The Legends : Tale Of Immortality

The Legends : Tale Of Immortality
Chapter 26: Kekalahan


__ADS_3

Sesuai dengan prediksi beberapa orang, situasi tim kelas A di dalam kabut sepenuhnya memburuk dengan cepat.


Para anggota kelas A menghadapi situasi yang sama dengan BaiLi Yun Hua. Mereka sadar kalau kemenangan tidak akan berakhir di pihak mereka. Beberapa juga memiliki penyesalan yang sama dengan BaiLi Yun Hua. Kecewa, kesal, namun meskipun emosi negatif ini berkecamuk, ajaibnya keenam anggota tim kelas A memiliki pemikiran yang serasi.


Semuanya bertekad memeras semua kemampuan mereka untuk melemahkan tim kelas B. Lagipula mereka masih memiliki kesempatan untuk lolos ke ronde selanjutnya di pertandingan kedua.


Ya, aturan untuk lulus ke ronde selanjutnya mengharuskan para peserta meraih dua kemenangan. Jadi setiap kelas memiliki maksimal tiga pertandingan di tahap pertama dimana kelas yang meraih satu kemenangan akan diadu dengan kelas lain yang juga meraih satu kemenangan, dan setiap kelas memiliki masa istirahat yang cukup panjang sebelum kembali ke arena.


Meskipun kelas A-1 telah menjadi lebih rendah hati setelah sering mengalami memar di bawah pemukulan sepihak oleh dua guru mereka, kebanggaan masih tertanam erat di jantung mereka. Tidak ada yang sudi menerima kekalahan telak di tangan kelas yang dinilai setingkat lebih rendah dari mereka.


Kalau memang akan kalah, paling tidak mereka harus bisa mengguncang fondasi lawan. Dengan dasar pemikiran ini, kelas B menemukan kalau lawan yang mereka hadapi tiba-tiba meledak dan melawan mereka seperti banteng mengamuk.


Dengan penutup kabut, BaiLi Yun Hua yang sudah cukup terbiasa dengan kondisi terbatasnya sekarang mengubah serangan pasifnya menjadi aktif dan tajam. Menggunakan instingnya dia perlahan mengejar balik lawannya dan meluncurkan serangan khasnya.


Wanita kelas B tidak menyangka kalau lawannya akan mengubah metode serangannya menjadi begitu mematikan. Setiap gerakan dan tusukan bertujuan untuk memotong garis hidupnya. Kemampuan ini tidak seharusnya dimiliki oleh seorang pemula. Yang lebih menegangkan adalah BaiLi Yun Hua menjadi lebih kasar dengan serangannya dan terus mendekati sasaran meskipun dibatasi oleh kabut.


Ketidaknormalan BaiLi Yun Hua membuat wanita itu semakin waspada.


Orang ini sama sekali bukan pemula.


Seorang pemula tidak mungkin bisa memiliki niat membunuh setajam itu. Serangan kejam ini hanya mungkin dihasilkan oleh jenis yang terbiasa bertaruh nyawa dan BaiLi Yun Hua yang kelihatan lemah dan tidak berguna ini justru menyembunyikan kengerian ini.


Tanpa menunda lebih lama lagi, wanita itu akhirnya memutuskan untuk secepatnya menjatuhkan BaiLi Yun Hua. Biarpun BaiLi Yun Hua kuat, tapi fisiknya tidak akan bertahan lama di dalam kabut. Kalau dia tidak segera mengalahkan pemuda ini, situasi akan menjadi lebih sulit. Bagaimanapun juga para siswa kelas A ini bukan kesemek lembut, semakin lama mereka mengulur waktu, semakin besar kerugian yang akan timbul di pihak mereka.


BaiLi Yun Hua yang memejamkan matanya dan fokus merasakan keberadaan lawannya, tiba-tiba merasakan hawa berbahaya yang mendekatinya.


Begitu melihat tebasan penuh energi api yang mendekatinya, alarm peringatan segera berbunyi di benaknya.


Bahaya!

__ADS_1


Sayangnya biarpun tanggapannya cepat, tapi reaksinya tidak mampu menyamai niatnya. Tebasan itu menghantam punggungnya secara diagonal yang secara praktis melemparnya hingga beberapa meter.


BaiLi Yun Hua merasakan darah yang mengancam akan mencekik tenggorokannya saat rasa terbakar menyebar dari punggungnya ke seluruh sistem sarafnya.


Tidak lama kemudian, kabut yang menyelimuti arena perlahan ditarik dan menyebar, mengungkapkan situasi arena ke mata penonton.


BaiLi Yun Yi, "Mereka benar-benar kalah..."


BaiLi Yun Xiao dan Yue Qing Ye menghentikan permainan catur mereka dan memandang situasi arena. Seperti yang dikatakan BaiLi Yun Yi, kelas A-1 kalah. Tidak hanya kalah, tapi juga kalah dengan cukup mengenaskan.


Li Qing Yu melihat sekilas situasi di bawah sebelum memandang reaksi Li Qing He. Diam memang, tapi Li Qing He mungkin sudah kesal dalam hatinya. Lagipula siswanya kalah begitu parah, sebagai guru Li Qing He pasti merasa tertampar.


"Ck... Siswamu ternyata hanya begitu."


Menghadapi provokasi adik laki-lakinya, Li Qing He hanya sedikit mengerutkan sudut bibirnya, namun reaksi kecil ini sudah cukup memancing kegembiraan Li Qing Yu. Entah mengapa semenjak Li Qing He melepas topengnya, dia menjadi semakin memperhatikan saudaranya ini.


Pupil Li Qing Yu menggelap seketika dan rasa agresi muncul diam-diam di benaknya sebelum ditekan secara paksa. Yah, saat ini saudaranya belum menunjukkan tanda-tanda melawannya. Dia harus segera mengejar level Li Qing He dan mengendalikan pria ini di cengkeramannya. Jadi jika suatu hari orang ini ingin menentangnya...


Maka dia hanya bisa meminta maaf padanya.


Lagipula tidak peduli seberapa besar Li Qing He menarik minatnya, ketertarikan kecil ini tidak sebanding dengan kelangsungan hidupnya.


"Sepertinya pelatihan sebelumnya masih kurang... Lain kali harus lebih tegas lagi."


Bisikan samar Li Qing He mengganggu momen renungan Li Qing Yu.


Li Qing Yu yang sering melihat adegan saudaranya memukul siswa-siswanya hingga babak belur, "..."


Sekelompok anak ini benar-benar sial mempunyai guru seperti Li Qing He.

__ADS_1


Di arena pertandingan, tampak beberapa siswa berbaring penuh luka dan mewarnai lantai arena dengan merah mencolok. Setelah kabut menghilang, pengekangan pada siswa kelas A juga menghilang bersama dan energi spiritual kembali berenang di tubuh yang sempat menyerupai cangkang kosong untuk sementara waktu.


BaiLi Yun Hua mengangkat kepalanya dan memandang teman satu timnya yang kondisi mereka juga tidak lebih baik darinya. Beberapa bahkan tampak berlumuran darah di sekujur tubuhnya dengan jejak energi spiritual di luka mereka. Sedangkan tim lawan, kelompok itu hanya memiliki beberapa luka dan sedikit pucat.


Sudah jelas, situasi pertandingan sekarang sepenuhnya condong ke kelas B.


Mereka kalah. Kalah dengan kondisi yang memalukan.


Pemikiran ini terlintas di benak anggota tim kelas A. Meskipun mereka telah menebak hasil ini, tetap saja akhir ini sulit untuk diterima. Biarpun mereka berusaha, namun ingin menjatuhkan sebagian dari tim lawan masih di luar dari jangkauan mereka.


Saat putusan pemenang diumumkan, BaiLi Yun Hua bisa mendengar bisikan tidak jelas penonton yang seperti radio rusak, tapi dia tahu kalau para penonton ini sedang mengomentari pertandingan mereka. Tentu saja, topiknya adalah kelas A yang kalah parah dari kelas B.


Sebelum meninggalkan arena, gadis yang menjadi lawan BaiLi Yun Hua mendatanginya dan menepuk pundaknya.


"Kamu lawan yang sangat bagus."


Kata-kata itu hanya bisa didengar oleh mereka berdua. BaiLi Yun Hua melihat jejak keseriusan di mata gadis yang lebih tinggi darinya ini. Orang ini tidak mengejeknya, melainkan serius memujinya.


Mungkin karena stimulasi dari kekalahan yang menimpanya, BaiLi Yun Hua mengerutkan keningnya dan berbisik dengan nada serius, "Lain kali aku tidak akan kalah!"


Kata-kata ini bahkan terdengar terlalu kekanak-kanakan di telinganya sendiri, tapi gadis di hadapannya justru mengangguk serius, tampak menantikan waktu pertarungan mereka berikutnya.


"Kutunggu."


Di mata orang lain, interaksi singkat itu adalah bentuk konfrontasi kedua belah pihak.


Setelah kembali, BaiLi Yun Hua tidak mengatakan sepatah kata pun. Tidak ada isyarat kemarahan atau kesedihan di wajah nya, namun mereka tahu kalau pemuda ini tidak setenang kelihatannya dan tidak ada yang bertanya. BaiLi Yun Xiao ikut dengannya ke kamar samping dan membantu mengobati luka BaiLi Yun Hua tanpa berkomentar.


Hanya setelah luka dibalut dan obat diberi makan, BaiLi Yun Xiao menutupi pemuda yang sedang beristirahat dengan selimut dan berkata, "Istirahatlah."

__ADS_1


__ADS_2