The Legends : Tale Of Immortality

The Legends : Tale Of Immortality
Chapter 83: Asumsi Berbahaya


__ADS_3

Udara yang membeku di tengah konfrontasi diam antara dua kultivator tingkat 7, membuat orang-orang di sekitar mereka ikut berkeringat dengan kemungkinan kekacauan yang akan melibatkan mereka. Tentu saja Li Qing Yu adalah pengecualian meskipun di luar dia memang sedang berakting seolah akan menyusut di sudut dengan ketakutan.


Saat dua tokoh dengan tingkat kultivasi tertinggi di koridor itu saling memandang dari jejak pantulan samar pada kaca jendela, manik-manik kristal yang indah di udara mengubah wujudnya menjadi jarum tajam yang ramping dan kelihatan menakjubkan.


Kalau bukan karena pihak latar belakang di tempat itu tahu betapa berbahayanya benda-benda cantik ini, mereka mungkin akan mengambil waktu mereka untuk mengagumi kristal bening di udara.


Li Qing Yu sebenarnya agak penasaran siapa di antara Li Qing He dan Luo Min yang lebih kuat? Dia sedikit menantikan tindakan lanjut kedua orang ini, namun dia tahu masalah yang timbul akan lebih menyebalkan dan merepotkan jika sampai hal itu terjadi. Lagipula disini adalah rumah sakit akademi, bisa-bisa nanti dia yang hanya berfungsi sebagai papan latar belakang juga ikut terseret dalam menanggung hukuman yang bukan miliknya.


Karena itulah, seberapa besar pun rasa penasarannya Li Qing Yu tidak berharap banyak. Saat ini yang terbaik adalah meredakan emosi Li Qing He supaya tidak meletus seperti petasan merah di hari raya mereka.


Saat Li Qing Yu memutar otaknya untuk mencari jalan keluar dari konfrontasi dua orang ini, energi spiritual lain menyusup masuk dan secara aktif mengelilingi jarum es di udara sebelum menghancurkannya menjadi bubuk-bubuk kristal yang berjatuhan ke lantai.


"Apa yang sedang kalian lakukan disini? Ini adalah rumah sakit, tidakkah kalian paham kalau tindakan kekerasan dilarang dan bisa mengganggu ketenangan pasien yang sedang dirawat? Selain itu siapa- Owh... Qing He? Ternyata itu kamu?"


Suara Wei Si An duluan terdengar bahkan sebelum orangnya tiba. Ketika pemuda itu berbelok dan muncul di persimpangan ujung lain koridor, pemuda itu berbalik dan kata-kata nya terhenti dengan rona keterkejutan yang naik di wajahnya. Wei Si An membuka mulutnya dengan bentuk 'o' kecil sebelum menatap Li Qing He dengan pandangan yang mengatakan kalau dia tidak tahu salah satu tokoh yang baru ditegurnya adalah Li Qing He.


Wei Si An mendatangi kelompok itu dan menatap Li Qing He dengan ekspresi serius yang dicerminkan melalui ekspresi dan nada gerak tubuhnya, "Kenapa tadi kamu sampai bertindak impulsif seperti itu? Apa ada yang datang mengganggu suasana hatimu?"


Setelah mengatakan pikirannya, Wei Si An dengan santai memalingkan wajahnya dan ekspresinya berubah dengan sedikit untaian kejutan dan kebingungan yang lemah. Pemuda itu tersenyum dengan kilatan meminta maaf di kedua pupil safir nya yang seperti permata langka dan berkata, "Ternyata Nona Luo Min juga ada di sini, maaf atas kekasaran ku tadi karena tidak menyadari kehadiran Anda."


Luo Min membalas tindakan Wei Si An dengan senyuman tulus yang murah hati sambil menjawab, "Tidak masalah, senang bertemu dengan Anda, Tuan Muda Wei. Semoga hari Anda menyenangkan dan baik-baik saja selama ini."

__ADS_1


Wei Si An mengangguk dan menyipitkan matanya dengan bentuk bulan sabit yang terukir elegan di wajah tampan layaknya malaikat itu.


"Terima kasih. Aku memang menjalani hariku dengan waktu yang menyenangkan, namun sayang sekali hal yang sama tidak terjadi dengan Tuan Muda Pertama Li, jadi suasana hatinya agak sedikit bergelombang."


Li Qing He yang disebutkan menyipitkan matanya dengan tindakan ringan dan menembakkan silau berbahaya pada Wei Si An yang memiliki kemungkinan untuk dijadikan karung tinju di detik berikutnya.


Wei Si An mengabaikan tatapan tajam temannya dan bertindak seolah tidak menyadari ancaman nyata yang berdiri tepat di sampingnya. Sebaliknya Wei Si An malah menepuk pelan bahu Li Qing He dan berkata dengan lembut, "Jangan seperti ini. Aku tahu kamu pasti masih sangat marah dengan apa yang terjadi pada kedua adikmu, tapi kalau kamu mengeluarkan amarahmu di sini nanti yang terganggu adalah adik-adikmu."


Setelah mengucapkan kata-kata penenang itu, Wei Si An memalingkan wajahnya ke arah bangsal tempat Li Qing Feng dan Li Qing Xia dirawat.


"Lagipula bukankah lebih baik menyimpan amarahmu dan menagihnya pada pelaku yang membuat adikmu seperti ini? Pada saat itu kamu bisa membalas dendam sesukamu dan mematahkan tulang-tulang orang itu dengan santai. Jadi simpan tenagamu untuk saat ini dan pikirkan metode balas dendam favoritmu."


Dua orang elf yang berdiri di sisi Luo Min memucat ketika mendengar kata-kata sadis yang keluar dari bibir pemuda berparas menawan seperti pangeran dari negeri dongeng ini, "..."


Li Qing Yu mengangkat alisnya secara mental dan merekam saran Wei Si An ini. Di satu sisi dia merasa Wei Si An yang selalu bertindak seperti orang terhormat memiliki kelainan dalam metode berpikirnya, namun di sisi lain dia agak penasaran dengan tanggapan Li Qing He. Dia sering mendengar orang mengatakan kalau saudaranya yang satu ini memiliki metode besi ketika menangani masalah, tapi dari pengamatannya Li Qing He sepertinya kurang menunjukkan sifat agresi itu. Dia agak ingin menantikan sejauh mana Li Qing He akan bersikap keras, apakah dia akan sekejam yang dikatakan rumor?


Setelah mengucapkan kata-kata dingin dengan wajah tersenyum, Wei Si An kembali mengarahkan perhatiannya pada Luo Min dan menghela nafas, "Jangan tersinggung dengan aura kasar yang mengelilingi Tuan Muda Li, soalnya dia juga baru mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Kedua adiknya baru dilukai dengan cukup parah oleh pemuda sakit jiwa tertentu yang tiba-tiba menggila tidak jelas hingga terbaring di ranjang rumah sakit, bisa dibayangkan sebagai seorang kakak laki-laki bagaimana bisa dia tidak marah?"


Ekspresi kedua anggota klan Luo di sisi Luo Min sedikit tidak wajar ketika mendengar bagaimana Wei Si An menggambarkan tentang Luo Hao sebagai 'pemuda sakit jiwa tertentu yang tiba-tiba menggila tidak jelas'.


Selesai mengungkapkan isi hatinya, Wei Si An kembali menatap Luo Min dengan pandangan ramah dan berkata, "Ngomong-ngomong apa yang membawa Nona Luo Min ke tempat ini?"

__ADS_1


Luo Min menatap ke jendela kaca di bangsal tempat siswa-siswanya berada dan dengan tenang menjawab, "Aku datang untuk mengunjungi para siswa ku yang menjadi korban di kompetisi sebelumnya. Mereka-"


"Oh... jadi begitu."


Sebelum Luo Min selesai berbicara, Wei Si An sudah memotong kata-kata wanita itu. Dia bertindak polos dan memandang ke arah berbagai bangsal yang berisi Li Qing Feng dan teman satu timnya sebelum berujar, "Ternyata Nona Luo Min adalah guru kelas mereka. Pantas saja Anda berada di sini sekarang, tadi aku masih heran mengapa sosok terhormat seperti Anda bisa memiliki urusan di tempat seperti ini. Anda adalah orang yang cukup perhatian ya."


Luo Min tidak terlihat tersinggung dengan tindakan tidak sopan Wei Si An yang memotong kata-katanya dan menjawab, "Itu adalah tanggung jawab saja sebagai guru mereka-"


"Anda sangat murah hati, sayangnya ada orang sakit jiwa yang tinggal di kelas Anda. Pasti tidak mudah bagi Anda untuk mengurus masalah yang disebabkan oleh siswa Anda itu," potong Wei Si An sekali lagi dengan nada tidak berdaya yang tulus.


Ekspresi Luo Min yang selalu ramah agak stagnan di bawah perilaku Wei Si An, namun kejanggalannya hanya bertahan sejenak di wajahnya sebelum dia menunjukkan senyuman malu-malu yang murni dan berkata, "Aku sungguh meminta maaf atas tindakan anggota klanku."


"Jadi makhluk yang ingin membunuh semua orang itu anggota klan Anda?!" seru Wei Si An dengan ekspresi ketidakpercayaan yang naik ke wajahnya seolah Luo Min telah melakukan sesuatu yang menipu dan mengkhianati kepercayaannya.


"Maaf, namun harus kukatakan. Aku tidak menyangka pelakunya adalah anggota klan Luo yang terhormat dan selalu menjunjung tinggi reputasi mereka. Soalnya membunuh orang lain tanpa pandang bulu itu bukanlah tindakan yang patut diberi pengertian terutama oleh keluarga korban bukan?" lanjut Wei Si An dengan ekspresi berkonflik yang mewarnai wajahnya.


Pemuda itu memandang Luo Min yang diam-diam mengeratkan cengkraman tangannya dan tersenyum sedih, "Siapa sangka, klan Luo yang terhormat bisa melakukan tindakan searogan ini. Kalau bukan karena tindakan pemuda tadi yang terlalu gila, orang lain mungkin akan berpikir kalau klan Luo sengaja ingin memusnahkan generasi muda dari klan lain."


Kata-kata Wei Si An meskipun dibawakan dengan nada tidak serius seolah dia hanya sembarangan berpendapat, namun berat yang dimaksud dalam kata-katanya membuat udara membeku.


"Bukankah begitu, Nona Luo?"

__ADS_1


__ADS_2