
Hampir satu jam kami berdua bercerita. Tidak ada lagi gua sembunyikan dari Hanum. Gua sadar, betapa baiknya Hanum jadi sahabat. Selalu mau memaafkan gua yang tidak pernah menempatkan dirinya dalam hidup gua meski hanya sekedar berbagi cerita.
"Jadi, Pak Juna ngomong gitu?" tanya nya terkesiap, kala gua dengan kesedihan yang terasa menyampaikan kalau Juna pernah bilang, asal gua lulus SMA dengan baik, dia akan ngomong sama Opa agar kami bisa pisah.
Gua hanya mengangguk. Kalau dulu, pertama kali mendengar ucapan Juna, hati gua baik-baik aja, kenapa sekarang jadi sesakit ini?
"Oh, iya, lu emang se-naksir itu sama Juna?" Gua mengalihkan pembahasan. Bosan bahas luka hati gua. Sekarang justru, mempertimbangkan apa lebih baik gua kasih tahu aja sama Hanum, kalau sebaiknya dia menyerah aja mengejar cinta Juna karena di hati Juna hanya ada Tania?
"Iya. Gua juga gak tahu kenapa bisa se-suka itu sama Pak Juna. Lu gak ada perasaan apapun sama dia, kan, Al?"
Sulit untuk menjawab. Semua sudah gua kasih tahu sama Hanum, kecuali tentang perasaan gua yang sejujurnya. Kalau gua jawab ada, akan menyakiti perasaan Hanum, padahal gak ada gunanya juga karena Juna gak punya perasaan apapun sama gua. Jadi, gua putuskan untuk berbohong. Tanpa suara, hanya gelengan.
"Syukur, deh, jadi gua gak perlu sungkan untuk maju."
Pembicaraan itu terhenti setelah kedatangan seorang pria yang sempat buatku kaget. Sorot mata tajam, penuh emosi, menatap lekat padaku. Selama mengenalnya, baru ini melihat amarah di wajahnya.
"Kita pulang!" Bentaknya menatap tajam ke arah gua. Pancaran matanya seakan ingin melahap gua hidup-hidup.
Gua menoleh ke arah Hanum, meminta penjelasan dari tatapan tajam gua, kenapa pria yang paling ingin gua hindari justru muncul di hadapan gua? Melihat dia di sini, buat hati gua makin sakit karena mengingat penolakannya, menyadari kalau dalam hatinya gak ada gua.
"Sorry, Al. Pas gua lihat lu mulai mabuk di bar tadi, gua langsung ngubungi pak Juna dan sherloc tempat kita."
Gua cuma termangu. Gua gak mau pulang, tapi juga gak tahu harus kemana. Lupakan rumah Opa. Gua gak akan diterima.
"Gua gak mau pulang. Lu pulang aja sendiri!" seru gua dengan tegas. Gua bukan bermaksud mempermalukan dia di depan Hanum, tapi gua memang lagi gak pengen bicara sama dia.
"Num, makasih, kamu udah ngabarin saya. Kamu pulang sekarang, udah malam," ucap Juna mengalihkan pandangan dan bicara pada Hanum.
Wajah emosinya masih terlihat. Seram, tapi perasaan gua yang campur aduk juga buat gua sedikit lebih berani.
"Oh, iya, Pak. Saya naik taksi aja," ucap Hanum mengerti. Wajahnya pun tidak seperti tadi yang sudah mulai rileks bicara sama gua.
Mungkin bentakan Juna buat dia juga kena mental sama kayak gua.
__ADS_1
Melihat taksi membawa Hanum, gua pengen banget lari ikut masuk ke dalam taksi itu. Lama kelamaan di dekat Juna buat gua takut.
Tanpa berkata apapun lagi, Juna kembali ke motor, menghidupkan mesin dan menoleh ke arah gua.
"Naik, Al. Kita pulang," ucapnya udah kayak satpol PP yang nangkap banci keluyuran tengah malam.
"Kan udah gua bilang, kalau gua gak mau pulang!"
"Kamu mau naik, atau aku gendong ke motor?"
Melihat gua bergeming, Juna kembali turun dan mendekatiku. Tanpa peduli akan penolakan gua, langsung aja dia narik tangan gua.
Gak punya pilihan lain, gua diam, patuh saat helm yang biasa gua pakai dipasangkan di kepala gua.
Sepanjang jalan, kita diam. Gua juga masih kesal sama dia.
Sial, langit malam ini seakan menertawakan keadaan gua dengan menurunkan hujannya. Syukur kita udah mau sampai di rumah. Mungkin pertimbangan itu yang buat Juna terus menerobos hujan.
"Kamu cuci rambut, udah aku masak air hangat. Jangan lama, jangan sampai kamu masuk angin," ucap Juna setelah begitu sampai di rumah tadi langsung ke dapur.
"Ayo, Al. Nanti kamu sakit," ulangnya sembari menyerahkan handuk gua.
***
"Aku bantu keringkan."
Entah sejak kapan Juna ada di dekat gua, tangannya merebut handuk yang gua buat mengeringkan rambut.
Gua lirik gelas yang sesaat tadi dia letakkan di atas meja tepat di depan gua.
"Habisi susunya," ucapnya menghentikan gerakan tangannya mengeringkan rambut gua.
"Gua lagi gak pengen minum susu. Dan lu gak usah sok baik sama gua!" seru gua kesal. Hati gua meleleh menerima perhatian dia. Please, jangan bersikap baik sama gua, semakin sulit nanti membuang perasaan ini.
__ADS_1
"Aku mohon."
Juna duduk di samping gua. Dia menunggu tangan gua meraih gelas, tapi tetap gua bergeming.
"Minum, Al, biar tubuh kamu hangat. Aku gak mau kamu sakit."
"Kamu gak mau tubuh aku sakit, tapi kamu gak peduli dengan perasaan gua!"
Pecah sudah tangis dan amarah gua di depan dia. Gua lepaskan kesesakan yang saat ini menghimpit di dada. Malam ini, gua putuskan kalau mencari tahu perasaan Juna sama gua.
"Al....,"
"Kamu jahat, Juna. Aku benci sama kamu!"
"Apa yang aku perbuat sampai buat kamu sakit hati?" Juna mengerutkan keningnya. Demi Tuhan, Juna, yang benar aja lu gak tahu maksud gua!
Pengen banget rasanya gua tampol Juna brengsek ini! Dia gak tahu atau lagi pasang mood polos?
"Pikir sendiri! Dasar brengsek. Gua benci sama lu!" salak gua bangkit dari duduk, menuju kamar. Baru sampai depan pintu kamar, Juna bangkit dan ngejar gua.
"Kamu kenapa? Apa yang buat kamu marah? Harusnya aku yang marah sama kamu karena kamu udah berhasil buat aku ketakutan setengah mati," ucap Juna menarik tangan gua sampai tubuh gua sampai mentok di tembok kamar.
"Minggir!" bentak gua saat Juna semakin mengikis jarak. Gua gak mau debat jantung gua bisa dia dengar. Sekuat tenaga gua mendorong dadanya.
"Kamu kok gini, kayak anak kecil. Kamu tahu, se-panik apa aku tadi? Begitu kami pergi, aku benar-benar gak tenang, berusaha mencari tapi gak nemu. Kenapa kamu jadi kayak gini, Al?"
"Bukan urusanmu. Memang nya kamu peduli sama ku? Gak, kan?"
"Aku peduli, Al. Bahkan saat Hanum bilang kamu hampir dicelakai dua pria dalam bar itu, aku hampir gila, melajukan motorku dengan kencang, mengabaikan keselamatan hingga hampir menabrak orang. Aku takut kamu kenapa-napa. Aku gak akan bisa memaafkan diriku kalau kamu terluka."
Begitu manisnya semua ucapan Juna, tapi apa gunanya? Dalam hatinya gak ada gua. Dia peduli karena dititipkan tanggung jawab sama Opa.
Kita saling tatap hingga Juna mengikis jarak di antara kita juga gua gak sadar. Benar-benar terhipnotis.
__ADS_1
Jemarinya naik, menghapus pipi gua dengan lembut. "Kamu sangat berarti untuk ku, Al."