The Legends : Tale Of Immortality

The Legends : Tale Of Immortality
Chapter 29: Mo Lan (1)


__ADS_3

BaiLi Yun Yi, "Bukankah ini formasi klan Li?"


BaiLi Yun Xiao, "Benar."


Kilatan senyuman terpancar dari pupil BaiLi Yun Xiao tanpa disadari siapapun, kecuali Yue Qing Ye.


Setelah formasi diaktifkan, tidak ada apa pun yang terjadi. Hal ini tidak membuat kelas B lengah karena mereka tahu hal yang tidak terlihat justru akan meninggalkan dampak yang lebih serius dari pada yang terlihat oleh mata, apalagi sekarang gerakan kelas A tiba-tiba menjadi tidak menentu.


Xiao Yin yang melihat situasi saat ini, mengerutkan keningnya. Sekarang kelas mereka memang lebih unggul dari kelas A, tapi tidak ada yang tahu bagaimana situasi kelanjutan nantinya. Akan lebih baik jika pertandingan ini bisa segera berakhir. Dengan dasar pemikiran ini, gadis itu kembali mengeluarkan sebuah bola kecil.


BaiLi Yun Hua melihat gerakan Xiao Yin dari sudut matanya, tapi kali ini bukannya tegang, dia malah tersenyum penuh makna.


Saat bola kecil itu meledak, kabut putih yang akrab kembali menguasai arena.


Di luar arena.


BaiLi Yun Yi menatap kondisi di arena dengan suasana hati yang tegang. Terakhir kali tim BaiLi Yun Hua juga kalah karena kabut ini. Mungkinkah kali ini mereka juga akan terjebak?


"Jangan terlalu khawatir, situasi saat ini berbeda dari sebelumnya. Sebelumnya tim kelas A tidak ada persiapan, tapi sekarang berbeda. Jangan lupa, sejak awal mereka sudah mengaktifkan formasi Klan Li," ujar BaiLi Yun Xiao ketika dia melihat kegelisahan sepupunya.


"Formasi Klan Li tidak menimbulkan efek serangan atau pertahanan, tapi tujuan formasi ini sebenarnya untuk menandai makhluk yang ditargetkan," lanjut BaiLi Yun Xiao.


Sesuai dengan penjelasan BaiLi Yun Xiao, situasi di dalam kabut sepenuhnya berbeda dari sebelumnya.

__ADS_1


BaiLi Yun Hua masih merasakan indranya menumpul, akan tetapi pemuda itu tidak gelisah seperti sebelumnya. Dia hanya berdiri di tempat dan memejamkan matanya. Dia sedang menunggu.


Ketika muncul lonjakan energi spiritual yang menyerang BaiLi Yun Hua, pemuda itu dengan lincah menghindar dan melakukan serangan balik. Kali ini serangan BaiLi Yun Hua terkontrol dan percaya diri, setiap serangannya bertujuan untuk mengejar sosok lawan seolah dia telah mengetahui posisi lawannya.


Tidak salah. Secara fisik BaiLi Yun Hua memang tidak bisa melihat posisi lawannya, namun dia bisa merasakannya. BaiLi Yun Hua merasakan keberadaan musuhnya dengan tanda cahaya yang ditinggalkan ketika formasi diaktifkan.


Setiap gerakan, posisi, dan kondisi lawan diproyeksikan dalam benaknya. Saat ini ada 6 titik cahaya yang melambangkan masing-masing anggota kelas B.


Ketika saudara perempuan Xiao Yin, Mo Lan menyadari kalau gerakan lawannya tidak beres, dia tahu kalau kesempatan untuk menang menjadi semakin sempit. Bukan hanya Mo Lan, tapi anggota tim kelas B lainnya juga menjadi curiga.


BaiLi Yun Hua samar-samar merasakan situasi salah satu rekannya agak tertahan. Formasi milik klan Li tadi sebenarnya tidak hanya menandai musuh, tetapi juga rekan sehingga mereka bisa mengetahui situasi pertempuran secara menyeluruh.


Pemuda itu berpindah dari Mo Lan ke posisi rekannya untuk memberikan bantuan. Ternyata lawan yang sedang dihadapi adalah gadis Xiao Yin.


Xiao Yin tersentak saat melihat BaiLi Yun Hua mendekatinya dengan lancar. Ada yang salah dengan kelas A ini. Seharusnya di tengah kabut yang dibuatnya mereka tidak akan bisa bertindak bebas seperti itu, tapi kenapa dia merasa kalau musuhnya mampu mengetahui posisi lawan mereka dengan mudah?


Ketika BaiLi Yun Hua menghindari serangan spiritual Xiao Yin, pemuda itu juga menusuk lengan atas gadis itu.


"Tidak mungkin," ringis Xiao Yin sambil memegang lengannya dan mundur. Kali ini lukanya tidak tanggung-tanggung. Bukan hanya sekedar sayatan, tapi BaiLi Yun Hua benar-benar menembus lengan musuhnya.


Saat Xiao Yin lengah karena rasa sakit akibat lengannya yang ditembus, rekan BaiLi Yun Hua tidak melepaskan kesempatan tersebut dan mengarahkan serangannya langsung ke kepala Xiao Yin. Namun tepat ketika pisau itu hanya berjarak beberapa centimeter dari wajah Xiao Yin, gadis itu mengelak dengan cekatan.


Detak jantung Xiao Yin berdebar begitu kencang, dia memandang rekan BaiLi Yun Hua dengan tatapan ngeri. Barusan dia bisa merasakan niat membunuh yang kuat dari musuhnya, orang ini jelas-jelas ingin membunuhnya tadi. Kalau dia tidak mengelak, maka kepalanya mungkin sudah berlubang sekarang.

__ADS_1


Orang-orang ini serius ingin membunuh...


Ketakutan masih menjebak Xiao Yin sehingga dia menyerang lawannya dengan semakin keras, terutama terhadap orang yang hampir membunuhnya. Pada saat yang sama Mo Lan datang ke sisi Xiao Yin dan membantu adiknya.


"Kakak mereka-"


"Aku tahu, mereka bisa melihat gerakan kita. Bagaimana dengan lenganmu?" ujar Mo Lan yang menempatkan adiknya di belakangnya.


"Sakit sekali, mereka serius mau membunuhku. Kalau tadi aku tidak hati-hati, kepalaku sudah terpotong," jawab Xiao Yin dengan muram.


"Biarkan aku mengurus mereka, kamu pergilah untuk membantu yang lain," kata Mo Lan dengan nada serius sebelum membuka jalan untuk adiknya meninggalkan medan ini dengan lancar.


Berbeda dari Xiao Yin, Mo Lan adalah petarung yang kuat. Momentumnya tidak kalah meskipun dia sedang menghadapi dua orang yang kemampuan mereka tidak lebih lemah darinya. Dalam pandangan BaiLi Yun Hua, gadis ini adalah yang terkuat di kelas B. Dia tahu kalau gadis ini belum menunjukkan semua kemampuannya.


"Kalian benar-benar gigih..."


Baik BaiLi Yun Hua dan rekannya tidak bisa mendengar kata-kata Mo Lan, namun mereka bisa merasakan kalau gadis ini mulai lebih serius.


Aura Mo Lan berubah dan kedua pedang besar di tangannya memancarkan tekanan yang tidak biasa. Tanpa basa-basi, gadis itu menghilang dari posisinya dan muncul di belakang rekan BaiLi Yun Hua sebelum mengayunkan pedang itu. Energi pedang yang mencekam memaksa anggota kelas A itu tunduk di tempatnya dan membiarkan punggungnya terbuka untuk menjadi sasaran pedang.


Pupil BaiLi Yun Hua menyusut saat dia merasakan aura mengerikan yang memancar keluar dari gadis itu, tapi yang membuat alarm di pikirannya tidak berhenti berdering adalah kondisi rekannya.


Saat tekanan tak kasat mata menekan mereka, BaiLi Yun Hua merasakan kondisi rekannya melemah secara signifikan. Temannya hampir sekarat...

__ADS_1


Dia tegang. Situasi rekannya saat ini butuh perawatan yang tepat, tapi mereka berada di tengah-tengah pertandingan. Apalagi sekarang lawan yang ada di depannya ini tidak dalam kondisi yang benar.


Gadis ini sebenarnya apa...


__ADS_2