
(Aluna)
Gua menatap jauh ke gerbang sekolah. Rasanya malas banget harus kembali ke tempat itu, apalagi kalau tanpa sengaja bertemu Digo, walau mungkin itu hanya ada satu persen kemungkinannya. Mana mungkin si brengsek itu nyariin gua!
Namun, pria menyebalkan yang sudah didaulat Opa untuk menikahi dengan gua, sedikit banyak menyadarkan bahwa gua memang harus menyelesaikan sekolah. Setidaknya, setelah lulus gua bisa mencari pekerjaan.
Gua marah pada Opa. Sangat marah. Belum selesai amarah gua karena sudah menikahkan dengan Juna tanpa sebab dan juga tentu saja tanpa konfirmasi, Opa juga sudah mencabut semua fasilitas gua dan melemparkan ke rumah Juna.
Sampai sekarang, sekeras apapun gua berpikir alasan Opa menikahkan gua dengan Juna, tetap saja gak bisa dimengerti.
Juna hanya seorang guru baru di sekolah gua. Apa sih, yang bisa diharapkan dari pria miskin itu? Apa mungkin Opa punya hutang budi pada Juna dan keluarganya? Lantas, kenapa harus gua yang ditumbalkan? Kan, bisa saja Opa kasih uang buat bayar kebaikan mereka.
Ah, sudahlah. Gua pusing. Intinya, gua benci Opa. Sampai kapan pun, gua gak akan memaafkan Opa. Gua juga gak mau ketemu, dia sudah merusak hidup dan masa depan gua.
Harusnya malam itu gua pergi sejauh mungkin, jangan bersembunyi di basecamp Digo, hingga ketahuan oleh Opa. Alhasil, anak buahnya dan juga Juna bisa nyeret gua pulang untuk dinikahkan.
Daftar kebencian gua sama orang-orang makin bertambah. Kalau pertama gua benci sama Juna karena udah mempermalukan di depan teman-teman sekelas.
Awalnya, gua kira saat gua ngadu sama Opa dan minta pecat Juna dari sekolah, Opa akan mengabulkan permintaan gua, dan selamanya gua gak akan bertemu dengan pria itu.
"Memangnya kenapa kamu di keluarkan?" tanya Opa.
"Aku gak ngerjain tugas yang dia minta, Opa. Benci, sok ke-cakep-an dan tebar pesona di kelas. Padahal, dari kemejanya aja, aku tahu dia itu miskin. Kenapa sih, sekolah terima dia jadi guru? Pokok, Opa telepon kepala sekolah, minta pecat guru miskin itu!"
Saat itu Opa hanya diam, jadi gua pikir, dia setuju dan mengabulkan permintaan gua, tapi ternyata gua salah. Malah makin ekstrim, gua dinikahkan sama Juna brengsek.
__ADS_1
Lalu, pada list ke dua, ada Opa yang pikun, memilih suami gua seenak jidatnya. Kini, pada list terakhir ada Digo.
Malam itu, kita bertengkar hebat. Gua pikir, dia akan senang melihat gua datang dengan koper gede yang gua tenteng. Harapan gua simpel, dia bakal meluk gua dan ngajak gua tinggal di apartemennya, kenyataannya?
Bang*sat emang! Dia malah marah dan bilang gua to*lol karena udah kabur dari rumah Juna. Minta gua balik lagi. Tentu saja gua nolak.
"Lu kok gitu sih, Go? Gua udah bela-belain pergi dari rumah itu. Lu gak peduli sama gua? Gua udah nikah sama cowok miskin itu, atas saran lu, biar Opa gua gak curiga saat kita kabur nanti. Sekarang, saat kita udah bisa kabur karena Opa pasti mengira gua di rumah mereka, lu yang malah gak mau nampung gua. Lu sebenarnya cinta gak sih, sama gua?" Tangisku merebak, gua gak nyangka seujung kuku pun kalau Digo malah minta gua balik ke rumah itu.
"Gua kan udah bilang, lu harus sabar, Al. Kita harus atur strategi. Lu gak bisa main kabur gitu aja. Kita bakal kabul, tapi gak sekarang. Lebih baik lu balik ke rumah dia!"
"Gua gak mau! Lu harus tanggung jawab. Kalau lu gak nyuruh gua nikah sama Juna, gua masih bisa bertahan di rumah Opa, biarin deh, Opa hukum gua, tapi sekarang? Status gua udah istri orang, dan lu gak mau tanggung jawab bawa gua kabur!"
Rasanya pengen banget gampar wajah tampan Digo, tapi hati gua gak sanggup. Gua cinta banget sama cecunguk ini.
"Go, bawa gua pergi. Kita bisa hidup dengan tenang di tempat lain. Bali, kita bisa ke Bali," saran gua mengikis jarak, menyentuh lembut lengan pria itu, tapi yang ada, dia malah menyingkirkan tangan gua dan menciptakan jarak baru.
"Gak! Gua gak mau balik!"
"Gua bilang balik sekarang, atau lu mau gua gampar? Gua pusing mikirin lu. Gua capek ngadepin cewek manja, gak bisa apa-apa kayak lu! Bisanya cuma merengek dan buat gua muak!"
Sakit hati gua dengar perkataan Digo. Capek katanya? Jadi, selama ini, dia udah jenuh sama gua?
Pria brengsek itu akhirnya meninggal gua sendiri di tempat sepi, gak jauh dari area balap liar yang akan dimulai. Malam ini, seperti biasa Digo akan bertanding. Gua harap, mobilnya terguling!
Namun, baru aja gua nyumpahi pria itu, kembali gua tarik lagi. Gua gak mau terjadi hal buruk sama Digo, gua cinta mati sama dia.
__ADS_1
Malam itu, gua hanya bisa nangis keder, sesunggukkan, sampai cairan bening dari hidung naik turun.
Malam itu juga, gua kalut. Harus kemana gua pergi, sementara uang di ATM gua juga udah ludes. Kali terakhir, Digo minta duit, gua kuras kasih ke dia semua. Gua pikir duit 30 juta itu gak ada artinya. Toh, bisa minta ke Opa lagi. Ternyata lagi-lagi gua salah. Opa gak kirimi lagi duit bulanan gua, malah bilang gua minta ke suami.
Suami? Dih, ogah! Mana mungkin gua menganggap Juna suami gua. Amit-amit.
Gua akui tampang dia cakep, cakep banget malah, tapi sorry, bukan tipe gua!
"Al, akhirnya lu sekolah juga. Gua pikir lu pindah ke Antartika."
Suara nyaring dan cempreng ini pasti Hanum. Gua kangen sama dia, satu-satunya sahabat yang paling dekat sama Gua. Kita temenan dari kelas satu. Kita berdua bisa cerita apa saja dengan nyaman tanpa harus merasa canggung.
"Lu kangen sama gua?" tanya gua balik. Gak usah ditanya sih, Hanum pasti kesepian selama gua gak masuk. Kita berdua emang sepaket. Cerita percintaan gua dengan Digo, Hanum juga tahu, bahkan di sekolah satu-satunya teman gua yang tahu.
Kita juga punya kecocokan lain, kita gak terlalu suka sama sekolah dan belajar. Kita bukan murid pintar, hanya golongan gadis-gadis cantik yang terlahir kaya raya.
"Pasti dong, gua kangen banget. Cuma ya, gak terlalu sedih kehilangan lu beberapa hari ini, karena gua lagi fokus mendapatkan perhatian pak Juna."
Hah? Gak salah dengar gua. Hanum suka sama suami gua? Eh, bukan, sama Juna?
"Seriusan lu suka sama dia?"
"Serius! Lu ingat Nilam, kan?"
"Anak IPA 2?"
__ADS_1
Hanum mengangguk cepat. "Dia nikah sama guru biologi kita tahun lalu, dan gua akan berusaha mendapatkan pak Juna!"