The Legends : Tale Of Immortality

The Legends : Tale Of Immortality
Chapter 81: Detak Jantung


__ADS_3

Semenjak pengalaman hidup dan mati yang memberinya kesan terdalam, Yue Qing Ye tumbuh semakin sempurna. Hidupnya benar-benar berputar seperti robot, tanpa jejak kehangatan yang membuatnya perlahan menimbulkan rasa takut di hati orang lain.


Kecepatan belajar Yue Qing Ye sangat kuat, tidak butuh waktu lama dan dia sudah melampaui semua ajaran gurunya. Bakat yang ditunjukkannya dari hari ke hari makin membuat orang merasakan perbedaan besar antara dirinya dengan orang lain.


Di mata banyak orang, kehadiran Yue Qing Ye membawa banyak rasa hormat dan rasa hormat yang masih dangkal itu akhirnya berkembang menjadi emosi kekaguman yang tulus setelah Yue Qing Ye berhasil menjatuhkan musuh yang ingin mengambil keuntungan darinya.


Adegan yang sama, masih sekelompok pembunuh yang datang mengunjungi kediaman Yue Qing Ye, namun di kali kedua adegan yang sama terjadi, hasil akhirnya ternyata berbeda dari yang dipikirkan orang lain. Yue Qing Ye sama sekali tidak terluka, namun semua pembunuh yang dikirim kepadanya berhasil diselesaikan seorang diri oleh Yue Qing Ye.


Yue Qing Ye yang tumbuh semakin kuat dari hari ke hari, tidak pernah terbuka terhadap pujian dan kekaguman semua orang yang ada di sekitarnya. Dia benar-benar tumbuh sesuai yang diharapkan oleh klannya. Seorang jenius, seorang tuan muda yang terhormat, seorang tuan muda yang tidak pernah mencoreng nama klan. Sungguh sebuah panutan yang diidolakan dan disegani oleh siapa pun.


Dia sangat sempurna, benar-benar tampil menjadi sosok yang akan menapaki dunia abadi.


Namun, di tengah kesempurnaan ini Yue Qing Ye telah kehilangan kehangatan hatinya. Para petinggi klan akhirnya melihat kejanggalan Yue Qing Ye, namun tindakan apa pun telah tidak berguna. Yue Qing Ye menjadi tidak memiliki empati, semua yang dilakukannya harus sempurna.


Beberapa kali orang tuanya ingin berbicara dengan Yue Qing Ye untuk membuka hati putra mereka, namun setiap kata hanya tenggelam ke danau gelap tanpa menimbulkan riak. Yue Qing Ye tidak lagi memiliki antusiasme terhadap kasih sayang ibunya yang selalu didambakannya, dia tidak lagi menunjukkan kekaguman dan penghormatan murni kepada ayahnya.


Tatapan Yue Qing Ye terasa gelap, kosong, dan dingin. Tidak ada jejak kemanusiaan di kedua pupil matanya seperti bagaimana dia dulu.


Setiap kali Yue Qing Ye menghadapi berbagai situasi yang berbeda, tidak ada riak yang muncul di wajahnya. Tatapannya memiliki jejak ketidakpedulian yang membuat orang ragu apakah anak ini bahkan mengerti arti kata kemanusiaan?


Ketika menghadapi anggota klan yang segenerasi dengannya, Yue Qing Ye menuntut mereka untuk harus selalu tampil sempurna. Dia akan mengambil waktu untuk menggunakan statusnya dan memberi mereka pelatihan pribadi yang keras, dia tidak peduli dengan perasaan anak-anak klan yang menjadi takut dan segan terhadapnya. Beberapa kali dia bahkan membuat mereka menyadari inferioritas yang terkubur di lubuk hati mereka mereka dan mendorong mereka untuk tumbuh lebih kuat.


Tentu saja beberapa penatua klan memiliki ketidaksetujuan yang kuat terhadap sikap Yue Qing Ye, namun pertentangan mereka hanya dianggap sebagai angin lalu oleh Yue Qing Ye. Anak itu sama sekali tidak peduli dengan pendapat orang lain dan hanya melakukan apa yang menurutnya benar.


Tingkah laku Yue Qing Ye memang menarik kebencian banyak orang, namun tidak lama kemudian kebencian itu bungkam dengan sendirinya di bawah hasil yang diciptakan dari tangan anak itu.


Anak-anak klan seusianya maju dengan cepat seolah sama sekali tidak memiliki batu sandungan yang menghalangi langkah mereka, mereka meluncur ke depan tanpa henti seperti meteor. Perlahan, anak-anak klan yang hanya biasa-biasa saja berkembang menjadi jenius di usia muda mereka.


Protes awal yang selalu berkibar akhirnya turun hingga menjadi sunyi.


Yue Qing Ye terlalu mampu.


Anak itu ternyata benar-benar mampu mewujudkan kata-katanya menjadi sebuah kenyataan. Anak-anak sebayanya yang dia paksa untuk meninggalkan keluarga mereka dan pergi ke tempatnya untuk berlatih, berhasil keluar menjadi bakat yang luar biasa.


Akhirnya pujian mulai naik. Nama Yue Qing Ye yang sempat menjadi perdebatan beberapa pihak, kembali terbang dengan kejayaannya. Namun, di tengah kesempurnaan Yue Qing Ye ada satu faktor yang masih membuat orang gelisah.

__ADS_1


Yue Qing Ye terlalu dingin.


Dia tidak memiliki sedikit pun emosi.


Tidak peduli dalam kondisi apa pun dia berada, detak jantungnya selalu stabil.


Seolah dia hidup, namun juga tidak.


Kondisi ini berlangsung hingga akhirnya Yue Qing Ye bertemu dengan BaiLi Yun Xiao.


Yue Qing Ye yang selalu seperti boneka hidup, ternyata menumbuhkan ketertarikan luar biasa terhadap sepupu yang baru dia kenal.


Perlahan, anak yang berhati dingin itu mulai menunjukkan perubahan yang mencengangkan. Di bawah asuhan BaiLi Yun Xiao, Yue Qing Ye akhirnya mampu menunjukkan emosi di sepasang pupil mata esnya. Siapa pun bisa melihat bongkahan es itu akhirnya mencair dan menunjukkan kelembutan dan kemurniannya ke dunia.


Yue Qing Ye sendiri juga sadar.


Detak jantungnya yang selalu stabil akhirnya mampu berombak di bawah tabrakan sepupunya yang sangat suka tertawa ini. Dia masih tidak paham, bagaimana bisa ada anak yang mampu membuka senyuman tulus di bawah tekanan kehidupan yang berdarah seperti neraka?


BaiLi Yun Xiao yang merupakan sepupunya ini membuatnya merasa seperti berada di dalam kotak misteri. Dari yang dia dengar, sepupunya juga merupakan seorang darah suci sama seperti dirinya. Namun berbeda dari dirinya, sejak pertama kali dia bertemu dengan BaiLi Yun Xiao dia bisa melihat kecemerlangan yang tidak pernah padam di mata sepupunya ini.


BaiLi Yun Xiao memiliki pengalaman hidup yang tidak jauh lebih baik dari dirinya. Terkadang Yue Qing Ye bahkan merasa kalau sepupunya jauh lebih sial dan menyedihkan dari dirinya.


Kasihan.


Itu adalah jejak emosi yang tidak pernah disangka akan muncul oleh Yue Qing Ye. Dia tidak pernah mengira kalau hatinya yang dikatakan sebagai berdarah dingin dari mulut orang lain, ternyata justru bisa menyimpulkan emosi rumit seperti rasa kasihan terhadap orang lain.


Ini adalah pengalaman yang baru baginya. Awalnya Yue Qing Ye masih merasa terguncang oleh perubahan hatinya. Rasa dingin naik ke ubun-ubun kepalanya ketika mengetahui kalau dia telah melanggar batas kesempurnaan yang telah dijaganya begitu lama.


Ini adalah tanda kelemahan.


Dia tahu jauh lebih baik dari siapa pun kalau kelemahan bisa membuat orang terbunuh dengan mudah. Dia bahkan sempat memikirkan ide untuk melenyapkan pelaku yang membuat hatinya berubah. Yue Qing Ye tidak pernah merasakan apa pun terhadap ancaman kematian yang datang kepadanya, dia tidak takut terhadap kematian. Namun, dia tidak ingin mati.


Dunia ini mungkin tidak memberinya perasaan apa pun. Dia telah menjalani hari-harinya dengan ketidakpedulian yang sama sekali tidak berarti semenjak tragedi yang menimpanya di usia nya yang empat tahun saat itu.


Yue Qing Ye tahu lebih baik dari siapa pun bahwa makhluk hidup sangat mudah mati. Tidak peduli apa pun status mereka, selama mereka jauh lebih lemah dari eksistensi lain, maka hak hidup mereka akan melayang tanpa halangan.

__ADS_1


Sama seperti yang dialami oleh gadis pelayannya.


Yue Qing Ye yang masih anak-anak sebenarnya tidak paham mengapa dia ingin tinggal dan bertahan hidup di dunia ini meskipun dia sebenarnya tidak memiliki emosi atau perasaan khusus terhadap dunia ini, dia bahkan tidak memiliki ketakutan terhadap kematian yang akan menarik dirinya. Dia tidak tahu mengapa sosok seperti dirinya yang dikatakan oleh orang lain tidak memiliki emosi, mampu memiliki pemikiran yang cukup berkonflik.


Tapi Yue Qing Ye juga tidak tertarik untuk menggali lebih jauh soal kondisi psikologisnya. Dia hanya mengikuti keinginan batinnya dan terus berjalan di dunia ini.


Mungkin... dia hanya tidak ingin menjadi sisa-sisa yang dilupakan dan termakan waktu seperti mantan gadis pengasuhnya.


......................


Yue Qing Ye menatap para siswanya yang tidur dengan wajah damai tanpa tahu betapa sibuknya petugas medis yang merawat mereka. Harus diakuinya, kata-kata Baiki Yun Xiao merobek semua penutup yang melapisi hatinya.


Sepupunya, sahabatnya, orang pertama yang melelehkan es di lubuk hatinya, tidak pernah salah melihat jauh ke hati tersembunyi miliknya.


Yue Qing Ye bisa terbilang masih cukup perfeksionis dan menuntut kesempurnaan hingga saat ini. Sifatnya ini tidak bisa diubah tidak peduli seberapa keras BaiLi Yun Xiao berusaha, dia masih berhati dingin. Hanya saja, hatinya terbuka sebagai pengecualian untuk BaiLi Yun Xiao.


Namun, sekarang Yue Qing Ye tidak bisa memalingkan kepalanya dari kenyataan bahwa hati beku miliknya telah kembali berdetak kuat untuk orang lain selain Yue Qing Ye.


Di dalam rongga dadanya, di balik daging dan darahnya, jantung yang selalu tenang itu berdetak kencang.


Detak jantung yang berdenyut untuk orang lain selain BaiLi Yun Xiao.


Yue Qing Ye menarik garis wajahnya lebih ketat, tidak peduli seberapa enggan dia mengakuinya, kenyataan bahwa dia telah di lembutkan untuk kedua kalinya selain oleh gadis pengasuhnya dan BaiLi Yun Xiao tidak akan berubah.


Pikiran rasionalnya menolak untuk mengakomodasikan kepentingan orang lain di atas reputasi nya, namun hatinya berdenyut dengan perintah yang sama sekali berbeda.


Di sudut waktu yang tidak disadarinya, anak-anak ini ternyata telah berhasil mencuri kasih sayang dari hatinya yang dingin. Dia tidak pernah menyangka bahwa suatu hari dia juga akan meletakkan kepentingannya di bawah kepentingan sekelompok anak dewasa yang baru memasuki hidupnya selama beberapa minggu.


Yue Qing Ye menghela nafas.


Helaan nafas yang pelan itu bergema keras beberapa kali di telinga BaiLi Yun Xiao dan Lian Yi.


Yue Qing Ye tahu bahwa dia telah membuat keputusan. Keputusan yang tidak akan pernah terlintas di benaknya oleh diri masa lalunya. Dia menatap wujud berbaring beberapa siswanya yang tidak jarang menerima teguran dingin dan ancaman pelatihan kejam olehnya.


Baiklah... lagipula itu hanya sebuah reputasi. Paling-paling dia hanya harus menyapu lawannya ketika gilirannya tiba dan mengangkat kembali nama baiknya yang telah digulingkan oleh para siswa yang mengecewakan ini.

__ADS_1


BaiLi Yun Xiao mengangkat senyuman lembut dan mendengar jawaban yang telah diharapkannya.


"Baiklah. Hanya kali ini."


__ADS_2