
Hari ini rasanya pengen banget gua gak masuk sekolah, tapi kasihan Ibu yang udah nyiapin semua keperluan gua. Mau pergi cabut ke mall, tapi Juna cuma ngasih duit 50 ribu buat ongkos sama jajan. Hidup gua miris amat, yak?
Kalau biasanya gua ke sekolah nebeng sama dia sampe setengah jalan, kali ini gua harus full naik angkot mulai dari rumah, jadi gak bisa menghemat duit jajan kayak biasanya. Juna gak ada kelas hari ini, jadi gak bisa bareng.
Tadi dia nawarin buat ngantar sih, tapi gua lagi kesal karena semalam dia pulang pas gua udah tidur, gak jadi belajarnya.
Sekarang gua jadi nyesal, kalau gua terima, seenggaknya bisa hemat 20 ribu.
"Kenapa wajah lu lecek amat kayak baju belum disetrika, sih?" celetuk Hanum mengamati wajah gua. Padahal wajah dia gak kalah mengerikannya.
"Kayak lu kagak!"
"Gua punya alasan, hari ini gak ketemu sama kekasih hati gua."
Gak perlu menanyakan siapa yang dimaksud Hanum, gua udah bisa tebak, dan asal dia tahu, gua gak peduli.
Penuh kebosanan dan kesal hati, gua menjalani satu hari ini. Berusaha untuk mengikuti pelajaran sebaik mungkin. Gua ingin buktikan pada Juna, kalau tanpa dia, gua juga bisa. Gua gak bego bego amat ya!
"Ke mall, yuk? Udah lama kita gak shopping. Gua lagi badmood gak ketemu tambatan hati gua." Hanum sudah menarik tangan gua keluar dari gedung sekolah.
Aduh, gua harus bilang apa ke dia kalau gua gak punya duit, gua bukan Aluna Casey Hansya lagi. Gua gembel yang masih terlihat elit!
"Num, kayaknya gua gak bisa, deh. Gua harus segera pulang, ada urusan mendadak."
Gua mengutuk keadaan ini, harus sampai bohong pada Hanum betapa miskinnya gua saat ini. Gak mungkin sampai mall, gua hanya bengong, ngeliatin Hanum beli ini itu, ngences, dong, gua.
"Ah, elu, gak pernah lagi ngasih waktu buat gua. Sibuk melulu. Bilang aja lu mau jalan sama Digo!"
Hanum memonyongkan bibirnya, gak terima dengan penolakan gua.
Digo! Mendengar nama itu, suatu tempat di hati gua berdetak cepat, berdenyut sakit. Sudah hampir dua Minggu, tapi pria brengsek itu belum juga menghubungi gua. Sedikit pun gak ada merasa bersalah gitu. Mengingat sikap Digo buat gua semakin bete.
__ADS_1
"Gua udah putus sama dia!"
Kalimat itu meluncur begitu saja. Harusnya sejak dulu gua kasih tahu sama Hanum. Gadis itu pasti sedih, karena gak dianggap teman.
"Serius? Bokis lu!"
"Serius, Num. Apa lu gak lihat beberapa hari ini gua jadi murung?"
Hanum dia sebentar, lalu setelah mengingat, dia pun mengangguk. Tiba-tiba wajahnya berubah murung. Detik berikutnya, gua udah bisa tebak apa yang akan terjadi.
"Al," ucapnya mulai menangis, memeluk gua dengan erat. "Lu pasti sedih banget. Kenapa gak cerita sama gua, sih? Gua udah berapa kali bilang, gua gak suka sama Digo, dia cowok brengsek, tapi lu tetap aja mau sama dia."
Gua hanya diam, gak menanggapi. Udah beberapa kali Hanum ingatin gua soal Digo, tapi gua yang saat itu benar-benar jatuh cinta sama Digo, terlebih karena dia cinta pertama gua, jadi sulit buat melihat sisi buruknya.
"Yang sabar, ya, Al. Tapi asal lu tahu, gua senang lu udah putus dari dia." Hanum masih terus membelai punggung gua. Beberapa siswa yang melewati kami, memandang aneh. Apa mereka pikir kamu ini pasangan pelangi, gitu?
"Udah, Num. Gua baik-baik aja. Sekarang gua mau pulang, ya. Udah ditungguin," ucap gua melerai pelukan Hanum. Dengan jemari, gua hapus jejak air mata di pipinya.
Tidak lama setelan Hanum pergi, gua melanjutkan langkah menuju simpang sekolah gua, buat nyari ojek pangkalan. Namun, klakson yang memekakkan telinga membuatku menoleh ke belakang.
Bola mata gua membulat. Netra gua menatap lurus ke arah pria jangkung yang masih sangat tampan sama seperti pertama kali gua lihat, duduk di atas motor gedenya.
"Al..."
Gua buang muka, berbalik lalu mempercepat langkah. Gak sudi berbicara dengan pria itu, terlebih setelah sekian lama berlalu sejak pertengkaran itu dan dia sama sekali gak ada itikad baik ngubungi gua, sekarang ujug-ujug, muncul di hadapan gua. Apa dia pikir hati gua mainan?
"Al, tunggu, Al! Dengarkan penjelasan gua dulu."
Gua terus berjalan, mengabaikan panggilan Digo, mengabaikan rasa rindu yang memuncak. Saat melihat Digo, ingin rasanya gua lari menghambur dalam pelukan pria itu, tapi gua tahan, karena harga diri menahan hasrat itu.
"Al!"
__ADS_1
Gua terpaksa berhenti karena tangan kekarnya sudah menarik tangan gua. Memaksa agar gua menghadap padanya.
"Lepaskan!" Suara gua begitu kuat, harusnya bisa dipahami Digo, tapi kenyataannya, pria itu mengabaikan perintah gua.
"Gua gak akan lepaskan, sampe lu dengar penjelasan gua."
"Gak penting! Gua gak mau berurusan lagi sama lu. Minggir gua bilang, kalau gak gua bakal teriak!"
Digo si pengecut akhirnya melepaskan tangan gua. Namun, sebelum gua pergi, pria itu kembali angkat bicara.
"Gua harus melepaskan lu saat itu, dan gak mencari keberadaan lu, karena saat itu anak Opa lu lagi ngawasin gua. Mereka juga gebukin gua sehari sebelum lu datangi gua. Sorry, Al, tapi gua terpaksa bersikap kasar sama lu saat itu. Hati gua berat melepas lu, tapi ini demi kebaikan kita. Gua sengaja mengalah sampai Opa lu yakin kalau gua gak akan gangguin lu lagi."
Gua terdiam mendengar penuturan Digo. Sedikitpun gak pernah berpikir kalau Opa mengawasi Digo sampai sejauh ini.
Bibir gua terkunci. Susah buat ngomong. Saat ini gua bingung. Harus percaya ucapannya atau gak.
"Please, Al. Percaya sama gua. Perasaan gua juga sedih menahan, hingga datang hari ini gua bisa ketemu sama lu."
"Kenapa lu jadi pengecut, Go? Harusnya kita berjuang sama-sama. Kenapa lu gak perjuangkan gua?"
"Gua bukan gak mau berjuang, Al. Gua juga harus realistis, kalau saat itu gua terus mendekati lu, kakek lu bisa bunuh gua. Apa gunanya lagi? Gua gak bisa bersama dengan lu kalau gua mati!"
Gua diam lagi. Kehabisan kata. Sejujurnya, gua setuju, apa yang dibilang Digo ada benarnya.
"Al, ikut gua. Kita cari tempat yang aman buat ngomong. Gua takut kalau anak buah Opa lu masih mengawasi kita."
Kayak kerbau dicucuk hidungnya, gua ngikut aja apa kata Digo. Dia membantu gua naik ke atas motornya lalu membawa gua pergi dari sana.
Berada di atas motor yang dulu selalu membawa gua pergi, dan melingkarkan tangan di pinggang pemuda ini sembari merebahkan kepala di punggungnya, membuat kebencian gua seketika menguap, hilang tak bersisa.
Satu hal yang pasti, gua masih cinta sama Digo.
__ADS_1