
Salah seorang pemain kelas B yang terlihat kurang mencolok tiba-tiba melemparkan sebuah bola kecil ke lantai arena yang menciptakan ledakan besar di tengah-tengah pertandingan. Ledakan ini tidak menimbulkan kerusakan besar dan hanya menyebarkan asap tebal yang menutupi arena.
Perubahan situasi ini agak tidak terduga, namun antusiasme penonton tidak berkurang. Mereka menanti bagaimana situasi akan melangkah selanjutnya. Sesuai harapan, di tengah-tengah kabut asap yang tebal muncul setitik cahaya redup. Kabut asap perlahan berputar di sekeliling arena tanpa menyebar seolah sedang dikurung dalam wadah tertutup dan arena pertandingan adalah wadah yang memenjarakan kabut tebal ini.
Karena kemunculan kabut tebal, situasi pertandingan menjadi terisolasi dari pandangan penonton. Tidak ada yang tahu bagaimana situasi spesifik para kompetitor di dalam kabut yang membuat beberapa penonton agak kurang puas.
Sementara itu di tengah-tengah kabut tebal, para siswa kelas A-1 agak kewalahan dengan pergantian situasi yang mendadak ini. Mereka menemukan bahwa indra mereka telah tumpul secara signifikan.
Li Qing Yu yang senang berkomentar memancarkan kilatan ketertarikan yang semakin pekat saat situasi permainan akhirnya berhenti monoton.
"Yah akhirnya ada perkembangan juga..."
Di dalam kabut, BaiLi Yun Hua telah kehilangan jejak lawannya. Setelah ledakan bom asap, dia menemukan kalau kabut putih tebal menyelimuti sekitarnya. Sekitarnya menjadi sangat putih, jangankan lawan dia bahkan sulit melihat tangannya sendiri. Selain itu, suasana sekelilingnya benar-benar diam dan dia tidak bisa mendengar apapun termasuk suara nafasnya sendiri.
Kemunduran indra penglihatan dan pendengarannya membuat BaiLi Yun Hua merasa seperti terikat. Dia membuka mulutnya namun suara yang diharapkan tidak terdengar. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun perasaan kewalahan yang akrab kembali menjeratnya.
Karena ketidakmampuan penglihatan dan pendengarannya, rasa krisis BaiLi Yun Hua semakin meningkat dan dia hanya menilai sekitarnya berdasarkan insting.
Di tengah-tengah keheningan, sebuah pedang besar menembus kabut dan menerjang BaiLi Yun Hua dari belakang. Tidak ada suara atau gerakan udara yang terasa, tapi sang target berhasil menghindari serangan itu tanpa melihat kebelakang.
Setelah serangan pertama dihindari, tusukan selanjutnya menyerang dengan lebih gesit dan tajam dari berbagai arah. BaiLi Yun Hua memejamkan matanya dan menajamkan instingnya untuk merasakan bahaya yang datang. Gerakannya kaku dan ragu-ragu di tahap awal dan membuat beberapa tusukan berhasil memotong dagingnya, tapi setelah puluhan tusukan langkahnya semakin lancar ketika menghindar.
Gadis yang menjadi lawan BaiLi Yun Hua agak terganggu ketika melihat pemuda yang lebih kecil darinya ini mampu dengan mudah menghadapi serangannya meskipun dalam situasi yang kurang menguntungkan.
Kelas B sudah merencanakan langkah ini sebelum pertandingan dimulai. Bom asap hanyalah alat pembantu, rintangan yang sebenarnya untuk lawan adalah kemampuan salah satu anggota tim mereka.
__ADS_1
Di tengah-tengah asap ini berputar juga suatu jenis kekuatan yang menumpulkan indra orang-orang di dalam kabut dan kabut ini dikunci oleh selaput energi tipis yang membuatnya menetap di arena.
Di luar arena, kelompok BaiLi Yun Xiao menatap kabut tebal yang menutupi arena.
Semenjak kemunculan kabut, situasi di arena menjadi tidak terlihat oleh penonton. BaiLi Yun Yi mencoba menggunakan indra spiritualnya untuk menyusup ke dalam kabut, tapi ternyata gagal. Indra spiritualnya terpantul seolah ada penghalang yang membentengi arena.
"Kelas B ini tidak sederhana," gumam BaiLi YunYi.
Yue Qing Ye menjatuhkan bidak caturnya di papan catur, tanpa memandang situasi pertandingan di bawah, dia berkata, "Sejak awal tidak ada kelompok yang boleh diremehkan. Peringkat kelas tidak mewakili kemampuan seseorang."
Yue Qing Ye dan BaiLi Yun Xiao telah mengulangi permainan catur yang sama untuk kesekian kalinya. Dua kemenangan untuk BaiLi Yun Xiao dan Satu kemenangan untuk Yue Qing Ye, sekarang mereka sudah memainkan ronde ke empat.
"Sayangnya baru di pertandingan pertama kelas A-1 telah menemui batu sandungan," lanjut Yue Qing Ye.
Bukannya BaiLi Yun Xiao dan Yue Qing Ye meremehkan pertandingan kelas tingkatan pertama. Mereka hanya menggunakan papan catur sebagai arena mereka dan setiap bidak bergerak sesuai dengan inspirasi yang mereka temukan dari setiap kelompok yang maju. Ini sejenis permainan pikiran yang sering dimainkan keduanya sejak dulu.
BaiLi Yun Xiao tidak berkomentar tapi keheningannya sama saja setuju dengan pendapat Yue Qing Ye.
Orang lain mungkin menebak-nebak kelas mana yang akan memenangkan pertandingan, tapi bagi mereka yang memiliki kultivasi tingkat 6 ke atas tidak sulit mengutak-atik kabut tersebut dan merasakan situasi di dalam kabut tanpa mengganggu pertandingan.
Entah tim BaiLi Yun Hua yang meremehkan musuh atau sengaja menghemat energi mereka, situasi saat ini jelas menguntungkan tim kelas B apalagi dengan kondisi tim kelas A yang tidak ada satupun anggotanya menggunakan energi spiritual mereka.
Di dalam kabut, tim kelas A sudah mulai kewalahan. Bukannya mereka tidak mau menggunakan energi spiritual mereka, tapi semenjak penyebaran kabut selain dari pembatasan indra, energi spiritual mereka juga tersegel.
Tidak ada yang tahu bagaimana cara kerja kabut ini. Tim kelas B menyerang kelas A dengan gencar sementara lingkungan sekitar membatasi tim kelas A.
__ADS_1
Ketidaknyamanan BaiLi Yun Hua semakin memburuk karena dia tahu tim kelasnya mungkin akan kalah dalam pertandingan ini. Rasanya sangat tidak menyenangkan, tapi penyesalannya sudah terlambat. Seharusnya dia tidak mengulur waktu di awal.
Li Qing Yu, "Ge, sayangnya kelasmu mungkin agak terpukul setelah ini."
Li Qing He yang selalu diam akhirnya menggerakkan bibirnya.
"Memang, kemenangan pertama tidak pernah menjadi tujuanku sejak awal."
"Apa?"
Li Qing Yu memandang saudaranya dengan pandangan keheranan. Setahunya mengajar di kelas A-1 adalah tugas yang dilemparkan ke Li Qing He oleh guru kelasnya. Meskipun Li Qing He selalu terlihat kalem, tapi Li Qing Yu tahu kalau saudaranya ini termasuk jenis orang yang sulit mengaku kalah sama sepertinya.
Dari seberapa serius Li Qing He memukul siswanya di hari-hari biasa, orang ini pasti serius ingin memenangkan kejuaraan. Jadi tidak mungkin dia menerima begitu saja kalau siswanya tampil begitu buruk di babak pertama, kecuali...
"Mungkinkah kamu sudah mengetahui hasil ini sejak awal?"
Heningnya Li Qing He membuat rasa penasaran Li Qing Yu semakin membara.
"Jangan hanya diam saja. Ayo beritahu aku informasi apa yang kamu ketahui?"
Melihat pengabaian saudaranya, Li Qing Yu berdecak kesal dan bergumam, "Tidak perlu mengabaikanku sampai segitunya. Bukankah sebelumnya justru kamu yang sengaja mendekatiku. Kenapa sekarang malah berperilaku seperti aku telah mengambil untung darimu."
Protes ini tentunya tidak mendapat tanggapan.
Li Qing Yu menghela nafas dan menyulap sekotak besar yang berisi kue dari udara sebelum berkata, "Ngomong-ngomong siswamu ini tidak akan bertahan lebih lama lagi."
__ADS_1
Setelah jeda beberapa detik, suara yang acuh tak acuh kembali terdengar.
"Ya, permainan ini akan segera berakhir."