Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 30


__ADS_3

Hati gua gembira. Sangat. Rasanya pengen banget waktu cepat berlalu. Kalau biasanya gua bete setiap pelajar fisika, kimia, kali ini gua bawa happy aja.


Sebulan privat gratis sama Juna sedikit banyak buat otak bebal gua jadi encer, ya, walau dikit, tapi seenggaknya, gua bisa ikutin pelajaran yang diterangkan guru.


Setiap malam Juna ngajarin gua, sampai otak gua yang tumpul, akhirnya berguna juga. Tapi ya itu, semakin sering gua dekat sama Juna, hati gua gak karuan. Gelisah, dan dada gua kayak sesak buat napas. Tapi kalau udahan belajar, dan kita harus bubar, gua justru sedih. Nyaman dekat-dekat Juna.


Oke gua tahu, gua rada aneh, atau bisa jadi gua terinfeksi virus, makanya otak gua sedikit agak lain. Tapi itu kenyataan yang gua rasakan, gua senang dekat sama Juna. Apalagi ibu juga belum pulang dari Malang, hingga buat kita punya waktu berdua lebih lama lagi.


Pikiran gua kacau, masa gua merasa kalau kita berdua udah kayak suami istri beneran, hidup berdua dalam satu atap, hanya ada kita.


Perubahan gua terlihat nyata soal akademik. Hanum aja sampai takjub sama kemampuan gua yang meningkat cukup drastis.


"Gua iri sama lu, sekarang lu kok jadi pintar banget, dan gua tetap to*lol," tukasnya merosot kan kepalanya di pundak gua, sesaat setelah guru fisika keluar.


Gua hanya bisa tersenyum sembari mengelus puncak kepala Hanum, seperti yang biasa dilakukan Juna sama gua, menenangkan.


Hanum sudah berubah ke gua, kalau di hari saat Juna menerima tawaran jadi mentor Hanum, Juna juga menghubungi ayah Hanum, dan meminta maaf karena harus membatalkan tawaran itu.


Hanum bahkan bilang kalau dia sampai nangis sesenggukan karena penolakan Juna.


Namun, bukan karena gua bisa ngikutin pelajaran tadi, makanya senang, tapi karena hari ini, Juna janji ngajak gua nonton di bioskop.


Malam saat mengerjakan soal dengan iming-iming tiket nonton Barbie, gua gagal. Soal yang gua kerjakan salah. Dengan sabar Juna mulai lagi mengajar gua dengan sabar sampai gua bisa. Ternyata, jadi orang pintar itu keren lagi. Gua merasa punya value di harapan teman-teman. Gak perlu lagi gua minder kalau Nuka sok pintar di kelas.


"Dari tadi gua lihat lu melirik jam tangan terus, ada janji? Sama Digo lagi?" sosor Hanum, menghentikan suapan mi ayamnya.


Gua menggeleng pelan. "Kagak, gua pengen buru-buru pulang."


"Hah? Tumben? Biasanya lu malas banget di rumah. Tahu gak, belakangan ini gua mulai curiga sama lu. Lu agak lain kalau gua perhatiin," tukas Hanum memasang mata menyelidik, menyipitkan sebelah matanya ke arah gua.


"Apaan, sih. Kagak. Gua ada acara sama Opa. Udah mau bel, buruan habisi mu ayam lu," jawab gua mengalihkan pembicaraan. Bisa gawat kalau Hanum sampai curiga sama perubahan hidup gua.

__ADS_1


***


Begitu bel berbunyi, gua bergegas bangkit. " Gua duluan ya, Num," ucap gua mengecup pipi Hanum sembari tersenyum.


Gua masih mendengar teriakan protes Hanum saat langkah gua sudah mulai berlari kecil menyusuri koridor.


Dalam benak gua, yang terpenting secepatnya sampai rumah karena Juna udah nungguin. Hari ini Juna memang gak ada kelas.


Gua sibuk mencet layar hape, nyari kang ojek yang ngambil orderan gua, tapi sampai lima menit berdiri di depan gerbang sekolah, gak ada yang nyantol.


Mungkin karena tempat gua yang rawan penumpang, jadi pada berebut. Gua memilih untuk jalan dikit sampai perempatan sekolah gua.


Sumpah, demi apa, gua malah lihat Juna lagi duduk di atas motor, dengan sorot mata tertuju ke arah gua. Dengan celana pendek, dan kaos rumahan yang biasa dia pakai di rumah, tapi tetap aja terlihat tampan. Ah, kayaknya gua benar-benar udah suka sama dia.


Setelah melihat keberadaan gua, dia tersenyum dan melambai ke arah gua. Sejurus kemudian, motornya melesat menghampiri.


"Kamu di sini?"


Seperti biasa, Juna tidak menunggu jawaban gua, langsung memasangkan helm di kepala gua dan setelah gua dia atas motor tangannya menarik tangan gua untuk melingkar di perutnya. Kebiasaan Juna tiap bonceng gua, dan anehnya gua suka.


Sikap Juna yang buat gua merasa dilindungi, dan dianggap penting. Beda dengan Digo, yang gak pernah peduli sama gua. Bahkan pergi ke Bangkok aja ngabarin lewat chat, tapi gua gak peduli lagi.


Angin siang itu cukup menyejukkan, meski terik matahari juga masih terasa. Satu lagi perubahan dalam diri gua. Gak pernah sekalipun membayangkan akan naik motor bebek panas-panasan begini, tapi kenyataannya, boncengan begini justru momen yang aku tunggu.


***


"Ibu udah pulang, ya?" tanyaku setelah mengganti pakaian. Banyak menu makanan di atas meja yang terhidang. Gua bola melihat ke arah kamar ibu, sepi, gak ada tanda-tanda ibu udah pulang.


"Belum. Kenapa? Kangen?"


"Iya. Tapi ini masakan siapa?"

__ADS_1


Juna tersenyum, lalu meletakkan kedua tangannya di atas pundakku lalu mendudukkan ku di kursi. "Cobain."


Disodorkan sepiring nasi dengan lauk ikan gembung, ada tempe dan tahu, dan sedikit sambal di pinggir piring.


"Kamu yang masak?" tebak gua penasaran. Sekali lagi gua menyuap makanan itu ke dalam mulut, enak banget kayak masakan ibu.


"Iya, dong," jawabnya lalu menyendok nasi ke piringnya sendiri. Banyak tentang Juna yang gak gua tahu, tapi jelas semuanya adalah kelebihan. Dia sempurna menjadi seorang pria, dan pastinya pasti idaman setiap wanita.


Apa yang juga gak punya? Dia tampan, bahkan sangat tampan, sangat cerdas dan berkarisma. Kalau soal uang, dengan otak jeniusnya, dia pasti bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi.


"Makan yang banyak."


"Tapi kita jadi nonton, kan?" susul ku. Aku sudah menginginkan hal itu.


"Iya, jadi. Makanya makan yang banyak, biar gak usah jajan di luar," jawabnya sembari tertawa renyah yang ternyata menular sama gua.


***


Bioskop belum terlalu ramai, maklum saja, jam segini terlalu cepat untuk malam mingguan.


"Beneran, mau nonton Barbie? Kita ganti aja sama film action," tawar gua gak enak hati. Gua tahu, kok, kalau Juna mau nonton Barbie demi buat gua senang. Mana ada cowok se-berotot kayak dia tontonan nya Barbie!


"Gak usah. Kita nonton ini aja. Kamu, kan, mau nonton ini, aku temani."


Melted lagi, deh, gua. Kenapa sih, Juna bisa sebaik ini? Mana cakep banget lagi. Dari tadi entah udah berapa pasang mata cewek melirik dia. Bahkan pas beli tiket tadi, gua lihat ada cewek yang coba kasih sinyal ke dia, mencoba untuk menggoda.


Malah, gua masih sempat dengar salah satu dari mereka ngomong. "Pria idaman banget, mau temenin adiknya nonton Barbie."


Pengen banget rasanya gua Jambak itu cewek! Dia gak tahu apa, kalau Juna sudah beristri? Dia suami gua!


"Kita masuk, ya," ucap Juna menunjuk studio tiga. Gua mengangguk, lalu karena emosi masih tersimpan melihat gadis-gadis yang melempar senyum padanya, gua menggenggam jemari Juna dan menariknya masuk ke dalam studio.

__ADS_1


__ADS_2