Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 37


__ADS_3

(Aluna)


Dasar brengsek! Juna brengsek! Gua benci sama lu! Tega lu, Jun!


Entah sudah keberapa kali gua menghapus derai air mata di pipi gua. Rasanya pipi ini sudah memar karena gesekan kasar tangan gua.


Kecewa banget gua sama sikap Juna. Jujur, gua tersentak karena kedatangan Hanum, gua juga sedih karena kami kembali bertengkar lagi, tapi siapa yang bisa menduga kalau Hanum akan datang ke rumah Juna untuk menemui pria itu?


Namun, saat diminta menjelaskan, gua udah memutuskan untuk menjelaskan semua kebenaran pada Hanum. Gua mau semua orang tahu, kalau kita sudah menikah.


Gak ada yang salah dalam pernikahan kami. Pernikahan itu suci, dan gua juga udah siap mengakui perasaan gua sama Juna.


Anjir! Gua jatuh cinta sama Juna sementara pria itu sama sekali gak punya perasaan sama gua. Ciuman yang gua anggap sangat tulus dan berarti, nyatanya gak ada artinya bagi Juna. Miris banget sih, hidup gua!


Perasaan kecewa gua memuncak kala Juna menjelaskan di depan Hanum, kalau pernikahan kami hanya sebatas perintah Opa, dan menyiratkan kalau dia sama sekali gak punya perasaan apapun sama gua.


Lagi, gua hapus air mata yang mengalir. Perih banget, rasanya saat dicuekin Digo, gak sesakit ini. Bahkan saat Digo selingkuh pun, gua yang sehancur ini. Miris banget cinta gua bertepuk sebelah tangan.


Hanum tak lama lagi juga akan mengalami hal yang sama dengan gua nanti, saat tahu kalau Juna hanya menyukai gadis bernama Tania.


Gua pikir saat Juna bilang Tania balik ke Jerman, gua punya kesempatan buat mendapatkan pria itu, ternyata gua salah.


Kenapa setelah gua mau berubah jadi gadis yang baik, menghargai orang lain, agar Juna bisa suka sama gua, tapi kenyataannya Juna tetap gak melirik gua.


"Sendirian aja, Mbak?"

__ADS_1


"Mau kita temani?"


Tidak menjawab perkataan kedua pemuda yang mendekati gua, bukan karena gua gak dengar, tapi gak berminta. Ngapian sih, mereka ganggu gua? Gak tahu kalau saat ini gua lagi emosi tingkat dewa? Salah-salah, bisa gua kunyah mereka!


Keduanya duduk di depan gua tanpa beban, melebarkan senyum yang menurut gua menjijikkan. Mulai saat ini semua pria menjijikkan di mata gua.


"Gelasnya udah kosong, Mbak, kita traktir minum, ya," ucap salah satu dari mereka yang gua gak tahu yang mana, pasalnya gua masih menunduk, mengamati gelas yang isinya hampir semua sudah pindah ke dalam perut.


Hingar bingar musik dalam ruangan itu yang memekakkan telinga, dan ditambah nyut-nyut di kepala setelah meminum dua gelas minuman beralkohol, dan kini dua pria brengsek ini juga membaut kepalaku semakin sakit dan hampir pecah rasanya.


"Cakep-cakep budek," sambar yang satu, karena gua masih enggan menjawab. Sesaat gua rasakan sebuah lengan melingkar di pundak gua, yang spontan buat gua bangkit dan mendorong si pemilik lengan.


"Bang*sat!" umpat gua melempar gelas ke arahnya. Kegaduhan pun terjadi, pria itu mendekat ke arah gua dengan dan menarik leher jaket jeans yang gua pakai.


Satu tangannya terangkat yang pasti ingin nampar gua. Tanpa rasa takut, gua tantang dengan melotot ke arahnya. Namun, tangan pria tengik itu tidak jadi mendarat di pipi gua, karena didorong oleh seseorang.


"Hanum? Lu ngapain di sini?"


"Gak penting lu tanya sekarang. Yang penting, kita harus segera keluar dari sini!"


Gua mengikuti perkataan Hanum. Berlari menerobos orang-orang yang menonton kegaduhan tadi lalu melesat ke luar bar itu. Terus berlari tanpa melihat ke belakang. Tangan kami saling bergandengan, berlari saat menjauh dari sana.


Deru napas kami saling berkejaran. Kami memilih masuk ke dalam satu toko bunga yang masih bunga. Hanya itu tempat terdekat yang paling terang dan bisa buat bersembunyi. Banyaknya pelanggan yang sedang makan di cafe samping toko bunga buat kami pasti tidak akan terlihat dari kedua pria mabuk itu.


"Gua rasa kita udah aman," ucap Hanum masih dengan napas tersengal-sengal. Sementara gua hanya mengangguk sebagai bentuk setuju atas ucapannya.

__ADS_1


Kita berdua duduk di teras samping toko bunga, memperhatikan orang lalu lalang masuk ke dalam cafe yang kebanyakan diisi oleh para anak muda.


"Lu kenapa bisa ada di bar itu?" Gua lebih dulu bertanya setelah beberapa menit kita saling diam.


Sebenarnya bar itu bukan pertama kali gua kunjungi. Dulu, sesekali gua sama Hanum datang ke sana, awal-awal dekat sama Digo. Pria itu yang memperkenalkan bar itu karena hanya tempat itu yang memperbolehkan anak remaja masuk.


"Gua duluan dari lu. Gua juga lihat pas lu masuk, tapi coba buat gak peduli," jawab Hanum singkat. "Ngapain sih, lu pake acara mabuk segala?"


Gua hanya tersenyum kecut. Ngapain gua mabuk? Patah hati gua. Bukannya obat patah hati itu minum alkohol biar lupa masalah yang sedang dialami?


"Num, beneran lu kagak menganggap gua teman lagi? Persahabatan kita usai?" Gua mengalihkan pertanyaan Hanum. Gak tahu kenapa, sekarang gua kasihan sama Hanum, merasa senasib sepenanggungan, jatuh cinta sama pria yang hatinya milik wanita lain.


"Lu yang buat persahabatan kita hancur, Al. Lu gak menghargai gua sama sekali. Merahasiakan semua yang terjadi dari gua. Paling nyakitin, gua cerita sama lu soal perasaan gua ke pak Juna, tentang ambisi gua mendapatkan dia, dan saat itu lu cuma tersenyum menyemangati gua. Nyatanya, lu udah nikah sama dia. Gua curhat perihal cowok yang gua suka sama istrinya sendiri. Dark joke banget, ya gua?"


Gua tahu gua salah. Lagi-lagi posisi Hanum sebagai sahabat gua abaikan. Sebenarnya gua masih pantas gak, sih, dianggap sebagai teman Hanum?


"Jujur sama gua, Al, kapan lu nikah sama pak Juna, dan kenapa bisa tiba-tiba nikah sama dia sementara lu pacaran sama Digo?"


Pendengar gua jelas menangkap pertanyaan itu meski gua udah setengah mabuk, dibawah minuman yang memusingkan.


Namun, saat ini hati gua sesak, dan butuh tempat curhat. Hanum orang tepat, karena cuma dia yang gua punya. Dan setelah semua yang terjadi, gua mau cerita sama dia.


Gua benar-benar rapuh banget saat ini, sakit dan kecewa karena sikap dan pengakuan Juna. Dia yang buat gua hancur, tapi anehnya, gua justru ingin dia yang menenangkan dan memeluk gua saat ini.


"Ya udah, kalau lu gak mau bahas soal itu," lanjut Hanum, membuang muka ke tempat lain. Bisa dibayangkan, gimana perasaan seorang teman yang sama sekali tidak dianggap? Selama ini kami terbuka, tapi tiga bulan terakhir, Hanum merasa tidak dianggap lagi.

__ADS_1


"Kita nikah udah mau tiga bulan lamanya. Kenapa kita bisa nikah? Sorry, Num, pertanyaan lu gak bisa gua jawab, karena gua juga gak tahu kenapa kita dipaksa Opa nikah."


__ADS_2