The Legends : Tale Of Immortality

The Legends : Tale Of Immortality
Chapter 85: Bayangan Hati (1)


__ADS_3

Dingin...


Dalam kekosongan gelap gulita, sebuah kesadaran redup melayang diam di tengah ruang hampa.


Kesadaran samar itu memiliki wujud transparan yang agak sulit dikenali dengan jelas, namun garis-garis yang terbentuk membingkai wujud kasar kesadaran tersebut.


Seorang pemuda.


Bulu mata yang selalu diam sedikit bergerak namun, sosok jiwa transparan tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda bangun dari tidur lelapnya.


Dingin.


Wei Si An berbaring, tidak. Rasanya tidak seperti berbaring. Jejak kesadarannya berputar lambat seperti setengah tidur dalam mimpi yang panjang. Hal pertama yang dikenalinya adalah hawa dingin.


Pikirannya yang lambat hanya memberinya signal bahwa dia sedang kedinginan. Pikiran bawah sadarnya gelisah dengan ketidaknyamanan yang menimpanya dan secara otomatis mencari sumber kehangatan untuk mencegah hawa dingin yang menusuk.


Di saat Wei Lan mengira kalau dia tidak akan mampu menemukan sumber kelegaannya, hawa dingin yang membekukannya perlahan merosot dan beberapa tentakel udara hangat memeluknya dari suatu titik tak terlihat.


Wei Lan merasakan kenyamanan akrab yang diberikan oleh sumber kehangatan tersebut. Pikirannya yang masih setengah sadar dibuai oleh sensasi kenyamanan yang merebus seluruh bagian tubuhnya hingga melunak. Perlahan, kesadaran Wei Lan semakin jatuh hingga akhirnya kembali turun ke kondisi nonaktif yang alami.


......................


Kali keduanya Wei Lan terbangun, dia tidak lagi merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Tubuhnya terasa seperti dibanjiri oleh rasa nyaman yang tiada bandingnya. Pikirannya tidak lagi memiliki rasa berat seolah sedang ditekan oleh beban besar.


Wei Lan juga bisa mencium aroma familiar yang sudah lama tidak diciumnya. Aroma yang hanya tersisa sebagai kenangan kecil di sudut kotak pikirannya. Suara nafas yang dangkal disalurkan ke indra pendengarannya dan membuat otaknya aktif bekerja. Tidak hanya suara nafas, Wei Lan bisa mendengar ada berbagai suara yang timbul dari sekitarnya.


Ada suara tetesan air yang jatuh dan menimbulkan riak, suara kepakan sayap samar yang terbang tidak jauh dari posisinya mungkin itu adalah kumbang? Atau mungkin lebah? Kemudian ada juga suara desiran samar, instingnya secara otomatis menilainya sebagai suara angin, angin yang datang berhembus ringan dan menggoyangkan dedaunan di pohon dan rumput di sekitarnya.


Perasaan yang aneh, namun familiar. Seperti dia sudah lama mengenal lingkungan itu padahal Wei Lan sendiri bahkan tidak tahu dimana dia berada. Kegelapan masih menetap di benaknya sementara dia hanya mengandalkan indra lainnya untuk merasakan apa yang terjadi padanya.

__ADS_1


Perlahan, kegelapan murni yang awalnya begitu hitam mulai memudar. Seberkas cahaya putih kekuningan yang merupakan sumber kehangatan, dengan pelan merobek kegelapan tersebut hingga akhirnya apa yang masuk ke pandangannya adalah putih murni.


Tanpa sadar Wei Lan memejamkan matanya erat-erat di bawah pengaruh panas cahaya yang membakar kedua pupil matanya. Saat rasa perih mulai mereda, tindakan bawah sadar pertama Wei Lan adalah mengucek matanya.


Wei Lan mengangkat tangannya dan mengusap kedua matanya. Gerakan alami tersebut tiba-tiba berhenti di tengah jalan.


Pemuda elf itu menurunkan tangannya dan perlahan membuka kedua kelopak matanya yang menyembunyikan dua pupil zamrud yang berharga. Antisipasi mulai melonjak di benak Wei Lan. Sebelumnya dia selalu berada di ambang antara ketidaksadaran dan kesadaran samar yang cukup terpecah belah hingga membuatnya meragukan apakah situasinya adalah asli atau hanya khayalan semata.


Kemudian ketika dia tanpa sadar mengusap kedua kelopak matanya, sentuhan yang terasa jelas pada tangan dan kelopak matanya mengirimkan getaran konstan dalam saraf pusatnya. Tidak diragukan lagi sentuhan yang nyata memicu semua indra nya untuk menjadi lebih aktif dan terbuka.


Perlahan, Wei Lan bisa merasakan sekitarnya. Dia tidak lagi hanya merasakan kekosongan yang tiada tara, namun dia bisa merasakan jejak kehidupan yang ada di sekitarnya. Ini adalah perasaan menyegarkan yang aneh. Kali ini bangun keduanya berbeda jauh dari kali pertamanya.


Wei Lan menggerakkan bola matanya dan merasakan kendali akrab pada bagian tubuhnya, dia membuka kedua matanya secara perlahan. Cahaya pertama yang masuk membuat matanya secara otomatis menyipit untuk menyesuaikan dengan cahaya yang menyengat.


Pemandangan pertama yang masuk ke matanya adalah langit biru yang cerah dengan pepohonan yang menjulang tinggi di sekitarnya. Kedua mata Wei Lan terbuka lebar, dia segera bangkit dari posisi berbaringnya dan melihat ke sekelilingnya. Pohon-pohon subur, hamparan rumput yang lembab, bunga-bunga kecil yang tumbuh di hamparan rumput yang indah. Pemandangan yang familiar...


Ini benar-benar di luar ekspektasinya.


Wei Lan melihat sekelilingnya dengan pandangan penuh emosi dan meringis pelan sebelum mengangkat salah satu telapak tangannya untuk menggosok pelipisnya saat dia memejamkan mata.


Ck...


Tampaknya pertandingan ini belum sepenuhnya berakhir ya...


Dia tidak tahu siapa yang memainkan trik ini, mungkin Luo Hao mungkin juga Luo Hong, atau mungkin salah satu anggota tim lawan yang berspesialisasi dalam menciptakan ilusi.


Wei Lan hanya tidak menyangka kalau lawannya akan membuat gerakan sebesar ini. Pemandangan yang ditemuinya sekarang ini terlihat benar-benar nyata, dan dia sendiri mengenal jelas tempat ini. Karena itulah Wei Lan yakin kalau segalanya pasti palsu biarpun terasa sangat nyata.


Bagaimana tidak...?

__ADS_1


Semua objek di sekitarnya menunjukkan pemandangan yang tertata jauh di kedalaman memori tersembunyinya. Di sini adalah klan Luo.


Atau lebih tepatnya, tempat dimana dia tinggal bersama ibunya, tempat yang dihabiskan bersama masa kanak-kanaknya tanpa terseret waktu.


Wei Lan tersenyum rendah. Dia menggosok pelan dahinya dan mendengus pelan.


"Siapapun itu, tampaknya keahlian mereka cukup profesional."


Wei Lan membuka kedua matanya dan pupil zamrud itu memandang sekelilingnya dengan jejak kemalasan yang tidak tersembunyi, "Lagipula ini terlalu nyata bukan?"


Wei Lan berdiri dan menepuk pakaiannya sebelum berjalan dengan santai di sepanjang jalan terbuka seolah sedang mengamati pemandangan dan bukannya berada di wilayah musuh. Pemuda itu menjepit salah satu daun yang jatuh dari pohon di kedua ujung jarinya sebelum membawa daun tersebut ke ujung hidungnya dan menghirup aroma daun.


Aroma rerumputan segar yang khas masuk ke indra penciuman Wei Lan. Dia melepas kedua jari yang memegang daun tersebut dan menyaksikannya jatuh ke tanah dengan penuh minat.


"Bahkan baunya sangat mirip. Kalau bukan karena ingatanku berjalan cukup normal, aku benar-benar akan mengira kalau aku sedang ada di masa lalu. Sayangnya, keajaiban itu tidak mungkin terjadi atau aku sudah akan mengubah semuanya sejak awal."


Wei Lan menggeleng kepalanya pelan dan bersenandung sambil melanjutkan langka ringannya.


Dia mengambil kesempatan itu untuk menikmati perasaan yang sudah lama tidak dijumpainya dengan hati terbuka. Mumpung lawan ku masih berada di kegelapan dan mungkin sedang menontonku seperti penguntit, bukankah akan lebih baik kalau aku mengambil kesempatan jarang ini untuk menyimpan tenaga dan diam-diam merumuskan rencana.


Wei Lan memetik setangkai bunga liar dan membawanya bersamanya menuju arah yang dikenalnya.


Pemuda itu menyusuri rangkaian jalan batu yang kasar dan sampai di depan gubuk kecil. Kedua pupil hijau Wei Lan bersinar terang saat melihat rumah lusuh yang familiar.


Wah... kelihatannya orang yang membuat ilusi ini bekerja dengan cukup keras ya, bahkan detil sekecil itu juga diperhatikan.


Hm... tidak ada salahnya juga kalau dia melepaskan kepenatannya saat ini dan bersantai untuk sejenak.


Mungkin setelah ini, dia tidak akan memiliki kesempatan lagi...

__ADS_1


__ADS_2