The Legends : Tale Of Immortality

The Legends : Tale Of Immortality
Chapter 30: Mo Lan (2)


__ADS_3

Mo Lan mengangkat salah satu pedang besarnya lurus ke atas menunjuk langit yang penuh kabut putih. Ratusan untaian benang energi spiritual melesat tajam ke berbagai arah. BaiLi Yun Hua dan rekannya yang paling dekat segera menjadi yang pertama ditargetkan oleh benang energi tersebut.


Cepat!


Itulah pikiran pertama yang terlintas di benak mereka ketika melihat adegan ini. BaiLi Yun Hua bereaksi cukup cepat untuk menghindari dua benang energi yang menerjangnya seperti laser. Dia berhasil melindungi jantung dan tenggorokannya dari serangan tajam benang energi dan mundur dari sisi Mo Lan sekitar lima meter jauhnya.


Pupil BaiLi Yun Hua sedikit berkontraksi saat dia merasakan sengatan terbakar dari sisi lehernya. Dia mengangkat tangannya untuk menyentuh sisi leher yang nyeri dan menemukan sedikit darah di tangannya. Dari sentuhan sekilas barusan, seharusnya luka ini hanya sayatan kecil, tapi nyeri panas yang membakar lehernya membuat pemuda itu merasa tidak nyaman.


Rekan BaiLi Yun Hua tidak seberuntung itu. Ada lima atau enam benang energi yang menembaknya. Dua di antaranya berhasil menembus sisi kiri perutnya. Sekarang orang itu sedang berbaring di lantai arena dengan genangan darahnya sendiri.


Lubang seukuran benang biasa tidak akan langsung membunuh seorang kultivator, tapi benang energi milik Mo Lan tetap bersarang di tubuh targetnya. Tubuh anggota kelas A yang ditembus benang mengeluarkan uap samar dari sisi luka, tapi orang tersebut tidak berteriak atau meronta. Dia hanya berbaring diam di lantai.


BaiLi Yun Hua tidak bisa melihat kondisi rekannya, tapi titik cahaya yang menunjukkan kondisi rekannya sudah meredup begitu gelap hanya menyisakan nyala remang-remang. Itu artinya temannya sedang sekarat, tapi masih hidup.


Ketika BaiLi Yun Hua sedang sibuk memikirkan kondisi temannya, untaian benang spiritual Mo Lan tidak menganggur. Masing-masing untaian kekuatan mengerikan itu mencari target mereka dan berusaha menempel seperti parasit. Ada puluhan benang yang melesat ke arah BaiLi Yun Hua yang mana kali ini pemuda itu tidak begitu beruntung seperti sebelumnya.


Dia bisa menghindari serangan yang menargetkan titik vitalnya, tapi setiap untaian benang energi itu begitu hidup seperti cacing dan mengejarnya dengan fleksibel.


Rasa terbakar muncul di luka-luka yang semakin banyak di tubuh pemuda itu. Keringat membanjiri kening BaiLi Yun Hua saat instingnya secara otomatis diperbesar beberapa kali sebagai kondisi yang diputuskan oleh tubuhnya untuk bertahan hidup.


Gila...


Suara itu terus bergema di pikiran BaiLi Yun Hua. Alarm peringatan kritis terus berbunyi di setiap otot-otot tubuhnya yang secara paksa membuat keputusan bahkan sebelum otaknya bereaksi.


Berapa lama... berapa banyak lagi yang harus dihindari nya...

__ADS_1


Kelelahan praktis menyerang pemuda itu setiap kali tubuhnya memaksakan aktivitas berat yang beresiko tanpa istirahat. Saat BaiLi Yun Hua lengah, seuntai benang menembak tembus dada kirinya dan rasa terbakar langsung memanggang luka itu.


Pupil BaiLi Yun Hua menyusut tajam dan wajahnya memucat seperti kertas putih.


Panas! Panas sekali!


Tenggorokannya terasa gatal saat dorongan untuk muntah muncul ke permukaan. BaiLi Yun Hua memuntahkan seteguk darah saat pandangannya semakin kabur berkat rasa terbakar yang terus memanggang rongga di dadanya.


Untaian energi lainnya mengambil kesempatan ini dan mengeroyok mangsa mereka seperti lintah.


Sisa untaian itu berpilin membentuk tali energi yang tebal dan mengebor masuk ke dada kiri BaiLi Yun Hua yang masih memiliki benang energi menembusnya.


Teriakan tanpa suara keluar dari pemuda itu saat dia berlutut di lantai arena dan memegang dada kirinya yang ditembus. Darah mengalir deras membasahi pakaian BaiLi Yun Hua, namun dia hanya merasakan nyeri panas yang tidak berhenti membakarnya. Otaknya berdengung dengan panik dan mengirimkan semburan rasa sakit itu ke setiap saraf di tubuhnya.


Penonton menyaksikan kabut putih mulai memudar dan adegan yang tersembunyi perlahan muncul ke permukaan.


Suara nafas tertahan bisa terdengar dari beberapa orang saat adegan pembantaian ini masuk ke pandangan mereka.


Kondisi di arena saat ini menunjukkan kondisi siswa kelas A yang semuanya terlihat berdarah. Ada banyak cahaya jingga yang seperti benang bersarang di luka mereka. Penonton dengan visi yang tajam bahkan bisa melihat kalau uap samar muncul dari luka yang ditembus.


Berbanding terbalik dengan siswa kelas A yang terlihat sekarat, siswa kelas B masih berdiri di arena dengan sadar. Semua benang-benang energi ini bersumber dari seorang gadis kelas B yang dikenal sebagai pemimpin tim itu.


Wajah Mo Lan pucat, pedang yang awalnya digenggamnya menunjuk ke langit sekarang sudah diturunkan dengan lemas, tetapi benang energi itu masih terhubung dengan pedang besarnya.


"Kakak!" seruan itu berasal dari Xiao Yin yang langsung berlari ke sisi saudara perempuannya dan mendukung salah satu lengan Mo Lan.

__ADS_1


Xiao Yin bisa merasakan tremor ringan di lengan saudara perempuannya yang tidak berhenti gemetaran. Kekhawatiran terlihat jelas di wajah Xiao Yin. Gadis itu tahu kalau setiap kali Mo Lan memaksakan diri seperti ini, maka saudara perempuannya akan sangat kelelahan. Kekuatan itu memang mengerikan, namun dampak untuk inangnya juga tidak ringan.


Mo Lan menggeleng pelan kepalanya sebagai isyarat kepada adiknya kalau dia baik-baik saja. Pemandangan di arena sudah cukup menunjukkan siapa pemenang dalam kompetisi ini.


Li Qing Yu terdiam dengan akhir ini. Cahaya di pupilnya berkilat tajam ketika dia melihat benang energi yang keluar dari pedang Mo Lan.


Li Qing Yu, "Kekuatan ini setidaknya sebanding dengan serangan milik kultivator tingkat 7. Wajar saja kalau mereka semua tumbang."


Li Qing Yu memandang sisi wajah saudaranya yang memancarkan aura beku di sekelilingnya. Jelas kalau Li Qing He sekarang sedang kesal dengan apa yang terjadi pada siswa-siswanya.


"Senjata gadis itu setidaknya setingkat nilai artefak kelas atas, sekarang aku benar-benar penasaran dengan identitas gadis itu," seru Li Qing Yu dengan nada yang tidak menunjukkan minat sedikitpun. Orang ini jelas tidak mengatakan yang sebenarnya.


"Ck... sayangnya peringkat pertama sepertinya tidak akan jatuh ke tangan kelasmu. Sia-sia kamu berharap begitu besar, tidak ada gunanya kamu merancang semua skema di kepalamu karena kekuatan lawan jelas bukan sesuatu yang bisa ditangani oleh siswa-siswamu," ujar Li Qing Yu dengan ejekan dalam nadanya.


Kata-kata Li Qing Yu berhasil mengenai skala kesabaran Li Qing He. Guru pembimbing dari kelas A itu memandang Li Qing Yu dengan tatapan dingin yang menusuk tulang dan melontarkan sederet kata dengan penuh penekanan.


"Mereka belum kalah. Pertandingan ini masih belum berakhir."


Li Qing Yu tersenyum acuh tak acuh, "Begitukah? Yah kita lihat saja kelanjutannya. Semoga semuanya seperti yang kamu harapkan saudaraku."


Li Qing Yu mengingat kembali formasi klan Li yang diaktifkan siswa kelas A dan sebuah ide muncul di benaknya.


Mungkinkah...


Heh... Kamu benar-benar licik, Ge.

__ADS_1


__ADS_2