The Legends : Tale Of Immortality

The Legends : Tale Of Immortality
Chapter 69: Luo Hao dan Luo Hong


__ADS_3

Wei Si An menghela nafas pelan dan kembali berkata, "Nanti kamu tanyakan saja sendiri pada adik-adikmu."


Li Qing Yu masih menundukkan kepalanya, namun tidak ada ekspresi ketakutan di wajahnya. Sebaliknya, kedua pupil matanya memancarkan kilatan bersemangat dan rasa kasihan yang saling bercampur satu sama lain.


Ah... Seseorang akan segera menjadi sial.


Tsk... siapa suruh singa betina itu menunjukkan sifat gilanya di luar. Salahkan gadis itu sendiri yang membawa nasib buruk untuk dirinya sendiri.


Li Qing He pasti sangat marah bukan? Tentu saja orang itu bukan marah karena Li Qing Xia menyerangnya, tapi pasti marah karena Li Qing Xia bertingkah laku sembrono di tempat umum dan mencoreng nama baik klan. Apalagi ketika Li Qing Xia bersikap tidak sopan di depan salah satu pewaris klan dari ras lain, fakta itu saja sudah cukup membuat Li Qing Xia dijatuhi hukuman mati beberapa kali oleh Li Qing He.


Wah... aku jadi tidak sabar melihat bagaimana Li Qing He akan berurusan dengan adik perempuannya. Apakah saudara laki-lakinya nya ini akan berbelas kasih kepada adik perempuan kandungnya? Atau justru sebaliknya?


Kilatan perhitungan melintas di mata gelap Li Qing Yu.


Akan ada tontonan yang menarik untuk dilihat...


Sementara itu di arena, kondisi pertarungan antara dua tim pada dasarnya berubah menjadi berantakan. Tidak ada lagi yang namanya kerja sama tim. Wei Lan sendirian mengambil pertarungan dengan Luo Hao dan Luo Hong. Yu Feng berhadapan dengan penampilan kejam Li Qing Xia yang terus mengejarnya dengan cambuk besi. Mu Xiang dan Su Ling sama-sama berhadapan dengan sepasang gadis kembar yang memiliki kemampuan aneh. Sementara Li Qing Feng sendirian berhadapan dengan dua orang lawan yang tersisa.


Dari semua, yang paling berbahaya adalah Luo Hong dan Luo Hao yang bekerja sama menyerang Wei Lan.


Wei Lan masih memiliki senyuman gelap yang tidak pernah lepas dari wajahnya sementara dia terus menargetkan Luo Hong dan mengabaikan Luo Hao. Pada dasarnya Wei Lan hanya menganggap Luo Hao sebagai udara dan fokus menerjang Luo Hong yang terus memanggilnya 'bajingan kecil'.


Luo Hao melihat Luo Hong yang menjadi target sasaran Wei Lan dan pandangan gelap melintas di kedua pupil hijaunya terutama saat Wei Lan kelihatan seperti bertambah lebih gelap seiring berjalannya pertarungan ini.

__ADS_1


Luo Hao memotong serangan yang ditujukan oleh Wei Lan kepada Luo Hong dan memantulkan tebasan spiritual Wei Lan ke bawah arena. Sepasang pupil hijau gelap Wei Lan bertabrakan dengan pupil hijau Luo Hao dan keduanya saling menembakkan tatapan penuh konfrontasi.


Wei Lan merasa kekesalannya kembali ditantang oleh pemuda yang memiliki wajah yang beberapa poin mirip dengannya dan dia berdecak, "Ck... awalnya aku tidak ingin berurusan denganmu, tapi ternyata sikapmu itu yang suka sekali ikut campur dalam urusan orang lain tidak pernah berubah ya."


Luo Hao mengangkat alisnya dan merobek serangan spiritual Wei Lan hingga berkeping-keping dengan tangannya seolah sedang merobek kertas dan menebarkannya kebawah.


"Wei Lan, kamu harus merubah caramu bersikap itu. Tidak baik mengabaikan orang yang sedang bertarung kepadamu dan secara selektif menggertak orang lain."


Kata-kata Luo Hao secara praktis menarik rasa jijik di wajah Wei Lan seolah dia telah menelan seonggok makanan busuk yang mengeluarkan bau menjijikkan, "Bukan aku yang harus merubah sikapku, tapi kamu. Tidakkah ada yang pernah memberitahumu bahwa caramu bertindak dan berbicara tidak selaras satu sama lain? Selain itu berhenti tersenyum pada siapa saja seolah kamu hanyalah anjing yang hanya mencari perhatian pada siapa pun."


Luo Hao tertawa begitu dia mendengar kata-kata Wei Lan. Tawanya begitu lepas sehingga mereka yang bertarung di bawah mengalihkan perhatian mereka untuk melihat pemuda cantik yang tampil hampir seperti makhluk kurang waras itu.


"Pfft....Hahahaha.... Wei Lan ah... makin lama kamu makin lucu saja," ujar Luo Hao yang masih tertawa di sela-sela kata-katanya seolah Wei Lan sedang mengucapkan humor yang menyenangkannya.


"Ai... sepupu, tidak baik menyerang orang diam-diam seperti itu. Itu namanya curang~"


Wei Lan merinding ketika mendengar nada menegur Luo Hao seperti sedang berbicara dengan anak kecil yang melakukan tindakan nakal. Ditambah lagi karena Luo Hao masih belum berhenti melepaskan sisa tawanya, nada bicara orang ini menjadi agak melengkung di ekor kata yang membuat Wei Lan ingin segera menjauh dari orang aneh ini.


Tangan kiri Luo Hao menggenggam ujung belati Wei Lan dan langsung memecahnya menjadi serpihan kecil yang mengalir jatuh dari udara. Luo Hao masih tersenyum bahkan ketika dia menghancurkan senjata orang dengan tangan kosong, "Kamu harus segera pulang dan mengganti senjatamu tahu? Soalnya belati ini sudah berkarat hingga bahkan tidak bisa memotong sayur."


Usai mengucapkan kata-kata itu, energi spiritual lain menembak kedua orang yang berada di udara itu dengan serangan ganas. Luo Hao dan Wei Lan langsung berpisah dan menjauh pada saat yang bersamaan sehingga serangan itu hanya menembak udara kosong.


Luo Hao menyipitkan matanya dan menatap sang penyerang dengan tatapan tidak setuju, "Apa yang sedang kamu lakukan?"

__ADS_1


"Apa yang sedang kulakukan? Justru itu yang ingin kutanyakan padamu! Apa yang sedang kamu lakukan mengobrol dengan bahagia di sana? Apakah kewarasanmu berkurang atau otakmu tiba-tiba rusak di tengah jalan?! Selain itu apa maksudmu kalau aku sedang digertak oleh 'bajingan kecil' itu?!" seru Luo Hong dengan kemarahan yang membuat wajahnya memerah seperti akan meledak.


Luo Hao mengusap salah satu sarung tangannya dengan tangan lainnya seolah dengan mengusap debu padahal sarung tangannya sebersih yang baru dan dengan serius berkata, "Luo Hong lebih sopanlah dalam berbicara. Tentu saja aku masih waras, disini justru kamu yang sedang tidak bisa mengontrol emosimu. Kamu masih muda, jangan marah-marah terus hati-hati nanti bisa kena stroke."


Wei Lan, "..."


Luo Hong, "..."


Semua orang yang mendengar kata-kata Luo Hao, "..."


Emosi Luo Hong yang telah berkibar semakin mengamuk seolah ditambah satu ton bahan bakar. Sebelum Luo Hong akan mengamuk lagi, Luo Hao menggeleng pelan kepalanya dan kembali berkata, "Hush... jangan teriak-teriak. Itu memalukan tahu. Selain itu telingaku juga sakit."


Melihat dua orang klan Luo ini yang ingin mempertunjukkan penampilan pribadi mereka sendiri, Wei Lan mengambil kesempatan ketika mereka tidak memperhatikannya dan menerjang ke arah Luo Hao.


Karena belatinya rusak, Wei Lan menciptakan puluhan bambu tajam yang merupakan perwujudan dari kekuatan spiritualnya dan langsung menusuk Luo Hao dengan niat membunuh yang kental.


Kilatan tajam melintas di pupil Luo Hao dan pemuda itu dengan tangkas merobek setiap senjata bambu seperti yang sebelumnya telah dilakukan, namun tanpa di sadarinya ada kekuatan tak kasat mata yang menyerangnya dari arah tertentu dan menargetkan jantungnya. Ketika Luo Hao menyadari hal tersebut, dia secara otomatis memutar tubuhnya hingga serangan itu menembus lengannya dan bukannya rongga dadanya.


Wei Lan tersenyum tipis ketika melihat tindakannya berhasil.


Ketika lengan Luo Hao berhasil dilubangi hingga setengah pakaiannya ternodai darah, pemuda itu menghentikan senyuman ramahnya. Namun, di detik berikutnya senyuman tak berdaya kembali terangkat. Hanya saja kali ini tidak ada kebaikan dan kejernihan di kedua pupil hijau itu, melainkan sebuah emosi gelap tertentu yang tidak diketahui.


"Ai... kan sudah kubilang sebelumnya. Tidak baik menyerang orang diam-diam seperti itu. Itu namanya curang, Wei Lan."

__ADS_1


__ADS_2