
(Author)
Bukan berat bagi Juna untuk meninggalkan ibunya sendiri di negeri tercinta yang juga sekaligus mendatangkan duka. Benar, ada Anita- sepupunya yang tinggal bersama Bu Salma saat ini.
Dengan luka di hati, Juna memilih untuk merantau. Sehabis hujan, pasti ada pelangi, bukan? Seminggu mencoba menenangkan diri, teman kuliah menghubunginya. Menawarkan posisi di perusahaannya bekerja saat ini, yang juga perusahaan impian Juna selama ini.
"Kamu mau, gak? Ada posisi kosong saat ini. Aku udah promosikan kamu sama managernya, dan dia tertarik merekrut mu," ucap Rizal, salah satu sahabatnya yang sudah menggapai mimpinya di negeri orang.
"Aku tanya ibuku dulu, Zal. Aku gak bisa memutuskan sepihak," jawabnya disela rasa senangnya. Ini adalah jalan yang tepat, pikir Juna saat itu.
Impian yang seharusnya dia raih enam bulan lalu. Seandainya saja tidak ada ide gila Opa Jer yang ingin menikahkan Juna dengan cucu manjanya.
Ah, Juna jadi ingat lagi pada Aluna. Sampai detik ini, gadis itu tidak mencarinya atau sekedar menghubungi. Juna putuskan kalau itu adalah keinginan gadis itu.
Di sore hari, saat senja menyapa, Juna duduk di belakang rumah, setelah membakar sampah, mengamati sebentuk wajah di layar ponselnya.
Ck! "Sekecil itu ternyata cinta yang kau katakan, Al. Mungkin kita memang tidak berjodoh," desisnya sembari menyunggingkan senyum mengejek dirinya sendiri. Betapa naif nya, menganggap perasaan Aluna besar padanya.
"Kau harus putuskan secepatnya, banyak orang yang berminta di posisi ini. Bukankah bekerja di perusahaan besar ini adalah bagian dari impianmu? Apa lagi yang kau tunggu? Kau sudah pernah membuang impianmu dulu, sekarang kau sudah tidak punya alasan untuk menolaknya!" tegas Rizal yang juga tahu kisah sedih tak berujung milik Juna.
Masih dalam pengurusan, atau uang dan kekuasaan bisa menyelesaikan semuanya, Juna tidak pernah mendapat surat perceraian untuk dia tanda tangani. Mungkin hal itu hanya masalah sepele bagi seorang Jer Hansya.
__ADS_1
"Kasih aku waktu dua hari. Lusa aku kabari kau," jawab Juna mantap. Kalau bukan memikirkan ibunya, detik ini juga dia pasti memilih untuk berangkat.
Setelah menjelaskan pada Bu Salma, yang lagi-lagi menatap putranya dengan tatapan sendu, wanita paruh baya itu mengangguk, mengusap wajah tampan anaknya dan memberi restu.
Sedih sudah pasti dirasakan Bu Salma. Tidak ada orang tua yang senang anaknya jauh, terlebih anak semata wayang. Namun, Bu Salma tahu ini jalan terbaik baik Juna membalut sekaligus menyembuhkan hatinya yang sudah hancur tak berbentuk. Bukankah obat sakit hati yang paling mujarab adalah waktu?
***
Hati Juna terasa gamang. Dia sudah berada di ketinggian, dalam pesawat yang akan membawanya ke Jerman.
"Jangan beri tahu kemana aku pergi, Bu. Tidak juga pada Tania," pesan Juna sebelum naik ke taksi yang akan mengantarnya ke bandara.
Juna tidak mau lagi memiliki hubungan apapun dengan keluarga itu. Bahkan soal uang, Juna sudah menarik uang satu milyar itu dan mengembalikan dalam bentuk cash pada Opa Jer.
Juna sudah berusaha meminta pihak bank, untuk mengidentifikasi, nomor rekening mana yang mengirim uang tersebut, tapi setelah ditelusuri, rekening itu sudah ditutup oleh Opa Jer. Jadi, niat untuk mengirim balik ke nomor rekening asal, gagal total.
Penuh keberanian, Juna yang menenteng tas ransel masuk ke halaman rumah Hansya. Hanya sebatas teras rumah, karena satpam tidak mengizinkannya masuk sesuai perintah si empunya rumah.
"Kalau begitu, tolong titip pada Opa Jer tas ini, Pak," ucapnya menyerahkan tas ransel besar berwarna hitam.
Sontak satpam dan dua orang bodyguard yang ikut menyaksikan hal itu, menolak dan meminta Juna membawa kembali.
__ADS_1
"Jangan macam-macam kamu, ya. Bawa pulang, Mas. Itu pasti bom, kan?"
Ck! Bodoh sekali para penjaga rumah yang dipekerjakan Opa Jer, pikir Juna. Kalau berisi bom seperti sangkaan mereka, ngapain dia datang baik-baik dan begitu sopan menitipkan tas itu?
Penuh kesal, Juna membuka resleting tas itu dan menunjukkan pada ketiga pria itu isinya.
"Hah? Ini uang semua, Mas? Sampean baru ngerampok atau gimana ini?"
"Yang benar aja, Pak. Ngapain saya ngerampok terus ngasih hasil rampokan ke sini? Sudahlah, Pak. Tolong kasih ini pada Opa Jer. Katakan dari saya," ujar Juna memutar tubuh melenggang menuju motornya dan bergegas meninggalkan rumah itu.
Hati kecilnya terusik, memintanya untuk menoleh ke lantas atas, berharap bisa melihat wajah Aluna yang jujur saja, meski dia coba tepis, Juna sangat merindukan gadis itu.
Benar kata anak sekolah geng motor Bandung itu, rindu itu berat, bahkan bisa buat gila.
Juna bertekad tidak akan pulang sebelum sukses. Dia akan buktikan pada semua orang yang menghina keluarga kalau dia bisa sukses.
***
"Selamat datang. Akhirnya kau melakukan hal yang benar," ucap Rizal, menyambut Juna di bandara dengan pelukan hangat.
"Terima kasih sudah mengingatku dan menawarkan ku pekerjaan ini," jawab Juna dengan sepenuh hati.
__ADS_1