Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 57


__ADS_3

Aluna tidak pernah menyangka kalau dia bisa terbang. Kini duduk di bulan sabit malam yang bersinar terang di antara bintang-bintang yang jauh lebih terang. Dia terbuai, meninggalkan dunia yang selama ini buatnya bersedih.


Melayang setiap jemari dan bibir Juna mengecup tiap jengkal tubuhnya. Dia lebur, menjadi tawaran cinta Juna.


Sikap arogan yang selama ini dijadikan benteng menjaga diri, seketika hancur hanya dengan kecupan Juna di bibirnya.


Samar dia ingat, tadi mereka berdiri dengan bersandar pada dinding saat Juna semakin berani memangkas jarak diantara mereka. Pada awalnya, Aluna menahan tubuh Juna dan mendorong dada pria itu dengan tangannya. Namun, sentuhan itu membuat semua berbeda. Seolah aliran listrik dari tubuh Juna mengalir melalui tangannya.


Seketika akal sehat Aluna tumpul. Dia hanya wanita gila yang mendamba sentuhan kekasihnya.


Bibir Juna mulai menghisap bibir Aluna. Pagutan itu awalnya begitu lembut, memuja , mendamba. Juna kehilangan arah, terbawa arus gairah. Dia bak musafir yang berjalan jauh hanya untuk menemukan oase.


Kembali Juna menggigit pelan nan menggemaskan bibir bawah Aluna, menawarkan kenikmatan semanis madu. Menggoda bibir gadis itu untuk mau terbuka, memberi akses padanya untuk menguasai lebih.


Lidah Juna mulai menjelajah, menyapu langit-langit mulut Aluna hingga membuat bola mata gadis itu sempat terbelalak sesaat, menikmati sensasi yang belum pernah dia rasakan.


Kakinya tak mampu lagi menopang beban tubuhnya. Tak ada jalan lain selain bertumpu pada tubuh kekar Juna. Tanpa sadar dia bahkan sudah melingkarkan lengannya di leher pria itu.


Aluna hanya mengikuti instingnya saat mulai ikut larut dalam permainan Juna. Pria itu sukses membuainya hingga menjadi makhluk cantik yang haus belaian.


Dengan malu-malu, Aluna membelai lidah Juna, menyambut keinginan pria itu untuk semakin larut dalam permainan.


Juna harus melepaskan isapan, ciuman dan permainan lidah dalam rongga mulut Aluna, saat melihat gadis itu yang kesusahan untuk meraup udara.


"Kau manis, dan aku sangat menyukai mu," bisik Juna turun ke leher Aluna. Malam ini dia tidak menjadi pria yang punya banyak kesabaran apalagi belas kasih.


Juna mengecup lembut leher jenjang nan mulus milik Aluna. Menyapukan lidahnya pada telinga Aluna yang sensitif, lihat saja wajah gadis itu menjadi merah.


"Aaackh...." pekikan halus itu tidak bisa ditahan Aluna. Dia bak gadis binal yang mencuri kenikmatan dengan malu-malu.


"Juna... Apa yang sudah kau lakukan padaku?"


Pertanyaan itu sama sekali tidak membutuhkan jawaban karena sejatinya itu hanya ungkapan di luar kendali Aluna atas gemuruh gairah yang dia rasakan saat ini.

__ADS_1


Juna benar-benar hanya mengikuti gairah yang menuntun. Ini juga yang pertama baginya. Tidak serta-merta mengingat setiap langkah atau adegan dalam film yang harus dia praktekkan untuk memuaskan pasangannya.


Juna menunduk. Hanya dengan satu gerakan kecil jarinya dia menarik ikatan pada bathrobe di pinggang kecil Aluna.


Semua cepat terjadi. Minuman tadi cukup memberikan keberanian serta memanaskan tubuh Juna yang sudah sangat lama mendamba Aluna. Selama ini dia hanya bisa bermain dengan khayalnya, memikirkan gadis itu.


"Aaaach....," Pekikan kali ini lebih kuat. Aluna tidak sanggup lagi menahan gairahnya. Juna menciumnya. Tepat pada inti tubuhnya!


Sama dengan Juna, saat ini Aluna juga sudah terbakar gairah yang menyala. Diantara sisa kesadarannya, Aluna sempat mendorong kepala Juna, tapi pria itu lebih kuat. Tetap menyapukan bibirnya di sekitar milik gadis itu.


"Juna, aku mohon....," erangan Aluna membuat pria itu bangkit. Tanpa berkata apapun, kembali Juna menyapukan bibirnya di bibir Aluna yang terbuka. Kembali bermain lidah, dan tanpa melepas pagutannya, Juna mengangkat tubuh gadis itu ke atas ranjang.


Juna menatap Aluna dengan tatapan sayu dan penuh damba. Dia akan tersiksa jika tidak melepaskan badai gairah ini. Bukan hanya dia, Aluna pun juga akan sakit bila tidak terpuaskan.


Jangan sekali-kali menyentuh minuman, terlebih saat berada satu ruangan dengan orang yang sangat dicintai, tapi layaknya musuh.


Hanya perlu beberapa detik, Juna sudah melepaskan semua pakaiannya yang melekat dan melemparkannya ke sekitar ranjang.


"Kau cantik, dan aku suka.... Semua yang ada di tubuhmu," bisiknya di telinga Aluna. Bathrobe yang sudah terbuka, menghadirkan dua milik Aluna yang menjulang tinggi, menantang untuk ditaklukkan.


Juna menyeringai, tersenyum penuh arti. Kepalanya mulai menunduk mencium permukaan perut Aluna yang rata, menghisap hingga meninggalkan tanda cinta di sana. Aluna tidak lagi memekik, dia sedang sibuk mengatur napasnya yang tersengal setiap sentuhan luar biasa Juna menghampirinya.


Lidah Juna naik menelusuri perut dan kini berada di atas puncak yang tampak ranum, merah muda dalam penglihatannya. Merayu untuk singgah mencicipi sesukanya.


Tawaran itu diambil Juna. Malam ini dia ingin terbakar di api gairah yang dia ciptakan bersama Aluna sebagai buah kerinduan mereka selama ini.


Kecupan Juna disekitar permukaan dada Aluna saja sudah membuat gadis itu semakin basah, dan pada akhirnya dituntaskan dengan menjilat puncak kemerahan itu.


Kepala Aluna terangkat, ingin mengusir pejantan itu bermain menggoda miliknya, tapi dia tidak rela harus kehilangan kenikmatan itu.


Puncak angkuh itu akhirnya ditaklukan Juna dengan mulutnya. Dia bermain, menggoda ujungnya dengan lidah, lalu kembali menyentak tubuh Aluna ketika menghisap lembut pucuk menggoda itu.


Juna gak bayi besar menyusu dan bermain dengan milik Aluna. Benda itu mungkin menggantung di dada Aluna, tapi Juna lah pemiliknya, hanya dia yang bisa menikmatinya.

__ADS_1


Aluna menggeliat gelisah. Tubuhnya bergetar hebat. Ada cairan yang keluar dari li*angnya yang sejak tadi berkedut. Dia basah dan siap.


Juna tahu gadis itu sudah mendapatkan rasa yang baru kali ini dia dapatkan. Juna mengulurkan tangannya ke bawah, menyentuh milik Aluna yang sudah sangat siap untuknya.


"Aku menginginkan mu malam ini, Sayang," bisiknya di atas bibir gadis itu, lalu mencium bibir Aluna penuh hasrat.


Juna memposisikan tubuhnya di antara paha Aluna yang sudah lebih dulu dia lebarkan. Dari bawah sini, Juna menatap wajah Aluna yang juga tengah menatapnya dengan penuh harap cemas.


"Jangan takut," bisiknya mencium bibir itu sekali lagi, seolah dengan begitu, Aluna akan tetap tenang.


Dorongan untuk masuk sudah sangat membakar tubuhnya. Dia menunduk hanya untuk mengecup milik Aluna sebelum memasukinya.


"Sa-kit!"


"Sssshh, ini hanya sebentar," jawab Juna menghapus paha Aluna. Percobaan pertama sungguh sulit. Aluna sempit dan tugas Juna tentu lebih berat.


Sekali lagi Juna memposisikan, menggesek pada permukaannya sampai Aluna tenang. Gadis itu sudah mulai terlihat rileks, dengan memejamkan mata, menikmati permainan Juna. Lalu tanpa menunggu, ketika dirasa Aluna sudah siap, Juna menerobos masuk.


Jeritan Aluna terdengar menggema di kamar itu. Beruntung ini bukan losmen atau hotel esek-esek, hingga suara jeritan sekuat apapun, tidak akan terdengar.


Juna diam untuk sesaat. Tidak menggerakkan tubuhnya. Barulah setelah Aluna kembali tenang dan tubuhnya rileks, Juna mulai bergerak perlahan hingga membuat Aluna merem melek menikmati permainan Juna.


"Jun... Aku...," Aluna terbakar. Sesuatu dari dalam tubuhnya memaksa untuk keluar.


"Lepaskan, Sayang...," pekik Juna dan kembali jeritan terdengar di dalam ruangan itu, tapi kali ini, jeritan yang menggambarkan kepuasan.


Juna semakin cepat memompa, dia juga ingin mencapai puncaknya. Pergerakan Juna ternyata kembali membuat tubuh Aluna kembali terbakar.


Dia mengikuti gerakan Juna, bersama-sama memacu irama. Sampai...


"Jun...,"


"Iya, Sayang," jawab Juna semakin mempercepat goyangannya, hingga bersama keduanya menggapai nirwana. Melebur menjadi satu sebagai perwujudan rasa cinta. Hanya menyisakan senyum kepuasan di bibir keduanya.

__ADS_1


__ADS_2