The Legends : Tale Of Immortality

The Legends : Tale Of Immortality
Chapter 22: Tugas Pertama 'Mengajar Siswa'


__ADS_3

Sehari sebelum sekolah dimulai.


Beberapa orang tertentu tiba-tiba menerima pesan anonim pada saat yang bersamaan, Yue Qing Ye termasuk salah satu orang tersebut. Saat membaca pesan tersebut, Yue Qing Ye hampir mengira kalau dia sedang dipermainkan oleh orang asing.


Pesan tersebut berisi serangkaian nama yang dipasangkan bersama dengan sebaris judul singkat 'Tugas 1: Mengajar' dan di bawah daftar nama terdapat poin-poin yang perlu mereka capai supaya lulus, yang lebih parahnya lagi terdapat serangkaian kata yang bertuliskan 'Dari Guru Kelas kalian yang sibuk' di akhir pesan.


Awalnya Yue Qing Ye hanya mengabaikan pesan ini, namun BaiLi Yun Xiao ternyata juga menerima pesan yang sama dan tidak lama setelah itu, mereka menerima pesan resmi dari staf akademi yang menyatakan kalau mereka lulus menjadi guru pembimbing untuk kelas tertentu disertai dengan kalimat panjang lainnya yang tidak lagi dibaca oleh Yue Qing Ye.


Dia hanya merasa lidahnya terikat, benar-benar speechless. Saat menghubungi pihak akademi, mereka diberitahu kalau mereka sudah didaftarkan oleh guru kelas mereka di hari mereka resmi menjadi siswa akademi.


Keadaan ini tidak hanya menimpa mereka, orang-orang dalam daftar juga tertegun dengan tindakan sewenang-wenang ini. Sang guru bahkan tidak meninggalkan nama...


Yang lebih menjengkelkan itu sebenarnya banyaknya tuntutan yang diinginkan guru tanpa nama ini. Dari daftar-daftar pasangan nama ini Yue Qing Ye melihat nama-nama yang dikenalnya di luar dari BaiLi Yun Xiao seperti Li Qing He, Wei Si An, dan Luo Min. Sisanya adalah siswa yang lulus dari tahun sebelumnya.


Untung saja dia dikelompokkan bersama BaiLi Yun Xiao entah sengaja atau tidak, dia tidak peduli. Yue Qing Ye meringis pelan, tugas mengajar ini benar-benar merepotkan. Dengan enggan Yue Qing Ye akhirnya pergi menemui BaiLi Yun Xiao untuk diskusi lebih lanjut.


Di sisi lain, Li Qing He menatap pesan yang diterimanya dengan wajah hitam. Kata 'Mengajar Siswa' sangat menusuk matanya. Dia tidak menyangka akan dipaksa melakukan sesuatu, apalagi sesuatu yang menyia-nyiakan waktu dan pikiran pribadinya. Sialnya dia diminta untuk melakukan tugas merepotkan ini selama setahun.


Li Qing He adalah tipe orang yang kurang suka bersosialisasi kecuali ketika diperlukan. Mengajar adalah sebuah tugas rumit yang menurutnya bahkan lebih memusingkan dibanding dengan harus mengurus setumpuk dokumen perjam. Ditambah lagi dengan semua tuntutan yang diwajibkan lunas.


Sangat menjengkelkan.


Tapi dengan Wei Si An, seharusnya tidak terlalu sulit?...


......................


Yue Qing Ye merasa kepalanya ingin pecah. Dia dan BaiLi Yun Xiao ditugaskan ke tingkat kedua kelas B. Masalahnya siswa di kelas ini sangat antusias, semuanya berkicau bahkan lebih berisik dibandingkan burung gagak. Dia sungguh tidak mengerti bagaimana sepupunya masih bisa tersenyum menghadapi semua serbuan ocehan ini.


Sementara Yue Qing Ye merasa terganggu, ada pihak tertentu di kelas mereka yang juga sedang badmood. Wei Lan dan Yu Feng tidak menyangka kalau mereka akan di tempatkan di kelas yang sama. Wei Lan sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkannya, tapi Yu Feng berbeda. Dia sudah cukup menanggung serumah dengan setan kecil pembawa sial, sekarang dia juga harus menatap setan ini saat di kelas? Ditambah lagi ada tiga elf di kelas mereka yang terus menatap Wei Lan.


Memang mereka belum memperhatikannya, tapi bagaimana jika dia kembali tertarik dalam masalah bocah itu?

__ADS_1


Yu Feng diam-diam menghela nafas. Helaan nafas ini diperhatikan oleh Yue Qing Ye yang kebetulan melihat ke arahnya. Ternyata ada juga yang sedang suram seperti dirinya.


BaiLi Yun Xiao juga memperhatikan suasana hati Yue Qing Ye yang semakin buruk. Dalam hati dia sebenarnya juga agak kewalahan dengan antusiasme yang begitu ramai ini, namun untuk menciptakan kesan baik pada siswa-siswa mereka, dia hanya bisa dengan sabar menanggapi mereka satu persatu. Yah... demi tugas.


Selama lebih dari dua jam, Yue Qing Ye merasa kalau kelas mereka lebih berisik daripada pasar yang pernah dikunjunginya. Untungnya BaiLi Yun Xiao tampaknya sudah berencana menekan antusiasme para siswa dan fokus ke topik utama hari ini. Dia dengan fasih menunjukkan target mereka tahun ini dan meminta kerja sama para siswa yang ditanggapi secara positif.


Para siswa berakhir dibagi menjadi dua kroni dimana masing-masing kroni akan mengikuti satu guru mereka untuk latihan. Keduanya membawa siswa mereka ke platform virtual dan mengatur kursus pertempuran. Yue Qing Ye mengatur latihan pertempuran satu lawan satu dan pihak BaiLi Yun Xiao mengatur pelatihan di alam liar.


Milik Yue Qing Ye berjalan dengan lancar. Dari layar mereka bisa melihat kondisi setiap siswa dengan sempurna dan mengamati gaya pertempuran masing-masing siswa. Sisi BaiLi Yun Xiao agak kacau. Beberapa mampu beradaptasi dengan mudah, namun beberapa juga kelihatan kebingungan dan gelisah. Dunia virtual ini dibangun sangat nyata, semua peserta yang memasuki platform virtual memiliki tingkat kepekaan 100%. Hewan buas yang mereka temui juga memiliki IQ dan reaksi yang alami seperti makhluk yang sesungguhnya.


BaiLi Yun Xiao mengerutkan keningnya, sejujurnya ini agak melenceng dari dugaannya. Beberapa siswa terlihat sangat amatir dalam menghadapi pertempuran dengan makhluk-makhluk di alam liar dan lebih memilih opsi melarikan diri, beberapa bahkan tidak sempat melarikan diri dan dibunuh berkali-kali sebelum dibangkitkan lagi. Dia kira setidaknya siswa tingkat dua di akademi memiliki pengalaman yang tidak kurang dalam pertempuran di alam liar.


Pemikiran BaiLi Yun Xiao memang tidak salah, namun dia menggunakan standar bawahan elitnya untuk menilai siswanya. Di tambah lagi dia tidak segan-segan mengatur latihan mereka ke level yang cukup intens. Hanya beberapa yang mampu bertahan dan ikut bermain dalam pelatihan ini, salah satunya adalah pemuda elf tertentu.


Kinerja Wei Lan adalah salah satu yang mendapat kilasan apresiasi dari BaiLi Yun Xiao. Pemuda elf itu mungkin terlihat kurus dan mungil, namun daya bertarungnya tidak kalah ganas dengan siswa berpengalaman lainnya. Dia juga memiliki metode khasnya sendiri untuk mengalahkan lawan yang lebih kuat darinya.


Di sisi Yue Qing Ye, seorang siswa manusia-vampir menarik matanya. Siswa Yu Feng ini menggunakan pistol perak sebagai senjatanya. Ini sebenarnya senjata yang cukup jarang diminati karena keterbatasan penggunaannya, namun Yu Feng mampu menggunakan senjata biasa ini untuk memecahkan kekuatan lawan. Selain itu akurasi menembaknya telah mencapai batas di luar normal. Sebagai petarung jarak jauh, orang ini agak mematikan bagi lawannya dan sebagai petarung jarak dekat dia juga layak mendapatkan pujian. Tentu saja siswa lainnya juga memiliki keunggulan masing-masing yang patut dihargai.


Saat ini Wei Lan sedang berhadapan dengan tiga siswa yang mana salah satunya adalah seorang elf wanita, Luo Xiu. Dan sekarang wanita ini dengan ramah mengajaknya bergabung bersama mereka?


Jawaban Wei Lan tentu saja penolakan.


"Adik Wei Lan tidak perlu sungkan. Kita berasal dari klan yang sama sudah sewajarnya saling mendukung. Tidak aman berjalan sendirian di tempat ini, bukankah lebih baik bekerjasama mengumpulkan poin? Kita juga bisa mengurangi resiko terbunuh."


Kata-kata Luo Xiu penuh dengan niat baik, namun semakin Wei Lan mendengar, semakin dia ingin segera berpisah dengan kelompok ini. Mana mungkin wanita ini tulus membantunya? Sedangkan di hari biasa saja dia memandangnya seperti memandang pasir di pinggir jalan sepanjang hari.


"Tidak perlu, terima kasih. Aku lebih suka bekerja sendirian."


Dua siswa di sisi Luo Xiu memandang Wei Lan dengan pandangan tidak senang setelah ditolak dua kali. Wanita di sisi kiri Luo Xiu mengerutkan keningnya dan menarik lengan Luo Xiu sambil mengeluh, "Dia sudah menolaknya, biarkan saja dia sendiri. Kenapa kamu harus membujuknya seperti itu sementara orang ini tidak menghargai niat baikmu?"


"Adik Wei Lan bukannya sombong, dia hanya agak introvert dan tidak pandai bergaul dengan orang lain."

__ADS_1


Pemuda di sisi kanan Luo Xiu semakin tidak menyukai Wei Lan setelah mendengar pembelaan Luo Xiu sementara Wei Lan disisi lain sangat acuh tak acuh.


Pandangan Wei Lan mendingin. Yah... adegan yang familiar lagi.


Dia berbalik dan menjauh dari drama yang sedang dipentaskan entah untuk siapa itu. Wei Lan bisa mendengar gerutuan yang mengejeknya dari belakang. Yah... tidak apa-apa bukankah dia sudah terbiasa?


Pupil hijau Wei Lan agak meredup, ternyata bahkan di akademi dia harus menanggung adegan yang sama seperti yang sudah dilaluinya sepanjang masa. Kilasan bayangan orang tertentu tiba-tiba terlintas di benaknya. Hanya pengguna pistol itu yang sedikit menghibur, entah bagaimana kondisi sobat itu sekarang. Agak penasaran bagaimana kondisi orang itu sekarang, mungkinkah dia masih seperti biasanya, menembak dengan wajah batu...


Sementara itu, sisi Yu Feng sebenarnya tidak ada masalah serius. Seperti yang dibayangkan Wei Lan, orang itu masih menggunakan pistol peraknya untuk menembak lawannya.


Yu Feng telah memenangkan 5 pertandingan berturut-turut sebelum akhirnya kalah di tangan seorang siswa yang berspesialisasi dalam pertempuran jarak dekat. Meskipun kalah, Yu Feng sama sekali tidak mempermasalahkannya. Dengan nilainya yang sekarang, seharusnya sudah melewati ambang batas kelulusan.


Kelompok Yue Qing Ye menyelesaikan pelatihan mereka terlebih dahulu dan para siswanya telah keluar dari dimensi virtual. Sekarang mereka mengamati situasi di pihak kelompok lain. Pemandangan memalukan beberapa siswa masuk ke pandangan mereka. Ada yang dikejar-kejar, ada yang dibantai berkali-kali, dan tentu saja ada juga yang mengatasi situasi mereka semudah bernafas.


"Bukankah ini agak kejam...," bisik seorang siswa yang melihat adegan dimana seseorang ditelan oleh hewan iblis sebelum muncul kembali di tempat lain dengan nilai kematiannya yang bertambah dan poin yang berkurang.


Tidak ada yang mengomentari kata-kata ini, namun semakin banyak mereka melihat semakin diam suasana di sekitar. Hampir sebagian besar siswa di dunia virtual berada dalam posisi yang merugikan. Hal ini sudah cukup untuk menilai sejauh mana kemampuan kelas mereka.


Setengah jam kemudian, pelatihan diakhiri dan para siswa keluar dari dunia virtual dengan kondisi yang berbeda-beda. Beberapa masih berkeringat dingin mengingat pengalaman buruk mereka. Tidak ada yang membanggakan hasil yang mereka terima termasuk mereka yang berada dalam kelompok Yue Qing Ye.


Setelah kembali ke kelas, hasil setiap siswa telah dikirimkan ke alat komunikasi mereka masing-masing. Di depan kelas, hasil mereka diproyeksikan bersama dengan semua video pelatihan mereka dari awal hingga akhir.


Keheningan yang canggung menimpa seisi kelas. BaiLi Yun Xiao dan Yue Qing Ye tidak menunjukkan ketidakpuasan, tapi keduanya dengan serius mengomentari setiap kekurangan dengan nada diskusi yang serius sebagai pihak ketiga dalam situasi. Tindakan kedua guru ini membuat para siswa merasa lebih memalukan dan pahit, akan lebih baik jika mereka dimarahi.


Wei Lan mendengarkan semua komentar yang dilontarkan kedua guru ini dengan serius. Rasa malu dan kesalnya perlahan memudar digantikan dengan kekaguman samar. Setiap komentar menusuk langsung ke sumber masalah dan kedua guru ini juga memberikan berbagai solusi yang cerdas. Selain itu, dia tidak menduga kalau Yue Qing Ye yang paling diam mampu berbicara sepanjang ini.


Kedua pemuda yang berbicara ini melakukan diskusi bersama dan sepenuhnya mengabaikan sekitar mereka, terutama Yue Qing Ye. Kebiasaan kerjanya kambuh lagi dan dia terinfeksi dengan suasana BaiLi Yun Xiao, jadi dia tanpa sadar mengisolasi sekitarnya dan hanya fokus pada proyeksi dan sepupunya.


Setelah adegan pelatihan berakhir, Yue Qing Ye baru sadar dari antusiasmenya dan melihat suasana kelas mereka yang agak kurang benar.


Ya, para siswa merasa rendah diri dan tegang setelah mendengar semua komentar itu. Memang tidak menghakimi, tapi siapa yang tidak merasa tertusuk setelah mendengar seberapa buruk aksi mereka.

__ADS_1


BaiLi Yun Xiao tersenyum, namun tidak menghibur siswanya. Dia hanya meminta mereka untuk lebih sering menonton video pelatihan dan merenungi saran-saran yang telah diberikan sebelum mulai mengajarkan teori.


__ADS_2