
BaiLi Yun Hua melewati dua orang yang menujunya dan langsung muncul di dekat Mo Lan. Pemuda itu mengayunkan pedang kanannya dan menusuk lurus ke wajah gadis di hadapannya. Gerakannya bersih tanpa sedikit pun ragu.
Suara besi berdenting kembali terdengar ketika dua bilah pedang saling bersentuhan. Namun ketika mereka mengira niat pemuda itu Mo Lan, pemuda itu mengarahkan pedang kirinya yang ternyata adalah pedang lunak ke badan pedang Mo Lan yang menutupi wajahnya dan langsung menggunakan badan pedang Mo Lan sebagai pengungkit untuk memantul ke belakang, tepat di dekat orang yang bernama A-Wan.
Gerakan itu agak tidak terduga untuk para anggota kelas B karena sejak awal BaiLi Yun Hua sama tidak memandang siapa pun selain Mo Lan. Tidak ada yang menduga kalau pemuda itu ternyata menargetkan orang lain.
A-Wan segera menajamkan pertahanannya, namun di saat ini BaiLi Yun justru menghilang dengan hanya meninggalkan bayangannya dan muncul di belakang Xiao Yin. Gerakan itu mengejutkan semua anggota kelas B terutama Xiao Yin sendiri.
Sebelum Xiao Yin sempat bereaksi, BaiLi Yun Hua menusukkan pedangnya ke punggung bawah gadis itu dekat dengan area pinggang. Darah menyembur keluar dari luka tusuk di tubuh Xiao Yin beriringan dengan pupil matanya yang semakin menyusut karena keterkejutan.
"Kamu..."
"Xiao Yin!" seru Mo Lan dari sisi lain. Ketakutan terlintas di wajah gadis itu ketika melihat apa yang terjadi dengan adik perempuannya. Pedang ramping BaiLi Yun Hua menembus area pinggang Xiao Yin hingga melewati sisi perut sampingnya.
Xiao Yin mengepalkan tangannya pada pedang yang menembus sisi perutnya hingga tangannya ikut berdarah. Aliran tipis darah mengalir keluar dari sudut bibirnya ketika dia terbatuk. Melihat ke bawah, tatapannya mendarat di sebagian tubuh pedang yang menembus dirinya.
__ADS_1
"Sialan...," bisik Xiao Yin dengan darah yang masih berkumpul di rongga mulutnya.
Tindakan BaiLi Yun Hua kejam tanpa meninggalkan kesempatan bagi lawannya. Luka Xiao Yin tergolong sangat berat dan membutuhkan pertolongan darurat, namun juga tidak cukup parah hingga membunuhnya di tempat. Dia sengaja menghindari titik vital Xiao Yin dan meluangkan kesempatan bagi gadis itu untuk memilih antara melanjutkan pertandingan dan mati atau mundur dari arena dan mencari orang untuk memberinya pertolongan yang menyelamatkan hidupnya.
Teknik pisau yang digunakan BaiLi Yun Hua pada Xiao Yin adalah metode andalan yang dulu selalu digunakannya untuk kebutuhan profesi gelapnya. Sebagai orang yang pernah berkecimpung di pekerjaan brutal yang memutuskan saraf hidup seseorang, BaiLi Yun Hua tidak akan ragu dalam tindakannya ketika melenyapkan seseorang jika sedang diperlukan. Naluri takut dan gugup yang seharusnya dimiliki orang normal sudah lama ditelan oleh waktu yang perlahan mengikis sifat itu dan menggantikannya dengan sisi apatis.
Apalagi kompetisi ini tidak melarang kematian, jadi jika memang tidak ada pilihan yang lebih mudah, maka dia tidak akan ragu mengakhiri hidup Xiao Yin. Tentu saja hanya jika Xiao Yin dan teman-temannya ini tidak memberinya pilihan yang lebih mudah.
Pikiran gelap memenuhi benak BaiLi Yun Hua. Sebenarnya mereka semua salah menebak. Bukan formasi klan Li yang menyebabkannya menjadi dingin dan kejam seperti kerasukan sejenis setan ganas yang suka membiarkan senjatanya menjilat darah, tapi justru inilah sisi dirinya yang telah ditempa selama bertahun-tahun. Sejak awal BaiLi Yun Hua bukanlah remaja dingin dan rasional yang tidak peduli dengan sekitarnya. Dia lebih parah dari itu.
Akademi ini dihuni oleh sekelompok monster ajaib dalam pandangan orang. Dia harus berhati-hati dalam setiap langkah yang diambilnya. Jangan sampai karena kecerobohannya, dirinya malah menarik perhatian sekelompok monster ini. BaiLi Yun Hua kuat, namun di sini dia bisa diremukkan hanya dengan seujung jari oleh salah satu monster-monster ini.
Saat ini niat membunuh dan rasionalitas nya berperang menentukan pilihan terbaik di benaknya. Sisi kejamnya memintanya untuk tidak bertele-tele dan menyelesaikan semuanya dengan cepat dimana cara tercepat tentunya adalah langsung mengeliminasi kehidupan para lawannya.
'Jangan ragu lagi. Bukankah kita memiliki kemampuan untuk melakukannya sekarang? Kita tidak hanya memiliki kemampuan, namun juga memiliki kekuatan untuk melakukannya, jadi kenapa menahan diri? Jika kita menyelesaikan semuanya dengan sempurna, orang-orang ini tentunya akan melihat kelebihan kita yang mungkin akan mengubah peluang kehidupan kita kedepannya.'
__ADS_1
'Lagipula bukankah kita selalu melakukan ini di masa lalu? Sudah berapa banyak nyawa yang kita ambil? Enam orang ini sudah termasuk angka yang cukup kecil dibandingkan dengan ketika dulu kita sedang bekerja kan? Lalu kenapa sekarang harus ragu?'
Memang benar. Dibandingkan dengan tugas pembunuhan yang dulu harus diselesaikannya, angka enam adalah nomor yang kecil. Dulu dia masih harus menggunakan trik dan metode licik untuk berurusan dengan orang lain karena tubuhnya jelas sangat tidak mendukung.
BaiLi Yun Hua samar-samar mengingat saat pertama kalinya dia melakukan pembunuhan pertamanya. Dia tidak lagi mengingat pada umur berapa dia melakukannya, yang dia ingat saat itu dia setiap hari setengah mati mencari makanan untuk bertahan hidup. Anak kecil yang keras kepala ingin bertahan hidup di musim panas hingga musim dingin dengan kondisi yang kekurangan baik dalam hal makanan dan pakaian, anak yang hampir mati karena tidak pernah menerima asuhan dan kepedulian yang layak seperti yang seharusnya diterima oleh anak pada umumnya, tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengubah kondisi kehidupannya meskipun kesempatan itu mungkin bisa mengambil nyawanya.
BaiLi Yun Hua kecil yang telah menghadapi kekejaman hidup dan pengabaian oleh klannya sendiri tidak ragu untuk terjun ke dunia yang jauh lebih gelap. Awalnya perasaan melihat darah cukup menjijikkan hingga membuatnya ingin memuntahkan cairan lambungnya, namun semakin lama perasaan jijik itu perlahan mereda hingga akhirnya dia terbiasa.
'Lihatlah ekspresi orang-orang ini. Mereka masih saja meremehkanmu meskipun mengetahui kalau kamu bisa saja lebih kuat dari mereka saat ini, terutama gadis yang dipanggil Xiao Yin itu. Gadis sombong ini sudah beberapa kali memarahi kita sampah sementara dia sendiri hanya bisa bertahan sampai sekarang karena perlindungan timnya dan senjata luar.'
'Gadis arogan ini dilindungi seperti harta karun oleh saudara perempuannya yang merupakan inti dari tim lawan. Kalau ingin membuat tim lawan lebih cepat terjun ke kondisi kacau, bukankah gadis Xiao Yin ini merupakan pilihan termudah?'
'Lagipula kita tidak usah sampai harus membunuhnya di tempat, paling-paling lumpuhkan saja dia.'
'Selama kita menjaga nyawanya dengan imbalan kepanikan di tim lawan, usaha kita tidak akan sia-sia.'
__ADS_1
'Jadi, ayo kita lakukan.'