
Yu Feng berdiri di depan rumahnya dan mengamatinya sejenak, tanpa menunggu lama dia mendorong pintu yang tidak terkunci.
Di ruang tamu seorang pemuda elf tertentu menyambut teman serumahnya dengan senyuman ramah, namun ketika melihat penampilan teman yang sedang ditunggu nya, senyumannya mandek.
Yu Feng, "..."
Wei Lan, "..."
Ekspresi kaku Yu Feng sedikit berkedut. Dari sekian banyak orang, salah satu makhluk yang paling tidak ingin ditemuinya lagi sekarang ada di hadapannya.
Jejak keheranan melintas di ekspresi Wei Lan, namun di detik berikutnya dia segera menyesuaikan ekspresinya kembali dan menyapa, "Halo! Senang bertemu denganmu lagi!"
Yu Feng, "..." Senang kepalamu!
......................
Beberapa saat yang lalu,
Wei Lan sedang merapikan bahan obat di kamarnya ketika ponselnya berdering. Sebuah pemberitahuan dikirim kepadanya.
Isi pemberitahuan menyebutkan tentang kedatangan rekan barunya.
Wei Lan berharap teman serumahnya bukan tipe yang menjengkelkan. Akan lebih baik jika mereka bisa membangun hubungan yang harmonis tanpa saling mengganggu.
Dengan enggan dia meninggalkan pekerjaannya dan menunggu kehadiran rekan baru yang tidak diketahui identitasnya.
Butuh hampir sekitar setengah jam menunggu untuk merasakan kehadiran orang lain di depan pintu rumahnya. Sebelum pintu dibuka, Wei Lan sudah menyiapkan senyuman ramah yang standar. Namun saat melihat sosok familiar di depan pintu, pikirannya macet sejenak. Ternyata seorang kenalan...
Dengan perasaan rumit, Wei Lan mengatur suasana hatinya dan menyapa sosok patung itu menggunakan nada yang ekstra riang dan disambut dengan bantingan pintu.
Wei Lan, "..."
Adapun Yu Feng, dia sekarang berada di luar rumah dan mengencangkan pegangan pintu. Suasana hati yang awalnya agak cerah menjadi berawan dan pengap. Jarang-jarang dia bisa punya suasana hati yang baik, tapi sekarang mood baiknya pecah serapuh serpihan es tipis.
Dari semua orang, kenapa dia harus bertemu dengan iblis pembawa sial itu...
Sejak awal tujuannya datang ke kota Luo Xing terus terang untuk menghindari masalah yang mengejarnya. Dia berencana menetap di Luo Xing Academy dengan tenang sambil meningkatkan kekuatannya, tapi sebelum masuk sekolah saja dia sudah terjebak dalam masalah yang membuat otaknya sakit. Setelah berpisah dari sumber penyebab masalahnya, dia pikir mereka tidak akan pernah terlibat lagi satu sama lain. Siapa sangka sekarang iblis pembawa sial itu berada dibalik pintu ini...
Kenapa bisa sesial ini...
Sementara Yu Feng menatap langit dengan tatapan ikan mati, pintu dibuka paksa dari dalam. Pelakunya menjulurkan kepala dan berani tersenyum ramah dengan gigi putih yang rapi.
"Masuklah, jangan hanya berdiri diam di luar. Lagipula sudah lama sejak terakhir kali kita berpisah. Ayo, ayo, aku cukup merindukanmu kawan."
Apa yang ada di benak Yu Feng saat ini hanyalah keinginan untuk menjahit bibir orang ini. Apalagi ketika melihat senyuman dengan gigi sempurna itu, ingin rasanya dia mencabuti gigi orang ini hanya untuk membuatnya berhenti menunjukkan senyuman menyebalkan.
Hawa dingin merayap di punggung Wei Lan ketika pihak lain menatapnya dengan makna tertentu. Dia belum melupakan bagaimana pria ini menodongkan pistolnya padanya. Jadi dengan penuh pertimbangan, dia mundur lima langkah kebelakang setelah membuka lebar pintu dan berkata, "Silakan masuk, atau haruskah aku mengundangmu seperti kasim yang melayani kaisar?"
Yu Feng, "..."
Membayangkannya saja sudah membuat punggung Yu Feng bergidik. Jadi seperempat jam kemudian keduanya duduk berhadapan di ruang tamu dengan suasana kaku yang membosankan diiringi dengan suara Wei Lan yang menjelaskan hal-hal penting seolah bernyanyi di pemakaman.
__ADS_1
Sebenarnya Wei Lan sendiri sangat pahit. Batinnya pahit setengah mati. Yu Feng dihadapannya ini diam seperti patung Yama yang mendengarkan pendosa menumpahkan sejarah dosa-dosa mereka. Lidahnya sudah keluh, namun dia masih harus memerankan peran teman serumah yang baik. Harapan terbesarnya adalah mereka berdua tidak akan menggangu satu sama lain di masa depan, tapi pria kaku ini tidak menunjukkan emosinya sedikitpun seperti patung...
Selesai menyampaikan apa yang diketahuinya, Wei Lan menunjukkan kamar Yu Feng. Pria itu tidak segan-segan masuk ke kamarnya dan membanting pintu, bahkan tidak ada 'terima kasih' sederhana yang keluar dari bibirnya.
Menjilati bibirnya yang kering, Wei Lan tanpa daya kembali ke kamarnya dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Kalau harus jujur, dia sendiri sebenarnya tidak terlalu menolak kehadiran Yu Feng. Bahkan menurutnya pembagian tempat tinggal ini cukup melegakan, pria itu sudah mengenali watak sejatinya jadi setidaknya dia tidak perlu memakai topeng palsu setiap hari...
......................
BaiLi Yun Yi dan BaiLi Yun Hua sedang dalam perjalanan ke kelas mereka mengingat kelas mereka berada dalam gedung pengajaran yang sama. Setelah berpisah, BaiLi Yun Hua terus melanjutkan langkahnya sesuai dengan arah yang ditandai di peta dan tiba di depan kelasnya. Melalui pintu yang terbuka pemandangan seisi kelas langsung masuk ke pandangannya.
Saat dia menginjakkan kaki di dalam, pandangan penghuni kelas langsung terfokus kepadanya. Seisi kelas tidak berjumlah lebih dari 20 siswa dan setiap siswa memancarkan suasana yang berbeda.
Memilih salah satu kursi kosong, BaiLi Yun Hua meletakkan barang-barangnya dan mengeluarkan buku teori yang dibelikan BaiLi Yun Xiao. Tatapan yang menyorotinya hanya berlangsung sejenak sebelum para siswa kembali ke urusan mereka masing-masing. Suasana kelas agak di luar dugaannya, disini terlalu pengap dan kaku, berbeda dari yang dikatakan internet...
Selang beberapa waktu kemudian, terdengar irama langkah kaki pelan yang mendekati mereka. Saat pengunjung baru melewati pintu, BaiLi Yun Hua mengerutkan keningnya dengan setitik tanda kebingungan di wajahnya. Kali ini yang datang tidak mengenakan seragam sekolah, melainkan setelan formal serba putih. Dan yang lebih penting pria itu...
"Halo semuanya, namaku Wei Si An. Mulai hari ini aku adalah salah satu pembimbing kalian. Adapun pembimbing satunya lagi-"
Pendatang baru itu adalah seolah pemuda berambut perak dengan pupil layaknya permata safir. Saat dia sedang berbicara, seseorang mengetuk pintu. Wei Si An menatap orang yang berdiri di depan kelas dengan senyuman ramah dan berkata, "Silakan Guru Li."
Li Qing He memasuki kelas dengan udara beku di sekitarnya sebelum memperkenalkan dirinya dengan singkat. Setelah kedua senior ini selesai berbicara suasana menjadi agak berat. Beberapa siswa saling memandang dengan pandangan kebingungan yang sama seperti BaiLi Yun Hua hingga akhirnya seorang siswa perempuan mengangkat tangannya dan mengajukan pertanyaan yang mewakili keraguan mereka.
"Maaf, tapi bukankah guru adalah siswa senior di akademi?"
Wei Si An mengiyakan pertanyaan siswa tersebut, "Benar, namun sebagai siswa senior kami juga bisa mengambil tugas sebagai pembimbing setelah lulus tes..."
Wei Si An menjelaskan keraguan para siswa dengan sejumlah informasi yang rinci dan padat. Ternyata akademi memperbolehkan siswa senior berpengalaman untuk menjadi seorang guru pembimbing bagi junior-junior akademi selama mereka memenuhi kriteria yang ditentukan dan mampu lulus ujian. Jadi guru-guru untuk siswa junior sebenarnya sebagian besar merupakan senior dari tingkatan yang lebih tinggi.
Adapun masalah menghadiri kelas, untuk siswa dari tingkat ketiga, mereka memiliki sistem belajar bebas dan tidak harus rutin menghadiri kelas selama mereka mampu mempertahankan prestasi dan lulus ujian. Meskipun Wei Si An dan Li Qing He adalah siswa baru, namun dengan kualifikasi mereka, keduanya langsung menjadi siswa tingkat ketiga.
Setelah mendengar penjelasan tambahan ini, BaiLi Yun Hua masih tidak mengerti mengapa kedua senior dengan status khusus yang tidak kekurangan uang ini bersedia menghabiskan waktu mereka yang berharga untuk pekerjaan ini. Tentu saja beberapa siswa juga berpikiran sama seperti BaiLi Yun Hua.
"Adapun mengapa kita bersedia menjadi seorang pembimbing..."
Wei Si An menyipitkan matanya dalam senyuman menawan, "Sebenarnya ini adalah tugas."
Mendengar kata-kata Wei Si An, ekspresi Li Qing He di sebelahnya menjadi sedikit berkerut seolah mengingat sesuatu yang kurang menyenangkan.
"Baiklah sebelum memulai kelas, kalian akan memperkenalkan diri kalian masing-masing."
Para siswa masing-masing memperkenalkan diri mereka secara singkat. Setelah itu mereka menerima pengetahuan teori dari Wei Si An selama dua jam sementara Li Qing He hanya mengambil kursi dan duduk diam di samping.
Yang diajarkan Wei Si An hanyalah pengetahuan dasar mengenai benua ini dan detil-detil seorang kultivator. Memang sederhana, namun BaiLi Yun Hua menyerapnya dengan serius karena ada banyak hal kecil yang tidak diketahuinya dan jarang diperhatikan orang-orang pada umumnya. Justru hal-hal sepele ini yang terkadang agak fatal dan perlu diperhatikan.
Penjelasan Wei Si An cukup logis dan mudah diterima. Dia menyebutkan semua poin-poin terpenting dari teori dasar yang mereka ketahui. Tanpa sadar dua jam telah berlalu begitu saja. Wei Si An memandang para siswanya dengan senyuman khasnya, kilatan emosi tertentu melintas di pupil safirnya yang membuat mereka tanpa sadar merasa agak kurang nyaman.
"Setelah mempelajari teori-teori ini, saatnya bagi kalian untuk sesi praktik."
Di Lapangan.
Li Qing He mengerutkan keningnya. Adegan di depannya ini sebenarnya agak memalukan menurutnya. Wei Si An mengatur setiap siswa untuk melakukan serangkaian gerakan tinju yang sederhana. Jika hanya seperti ini maka tidak ada yang spesial, masalahnya pemuda itu mengatur serangkaian formasi gravitasi di sekitar lapangan. Gravitasi bumi di lapangan saat ini lima kali lebih kuat. Untuk siswa-siswa ini tentu tidak terlalu berat, tetapi kalau harus melakukan serangkaian gerakan tinju yang mulus...
__ADS_1
Yah... bisa dibayangkan seberapa kacau anak-anak itu jadinya.
Selain itu, mereka melakukannya di lapangan terbuka. Adegan ini bisa dilihat siapa saja yang lewat. Untuk anak-anak yang memiliki harga diri tinggi, mereka mungkin akan malu setengah mati.
"Apakah tidak masalah seperti ini?"
Wei Si An menoleh pada pemuda kaku di sampingnya dan mengangguk santai, "Jangan khawatir, mereka akan baik-baik saja. Tidakkah kamu melihat suasana mereka saat di kelas? Masing-masing memiliki kesombongan sendiri dan sangat sedikit rasa pergaulan, selain itu saat mempelajari teori tadi hanya beberapa yang serius mendengarkan sisanya mungkin menganggap sepele teoriku. Sikap ini perlu diubah sedikit."
"Kamu hanya ingin membalas dendam."
Wei Si An tersenyum dan mengaitkan lengannya ke bahu Li Qing He, "Kamu mengenalku, tapi yang kukatakan tidak salah bukan? Sombong boleh, tapi harus punya modal. Anak-anak ini perlu mempelajari fakta kalau meskipun berbakat mereka sama sekali bukan apa-apa saat ini."
Li Qing He, "Yang kumaksud bukankah ini agak tidak berguna? Lemparkan saja mereka ke platform virtual dan buka mode pelatihan."
Wei Si An, "..."
Wei Si An tertawa pelan dan berkata, "Kamu masih sama kejamnya seperti dulu. Jika anak-anak itu mendengarnya mereka bisa membencimu."
Li Qing He diam. Dia dan Wei Si An adalah teman dekat, namun hubungan mereka tidak terpapar keluar dan mereka belum berhubungan secara langsung selama beberapa tahun terakhir. Situasi Wei Si An agak istimewa, ada banyak rahasia dalam diri pemuda ini. Li Qing He mengetahuinya, namun dia tidak tertarik menggali privasi orang lain. Akan lebih baik jika mereka mempertahankan hubungan yang stabil seperti ini.
Sementara keduanya berbincang dengan santai, para siswa kelas A-1 sudah banjir keringat. Tidak ada satu pun yang mempertahankan penampilan semula mereka, beberapa bahkan sudah tumbang dan berbaring di tanah dengan postur yang kurang menyenangkan mata.
BaiLi Yun Hua merasa seolah sebongkah batu raksasa menekan kuat paru-parunya, setiap nafas yang diambil serasa menyayat tenggorokannya. Gerakannya semakin lama semakin berantakan hingga pola tinjunya mungkin sudah tidak sesuai lagi. Dia pernah menjalani pelatihan berat selama dua hari bersama BaiLi Yun Xiao, namun pengalaman ini adalah yang pertama baginya. Hanya serangkaian pola tinju biasa bisa membuat otot-ototnya menjerit kelelahan ekstrim, namun dia tidak berencana berhenti. Ini adalah pelatihan pertama mereka jika bahkan seperti ini saja dia sudah tidak tahan, lalu bagaimana ke depannya?
Wei Si An dan Li Qing He mengamati semua siswa dari pinggir, tinggal tiga orang yang masih berdiri saat ini sisanya sudah menyerah.
"BaiLi Yun Hua ini tidak buruk, tapi kudengar dia sudah ditelantarkan oleh klannya selama ini," ujar Wei Si An.
"Ada baiknya kita tidak perlu mencampuri urusan klan lain. Tugas kita hanya sekedar sebagai pembimbing mereka tahun ini," balas Li Qing He.
Setelah selang beberapa waktu kemudian, tidak ada satu pun lagi yang berdiri. Wei Si An membatalkan formasinya dan bertepuk tangan, "Yang paling cepat sekitar 17 menit dan yang paling lama mencapai setengah jam. Jadi bagaimana perasaan kalian?"
Beberapa siswa bangun dari posisi telentang mereka dan menatap Wei Si An dengan beraneka ragam ekspresi. Beberapa terlalu lelah untuk bergerak dan hanya berbaring mendengarkan guru mereka dengan masam.
"Rasanya sangat tidak nyaman, Guru."
"Benar, mengapa kita harus melakukan latihan fisik di hari pertama?"
Ada banyak keluhan yang bergema di lapangan, tapi guru muda mereka masih mempertahankan senyuman menawan seperti pangeran yang ramah. Sebaliknya Li Qing He di sisi lain sedikit mengencangkan wajah kakunya, mungkin tidak puas dengan hasil mereka atau karena suara yang terlalu berisik, mereka tidak tahu. Melihat perbedaan keduanya, para siswa pastinya cenderung lebih mendekati Wei Si An dibanding Li Qing He.
Sayangnya di saat mereka mengira Wei Si An akan menghibur mereka, guru yang tersenyum bagaikan malaikat itu mengeluarkan komentar yang menghancurkan imajinasi siswanya, "Sejujurnya ini pertama kalinya aku mengajar siswa seburuk ini, bahkan kakek tukang kebun di keluargaku lebih bugar dibandingkan kalian."
"???"
"Kalian adalah bakat yang terpilih di antara bakat-bakat lainnya, mengapa hal sesederhana ini juga tidak beres? Jujur saja kalian benar-benar mengecewakan."
"..."
"Ngomong-ngomong kalian bahkan tidak sebaik BaiLi Yun Hua yang terkenal luas sebagai sampah kelas kakap."
Wei Si An mengeluarkan sarkasme nya dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajahnya. Siswa-siswa ini tidak menyangka guru malaikat mereka mampu mengeluarkan kalimat menusuk ini untuk menghina mereka. Saat mereka masih kewalahan mencerna kenyataan ini seperti anak ayam yang kehilangan induknya, Wei Si An menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghela nafas pelan.
__ADS_1
"Saranku sebagai guru kalian, sebaiknya lepaskan kesombongan itu jika kalian bahkan tidak sebaik sampah. Kelas hari ini cukup sampai di sini saja. Kalian boleh bubar."