Terpaksa Menikahi Murid Manjaku

Terpaksa Menikahi Murid Manjaku
Chapter 26


__ADS_3

"Ada apa dengan Aluna? Kenapa dia terlihat murung setelah kalian pulang?" tanya ibu mendekatiku.


Sudah ku duga kalau ibu pasti akan berubah jadi penyidik.


"Gak tahu juga, Bu. Tadi sih, dia baik-baik aja, tapi setelah ketemu sama Tania, dia jadi diam, malah sempat nangis di tengah jalan, Bu. Aku juga jadi bingung kenapa dia sampai menangis."


"Awwwu, Ibu kenapa, sih? Kok nyubit?"


"Dasar, bodoh! Kamu benar-benar gak mengerti perasaan istri mu? Aluna cemburu karena kamu bertemu Tania!"


Aku terdiam. Memikirkan apa yang dikatakan oleh ibu. Apa benar Aluna cemburu pada Tania? Rasanya gak masuk akal. Setahuku kalau orang menaruh rasa cemburu, karena ada perasaan dalam hatinya. Jelas-jelas Aluna tidak menaruh perasaan apapun padaku.


"Ibu jangan ngarang, deh. Mana mungkin Aluna cemburu. Gak ada perasaan apapun dalam hatinya untuk ku."


"Kamu memang pria terbodoh yang pernah Ibu kenal! Lantas, menurutmu karena apa dia menangis kalau bukan karena sedih mengetahui kamu sudah punya kekasih?"


"Lagian, kamu harus ingat, sekarang kamu udah menikah, jangan lagi berhubungan dengan Tania. Kamu sudah menikah sekarang, meski belum ada perasaan, tetap harus jadi pria sejati. Jangan mempermainkan hati dua wanita!"


"Iya, Ibu." Aku hanya diam. Biarlah untuk saat ini ibu dengan pemikirannya. Aku tidak mungkin mengatakan kebenaran bahwa hubungan pernikahan ini bukan untuk selamanya.


"Apa kamu tidak pernah berpikir, mungkin saja kamu sudah menyayangi Aluna?"


Ibu pergi meninggalkan ku setelah puas membebaniku dengan pernyataan itu. Apa semua kemungkinan itu ada?


Selama ini aku memang tidak mengatakan apapun pada Aluna tentang Tania, karena menurutku gak penting untuk diwartakan. Sama halnya dengan kami yang sudah dipaksa oleh warna desa BERTANI untuk menikah pada saat itu, dan hingga detik ini tidak mengatakannya pada Ibu atau Opa Jer, karena merasa memang tidak penting.


Lama aku terdiam, berpikir keras akan ucapan ibu, bahkan sampai membutuhkan waktu sendiri buat berpikir, aku pindah tempat ke samping rumah. Ada ladang kecil yang digarap ibu untuk tempatnya menanami beberapa jenis sayur.


Kayaknya aku harus mencari tahu kebenaran dugaan ibu, tapi kalau benar, apa yang harus aku lakukan? Dan kalau gak benar, aku juga harus apa?


"Kamu lagi apa?" Kepalaku menyembul dari balik pintu. Aku lihat Aluna sedang berbaring di ranjang, memegangi hape dengan wajah masih tampak murung.


Aku tahu pertanyaan ku itu tidak akan mendapatkan jawaban, tapi aku tetap bertanya. Setelah menunggu katakanlah lima detik, tetap tidak menjawab, aku memutuskan untuk masuk mendekatinya.

__ADS_1


"Ada yang ingin aku katakan padamu. Kamu mau dengar?" tanyaku lembut, memilih duduk di tepi ranjang. Aluna masih bersikap cuek, tidak menggubris ucapan ku.


"Ya udah, kalau kamu gak mau dengar, atau lagi malas ngobrol, aku keluar aja."


Belum sempat mengangkat bokong, Aluna mendudukkan dirinya, dengan kaki bersila.


"Ngomong apa?"


Aku bermaksud memutar tubuhnya ku agar menghadap penuh ke depan Aluna, tapi tangan gadis itu mengacung ke depan, menahan punggungku. "Gak usah ngadep sini. Ngomong aja tanpa harus lihat gua!"


Fix! Gadis itu ngambek. Kalau bicaranya udah pake lu-gua, pasti lagi kesal. Aku menurut, tetap membelakangi Aluna dan mulai bercerita meski tidak yakin apa ceritaku ini penting atau gak buat dia ketahui.


"Aku gak tahu apa yang akan aku katakan ini penting untuk kamu ketahui atau gak, hanya saja aku ingin mengatakannya padamu. Gak tahu kenapa, hanya ingin kamu tahu."


"Udah, buruan. Lama banget intronya!"


"Tania pacarku. Satu-satunya kekasihku. Dan kami sudah menjalin hubungan selama lima tahun lebih. Aku minta maaf karena gak memberikan mu tentang Tania. Jujur, aku pikir gak penting menceritakan Tania padamu, karena memang tidak adanya perasaan di antar kita, juga karena aku pikir kamu menganggap pernikahan ini juga hanya pernikahan sementara."


"Aku juga gak tahu kenapa harus memberitahu. Entah kenapa dalam benak ku muncul dorongan agar menceritakan padamu tentang hal ini."


"Tania gadis yang baik. Kamu beruntung memiliki kekasih sepertinya. Cantik dan juga gak pemarah. Yang terpenting, dia memperlakukan mu dengan baik."


"Al...."


Aku menyimpulkan kalau saat ini gadis itu sedang menyentil dirinya sendiri, belum lagi sosok Digo yang tiba-tiba menghilang tanpa ada kabar.


Suasana hening. Ingin rasanya aku memutar tubuhku melihat wajah Aluna saat ini.


"Al..." Aku ingin mematikan apa dia baik-baik saja.


"Aku tahu dia kekasihmu. Aku gak ingin hubungan kita yang gak jelas ini membuat hubungan kalian rusak. Biar saja seperti ini, jangan pernah mengatakan kalau kita sudah menikah. Aku adik sepupu mu."


Kenapa terasa getir sekali suara itu, dan bagian hatiku terasa sakit, tidak nyaman mendengarnya. Kenapa aku merasa kalau Aluna tidak baik-baik saja saat ini.

__ADS_1


"Tapi ini gak adil bagimu, kamu mengizinkan aku bertemu dengan Tania, sementara kamu aku larang bertemu dengan Digo."


"Gak usah dipikirin. Gua juga lagi gak pengen ketemu sama dia."


"Terima kasih."


"Pergilah. Aku mau tidur. Besok harus sekolah."


Aku menurut. Meski telapak kakinya terasa menyatu dengan lantai, tidak ingin berlalu dari sana. Kenapa perasaan ku mengatakan kalau Aluna terluka?


Aku bangkit, tapi sebelum pergi, mengatakan hal konyol yang tadi sempat ibu sampaikan padaku.


"Oh, iya, Al. Masa kata ibu, kamu ngambek, cemburu sama Tania. Gak mungkin, kan?"


Tidak ada jawaban. Aku pun tidak pergi. Aku pikir tadi setelah menjelaskan pada Aluna, perasaanku bisa tenang, nyatanya gak.


"Alana mana?" sambut Ibu yang duduk di ruang keluarga. Melihat ke arah belakang ku.


"Di kamar. Katanya mau tidur."


"Belum makan anak itu."


"Tadi kita sempat makan di luar, Bu setelah sampai toko buku. Biarin aja dia istirahat," tukas ku gak mau buat ibu khawatir.


Aku memilih untuk kembali duduk di teras. Ingin sendiri memikirkan yang juga mengganggu pikiranku.


Semua ucapan Aluna terngiang di telingaku. Meski dia bilang kalau dia baik-baik dan tidak mempermasalahkan kalau aku tetap berhubungan dengan Tania, kenapa aku merasa itu bukan ucapan yang sejujurnya?


Kenapa hatiku justru ingin dia melarang ku bertemu dengan Tania lagi? Sebenarnya ada apa dengan hatiku? Aku justru lebih memilih memikirkan perasaan Aluna ketimbang Tania yang jelas-jelas memang kekasihku.


Aku ingat ucapan ibu sebelum pembahasan kami berakhir tadi.


"Ibu cuma berpikir, jangan sampai kamu gak peka dengan perasaan mu saat ini. Mungkin saja hatimu sudah menyayangi Aluna."

__ADS_1


__ADS_2