
"Ge... pertunjukan yang kamu banggakan ini... agak di luar ekspektasi ya...," gumam Li Qing Yu. Ketika pemuda itu melihat ke samping, mulutnya langsung tertutup rapat.
Oops...
Li Qing He menatap arena dengan pandangan mematikan. Kedua tangannya dikepalkan dengan urat-urat nadi yang muncul keluar. Pemuda berusia 19 tahun ini sekarang memancarkan aura gelap menakutkan seperti iblis pencabut nyawa sungguhan.
Li Qing Yu dengan patuh memutar kepalanya kembali dan menatap BaiLi Yun Hua yang masih asik-asikkan mempermainkan lawannya dengan pandangan kasihan tulus yang cukup langka. Biasanya tidak ada hal baik yang akan terjadi ketika Li Qing He terbakar seperti ini.
Alasan kemarahan Li Qing He sebenarnya tidak sulit ditebak. Tuan Muda Pertama Klan Li ini sudah melanggar salah satu prinsip tegaknya untuk mengajarkan ilmu klan Li mereka kepada orang luar. Li Qing He adalah orang yang sangat bangga, melihat siswa yang diajarnya sendiri menggunakan teknik keluarga mereka untuk menampilkan lelucon ini, bagaimana mungkin orang ini tidak marah.
Kalau BaiLi Yun Hua serius menggunakan teknik klan Li untuk mengalahkan lawannya dengan pukulan telak yang sempurna, setidaknya Li Qing He yang melanggar prinsipnya tidak akan terlalu malu dan bersalah. Namun BaiLi Yun Hua menampilkan aksi yang tidak terduga di depan umum ini, serius menampar harga diri Li Qing He hingga ke langit tingkat tujuh.
Sementara itu BaiLi Yun Hua yang masih asik mempermainkan lawannya tidak menyadari betapa besar masalah yang akan datang kepadanya nanti.
Xiao Yin bukanlah tipe orang yang pemarah, namun setelah menghadapi provokasi BaiLi Yun Hua beberapa kali, kepalanya sekarang sangat mendidih. Pemuda itu hanya mempermainkan mereka dari tadi. Dia juga tidak terlalu jelas mengapa timnya bisa dipimpin oleh BaiLi Yun Hua sedemikian rupa, jelas-jelas mereka memiliki kerja sama dan konsentrasi yang cukup bagus.
Rencana tim kelas B adalah menghemat energi dan mendorong BaiLi Yun Hua untuk kehilangan kesabarannya sehingga pemuda itu melakukan gerakan besar. Bukannya mereka pengecut atau apa, tapi Mo Lan tidak dalam kondisi untuk meluncurkan gerakan pemungkasnya dan anggota tim kelas B yang lain juga tidak diharapkan untuk menguji status kemampuan BaiLi Yun Hua yang sekarang tidak mereka ketahui.
__ADS_1
Jadi mereka terjun ke rencana untuk memprovokasi BaiLi Yun Hua mengingat emosi pemuda itu agak berubah sekarang, mungkin dengan begitu mereka bisa memicu kekesalan BaiLi Yun Hua dan membuat lawan mereka ini hilang kesabaran. Tapi nyatanya, kenapa sekarang malah mereka yang dipermainkan dan diprovokasi oleh pemuda ini, bukannya sebaliknya? Pertanyaan ini sangkut di tenggorokan mereka yang membuat orang-orang ini sesak.
Kilatan perhitungan melintas di pupil dalam BaiLi Yun Hua. Tentu saja dia tahu kalau orang-orang ini berniat mengujinya. Yang membuatnya tidak senang itu adalah metode lawannya. Mereka kira dia memiliki gangguan emosi dan sebenarnya berniat menghadapinya seperti menghadapi orang kurang waras pada umumnya?
Cahaya ungu di pupil BaiLi Yun Hua semakin gelap. Ketidaksenangan karena diremehkan diperbesar beberapa kali dengan jalur pemikiran itu. Memang emosinya sedang tidak stabil saat ini karena dia sendiri sadar kalau dia sedang di ambang kebahagiaan dan kemarahan, sedikit gangguan bisa mengubah emosinya secara drastis.
Tapi gimana pun kondisi emosinya, dia masih rasional. Dia sangat sadar dengan apa yang dia katakan dan lakukan. Orang-orang ini menganggapnya kerasukan jenis setan kurang waras tertentu, tentu saja dia tidak senang.
Jadi... dia memutuskan untuk mempermainkan orang-orang ini sebagai tindakan balas dendam kecilnya.
Anggota tim BaiLi Yun Hua melihat tindakan tidak biasa teman mereka dengan pandangan keraguan dan kebingungan. Selama mereka berteman dengan BaiLi Yun Hua, kesan yang mereka dapatkan dari pemuda ini adalah tenang, rasional, dingin, dan kurang empati. Pemuda ini tidak pernah dikaitkan dengan tipe yang suka bermain-main selama mereka mengenalnya. Dan menurut mereka satu hal yang menahan BaiLi Yun Hua tetap serius adalah harga diri tingginya.
Pemikiran ini tentu saja tidak hanya terlintas di benak anggota tim kelas A yang menyaksikan tindakan BaiLi Yun Hua, tetapi pemuda itu sendiri juga sempat memikirkannya. Namun rasa kesalnya melebihi rasa ragunya akan reaksi Li Qing He karena itulah dia memutuskan untuk memuaskan balas dendam kecilnya sebentar.
'Berhenti main-main, Nak.'
BaiLi Yun Hua membeku. Jeda sejenak dalam aksi BaiLi Yun Hua terlihat jelas di mata para lawannya. Kesempatan ini tentunya tidak akan dilewatkan oleh Xiao Yin yang sedari tadi sudah kesal terhadap pemuda itu.
__ADS_1
"Heh... apa hobimu ini meremehkan orang? Bisa-bisanya melamun di tengah pertempuran," ujar Xiao Yin dengan nada dan kalimat mengejek sama yang sebelumnya digunakan oleh BaiLi Yun Hua pada mereka.
BaiLi Yun Hua menghentikan ekspresi main-mainnya. Dia menatap datar Xiao Yin dan meluncur keluar dari lingkaran tim kelas B dengan mudah seperti belut.
Pemuda itu berhenti agak jauh dari lawannya dan menatap tim kelas B dengan serius. Gangguan itu bukan dikarenakan oleh lawannya, tapi...
Tadi itu suara Li Qing He kan?
Suara itu lebih dingin dari biasanya, siapa pun bisa mendengar kalau pemilik suara tersebut sedang dalam suasana hati yang buruk.
BaiLi Yun Hua agak merinding ketika mendengar suara yang langsung menusuk benaknya tadi. Yah... sudah saatnya serius.
Pandangan BaiLi Yun Hua yang berubah menenangkan kekesalan anggota tim B. Mereka tahu kalau pemuda ini sekarang sudah serius. BaiLi Yun Hua yang seperti ini lebih mirip dengan jati dirinya. Dan itu artinya segalanya tidak akan begitu ringan lagi.
"A-Wan, Su Su."
Setelah suara Mo Lan terdengar dua anggota timnya yang dipanggil 'A-Wan' dan 'Su Su', langsung menuju BaiLi Yun Hua dengan gerakan selang-seling cepat yang hanya meninggalkan bayangan samar di belakang mereka sementara Mo Lan mengikuti di belakang mereka dengan gerakan lurus ke BaiLi Yun Hua dan tiga orang sisanya berpisah ke berbagai arah.
__ADS_1
BaiLi Yun Hua sama sekali tidak memandang dua orang yang bergegas ke arahnya dari dua sisi acak. Matanya tidak pernah luput dari Mo Lan yang jelas merupakan inti lawan. Sebelum dua orang mencapai sisinya, pemuda itu secara aktif menuju ke sisi lawannya. Dengan lambaian tangannya, sebuah pedang lain muncul di tangan kirinya.
Saatnya serius.