Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 14


__ADS_3

Gua depresi banget. Telepon gua ditolak sama Opa Jer. Bahkan, waktu gua mau masuk ke mansion aja dilarang. Pengen banget gua maki pak Komar karena gak mau bukain gerbang.


"Maaf, Neng. Bapak gak berani, tuan bilang jangan kasih masuk kalau Neng datang," jawabnya dengan penuh ketakutan.


Akhirnya gua hanya bisa menarik napas panjang lalu membuangnya. Gua berusaha jangan buat gaduh. "Kalau begitu, tolong pak Komar bilang kalau aku nungguin di sini, ada surat dari sekolah, minta opa datang ke sekolah.


"Iya, Neng. Nanti saya sampaikan."


"Sekarang, Pak. Aku tunggu di sini. Aku harus tahu, Opa mau datang atau gak," paksa gua, yang pada akhirnya satpam itu mengalah dan masuk ke rumah guna menyampaikan pesanku.


Selang 10 menit, Pak Komar keluar menemui gua.


"Sorry, Neng. Kata tuan besar, urusan Neng bukan sama tuan lagi. Neng disuruh kasih surat ini sama den Juna."


"Apa? Juna? Yang benar aja, dong, Pak!" protes gua gak terima. Ini maksud Opa gimana, sih? Seriusan mau buang gua selamanya?


Pak Komar gak bisa berbuat apapun lagi, dia kembali ke pos satpam nya, mengabaikan gua yang kayak gembel dan tuminmin alias tukang minta-minta!


Semua kutuk sumpah serapah mencuat dalam hati. Kesal dan malah begitu marah pada Opa. Dimana-mana yang ada itu anak durhaka, gak ada tuh, pernah gua dengar kakek durhakim.


Dengan lunglai gua pulang ke rumah. Gua ambil ponsel mau pesan taksi, tapi gua ingat kalau pas jajan di kantin tadi, duit gua tinggal selembar.


Bergegas gua cek dompet mahal bergambar mata itu. Benarkan, tinggal selembarnya. Gak akan cukup naik taksi. Gua putuskan pesan ojek aja, lebih murah.


Gua udah bersiap ngomong sama Juna saat tiba di rumah, tapi pria itu ternyata gak di rumah.


Setengah jam menunggu dengan gelisah, gua putuskan untuk ke warung ibunya di samping rumah. Tadi Bu Salma nyiapin makan siang gua, pas gua makan, wanita itu udah gak terlihat lagi. "Makan yang banyak, ya, Nak, Ibu tinggal dulu," ucapnya tadi sebelum berlalu.


Gua jadi gak enak hati. Ibu begitu baik, perhatian sama gua. Begitu sampai di depan rumah dan bertemu pandang, ibu berteriak histeris melihat wajah gua yang babak belur.


Untung saat pulang tadi, Juna ngasih gua jaketnya, jadi ibu gak lihat pakaian gua yang udah sobek dan tak berbentuk lagi.


"Neng, kenapa? Siapa yang udah buat Neng kayak gini?" sosor ibu tampak panik.

__ADS_1


"Gak papa, Bu. Cuma tadi bertengkar di sekolah sama teman yang rada rese."


"Terus, Juna mana?" Ibu celingak-celinguk melihat ke arah belakang ku, jauh ke depan hingga batas pagar.


"Aku gak pulang bareng Juna, Bu. Tadi disuruh pulang duluan setelah masuk ruang BP."


"Ya sudah, kamu ganti baju dulu, cuci muka, habis itu ibu bantu oleskan obat dan setelahnya makan," ucap ibu mengelus lenganku.


Semua kebutuhan gua dipenuhi oleh ibu, mengoleskan obat dan menghidangkan makanan. Bahkan mengerti, agar gua nyaman menikmati makan siang, dia ninggalin gua sendiri di ruang makan.


***


"Loh, udah selesai makannya?" Ibu tampak serius sekali menimbang minyak goreng curah.


Gua hanya bisa mengangguk. Kalau mau jujur, gua malu sebenarnya. Selama hampir seminggu ini gua tinggal bareng mereka, ibu selalu memperhatikan gua. Bahkan semua pakaian gua tersedia di lemari, disusun rapi. Begitu juga soal makan, pasti cepat disajikan dan benar kata Juna, masakan ibunya the best, bahkan koki di rumah Opa lewat.


"Ibu, Juna mana?" Walau canggung, gua tetap membiasakan diri memanggil ibu. Gua merasa bersalah karena selama ini udah bersikap gak sopan sama ibu.


"Oh, tadi katanya mau ketemu sama teman. Neng ada perlu?"


"Ya sudah kalau begitu. Neng, istirahat aja, di sini kotor," ucap ibu begitu ramah dan juga lembut.


"Aku di sini aja deh, Bu. Temani Ibu. Di rumah juga bosan."


Ku pilih untuk mendekat, duduk di bangku kecil plastik yang ada di depan ibu. Memperhatikan tangannya yang terlihat cekatan membungkus minyak kiloan.


"Neng, maaf ya, kalah Neng harus tinggal di rumah sederhana yang jauh dari mewah seperti tempat tinggal Neng selama ini," ucap ibu tiba-tiba. Gua jadi kagok dan hanya bisa memberi senyum sebagai balasan.


"Gak papa, Bu. Udah nasib aku juga."


"Juna anak ibu satu-satunya. Dari kecil udah gak punya ayah. Bisa sekolah sampe sarjana juga karena dapat beasiswa dari keluarga Neng. Jadi, Juna hanya bisa melakukan keinginan tuan demi balas semua kebaikan tuan Jerry."


Seketika wajah Gua pucat. Jadi, selama ini, yang hutang budi bukan Opa, tapi justru Juna? Terus kenapa opa justru ngasih gua ke pria itu?

__ADS_1


"Ibu tahu alasan Opa menikahkan kami?" tanyanya gua antusias.


"Kalau itu, Ibu gak tahu pasti. Tuan Jer mengajak Ibu bicara sesaat setelah kalia menikah, hanya mengatakan kalau Neng Al butuh orang yang bisa membimbing agar jadi gadis yang lebih baik lagi," terang Ibu kembali tersenyum.


Gua jadi ingat, saat gua dan Juna nungguin Opa keluar dari ruang kerjanya bareng Ibu, mungkin saat itulah Opa kasih tahu niatnya.


Gua paham kini. Jadi, Opa nikahkan gua sama Juna karena gak ingin gua berhubungan dengan Digo.


"Neng, sekarang kan, Juna udah jadi suami Neng, kalau Ibu bisa minta, sebaiknya manggil Juna dengan panggilan, mas."


Gua jadi malu sendiri. Berarti selama ini, ibu menilai gua gak sopan. Usia kita beda hampir delapan tahun, tapi gua seenaknya manggil nama dia.


Namun, untuk menjawab permintaan ibu, gua juga kikuk. Sepertinya ibu tahu apa yang aku rasakan, lantas memilih topik yang lain untuk dibahas.


Sumpah, gedeg benar lihat Juna. Uda sampe jam tujuh malam belum balik juga. Ibu udah minta gua buat nelpon, tapi tengsin. Ntar dia ge-er lagi.


Pukul depan malam barulah pria menyebalkan itu pulang. Gua pura-pura gak peduli, ikut memperhatikan sinetron di televisi yang sejak tadi buat ibu naik sasak karena gemes lihat pemeran wanitanya yang mau aja ditindas bahkan diselingkuhi suaminya.


"Loh, belum pada tidur? Tumben kompak," sapanya yang diabaikan oleh kami.


"Bu," ucapnya menarik tangan ibu untuk mencium punggung tangan wanita itu, lalu menoleh ke arahku.


Pandangannya gak semarah saat gua diarak ke ruang BP tadi, dan entah gimana, Juna datang bersama kepala sekolah.


"Udah makan? Masih sakit?" tanyanya memegangi dagu gua, melihat ke arah luka di sudut bibir sebelah kiri, lalu beralih ke lenganku yang dicakar Nuka.


Gua sempat terhenyak, pria itu berani betul pegang-pegang, tapi gua yang terpesona melihat ketampanannya malam ini, apalagi tampak baru potong rambut, buat bibir gua hanya bisa mengatup rapat.


"Kamu dari mana aja? Dari siang istrimu nanyain, nungguin kamu pulang," celetuk ibu yang sama sekali gak gua prediksi. Sontak wajah gua memerah. Apaan sih, ibu, pake bilang kayak gitu.


"Sorry, ya, aku ada urusan penting tadi. Ada apa?"


Gua bangkit, lalu masuk ke kamar. Gak lama keluar, lalu menyodorkan surat panggilan dari kepala sekolah.

__ADS_1


"Diminta menghadap besok!"


__ADS_2