Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 41


__ADS_3

(Juna)


Aluna masih ogah bicara dengan ku sejak malam panas yang kami lalu berhenti di tengah jalan.


Aku tahu dia marah dan sangat membenciku, menganggap ku pria plin-plan. Seandainya dia tahu, aku pun ingin sekali menuntaskan permainan itu, tapi keadaan tidak berpihak yang buatku harus melepas perasaan ku padanya.


Dia sakit, tapi aku lebih sakit. Sangat sakit. Tahu sendiri gimana sakitnya dirasakan seorang pria saat keinginannya sudah diujung tanduk, tapi tidak bisa diselesaikan.


Bahkan hingga saat ini aku belum bisa melupakan bagaimana lembutnya kulit Aluna ku rasakan. Setiap memikirkan itu, tubuh akan terasa panas. Aliran darahku menggelora. Ingin mengulang lagi, dan mungkin jika hal itu sampai terjadi, aku tidak akan berhenti seperti malam itu. Persetan dengan amarah Opa Jer, bahkan jika dia sampai membunuhku.


Aku ingin mengatakan pada Aluna kalau aku memiliki perasaan padanya. Tapi itu hanya ada dalam khayal semata.


Mulai dari setangkai bunga hingga coklat tidak mampu meredakan amarahnya padaku. Satu hal yang saat ini aku yakini, Aluna punya perasaan padaku. Entah aku harus senang atau tidak, karena aku pun memiliki perasaan yang sama, tapi apa gunanya? Toh, kami tidak akan bisa bersatu.


"Juna, ada yang mau aku bicarakan." Aku mendongak menatap wajah wanita yang sudah berdiri di depanku. Lamunanku tentang kemolekan tubuh Aluna sirna.


"Ada apa Ren?" Kulihat wajah Iren memerah. Apa wanita itu sedang sakit?


"Ada apa Ren?" tanyaku melirik sekeliling. Ruang guru sudah kosong, mungkin pada pergi ke kantin sekolah yang khusus tempat nongkrong guru pada jam istirahat.


"Jun, apa yang ingin aku katakan ini sudah lama aku pendam. Ingin ku sampaikan tapi aku takut kamu marah," jawab Iren kembali melirik sekeliling, masih aman. Hanya ada kami berdua, jadi kalau apa yang akan disampaikan Iren adalah rahasia, makan pasti aman bersamaku.


"Santai ajaz Ren. Kamu mau ngomong apa?" tanyaku ingin terlepas dari rasa penasaran.


"Aku suka sama kamu Juna," tukasnya meremas jemarinya yang berada di atas pangkuannya.


Asli, aku hampir terjungkal dari kursiku. Tenggorokanku tercekat gak bisa berkata apapun. Sama sekali tidak ada dalam benak ku kalau pernyataan cinta lah yang akan di sampaikan Iren.

__ADS_1


Glek! Susah payah aku mencoba menelan saliva ku. "Ren, kamu ngomong apa, sih?"


"Aku serius, Jun. Maaf kalau kamu jadi gak nyaman, tapi semakin lama aku pendam perasaan ku, maka hatiku semakin gelisah."


Ku hela napas panjang, setelah beberapa detik terdiam, memikirkan bagaimana caraku menjelaskan pada Iren, agar gadis itu mengerti, dan tidak berbalik membenci ku.


"Ren, aku berterima kasih atas perasaan yang kamu ungkapkan, meski tidak sedikitpun aku menyangka. Namun, aku minta maaf, Ren, aku gak bisa menerima perasaanmu. Aku sudah memiliki tambatan hati, gadis yang bertahta dalam hatiku."


Bisa ku lihat rasa sakit itu di matanya. Aku tidak ingin membuatnya kecewa tapi lebih baik jujur sekarang, agar Iren bisa lebih cepat membasuh lukanya.


"Maafkan aku, Ren."


"Gak papa, Jun. Bukan salahmu," ucapnya getir, menyimpan tangisnya rapuhnya, menyembunyikan kesedihan di balik senyumnya dan menggenggam tanganku.


Aku risih, ingin menarik tanganku, tapi gak enak, karena aku tahu saat ini Iren sedang sedih.


Sialnya, saat itu, Aluna yang entah apa tujuannya datang ke ruang guru melihat kami, melihat tangan Iren memegang tanganku.


"Al, ada apa?" Suara Iren bergetar, tapi berusaha bersikap wajar. Malu aja kan, kalau ketahuan sama anak murid guru sedang berduaan begitu.


"Diminta Pak Naga ngambil LKS matematika di atas mejanya, Bu. Habis jam istirahat kita ada pelajaran Pak Naga," jawab Aluna ketus. Dari ekor matanya melirik ke arah aku, tajam banget. Aku tahu karena memang sedang merhatiin dia.


Gadis itu melangkah dengan angkuh, mengangkat dagunya tinggi, seakan dia ingin aku tahu kalau dia tidak peduli apapun yang aku lakukan. Aku tahu dia bohong, karena sehebat apapun dia mampu menyembunyikan rasa cemburu, aku masih bisa melihat dengan jelas.


Setelah mengangkat tumpukan LKS di atas meja pak Naga, Aluna bergegas keluar dari ruangan ini.


Hatiku jangan ditanya, ingin sekali mengejarnya, tapi tidak mungkin aku lakukan.

__ADS_1


Hubungan kami semakin memburuk. Belakang ini banyak masalah yang harus ku hadapi. Aluna yang tidak mau bicara padaku lagi dan juga Tania yang belum mau memaafkan dan bicara padaku setelah Hanum membukakan hubungan ku yang sebenarnya dengan Aluna.


Kalau aku ingat saat itu, amarah Tania meledak, belum pernah aku lihat sebelumnya. Tania adalah tipe gadis lembut dan sangat penyebar, tapi setelah mengetahui perihal pernikahan dadakan itu, Tania berubah menjadi sosok wanita yang belum pernah aku lihat sebelumnya.


"Kamu tega, Juna. Selama ini kamu sudah membohongi aku? Ini balasan atas semua cinta dan juga pengorbananku untuk mu?" salak Tania diantara tangisnya yang sudah pecah setelah memaksa Aluna untuk mengatakan kebenaran atas ucapan Hanum.


Dengan gerakan lemah, Aluna yang tidak bisa lagi menyangkal, hanya bisa mengangguk. Dia tidak tega dengan Tania, karena sejak itu aku lihat Aluna hanya menunduk seperti terpidana mati.


"Dengarkan aku dulu, Tan. Aku gak ada niat untuk membohongi mu," pintaku dengan penuh harap. Bayangkan saja, keributan itu terjadi di restoran yang walau tidak ramai, tapi masih ada pengunjung lainnya, dua atau empat orang.


"Apa lagi, Jun? Apa yang ingin kamu katakan? Kamu sudah buat aku kecewa dan sangat sedih."


Lama menunduk dan tidak tahan mendengar pertengkaran kami, Aluna mengangkat kepalanya.


"Kalau Mbak gak mau dengar penjelasan Juna, maka tolong dengarkan aku." Aluna terdengar menarik napas berat, lalu mengembuskannya. Dalam hati aku bertanya apa yang akan dikatakan gadis itu lagi? Sementara Hanum, setelah dibentak Aluna menyuruhnya diam, hanya bisa tertunduk menderita.


"Kamu mau bilang apa, Al? Tega kamu, ya, bohongi aku? Padahal saat pertama kali kita ketemu, kamu yang bilang kalau kalian hanya saudara sepupu. Apa tujuan kamu yang sebenarnya, Al?"


Kali ini suara Tania sudah lebih rendah, hanya tangisnya yang belum berhenti.


"Aku tahu aku salah, Mbak. Aku minta maaf, tapi jujur aku lakukan itu sama sekali gak punya niat buat membohongi, Mbak, apalagi menyakiti."


"Lantas?" Tantang Tania.


"Aku gak ingin merusak hubungan kalian. Aku tahu kalian saling mencintai. Aku lah yang jadi orang ketiga dalam hubungan kita. Tapi Mbak gak usah khawatir, pernikahan ini hanya pernikahan sementara," ucap Aluna terbata, sesekali dia menggigit bibir bawahnya seakan buntu merangkai kata.


Aku benci akan hal itu. Aku tidak ingin Aluna menjelaskan apapun pada Tania. Aku gak mau Aluna jadi semakin sakit setiap dia buka suara.

__ADS_1


"Apa lagi ini? Maksud kamu apa, sih? Aku benar-benar gak paham!"


"Kami dijodohkan. Tapi aku pastikan kami akan berpisah setelah aku lulus SMA."


__ADS_2