Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 56


__ADS_3

Aluna sudah masuk ke hotel, sementara Juna masih berada di mobilnya, menatap jauh ke atas bangunan megah itu. Seolah salah satu jendela yang saat ini dia pandangi adalah kamar Aluna.


Kenapa dia masih belum pergi dari sana, dia sendiri juga tidak tahu. Hatinya melarang dirinya untuk bergerak. Dia ingin bicara dengan Aluna, tapi masih ada keraguan dalam hatinya.


"Persetan dengan semua janji itu!" umpatnya masuk kembali ke dalam parkiran hotel, lalu tanpa ragu lagi segera masuk ke lobi.


"Maaf, kamar Nona Hansya nomor berapa? Ada barang yang ketinggalan di mobil saya, saat mengantarnya tadi," ucap Juna berbohong.


Tanpa ragu, resepsionis cantik berambut pirang itu segera memberitahukan nomor kamar Aluna.


Sekuat apapun Juna menekan perasaannya, mengingatkan dirinya untuk tetap tenang, nyatanya sulit. Sepanjang jalan menuju kamar itu, dada Juna berdebar kencang. Di otaknya saat ini merangkai kalimat yang akan dia katakan pada Aluna.


Gadis itu harus mendengarkan. Ini adalah kesempatan terakhir yang akan diberikan Juna untuk gadis itu. Kalau Aluna memang tidak menginginkannya lagi, maka dia akan meninggalkan serta melupakan gadis itu selamanya.


Tok... Tok... Tok...


Tangannya saja sampai bergetar saat mengetuk pintu. Napasnya memburu cepat. Bagaimana kalau langkahnya ini salah? Bagaimana kalau ternyata Aluna sudah punya kekasih atau bahkan sudah menikah muda lagi?


Semua pemikiran itu berkecamuk dalam benaknya. Namun, pantang langkahnya surut kembali. Dia tidak mau menyesal dikemudian hari dengan banyaknya 'seandainya' dalam hidupnya kelak.


Belum ada jawaban, apalagi pintu yang dibuka. Dia masih bertahan, menunggu. Kembali Juna mengulang mengetuk pintu. Bel juga sudah dia pencet. Beruntung, kali ini si pemilik kamar membukakan pintu baginya.


"Kau? Mau apa kemari?" pekik Aluna kaget. Ternyata gadis itu baru aja mandi tengah malam begini hanya demi mendinginkan hati dan kepalanya.


Cemburu membuatnya perlu berendam. Begitu keluar dari kamar mandi, Aluna mendengar bunyi bel. Dia tebak pasti pelayan hotel yang ingin mengantarkan satu botol champagne pesanannya. Setengah botol dari sisa kemarin malam, sudah dihabiskannya tadi.


Juna tidak menjawab, bergegas memaksa masuk. Aluna yang tidak menyangka kalau Juna akan mendorong pintu, hanya bisa membelalakkan matanya. Mau tidak mau dia terpaksa menyusul Juna ke dalam.

__ADS_1


"Katakan, untuk apa kau datang?" Aluna menaikkan satu alisnya ke atas, kedua tangannya dilipat di dada.


Juna memilih untuk duduk di pinggir ranjang. Menatap Aluna dengan senyum kemenangan.


"Bisakah kau duduk? Kita bicara baik-baik."


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan, keluar!"


Bunyi bel menjeda perdebatan mereka. Juna bergerak cepat, membuka pintu kamar. Aluna pikir, pria itu akan pergi, tapi salah. Juna justru kembali dengan membawa satu botol champagne di tangannya.


"Kau memesannya?" tanya Juna tersenyum lalu mengangkat botol ke atas. Tanpa basa-basi, Juna membuka botol itu dan mengisinya gelas yang tersedia di atas meja.


"Dasar tidak tahu malu, pergi dari sini!" Aluna kembali mengusir Juna yang justru terlihat cuek. Dia hanya ingin menyelamatkan jantungnya yang sejak kedatangan pria itu berdebar hebat. Kalau saja Juna melihat, saat ini kakinya bergetar hebat.


"Aku akan pergi setelah kau menjawab pertanyaan ku ini!" Juna menghabiskan sisa minumannya. Ini sudah gelas ke dua yang dia tenggak, lalu berdiri mendekati Aluna yang masih setia berdiri berkacak pinggang.


"K-kau... Mau a-pa?" Napas Aluna tersengal. Dadanya bergemuruh, bahkan saking dekatnya dia bisa menghirup aroma mint dari pria itu. Mengingatkan pada masa lalunya. Sial!


"Kenapa kau datang ke sini? Apa kau mencariku?"


"Jangan ge-er. Kau terlalu percaya diri. Aku bahkan tidak tahu kalau kau ada di sini!" jawab Aluna berbohong. Tentu saja dia tahu.


Hari-hari yang dihabiskan Aluna sepanjangan harinya hanya mengurung diri di kamar, sejak keluar dari rumah sakit. Setelah benar-benar pulih, Opa mendaftarkannya ke salah satu kampus ternama.


Tidak ada gairah hidup, membuat Aluna tidak ingin melanjutkan kuliah, bahkan tidak mau melakukan apapun selain mengurung diri di kamar.


Walau sedih melihat cucu kesayangannya yang membuang masa mudanya, Opa juga tidak bisa berbuat apa-apa. Suatu hari Aluna sakit. Dia demam tinggi berhari-hari. Dalam tidurnya, dia mengigau memanggil nama Juna sampai menangis.

__ADS_1


Saat itu lah, Opa Jer merasa sudah kalah. Dia mengikat tali ke lebarnya sendiri. Dia yang mengatur bahkan memaksa Juna menikahi Aluna, dan kini dia mendapat karmanya.


Aluna tidak bisa melupakan Juna, bahkan sangat mencintai pria itu. Beberapa kali Opa Jer merancang pertemuan Aluna dengan beberapa pria anak teman bisnisnya, tidak ada satu pun yang berhasil membalut luka Aluna.


Daya tahan tubuhnya yang semakin lemah buat Opa memutuskan untuk mengurus cuti kuliah Aluna. Membawanya berkeliling dunia. Sedikit banyak Aluna terhibur, tapi sesaat.


"Saran saya, sebaiknya Tuan mempertemukan mereka lagi. Biarkan Aluna menilai sendiri. Apakah perpisahan yang sudah dua tahun ini masih menyisakan cinta di hati Aluna," saran Pak Robert, pengacara sekaligus sahabat Opa Jer. Dia lah selama ini yang mengurusi semua masalah perdata keluarga Hansya.


"Tidak ada gunanya berkeras hati. Kalau terus begini, Aluna bisa pergi meninggalkan mu selamanya karena kesedihan yang dirasakannya. Anda mau kehilangan cucu satu-satunya yang Anda punya?"


Atas saran pria berusia 65 tahun itu, Opa mengutus anaknya melacak keberadaan Juna. Laporan mengenai Juna yang sudah menetap di Jerman dan sudah sangat mapan, serta banyaknya prestasi yang diraih, membuat Opa semakin yakin untuk mengikuti saran Robert.


"Opa ingin kamu menikmati hari-hari mu. Sebelum masuk kuliah lagi, pergilah ke Jerman. Liburan dua Minggu di sana," ucap Opa yang datang pagi itu ke kamar Aluna.


Gadis itu menolak lembut. Tidak ada gunanya dia bepergian lagi. Hatinya kosong, dan sunyi. Negara manapun yang dia kunjungi tak mampu buatnya tersenyum, melupakan kepedihannya.


Namun, berkali-kali dibujuk, sekaligus ingin menitipkan berkas untuk perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan mereka, Aluna akhirnya menyetujui meski sedikit curiga.


Dia ingat pada Lingling, sahabat baiknya di SMP yang saat ini tinggal di Jerman, lalu menghubungi Lingling mengabari kedatangannya.


Siapa sangka, rencana Opa berhasil. Mereka bisa bertemu, meski tidak sengaja. Dan sekarang, pria yang selama ini selalu bersemayam dalam hatinya, diantara benci dan cinta itu ada di hadapannya.


"Baik. Aku anggap pertemuan kita ini adalah takdir. Sekarang aku ingin tanya, apa aku masih ada di sini?" Juna menancapkan telunjuknya di dada Aluna.


"Dasar bodoh! Apa yang ada dalam pikiranmu? Mana mungkin aku masih mencintaimu!" jawab Aluna lantang, setelah bisa menguasai diri. Begitu susah menelan salivanya.


"Baik, kalau begitu aku akan dengan senang hati membuktikannya."

__ADS_1


Bola mata Aluna membulat sempurna. Protesnya tersedot oleh bibir Juna yang menempel dalam bibir ranum miliknya.


__ADS_2