The Legends : Tale Of Immortality

The Legends : Tale Of Immortality
Chapter 41: Ledakan (1)


__ADS_3

Mo Lan merasakan panas yang menyebar kemana-mana di tubuhnya. Setiap otot-ototnya terasa dipanggang di atas api. Namun pada saat yang sama dia bisa merasakan kekuatan tirani mendominasi tubuhnya.


Tentakel-tentakel spiritual perlahan keluar dari tubuhnya dan memecah belah lebih kecil hingga menjadi ratusan untai benang spiritual yang hidup.


Benang-benang spiritual yang jinak itu tiba-tiba menyebar dengan ganas ke segala arah dan meninggalkan jejak terbakar di lantai. Seolah merasakan sesuatu, benang-benang spiritual itu melesat ke satu arah di atas udara seperti panah.


BaiLi Yun Hua meluncur untuk menghindari setiap benang spiritual Mo Lan, namun sama seperti kejadian sebelumnya benang-benang ini bertindak seolah benar-benar hidup dan mengejarnya kemanapun dia pergi. Yang lebih menjengkelkan adalah sekelompok benda ini entah bagaimana bisa mendeteksi keberadaannya meskipun dia sekarang dalam kondisi tembus pandang.


Hanya fakta ini saja sudah cukup membuat BaiLi Yun Hua menyadari kalau benang-benang spiritual ini tidak sepenuhnya bergerak di bawah kendali Mo Lan karena gadis itu sendiri tidak mampu menebak lokasinya. Kekuatan yang tidak sepenuhnya berada di bawah kendali penggunanya akan memberikan efek negatif yang lebih besar dibandingkan dengan keuntungannya. Tidak ada yang tahu kapan kekuatan itu akan melahap kembali penggunanya.


Ketika salah satu benang spiritual akan mengenai BaiLi Yun Hua, udara ungu disekitar pemuda itu langsung bereaksi dan bergerak mengelilingi tuannya. Pada saat yang sama, teknik ilusi BaiLi Yun Hua juga dibatalkan secara paksa dan pemuda itu kembali muncul ke pandangan semua orang.


Begitu Mo Lan melihat BaiLi Yun Hua, benang spiritualnya langsung aktif menyerang pemuda itu dengan rentetan serbuan tanpa henti dan memaksa pemuda itu untuk turun ke darat.


Sebelum kaki BaiLi Yun Hua bahkan menyentuh lantai, instingnya yang sudah tegang meneriakkan alarm peringatan. Dia melihat ke arah datangnya bahaya dan langsung melakukan salto spontan di udara.


"Wow! Tadi itu hampir saja. Kalau respon BaiLi Yun Hua agak lambat, dia akan dipaku oleh pedang raksasa itu!" seru Li Qing Yu dengan tepuk tangan antusias.


Di ruangan VIP sebelah, kelompok BaiLi Yun Xiao agak berkeringat ketika melihat adegan di mana Mo Lan melemparkan pedang besarnya dengan kecepatan luar biasa ke arah BaiLi Yun Hua ketika pemuda itu jatuh dari udara. Lebih tepatnya dari mereka yang ada di ruangan itu, hanya BaiLi Yun Yi dan BaiLi Yun Xiao yang khawatir.

__ADS_1


"Tidak perlu panik. Setelah semua pertunjukan yang dimainkan BaiLi Yun Hua sampai sekarang, kita tahu kalau insting dan refleksnya cukup sinkron. Dia tidak akan begitu mudah ditembak jatuh," ujar Yue Qing Ye dengan wajah datar yang kelihatan sangat apatis.


"Iya, tapi tetap saja tadi itu hampir kena," gumam BaiLi Yun Yi.


"Karena gadis ini sekarang tidak akan menganggap remeh lawannya. Terutama setelah adik perempuannya ditikam BaiLi Yun Hua," lanjut Yue Qing Ye.


Yue Qing Ye sejak awal sudah memiliki firasat kalau BaiLi Yun Hua tidak biasa. Tidak seperti BaiLi Yun Xiao yang memiliki filter tebal untuk pemuda ini, dia tidak bisa memperlakukan BaiLi Yun Hua dengan santai. Tidak ketika dia selalu merasakan permusuhan anak itu kepada klan BaiLi terutama kepada BaiLi Yun Xiao.


Mungkin sekarang permusuhan itu sudah mereda dan BaiLi Yun Hua sudah memperbaiki pandangan dan kesannya terhadap BaiLi Yun Xiao, tapi tidak ada yang bisa memprediksi bagaimana sikap anak itu kedepannya. Tidak ada yang bisa memberikan jaminan setelah BaiLi Yun Hua menumbuhkan sayapnya, dia tidak akan menyerang BaiLi Yun Xiao dan seluruh klan BaiLi.


"Tenang sedikit. Anak itu akan baik-baik saja. Bukankah kamu sudah melatihnya dalam beberapa waktu ini? Dia sendiri percaya diri, masa kamu sebagai walinya begitu pesimis?" ujar Yue Qing Ye untuk menghibur sepupu sekaligus sahabat baiknya ini.


Di luar kekhawatiran orang lain BaiLi Yun Hua sendiri tampak tenang di mata penonton, namun nyatanya pemuda itu tidak tenang sama sekali. Ketika pedang Mo Lan menusuk ke arahnya, dia bisa merasakan jiwanya bergetar sejenak. Bergetar bukan karena waspada atau takut, tapi justru seperti menanggapi seolah sesuatu dalam pedang itu sedang terhubung dengannya.


Kedua orang itu berputar di arena dan meninggalkan jejak pertarungan di mana pun mereka mendarat. Benang-benang spiritual Mo Lan merayap di sekitar arena seperti sulur parasit sementara BaiLi Yun Hua sendiri memiliki ribuan panah es yang siap menembak masing-masing benang itu selama mereka berada pada jarak tertentu dengan BaiLi Yun Hua.


Semakin BaiLi Yun Hua bersentuhan dengan kekuatan Mo Lan semakin dia merasakan tekanan yang memisahkan mereka sedalam jurang. Dengan Mo Lan dikelilingi oleh benang spiritual yang bersifat seperti monster parasit itu, sulit bagi BaiLi Yun Hua untuk mendekati gadis itu dengan pendekatan normal sementara batas waktu formasi klan Li sudah hampir dekat.


Di satu titik ketika BaiLi Yun Hua menatap lawannya, dia melihat setitik merah di sudut bibir Mo Lan sebelum gadis itu menggunakan salah satu pedang besarnya untuk sedikit menutupi bagian bawah wajahnya.

__ADS_1


Ternyata bukan hanya dia, tapi gadis itu juga juga sudah tidak tahan.


Benar, Mo Lan bisa merasa kalau tubuh fisiknya mulai merosot. Tidak seharusnya segalanya ditunda selama ini. Dia tidak tahu mengapa pertarungan yang seharusnya mampu segera diselesaikan ini bisa tertunda selama dan semerepotkan ini. Benang spiritualnya mengejar BaiLi Yun Hua seperti lintah, namun setiap kali hampir mencapai targetnya, pemuda itu juga selalu berhasil melarikan diri.


Mereka berdua hanya berputar-putar di sekitar arena.


BaiLi Yun Hua tidak mengetahui gejolak batin Mo Lan, namun di detik ketika dia akan menghindari salah satu kelompok benang spiritual seperti biasa, benda-benda itu meledak seketika.


Bukan hanya BaiLi Yun Hua yang terkejut, tapi juga para penonton di luar arena. Jangkauan ledakan tersebut tidak kecil dan BaiLi Yun Hua yang paling dekat dengan posisi ledakan secara otomatis langsung tertelan oleh api merah.


Namun begitu api merah padam, tampak cahaya ungu gelap yang agak redup mengelilingi BaiLi Yun Hua. Pemuda itu memiliki ekspresi sedalam tinta yang mendistorsi wajahnya. Kalau bukan karena pelindung aura miliknya, ledakan tadi itu hampir membakar dirinya menjadi kokas!


Sebelum BaiLi Yun Hua sempat melampiaskan amarahnya, semua benang spiritual Mo Lan yang tersisa berubah menjadi ratusan bola cahaya kecil yang mengapung di setiap area arena.


BaiLi Yun Hua melihat keseriusan dan tekad yang terpantul dari mata gadis itu dan hatinya perlahan jatuh ke titik beku.


Di detik berikutnya, semua bola cahaya tersebut meledak seperti kembang api dan mengubah arena menjadi ladang api.


"Bang!"

__ADS_1


__ADS_2