The Legends : Tale Of Immortality

The Legends : Tale Of Immortality
Chapter 43: Pedang Yang Dihancurkan


__ADS_3

Bagitu cahaya biru gelap keluar dari sela-sela kobaran, api yang awalnya berkobar ganas itu perlahan tenang dan akhirnya meredup hingga hanya meninggalkan asap tebal.


"Apa kamu gila?!"


Seruan marah dengan nada yang ditekan dengan paksa terdengar dari dalam asap. Tidak lama setelah seruan itu meledak, cambuk biru gelap setebal batang pohon menyapu arena dengan liar seperti tornado mini dan menghilangkan kabut.


Begitu asap tebal sisa dari pembakaran tersebut tersebar, kondisi orang-orang di dalamnya akhirnya terpapar ke mata para penonton. Udara biru gelap dengan sedikit pecahan es dan percikan listrik mengelilingi BaiLi Yun Hua seperti tentakel makhluk buas dari jurang iblis.


Sebagian kain di pakaian BaiLi Yun Hua memiliki jejak hitam dan hangus dari sisa-sisa pembakaran. Penampilan pemuda itu juga menjadi lebih berantakan dengan sedikit noda hitam di kulitnya. Saat ini tentakel udara biru gelap berputar di sekitar pemuda itu dan beberapa juga mengelilingi anggota tim kelas A yang sekarang berpindah posisi ke punggung pemuda itu.


BaiLi Yun Hua menggertakkan giginya dengan gesekan erat. Saat ini dia hanya ingin maju ke sisi lawannya dan memotong tempurung kepala gadis itu untuk melihat sebenarnya apa isi otak gadis itu! Segila dan selicik apa pun BaiLi Yun Hua, tidak akan pernah terpikirkan olehnya sebuah keputusan yang menarik dirinya serta kawan seperjuangannya untuk mati bersama musuh, tapi gadis itu justru mampu melakukan hal idiot seperti itu!


BaiLi Yun Hua sudah sering membiarkan tangannya dinodai dengan darah, namun dia sendiri sebenarnya takut mati. Perasaan kematian yang hampir menyambutnya membuat jantungnya berdetak kencang dengan semburan kemarahan dan keengganan yang semakin mendorong jantungnya memopa lebih kencang hingga dia merasa seperti semua darahnya hampir mengalir ke otak.


Dia takut kematian akan menariknya jatuh ke jurang tanpa dasar.


Ketakutan itu sudah lama menjadi pedoman nya sejak lahir. Kondisi hidup yang keras membuat BaiLi Yun Hua yang sudah menderita merasa takut dan gelisah dengan pengalaman kematian, satu-satunya pengalaman gelap yang tidak pernah dialaminya. Itulah sebabnya dia selalu berusaha bertahan hidup bahkan ketika dia harus menelan daun dan rumput kering untuk memuaskan kondisi kelaparan nya.


Dia benci segala penderitaan yang dialaminya. Dia benci rasa sakit yang menjalari tubuhnya, tapi dia lebih benci dan takut ketika harus menghadapi kematian yang tidak pernah dialaminya. Pola pikir seperti inilah yang membuat BaiLi Yun Hua bertahan selama masa hidupnya di klan BaiLi.


Sekarang ancaman kematian yang selalu ditakuti BaiLi Yun Hua hampir menariknya masuk ke gerbang neraka, jadi bagaimana bisa dia tidak marah?


Di tengah ketakutan dan emosi kuat yang berkibar, BaiLi Yun Hua tiba-tiba mengeluarkan kekuatan dahsyat yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dorongan keinginan untuk bertahan hidup membuka potensi yang selama ini masih tertidur lelap terbangun untuk melindungi dirinya dan anggota timnya.


Ya, bahkan ketika hidupnya sedang terancam dia masih sempat memikirkan kelangsungan hidup teman-temannya. Setidaknya ini mungkin bisa termasuk sebagai salah satu kebaikan hati yang masih dimilikinya.

__ADS_1


Setelah api mereda, kepanikan yang mengaduk-aduk pikiran BaiLi Yun Hua perlahan ditenangkan. Dia bisa mendengar nafas dan detak jantung anggota timnya yang cepat dan tidak teratur.


Mereka masih hidup.


Setelah rasa lega berlalu, BaiLi Yun Hua akhirnya menyadari perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Kekuatan yang luar biasa menenangkan, namun terkesan tirani sekarang sedang berenang dengan bebas seperti ikan di kolam tepat di dalam tubuhnya.


Ini bukan energi asing dari formasi klan Li. Rasanya seperti kekuatan ini mengalir langsung dari tubuhnya, seolah energi murni ini adalah bagian dari tubuhnya sendiri.


BaiLi Yun Hua jatuh ke momen renungan yang singkat sebelum secercah suara bising dari luar menariknya menjauh dari lamunannya. Begitu menyadari situasi di sekitarnya yang penuh nyala merah, kemarahan yang sempat ditenangkan kembali meletus dengan daya bakar yang lebih besar.


Dipengaruhi oleh emosi kemarahan yang tak berujung, BaiLi Yun Hua tanpa sadar meledakkan keluar kekuatan baru dari tubuhnya.


"Apa kamu gila!" seru pemuda itu tanpa sadar meskipun tidak bisa melihat jelas dalang yang menyebabkan semua kekacauan ini.


Begitu asap sudah menghilang, pemandangan inilah yang jatuh ke ribuan pasangan mata. Pemuda yang acak-acakan dengan kekuatan aneh berhasil bertahan hidup bersama teman-temannya dan bukannya malah dipanggang menjadi daging bakar.


Sepasang mata Mo Lan melebar seperti lonceng karena terkejut ketika dia mendapati kalau tidak ada satupun anggota tim kelas A yang terluka. Lawannya masih berdiri hidup di depannya.


Kenyataan ini membuat Mo Lan terkaget-kaget sampai dia tidak sadar kalau dia sendiri sudah mengungkapkan keterkejutannya, "Masih baik-baik saja...?"


Kata-kata Mo Lan semakin memicu semburan api BaiLi Yun Hua. Pemuda itu mencibir dan menatap lawannya dengan pandangan jijik layaknya menatap makhluk menyebalkan.


"Ya, kami masih hidup dengan tungkai yang masih lengkap."


Mo Lan tersadar dari keterkejutannya dan menatap intens kekuatan yang sekarang sedang dipancarkan oleh BaiLi Yun Hua. Kekuatan itu memberinya tekanan asing yang membuat instingnya berdering bahaya.

__ADS_1


BaiLi Yun Hua sendiri tidak sadar kalau dirinya saat ini memancarkan aura menakutkan yang sampai hingga ke bangku penonton. Sebelum siapa pun bereaksi, pemuda itu terjun ke Mo Lan dengan kecepatan kilat. Tentakel udara yang mengelilingi BaiLi Yun Hua bergerak cepat memutari pemiliknya.


Begitu sampai di hadapan Mo Lan, pemuda itu langsung mengirimkan tinju yang membawa sedikit kilatan petir. Mo Lan tidak mundur, namun menahan serangan lawannya dengan salah satu pedang besarnya.


Ketika tinju dan badan pedang bertabrakan, gadis itu langsung dikirim terbang sejauh beberapa meter beriringan dengan suara ledakan yang membawa kilasan bunyi guntur.


"Bang!"


Lantai arena di sekitar BaiLi Yun Hua berpijak memiliki bongkahan es tajam yang tumbuh. Udara langsung turun beberapa derajat setelah tinju BaiLi Yun Hua menabrak pedang Mo Lan. Saat ini pemuda itu sudah kembali dari posisi kuda-kudanya, penonton bisa melihat tinju yang diturunkan ke sisi tubuh pemuda itu sebenarnya masih memancarkan kilatan petir kecil.


"Krak..."


Mo Lan yang diterbangkan beberapa meter sekarang bangun dengan satu kaki berlutut dan pedang ditancapkan ke arena. Begitu Mo Lan berdiri dan ingin mencabut pedangnya dari lantai arena, suara retakan besi meninju kesadarannya.


"Krak...krak...!"


"!"


Pedang besar Mo Lan memiliki retakan yang tumbuh di badan pedang itu dan semakin melebar hingga tubuh pedang hancur menjadi beberapa keping.


Seisi arena terdiam dengan kesunyian yang membekukan seketika.


Mata Mo Lan langsung melebar ngeri begitu melihat besi pedang hancur berkeping-keping di lantai. Beban pedang yang semakin ringan ditransfer ke saraf otaknya dan membuat pikirannya semakin berantakan.


Hancur.

__ADS_1


Sebuah fakta menakutkan disimpulkan secara paksa di dalam kepada gadis itu.


Pedangnya hancur oleh tinju BaiLi Yun Hua!


__ADS_2