
Jalanan akademi sudah sangat ramai semenjak matahari mulai naik untuk mengakhiri siklus malam. Semua warga akademi berbondong-bondong melewati jalanan menuju satu arah, yaitu arena kompetisi karena hari ini adalah hari istimewa bagi para siswa, terutama mereka yang merupakan siswa baru.
Lokasi para penonton dan peserta tersusun bertingkat melingkari arena hampir seperti stadion. Tidak hanya itu, ada juga ratusan bangunan melingkar seperti menara yang melayang di langit mengelilingi arena dengan selaput transparan yang melindunginya.
Rombongan BaiLi Yun Xiao dan Yue Qing Ye adalah salah satu dari kelompok orang yang datang bahkan sebelum langit sepenuhnya bangun. Karena hak spesial milik BaiLi Yun Xiao dan Yue Qing Ye, mereka diberi ruangan di salah satu bangunan melayang. Padahal bangunan tersebut memerlukan biaya mahal untuk dibooking. Bisa dibilang, ruangan di bangunan melayang setara dengan ruang VIP.
Saat dibangunkan pagi-pagi begitu, BaiLi Yun Hua masih bertanya-tanya apa gunanya mereka berangkat seawal ini sementara orang lain masih bersarang dalam mimpi mereka. Ketika menanyakan keraguannya, jawaban BaiLi Yun Xiao hanya sebaris kalimat.
"Kalau menunda lebih lama lagi, nanti kita bisa terlambat."
Langit masih tidur, apanya yang terlambat???
Saat tiba di lokasi, BaiLi Yun Hua baru sadar akan maksud BaiLi Yun Xiao. Para siswa yang seharusnya tidur di rumah mereka telah mengenakan seragam lengkap dan berjalan-jalan di luar.
Tidak sedikit yang sudah berbaris untuk menunggu giliran menggunakan formasi teleportasi ke bangunan melayang. BaiLi Yun Xiao mengeluarkan token ruangan mereka dan formasi secara otomatis mengirim mereka ke ruangan milik mereka.
Ruangan itu dilengkapi dengan fasilitas mewah yang cukup lengkap, hampir seperti hotel mewah dengan balkon lebar untuk menonton kompetisi.
BaiLi Yun Xiao dan Yue Qing Ye melakukan pertandingan catur, BaiLi Yun Hua mengeluarkan buku pinjamannya dari perpustakaan, sisanya melakukan urusan mereka masing-masing sambil menunggu waktu kompetisi tiba.
Selama tiga jam ini pengunjung yang berlalu-lalang semakin banyak seperti sekawanan semut yang membanjiri jalanan. Saat stadiun di bawah sudah penuh hingga berdesakan, lonceng yang menggantung di pilar arena berdenting keras dan waktu yang telah ditunggu-tunggu akhirnya tiba.
Sebuah layar transparan raksasa terbentuk di udara dan mengumumkan dimulainya kompetisi. Aturan-aturan permainan ditampilkan berjejer ke bawah untuk diingat setiap peserta sebelum mengumumkan bentuk kompetisi.
__ADS_1
Kompetisi antar kelas diadakan sebelum kompetisi individu dan dimulai dari divisi siswa tingkatan pertama. Pertandingan menggunakan sistem undian jadi bagi beberapa orang aturan ini mungkin cukup merugikan seperti pada tim peserta babak pertama dimana kelas E bertemu dengan kelas B. Babak ini hanya memperlihatkan pemukulan sepihak sebelum kelas E kalah telak.
BaiLi Yun Hua agak terdiam dengan keadaan ini. Bagaimanapun juga mereka semua ada siswa akademi, berarti kemampuan mereka seharusnya tidak seburuk ini. Tapi dari yang dilihatnya, perbedaan kekuatan ini agak terlalu lebar meskipun mereka seangkatan. Dibandingkan dengan kelas B, kelas E benar-benar tidak mencolok.
Pertandingan terus berlanjut dan terkadang beberapa situasi ketimpangan kemampuan bisa terlihat di arena. Beberapa yang kurang beruntung sudah tersingkir di pertandingan pertama mereka.
Layar transparan akhirnya memilih kelas A-1 setelah sekian banyak babak pertandingan yang selesai. Setiap kelas akan diwakili oleh lima siswa di babak eliminasi sesi pertama.
Sesuai dengan pengaturan Li Qing He dan Wei Si An, BaiLi Yun Hua akan menjadi salah satu perwakilan yang turun ke arena di sesi pertama. Lawan mereka di sesi ini adalah kelas B. Sesuai dengan instruksi kedua guru mereka, selama pertandingan mereka tidak boleh menggunakan energi spiritual yang berlebihan kecuali memang perlu. Dengan kata lain, mereka harus berusaha memenangkan pertandingan dengan kemampuan fisik mereka sendiri.
Masing-masing pihak terdiri dari enam siswa dalam satu kelompok perwakilan. Kelas A-1 tidak menerapkan strategi yang rumit, mereka hanya mengambil satu lawan secara acak yang membuat siswa kelas B tersinggung dengan sikap yang terkesan asal-asalan ini.
BaiLi Yun Hua kebetulan melawan pemimpin kelompok pihak lawan. Lawannya adalah seorang wanita dan merupakan petarung jarak dekat yang cukup akrab dengan senjata ganda berupa pedang besar. Wanita itu tidak banyak bicara dan mengayunkan kedua pedang besarnya dengan gesit seolah yang dimainkan itu bukan senjata yang hampir setinggi ukuran tubuhnya.
BaiLi Yun Hua sendiri menggunakan pedang ramping yang dihadiahkan BaiLi Yun Xiao. Senjata ramping itu dimainkan dengan fleksibel di tangannya dan mampu menahan dampak dari ayunan pedang besar milik lawan.
Lawannya menatap senjata di tangan BaiLi Yun Hua dengan kilatan cerah dan bergumam, "Pedang yang sangat bagus..."
Mendengar komentar lawannya, BaiLi Yun Hua tanpa sadar memutar kembali ingatannya.
Tentu saja bagus, lagipula senjata ini menghabiskan sejumlah uang tidak bisa diperolehnya selama 17 tahun hidupnya ini.
Meskipun lawan mereka berasal dari kelas B, nyatanya kemampuan lawan tidak lebih buruk dari mereka sendiri. Sampai sekarang kedua sisi masih mempertahankan keadaan seimbang.
__ADS_1
Para penonton merespon keadaan ini dengan ketertarikan yang semakin naik. Beberapa sudah mulai mendiskusikan keadaan masing-masing kontestan.
Di salah satu ruang VIP, terlihat dua sosok yang mengamati pertandingan dengan suasana yang bertolak belakang. Dari atas, Li Qing He memandang kondisi pertandingan di bawah sana dengan wajah lurus. Di sampingnya, duduk Li Qing Yu yang reaksinya justru lebih antusias dibandingkan guru asli kelas A-1.
"Gadis itu tidak mudah dilawan. Dengan kualifikasinya tidak sulit untuk masuk ke kelas A, apalagi dengan kemampuan mengendalikan senjata yang semahir itu."
"Pengguna tombak itu juga menarik. Dia cukup cepat, tapi menurutku dia belum serius memainkan pertandingan ini. Lihatlah langkahnya, sepertinya muridmu sedang dikelabui olehnya."
"Tapi BaiLi Yun Hua dari kelasmu juga tidak buruk. Dari gerakannya sepertinya dia cukup mahir. Ck... ambang penglihatan klan BaiLi cukup tinggi bukan, bahkan yang seperti ini pun dianggap sampah oleh mereka..."
Li Qing He hanya mengabaikan kicauan Li Qing Yu yang tidak ada hentinya. Pandangannya tidak lepas dari kondisi pertandingan di arena yang terlihat sedang buntu.
"DaGe, bagaimana menurutmu?"
Li Qing Yu yang mengoceh sendiri akhirnya menolehkan kepalanya ke samping dan mengganggu sesi diam saudaranya. Tentu saja yang didapatnya hanyalah pengabaian dingin.
Kurangnya respon, tidak menurunkan suasana hati Li Qing Yu. Dia justru tersenyum maklum seolah memang tidak mengharap jawaban apa pun dari saudaranya dan terus melanjutkan penilaiannya.
"Dua pihak ini sama-sama saling menyimpan kekuatan. Memangnya apa yang sedang mereka tunggu."
Tentunya Li Qing He juga sadar akan hal ini. kelompok siswa kelas A-1 memang menahan diri karena permintaannya, tapi kelas B ini juga melakukan hal yang sama. Antara sengaja menahan diri untuk membiarkan lawan kurang waspada atau sengaja ingin menguji batas kemampuan lawan. Atau mungkin mereka justru memang sengaja menyimpan kekuatan untuk tujuan lain, mungkin sedang menunggu...
Begitu pikiran ini berputar, situasi di arena berubah total seketika.
__ADS_1