Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 19


__ADS_3

Baru aja gua mau bersikap baik sama Juna, sikap pria itu kembali menyebalkan. Keringat masih bercucuran di kening, napas juga ngap banget, sesak dan tubuh gua lengket karena keringat.


Pengen banget pulang dan mandi, tapi gak mungkin. Habis ini ada pelajaran pria Dajjal itu!


"Gua sial banget, sih, hari ini. Ketangkap sama Juna brengsek!"


Gua mengumpat, sembari menarik kursi di samping Hanum, berharap kalau Hanum bisa sadar akan sikap buruk Juna dan gak akan menaruh perhatian pada Juna lagi.


Namun, tidak adanya respon dari sahabat gua itu, buat leher gua menoleh ke arahnya. "Gua lagi curhat, Num, komen dikit, kek."


"Curhat? Bukannya itu dilakukan antara dua orang sahabat? Saling cerita karena saling percaya dan menganggap satu sama lain penting?"


Kening gua berkerut. Ada apa, sih, dengan Hanum? Kok tiba-tiba aja ngomong nyolot begitu. Gua curiga, nih, jangan-jangan ni anak salah makan pagi tadi. Otaknya rada seret.


"Lu kenapa? Ya, iyalah, itu dilakukan bareng sahabat. Lu sahabat gua, makanya gua curhat."


"Oh, gitu? Sekarang lu bilang gua sahabat lu? Sahabat mana yang tega nipu sahabatnya sendiri? Sahabat macam apa lu?"


"Lu kenapa, sih, Num?" Sontak gua bangkit, hanya demi memasukkan kalau gadis yang ada di samping gua ini, yang sedang berdebat kusir bareng gua, adalah Hanum, gadis manis yang gak pernah marah sama gua. Atau jangan-jangan dia marah karena gua ngatain Juna brengsek? Yaelah, segitu, doang!


"Gua gak punya sahabat pembohong kayak, lu!"


Teriakan Hanum buat suasana kelas jadi gaduh. Beberapa teman datang mengerubungi kami. Nuka tentu saja senang melihat pertengkaran antara gua dan Hanum. Gadis sialan itu emang demen liat gua tersakiti.


Gua yang merasa gak salah, tentu aja gak terima dengan sikap Hanum. Apa, sih, dalam benak gadis itu hingga berteriak kayak orang kesurupan?


"Tunggu, lu jelasin ke gua, salah gua apa?"


"Lu masih berani tanya salah lu apa? Dengan ya, Aluna Casey Hansya yang terhormat, berhenti jadi teman palsu. Gua ajak lu pergi jalan, lu bilang gak bisa mau pulang ada urusan sama Opa lu, tak taunya apa? Gua lihat lu jalan, nonton sama Digo. Munafik lu jadi cewek, lu bilang udah putus, mana buktinya? Dasar murahan, udah disakiti masih aja mau sama buaya kayak Digo!"


Hanum benar-benar kelewatan. Dia sudah menghina gua di depan teman-teman. Apa hak dia marah kalau gua jalan sekaligus balikan sama Digo?

__ADS_1


Gua benar-benar emosi. Pengen banget gua balas maki Hanum, bahkan mau boleh pengen gua gampar. Akan tetapi, gua masih ingat kalau kita adalah teman sejak dulu. Teman baik, malah.


"Urusannya apa sama lu? Suka hati gua, dong, mau balik apa kagak sama Digo! Makanya lu cari pacar, biar jalan pikiran lu gak sempit!"


Ucapan gua berhasil buat Hanum terluka, dan gua gak peduli. Saat ini gua juga sedang marah atas ucapan Hanum.


Suara gaduh, yang menyuarakan agar kami saling baku hantam, jambak, dan lain sebaginya, membuat ruang kelas semakin ribut dan sama sekali tidak kondusif.


Seorang siswa datang bersama dengan Juna, hingga membuat seisi ruangan hening. Aura killer Juna, ternyata sudah berada di level atas, terbukti suasana kelas jadi diam, semua siswa yang tadi menggemakan yel-yel, baik mendukung gua atau Hanum, kini redup seiring langkah lebar Juna menuju kursinya.


Kini satu sekolahan, tidak ada lagi yang menganggap remeh dan sebelah mata pada Juna. Dari Hanum, kemarin- saat kami belum bertengkar-, Juna diserang oleh anak IPS, yang tidak suka padanya.


Ada lima orang yang mengeroyoknya, tapi Juna bisa dengan mudah melumpuhkan mereka. Juna tidak takut kalau nanti akan dipanggil menghadap dewan sekolah, karena banyak saksi yang mengatakan kalau anak-anak itu yang lebih dulu menyerang tanpa ada sebab.


Setelah diusut, hanya dua orang pelaku yang bersekolah di sekolah elit itu, sisanya adalah berandalan yang mereka sewa untuk menghajar Juna. Berita Juna yang jago silat, membuat semua murid segan dan hormat padanya.


Pria itu tidak duduk, menatap satu persatu siswa dari tempatnya berdiri di depan mejanya. Pinggulnya disandarkan pada sisi meja, tangan dilipat di dada, lalu mulai mengintrogasi dengan sorot matanya satu persatu siswa yang hadir.


Semua siswa diam. Lalu setelah Andi, ketua kelas baru celingak-celinguk menunggu siswa yang mau buka mulut, tapi ternyata tidak ada, dia pun segera angkat tangan dan menjelaskan semuanya.


"Hanum dan Aluna bertengkar, Pak."


Gua gak mau mengangkat wajah, tapi bisa gua tebak saat ini Juna pasti sedang memperhatikan gua.


Aduh, jangan sampai Juna tahu alasan gua ribut sama Hanum, bisa makin marah dia.


"Pak!" Hanum angkat tangan. Gua hanya bisa menunduk sembari menutup mata.


"Ya, ada apa, Hanum?"


"Saya mau pindah tempat duduk. Saya gak mau satu bangku dengan dia!" ucapnya menunjuk gua dengan ekor matanya.

__ADS_1


"Kenapa? Bukannya kalian sahabat?"


"Saya gak mau bersahabat sama orang yang gak menganggap saya sahabat, dan justru mau membohongi saya."


***


Sisa hari itu gua jalani dengan badmood. Dalam hati, ada terselip rasa bersalah, kenapa gua gak berita sama Hanum. Wajar kalau dia sakit hati, kemarin dia ngajak jalan, gua gak mau, mana pake alasan ada urusan keluarga, sialnya, gua justru dilihat Hanum bareng Digo.


Jujur, kalau gua jadi Hanum, gua juga pasti sakit hati, sih. Nasi udah jadi bubur, mau diapain lagi?


Setapak demi setapak gua melanjutkan langkah, menuju simpang tempat Digo janji jemput. "Kok, bete? Kenapa?"


Panjangnya lamunan buat gua gak sadar kalau Digo udah sampai, bahkan ada di belakang gua.


"Gak papa. Go, kayaknya aku gak jadi deh, ikut ke basecamp. Kepalaku sakit, aku pulang aja, ya." Jujur, kepala gua memang sakit, kayak mau pecah.


Pertengkaran gua dengan Hanum, sikit banyak mempengaruhi mood gua hari ini. Ditambah lagi, sorot mata Juna, saat Nuka membeberkan alasan pertengkaran kami.


"Kenapa kamu mau pindah bangku, Hanum?" ulang Juna menanti jawaban dari Hanum. Gua menerka-nerka, alasan apa yang akan dikatakan Hanum.


Saat gadis itu diam, perasaan gua sedikit lega, artinya, Hanum masih menganggap gua teman.


"Ada apa Nuka?"


Mendengar Juna menyebut nama Nuka, perasaan gua gak enak. Spontan gua mengangkat kepala menoleh ke arah Nuka.


Saat itu lah, Nuka dengan wajah penuh kemenangan, membeberkan semuanya, baik perkataan Hanum dan juga balasan dari ku. Brengsek emang si Nuka itu!


Mendengar hal itu, Juna hanya diam, menatap gua dengan kekecewaan besar. Gua hanya bisa kembali menunduk.


"Hanum, kamu boleh pindah ke depan, di samping Andi."

__ADS_1


"Hey, kok malah bengong. Aku tanya, kenapa kamu tiba-tiba batalin janji? Pokonya aku gak mau tahu, kita sekarang jalan, kalau gak ke basecamp, kita makan, jalan ke mall, baru habis itu aku antar pulang!"


__ADS_2