
BaiLi Yun Xiao, Yue Qing Ye, dan Lian Yi berdiri di koridor putih bersih yang merupakan rumah sakit akademi.
Dari jendela kaca, mereka bisa melihat para petugas medis akademi bergerak cepat untuk memulihkan para siswa yang terluka.
"Dengan situasi mereka saat ini, aku agak ragu kalau mereka masih bisa maju di sesi pertandingan berikutnya," ujar BaiLi Yun Xiao.
"Mungkin kita harus melepaskan peringkat pertama," lanjut pemuda itu.
Suara BaiLi Yun Xiao tidak nyaring, namun di tengah kondisi sunyi yang meraup koridor itu, setiap suku katanya diperjelas dengan kuat ke telinga teman-temannya. Di koridor itu hanya ada mereka bertiga tanpa pengunjung lain, jadi BaiLi Yun Xiao terus terang mengatakan isi hatinya.
Yue Qing Ye tidak menjawab.
Lian Yi dengan tenang mundur ke belakang untuk memberi dua orang itu ruang untuk membahas masalah mereka. Pemuda berjubah hitam itu berdiri di ujung koridor untuk menjaga privasi kedua tuan muda dari dirinya dan pengunjung lain yang mungkin akan datang.
"Qing Ye, ini soal keselamatan mereka. Bagaimanapun mereka siswa kita, mungkin hanya beberapa minggu kita mengajar mereka, tapi aku tahu hatimu akan melembut untuk mereka bukan?" ujar BaiLi Yun Xiao dengan nada lembut.
Suasana di antara kedua orang itu sangat tegang. Yue Qing Ye masih tidak menanggapi kata-kata BaiLi Yun Xiao. Pandangan dinginnya terpaku pada Wei Lan yang berbaring koma di ranjang pasien dengan seorang petugas medis akademi yang sedang menyembuhkannya.
Di samping Wei Lan ada Yu Feng.
Dibandingkan dengan kondisi sebelumnya, Yu Feng saat ini sudah jauh lebih baik. Setidaknya anak itu tidak lagi berdarah di sana sini.
Saat kekuatan Luo Hao meledak, yang pertama terkena dampaknya adalah mereka yang berada di arena. Yue Qing Ye mengingat dengan jelas bagaimana para siswanya dijatuhkan oleh pancaran kekuatan Luo Hao.
Memang tidak ada luka daging mentah yang benar-benar menakutkan karena pada saat itu yang diserang pertama kali adalah jiwa mereka.
Yue Qing Ye melihat sendiri bagaimana para siswanya diserang dan jatuh koma di tengah arena. Dan pada saat itu, jantungnya berdetak lebih cepat.
Ini adalah kejadian yang cukup langka.
Yue Qing Ye sendiri adalah tipe orang yang berhati dingin. Dia bukan jenis yang akan merasakan iba ketika melihat orang asing terluka atau meninggal. Baginya yang telah hidup di dunia yang melihat darah ini, kematian dan penderitaan bagi mereka yang tidak mampu adalah hal yang wajar bagi dirinya.
__ADS_1
Yue Qing Ye adalah seorang darah suci. Sejak kelahirannya dia telah mengalami cobaan yang tiada bandingnya.
Dia harus mempelajari ilmu bertahan hidup untuk dirinya sendiri semenjak kecil. Dia diajarkan untuk tidak mengandalkan orang lain, jika ingin hidup maka gunakan kemampuan sendiri untuk mempertahankan hidupnya. Dia tidak boleh menunjukkan kelemahan dihadapkan musuh karena ketika berada di garis antara hidup dan mati hanya ada dua pilihan, menjadi predator dan bertahan hidup atau justru menjadi mangsa yang akan mati tanpa nama dan ditelan oleh waktu.
Yue Qing Ye yang kecil meskipun takut, namun dia menerapkan semua ajaran ini untuk mempertahankan hidupnya karena dia tahu inilah yang harus dia hadapi semenjak kelahirannya.
Pertama kali dia mendapatkan seorang pembunuh yang memasuki kamarnya adalah saat dia berusia empat tahun. Saat itu dia hanyalah bayi kecil yang belum mengalami rasanya darah.
Dia telah diajarkan untuk tidak pernah menunjukkan emosinya kepada siapa pun, harus meningkatkan kewaspadaannya tidak peduli dimana pun dia berada bahkan jika itu adalah ruang pribadinya, tidak boleh sepenuhnya mempercayai apa yang dilihatnya di depan mata. Yue Qing Ye kecil tidak mengerti mengapa kedua orang tuanya harus begitu ketat terhadap nya.
Semenjak kelahirannya, dari yang diingatnya adalah dia selalu dilatih. Dia selalu harus tampil sempurna dan cerdas. Yue Qing Ye kecil tidak pernah bertemu dengan anak-anak lain, selain dari harus tampil sempurna dia tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang anak.
Sampai ketika suatu hari di tengah musim dingin yang sedang menutupi wilayah mereka, dia mendapati dirinya melihat sekelompok anak-anak klan yang seusianya sedang bermain. Mereka saling melempar salju.
Yue Qing Ye kecil awalnya terkejut dengan kejadian itu. Itu adalah saat pertama kalinya dia melihat anak-anak meskipun dia tahu kalau anak-anak dilahirkan dari perut ibu mereka dengan teori biologi lainnya. Selama dia belajar, tidak ada anak di sekitarnya. Orang-orang klan yang dia temui semuanya adalah orang dewasa, yang paling muda adalah remaja.
Tidak ada bayi lain di lingkungannya selain dirinya.
Dia telah menyiapkan sebuah belati pendek yang tersembunyi di balik lengan panjang jubahnya. Dengan hati-hati, Yue Qing Ye kecil mengintip dari balik pohon dan wajah kecilnya yang selalu tanpa ekspresi itu menampilkan keterkejutan langka.
Dia melihat anak-anak.
Sekelompok anak-anak seusianya yang sedang berlarian dan saling melemparkan benda putih yang di kenal sebagai salju. Yue Qing Ye kecil menatap kejadian itu dengan ekspresi serius dan kepala kecilnya telah memetakan berbagai skenario yang mungkin terjadi.
Pikiran pertama Yue Qing Ye kecil saat itu adalah sekelompok anak tersebut bertarung saling menyerang satu sama lain.
Melihat dari pola yang terukir di jubah mereka, itu menandakan kalau mereka adalah anggota klan. Jadi itu artinya mereka bukan musuh, tapi...
Yue Qing Ye kecil mengerutkan keningnya dengan ketidaksenangan murni. Aturan klan melarang mereka untuk saling menyakiti satu sama lain tanpa sebab apalagi sampai saling menyerang dengan senjata yang berbahaya.
Melihat anak-anak ini saling melemparkan salju. Dia langsung menilai kalau mereka pasti memiliki pertentangan buruk yang berakhir hingga ingin saling menyakiti.
__ADS_1
Yue Qing Ye kecil yang saat itu tidak tahu yang namanya kata 'bermain'. Jadi dia tidak tahu kalau para anak-anak hanya sekedar bermain satu sama lain dengan riang.
Yang anak berusia dua tahun itu ketahui adalah salju adalah senjata yang berbahaya. Es yang menggumpal bisa menjadi senjata yang mematikan jika digunakan dengan benar. Dan Yue Qing Ye kecil tidak menyukai kemungkinan kalau anak-anak itu saling melukai atau bahkan membunuh.
Dia ingin keluar untuk menanyakan masalah mereka, namun pada saat yang sama dia ragu. Semua orang yang ada di sekitarnya selalu mengingatkannya untuk tidak pernah meletakkan dirinya di posisi yang berbahaya tidak peduli apa pun itu masalahnya. Sekelompok anak di lapangan itu berjumlah delapan anak. Kalau dia maju, belum tentu dia bisa mengalahkan anak-anak yang melanggar aturan itu tanpa membahayakan dirinya sendiri.
Tapi kalau dia tidak ikut campur, bagaimana jika ada korban? Bagaimana jika ada yang terluka parah?
Mereka ada anggota klannya. Dia tidak ingin ada di antara mereka yang mati meskipun tentu saja setelah ini mereka harus dihukum atas pelanggaran mereka.
Di tengah pergulatan batin Yue Qing Ye, aura yang dikenalnya tiba-tiba masuk ke radar kewaspadaannya.
Seperti yang diharapkan saat dia berbalik, sebuah titik kecil segera berlari ke arahnya tanpa membuat suara. Itu pelayannya atau lebih tepatnya pengasuhnya.
Yue Qing Ye mengangkat jari mungilnya dan memposisikannya di depan bibirnya untuk membuat tanda diam. Gadis yang tampaknya masih remaja itu dengan patuh mengangguk saat sudah sampai di dekat tuan muda kecilnya sebelum ikut mengintip apa yang sedang diperhatikan Yue Qing Ye.
Ternyata sekelompok anak.
"Mereka bertarung, bahkan menggunakan senjata yang berbahaya untuk menyakiti satu sama lain. Kita harus menghentikan mereka dan memberikan hukuman atas pelanggaran mereka."
Suara kecil yang kekanak-kanakan terdengar dengan tenang dalam bentuk bisikan, namun juga membawa jejak kedewasaan yang bertolak-belakang.
Gadis remaja yang merupakan pengasuh Yue Qing Ye langsung sadar dengan maksud tuan muda kecilnya dan sekilas emosi rumit melintas di kedua pupilnya.
"Mereka tidak bertarung, Tuan Muda," ujar sang gadis.
Yue Qing Ye kecil mengerutkan alisnya lebih jauh dan bertanya, "Tapi mereka menggunakan bola es untuk saling menyerang satu sama lain."
Gadis itu menggeleng kepalanya dan kembali berkata, "Mereka tidak berniat saling melukai satu sama lain."
"Lalu apa yang mereka lakukan?"
__ADS_1
Gadis itu membeku ketika ditanya dengan pertanyaan polos itu dari tuan muda bayinya yang baru berusia dua tahun, namun sudah bertingkah sangat dewasa ini. Dia menurunkan pandangannya di bawah tatapan Yue Qing Ye kecil dan menjawab dengan pelan, "Mereka sedang bermain."