
Tubuhku kaku duduk diantara dua orang gadis yang saat ini saling menatap satu dengan yang lain mencoba berpikir keras di dalam benak mereka tentang posisi mereka di dalam hidupku. Sementara aku? Yang bisa kulakukan hanya menunduk.
Pertemuan yang tidak disengaja itu, membuatku bingung harus bersikap bagaimana, dan an tentu saja, tawaranku mengajak Aluna untuk segera pergi, tidak serta merta berjalan dengan gampang. Tania tetap bersikeras untuk mengajak kami duduk mengopi bersama.
"Sayang, kenapa aku baru tahu bahwa kamu memiliki adik sepupu? Padahal kita sudah pacaran lebih dari lima tahun?" tanya Tania yang masih saja belum percaya akan penjelasanku tadi. Tatapan penuh selidik, masih menerpaku, seolah bersiap jika aku salah jawab dan mengecewakannya, Tania akan segera menghajar ku.
Aku tidak bisa melirik ke arah Aluna, tapi bisa ku tebak, pasti sedang melihat ke arah ku. Hal itu bisa kurasakan. Tatapan gadis itu tidak senang, terlebih dengan reaksi tubuh Tania yang bergelayut manja padaku.
"Aku... Aku juga baru tahu, Tan. Tiba-tiba saja Ibu mengatakan bahwa aku punya adik sepupu," ujarku melanjutkan cerita yang sudah terlanjur dikarang oleh Aluna. "Kamu gak percaya?"
Aku mencoba peruntunganku ingin mengetahui sejauh mana kebohongan ini bisa menyelamatkan kami dari rasa curiga yang kini bersarang di dalam hati Tania.
"Oh begitu. Aku percaya kok l, soalnya wajah kalian juga mirip." Tania mencoba untuk tersenyum dan sekali lagi dia menggapai jemariku yang tadi ku lepas, menggenggam dengan erat.
"Kak, kita pulang, ya. Aku mau ngerjain tugas!" jawab Aluna ketus, tatapannya sangat mematikan ke arahku setelah melirik tangan kami yang saling bertautan. Tidak mungkin aku menyimpulkan kalau dia saat ini sedang cemburu, kan?
"Ya, kok, buru-buru, sih? bentar lagi ya, Al," sambar Tania yang tetap bersikap ramah terhadap Aluna. Sekarang dia lebih rileks yang menandakan bahwa dirinya sudah percaya bahwa Aluna adalah adik sepupuku.
Dengan berat hati Aluna mengangguk dan lagi-lagi hal itu membuatku tercengang. Biasanya gadis itu begitu egois dan tidak mau mendengarkan permintaan orang lain, tapi kali kini dia mau mengalah.
Keduanya ngobrol, membahas ini dan itu. Syukurlah, mereka punya pembahasan yang menarik hingga bisa bertahan lebih dari setengah jam mengobrol.
Namun, setiap kali Tania berkata manja padaku, Aluna akan buang muka, tidak sudi dijadikan penonton akan kemesraan kami.
Aku kasihan padanya yang gelisah hingga memutuskan untuk meminta kepada Tania agar mengizinkan kami pulang. Namun, tentu saja ada harga yang harus dibayar untuk itu. Di depan Aluna, Tania meminta aku untuk menciumnya.
__ADS_1
"Jangan dong, Tan ini banyak orang. Lagi pula ada Aluna," bisikku menghadap ke arah telinga Tania.
"Kenapa harus malu? Dia kan, adik sepupumu yang sebentar lagi akan jadi adik iparku juga. Kita juga nanti akan jadi teman baik, iya kan, Al?"
Aluna tidak mengatakan apapun, bahkan kali ini tersenyum pun tidak. Mungkin kesabarannya sudah habis. Dia memutuskan untuk bangkit dari duduknya, melangkah menjauh dari kami.
"Kami pulang dulu ya, Tan. Gak enak sama Alana. Besok kita ketemu lagi," ucapku memohon pengertiannya.
"Tapi janji, besok jemput aku di rumah. Udah berapa kali kamu janji mau ketemu sama Papa dan Mama."
Aku ragu untuk menyanggupinya karena memang permintaan Tania sangat berat. Bukan rahasia lagi diantara kami berdua bahwa kedua orang tua Tania memang tidak terlalu suka padaku. Tidak perlu ditanyakan alasannya. Sangat sederhana karena aku bukan dari keluarga orang berada seperti mereka.
Selama pacaran, Tania pernah mengatur pertemuan ku dengan orang tuanya. Aku ingat, itu jadi pertemuan pertama dan sangat horor. Menegangkan karena selama makan siang di restoran itu, ayah Tania sama sekali tidak mengajak ku bicara, bagian menoleh padaku saja mungkin hanya saat berjabat tangan sebagai perkenalan langsung.
Alhasil, setelah kejadian itu, aku menjadi rendah diri. Jujur, aku mengatakan pada Tania, kalau hubungan kami akan berat. Orang tuanya tidak akan merestui. Bahkan saat itu, dengan hati hancur, aku menawarkan perpisahan.
"Tapi Tan...."
"Nggak ada kata tapi, pokoknya kamu harus ke rumah!"
"Yaudah, kami balik dulu," jawabku menghentikan debat kusir itu, karena ku tahu aku tidak akan menang. Seri aja susah.
"Bye, Al. Aku senang deh, ketemu sama kamu. Next kita jalan, ya."
Tanpa ragu, Tania maju lebih dulu ke hadapan Aluna, mencium kedua pipi gadis itu, sebelum berbalik menghadap ku. "Sampaikan salam sama calon mertua aku, ya," bisiknya tersenyum, tapi masih bisa di dengar oleh Aluna, yang lagi-lagi menunjukkan wajah tidak senang.
__ADS_1
Kepalaku hanya mengangguk kunci jawaban atas pertanyaan Tania.
Aku pikir masalahku sudah selesai karena sudah bisa terlepas dari Tania, tapi ternyata bagian ter-horor nya baru saja dimulai dan itu tepat di atas motor saat kami pulang.
Aluna mengunci bibirnya. Satu patah kata pun ogah untuk dia keluarkan.
"Kamu gak lapar?" tanya ku mengajaknya berkomunikasi. Bisa bahaya kalau sampai rumah dia masih ngambek.
"Al," ucapku selembut mungkin. Pertanyaan ku tidak mendapat respon darinya bukan karena tidak mendengar, tapi memang karena tidak sudi menjawab.
"Alana cantik, kamu mau makan apa? Kita makan dulu baru pulang, ya?" tanyaku sembari merayu. Bara api yang saat ini bersarang di hati Alana harus segera ku padamkan.
"Gak usah! Aku mau pulang!"
Nah, kan, benar apa kataku. Dia marah, tapi kenapa? Apa yang buatnya marah? Toh, pertemuan dengan Tania hanya sebentar, tidak mengganggu niatnya yang ingin berburu buku, karena sudah mendapatkan semua yang dia mau. Lantas, apa yang buat dia marah?
"Kamu gak lapar? Makan dulu, ya? Aku lapar."
"Aku bilang gak mau, ya gak mau!" Bentaknya dengan suara gemetar.
Aku menepikan motor karena tidak lama setelah itu, samar aku mendengar isak tangis gadis itu.
"Jangan berbalik" perintahnya saat aku akan memutar tubuh ku ingin melihatnya. "Tetap begitu!"
Aku mengalah, mengikuti keinginannya. Tidak jadi turun dari motor, tetap pada posisi itu. Perlahan ku ulurkan tanganku menyentuh kepalanya, lalu ku tarik agar bersandar ke pundakku.
__ADS_1
Aluna tidak menolak, dan pada akhirnya, gadis itu membanjiri bajuku dengan air matanya. Apa yang ditangiskan gadis itu, aku pun gak tahu. Tangisnya begitu pilu, seolah seseorang sudah menyakiti hatinya yang terdalam.
"Ayo, kita pulang!" perintahnya setelah puas menangis dan himpitan di hatinya berkurang.