Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 32


__ADS_3

(Arjuna)


Setelah azan magrib selesai berkumandang, Opa Jer akhirnya siuman. Aluna yang sejak tadi menggenggam tangan Opa Jer menjadi orang pertama yang dilihat orang tua itu.


"Kau datang?" ucap Opa Jer lemah, tersenyum pada Aluna. Ku lihat gadis itu bukan menjawab, justru buang muka, menjauhkan pipinya yang kini digenangi air mata.


"Kamu gak mau melihat Opa? Kalau Opa mati, nanti kamu nyariin, loh," lanjut Op Jer menggoda Aluna.


Aku bisa lihat, Aluna hanya mencoba menyembunyikan kesedihan sekaligus harga dirinya. Namun, saat jemari lemah Opa mentoel jemarinya yang sudah ditariknya setelah Opa siuman, membuat gadis itu menoleh dan bisa ditebak, tangisnya pecah di pelukan Opa.


Aku tahu saat ini dia masih marah pada Opa Jer. Bukan hanya karena sudah menikahkan kami, tapi juga karena sudah menahan diri untuk tidak menghubungi Aluna. Tidak sampai disitu, bahkan pria tua itu tidak mau bertemu dengan Aluna.


Aluna datang dan memaksa untuk masuk tapi atas perintah Opa Jer, gadis itu tidak diperkenankan masuk.


"Istrimu datang, Opa minta kamu harus lebih sabar dan membimbingnya dengan baik. Setelah Aluna punya kepribadian yang baik, Opa akan menambah reward untukmu saat perceraian kalian nanti," ucap Opa lewat pesawat telepon.


Hatiku bergetar. Apa benar semua ini aku lakukan hanya karena uang semata? Sehina itu, kah, aku?


"Kamu dengar, Juna?" Suara Opa nyaring di telingaku, membawaku kembali pada kedudukan yang lemah.


"Aku mengerti, Opa," jawabku singkat.


"Opa sebenarnya tidak tahan. Ini aja lagi ngintip dari jendela, melihatnya marah-marah sama penjaga. Kamu didik dia. Ajarin sopan santun, jadi gadis yang benar, dan tutur kata yang lembut."


"Kenapa gak Opa ikut menasehati dan mendidik?"


Tanpa sadar, ucapan itu keluar begitu saja dari bibirku. Sempat takut kalau Opa akan marah.


"Hati Opa lemah. Opa gak ingin dia benci sama Opa karena semakin keras padanya harus ini dan itu."


"Terus kalau aku?"

__ADS_1


"Kalau dia benci padamu, ya, gak papa. Toh, kamu juga orang lain. Kalau Aluna benci, ya gak masalah."


Aku menghela napas mendengar buah pemikiran Opa yang luar biasa. Tapi benar katanya, siapa aku? Hanya suami kontrak, yang pada masanya nanti juga akan ditendang. Jadi, gak masalah kalau Aluna sampai benci.


"Jangan lupa ajarin dia agama!" lanjut Opa saat itu sebelum menutup teleponnya.


***


Aku meninggalkan kedua orang yang saling menyayangi itu untuk berdua, melepas kangen atau mungkin saling menangisi satu sama lain.


"Kenapa keluar, tuan?" sama Pak Kim.


"Tidak ingin mengganggu mereka, Pak," jawabku seraya tersenyum. Pak Kim membalas senyumanku, dia memilih duduk di kelang satu bangku dari tempatku duduk.


"Tuan Jer, berharap sebelum meninggal bisa melihat Non Al jadi pribadi yang lebih baik, yang akan bisa memimpin perusahaan keluarga Jernal," celetuk Pak Kim dengan pandangan jauh ke depan.


Pak Kim sudah menceritakan penyebab Opa Jer masuk rumah sakit. Penyakit jantung yang sudah lama dideritanya kambuh pagi ini dan harus segera dilarikan ke rumah sakit.


Pria itu datang ke kediaman Jernal, memaksa untuk bertemu dengan Opa Jer. Tentu saja Opa Jer mengabaikannya, tapi pria itu memaksa dengan mengancam akan membeberkan rahasia keluarga Jernal pada media, dan pastinya pada Aluna.


Hanya sebatas itu Pak Kim bercerita, tanpa mengatakan isi dari rahasia yang dimaksud oleh Digo. Aku tahu kalau Pak Kim pasti tahu, tapi hanya tidak ingin mengatakan padaku.


Aku pun tidak memaksa Pak Kim untuk bercerita lebih lanjut, hanya memintaku untuk menjaga Aluna dan menjauhkan dari Digo.


Kalau kata pak Kim, Opa bisa menangani awak media, kekuasaan tidak berbatas, Tao Opa tidak bisa menjamin dengan Aluna. Intinya, Opa Jer ingin Aluna sama sekali tidak berhubungan lagi dengan Aluna.


Opa Jer tahu kalau pria itu kembali mendekati Aluna. Alasan yang diberikan pria itu menjauhi Aluna karena takut dengan anak buah Opa dan menunggu sampai keadaan kondusif seperti yang diceritakan Aluna padaku, menurutku hanya alasan semata.


Pria brengsek itu memang hanya menemui Aluna kalau ada yang dia inginkan dari gadis itu.


"Aku akan sebisa mungkin mewujudkan keinginan Opa," jawabku singkat, untuk perkataan Pak Kim.

__ADS_1


Sejauh ini, aku yang berperan ganda, menjadi suami dan juga pendidik dan pengasuh Aluna, belum sampai ke telinga ibu, pun dengan Aluna. Sejauh ini gadis itu tahu Opa memintaku menikahinya hanya karena dia cucu orang kaya.


Aku gak bisa membayangkan bagaimana sedihnya perasaan ibu setelah perpisahan kami nantinya.


Lantas, bagaimana denganku? Apa aku akan baik-baik saja? Aku seperti pecundang. Tangan Tania masih aku gandeng, tapi kini ada getar yang hadir di hati untuk Aluna. Aku memang belum yakin apa itu cinta, hanya saja, aku nyaman dengan Aluna, dan ingin terus bersama gadis itu. Menyayangi dan melindunginya, bukan karena iming-iming uang yang akan diberikan Opa Jer semata.


Aku tahu kalau pernikahan kami akan berakhir, dan aku tidak pantas menaruh perasaan pada Aluna, tapi hanya yang Maha kuasa yang bisa membolak-balik hati manusia, bukan?


Terlebih setelah apa yang terjadi di bioskop kemarin. Sumpah, aku tidak sengaja. Suasana dan juga dorongan hati yang tidak kusadari itu lah yang buatku melampaui batasan ku.


Aku mencium Aluna!


Aku tahu aku sudah gila. Aku gak tahu diri, tapi aku pria normal.


Aluna yang meringsek kedinginan, mendekatkan tubuhnya ke padaku, sekedar ingin meminjam rasa hangat dari tubuhku.


"Kamu kedinginan? Mau pakai jaketku?" bisikku agar tidak menggangu pengunjung yang lain.


Aluna hanya dia. Menatap wajahnya dengan tatapan yang sulit untuk aku mengerti. Dia tidak pernah melihatku seperti itu, tatapan yang menginginkan sesuatu tapi malu.


Lama kami saling lihat. Aluna juga tidak mengatakan apapun atas tawaranku, justru kini tatapannya jatuh ke bibirku, lalu seolah malu ketangkap basah olehku, pandangannya naik lagi ke atas.


Perlahan tanganku menarik pundaknya agar semakin dekat dan gerakan refleks itu sama sekali tidak mendapatkan penolakan darinya. Jarak yang semakin dekat, deburan napas kami saling beradu, hingga entah siapa yang lebih dulu mendekatkan bibir, mungkin aku, entahlah, aku lupa, tapi sejurus kemudian, bibir kami sudah lengket.


Getaran hebat terasa, seolah kesetrum oleh sentuhan bibir kenyal milik Aluna. Kalau saat di desa waktu itu, ciuman itu tidak disengaja, tapi kali ini, kami sama-sama dalam keadaan sadar.


Melihat Aluna yang menutup matanya, aku pun terbawa arus, mulai mencercap dengan lembut bibir mungil nan lembut itu. Manis. Mungkin karena cola yang baru dia minum.


Untungnya ruangan itu gelap, dan hanya ada beberapa ABG yang menonton film Barbie yang menurutku sedikit Alay.


Mungkin satu menit atau dua menit, aku tidak menghitung, ciuman itu berlangsung, lalu setelah suara kencang yang keluar dari layar, membuat kami tersadar dan Aluna ingin menarik diri, tapi aku tahan, dan membawa kepalanya ke dadaku.

__ADS_1


__ADS_2