibu pergi ke Malang, ke tempat tantenya Juna, yang lagi sakit.
"Buka mulutnya," pinta Juna menyodorkan sejumput nasi di tangannya.
__ADS_1
"Gak mau, apaan, sih, pake tangan. Itu ada sendok, lu jorok!"
"Hei, nona besar, kalau makan pakai tangan jauh lebih nikmat. Nih, cobain dulu."
Juna terus menyodorkan nasi ke hadapan gua. Ini bercanda, kan? Masa, iya, gua makan dari tangan dia? Disuapin, gitu?
Namun, logika gua patah. Setelah tatap-tatapan selama dua menit, gua buka mulut. Sumpah, gua rasa saat itu gua terhipnotis.
Gua kunyah dengan perlahan, nyaris tanpa suara. Mencoba mengalihkan pandangan gua ke arah lain, karena saat ini, Juna sedang mantau gua sambil tersenyum tipis.
"Enak?"
Kenapa coba dia harus pake acara tanya segala. Gua makin malu ini. Gak ada jawaban dari gua, dia menyodorkan suapan kedua.
"Udah."
Iya, itu hanya tolakan basa-basi. Bukan dari hati, karena ternyata, makan dari tangan Juna enak banget.
"Makan lagi ya, nanti kamu lapar. Aku gak mau kamu sakit. Ibu lagi di Malang, aku harus jagain kamu penuh, semua keperluan dan kebutuhan kamu, tanggung jawab aku."
Melted gak, sih, dengarnya? Kalau Digo yang sampai saat ini masih berstatus pacar gua yang ngomong begitu, pasti gua senang banget. Nah, ini? Oke, iya, gua juga senang.
Nasi satu piring bahkan Juna minta tambah lagi habis gua pindahin ke perut. Asli enak banget makannya. Tapi jujur, sambar terasi ibu masih lebih juara. Mungkin ya itu, karena disuapi sama Juna.
"Boleh tahu kamu kesal kenapa hari ini?" Juna mulai melempar pertanyaan setelah selesai makan. Dari semua menu yang dipesan, justru aku yang lebih banyak makan ketimbang Juna.
"Siapa yang kesal, gak ada, kok."
Juna merapatkan duduknya lebih menyesak padaku. "Aku kenal kamu, kenal sangat baik sikap kamu kalau gak enak hati atau lagi kesal."
Emang gua badmood gara-gara lu, kan! Ngapain juga bersikap baik sama cewek-cewek, jadinya mereka suka sama lu!
"Apa Digo ngajak ketemuan lagi?"
Dih! Udah nebak, salah lagi. Bukan, gak ada hubungannya dengan Digo, gua kesal karena Hanum suka sama lu, dan parahnya minta bantuan gua buat mendapatkan lu!
__ADS_1
"Kok diam, Al? Siapa tahu aku bisa bantu?"
Kalau lu memang mau bantu, kembali aja lu jadi manusia es, dingin dan tanpa senyum kayak dulu!
"Al..."
"Gua kan udah bilang gak papa. Udah yuk, kita pulang."
Sebaiknya gua menghindar, nanti terus didesak bisa-bisa gua ngomong kalau gua cemburu. Eh, tunggu, apa-apaan, sih, gua?
"Ya udah, kita pulang."
Juna mengakhiri interogasinya, membayar biar kita bisa langsung pulang.
"Nanti malam aku mau mulai belajar lagi."
Spontan kalimat itu muncul di benak dan begitu saja ku katakan. Setelahnya gua menyesal, berharap Juna gak dengar, tapi sayang ternyata sangat jelas.
"Gitu, dong. Udah dua hari kamu gak mau diajarin. Nanti malam kita belajar."
Gua juga gak tahu kenapa tiba-tiba pengen belajar bareng lagi. Dua hari ini gua menghindar karena setiap belajar bareng lu hati gua berdebar-debar. Rasanya sesak, seolah udara di sekitar kita itu hanya buat lu.
"Gua pengen diajarin setiap hari."
"Hah? Tiap hari? Apa kamu gak bosan? Gimana kalau tiga kali seminggu aja?"
"Kenapa?" pancing gua. Sebenarnya tanpa dia kasih tahu, gua juga udah tahu kalau yang tiga hari itu mau ngajar Hanum. Gua minta diajarin juga justru karena gak mau dia jadi guru privat Hanum.
"Soalnya aku harus ngajar les seseorang."
Nah, kan, benar apa kata gua. Dia mau jadi mentor Hanum? Jangan harap kalian bisa berduaan. Kayak gua gak tahu, awalnya sih, emang belajar, tapi masuk Minggu kedua, udah lain yang dikerjakan. Banyak film yang gua tonton, niat awal jadi tutor, endingnya malah jadian.
"Gak mau. Aku mau belajar, dengan syarat kamu gak boleh ngajar les gadis lain."
Kening juga berkerut sembari memandangku. Entah apa yang saat ini beban yang bergelayut di benaknya.
__ADS_1
"Kok, kamu tahu kalau aku ngajar seorang gadis?"
"Gak hanya itu, aku juga tahu kalau gadis itu Hanum. Dan aku makin gak setuju, karena dia suka sama kamu!"