The Legends : Tale Of Immortality

The Legends : Tale Of Immortality
Chapter 52: Ketidaknyamanan Li Qing He


__ADS_3

Wei Lan dan Yu Feng tidak mengecilkan suara mereka ketika melakukan percakapan singkat tersebut sehingga siapapun yang ada di sekitar mereka telah mendengar kata-kata berani kedua orang itu.


Dalam waktu sesingkat itu, serangkaian pandangan tajam sudah diarahkan kepada mereka. Empat orang yang duduk bersama Yu Feng dan Wei Lan saling memandang dan tersenyum tipis. Senyuman mereka tidak diragukan lagi berarti mendukung pernyataan kedua anggota tim mereka.


Akhirnya sebelum pertandingan resmi dimulai, tim itu telah berhasil menggaet ketidaksukaan sekelompok orang.


Di sisi lain, Li Qing Yu memandang ke bawah keramaian dengan rasa santai yang masih melilitnya. Dibandingkan dengan sekelompok siswa tingkatan kedua yang tampak bersemangat dan penuh bubuk mesiu itu, dia terlihat sangat lesu dan tidak peduli terhadap kompetisi yang akan datang.


"Apa kamu tidak akan bersiap-siap? Ini sudah giliran kelasmu."


Suara dingin datang dari belakang.


Li Qing Yu yang membaringkan kepalanya dengan lesu di batu penyangga yang menyerupai balkon itu memutar kepalanya ke belakang dan tersenyum acuh tak acuh.


"Siapa bilang aku akan berpartisipasi dalam sesi kompetisi ini?"


Gerakan Li Qing He yang mengangkat cangkir tehnya berhenti di tengah jalan dan pemuda itu mengerutkan keningnya tanpa terasa.


Li Qing Yu tersenyum geli ketika melihat saudara laki-lakinya yang sekarang tampak membeku itu terutama dengan cangkir teh yang masih menggantung di tengah udara, namun momen kejanggalan Li Qing He hanya berlangsung selama dua detik sebelum pemuda itu dengan tenang kembali melanjutkan kegiatannya.


Li Qing Yu mengamati model anggun saudaranya yang memancarkan aura dingin dengan pandangan penuh ketertarikan. Harus diakui setiap fitur dan postur tubuh orang ini benar-benar membuat orang lain merasa terpesona. Pantas saja saudara laki-lakinya ini sering menjadi objek apresiasi bagi sekelompok pria dan wanita di klannya.


Ck... Wajah ini benar-benar mampu menarik jatuh hati ribuan wanita...

__ADS_1


Li Qing Yu terus mengamati Li Qing He yang duduk di sofa dan menyesap tehnya dengan aura kebangsawanan yang tidak lepas bahkan ketika pemuda ini hanya melakukan gerakan harian biasa. Dia memindai saudara tertuanya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan sinar tajam seolah sedang mencari sesuatu dalam diri Li Qing He.


Tindakan Li Qing Yu tentu saja membuat Li Qing He merasa tidak nyaman. Tatapan Li Qing Yu membuatnya merasa seperti sedang dibedah dari luar ke dalam, seolah Li Qing Yu sudah memisahkan setiap bagian tubuhnya menjadi bagian-bagian kecil yang terbuka di depan umum untuk secara bebas diamati oleh adiknya ini.


Suara dentingan kaca yang menyentuh meja membuat senyuman Li Qing Yu semakin naik. Dia berdiri dari posisinya dan bergerak menuju saudaranya sebelum berhenti dan duduk di sofa yang berhadapan dengan saudaranya.


"Ge, apa yang membuatmu segelisah ini? Aku hanya tidak mengikuti sebuah kompetisi dan kamu sudah bertingkah seolah aku telah melakukan kesalahan besar," ujar Li Qing Yu dengan nada malasnya, namun matanya tidak pernah lepas dari saudaranya.


"Urusanmu tidak ada hubungannya denganku."


Li Qing Yu mengedipkan matanya sekali dan memandang Li Qing He dengan ekspresi polos, "Lalu kenapa kamu terlihat gelisah seperti ini?"


Begitu kata-kata Li Qing Yu jatuh, pemuda di hadapannya langsung menembakkan tatapan setajam pisau dengan aura beku yang tidak ditahan. Orang normal akan ketakutan setengah mati dengan tatapan dan aura menakutkan Li Qing He, namun sayangnya bagi Li Qing Yu reaksi Li Qing He hanya akan menghiburnya.


Selama ini dia selalu mengira kalau Li Qing He adalah orang yang kaku seperti kayu busuk dengan aroma pahit yang mengusir bahkan lalat sejauh ribuan mil. Buktinya orang ini selalu mengeluarkan aura kesombongan yang menjijikkan baginya. Hanya saja semenjak saudaranya membongkar rahasia besarnya, dia menjadi mengamati saudaranya lebih dekat dan menyadari kalau asumsinya selama ini tidak sepenuhnya benar.


Li Qing He tidak semembosankan seperti pertapa tua yang hidup dalam pengasingan. Terkadang dia merasa kalau Li Qing He sebenarnya cukup hijau dan yang paling penting entah kenapa orang ini selalu mentolerir sikapnya dan bahkan terkesan mengalah. Awalnya Li Qing Yu masih memikirkan proporsi yang tepat ketika bertindak di depan Li Qing He, namun setelah dia menyadari kalau saudaranya tidak akan membunuhnya kelakuannya semakin melonjak.


Sama seperti sekarang. Dia tidak ragu mempermainkan saudaranya sejauh ini, namun Li Qing He menahan diri. Saudaranya jelas tidak suka dengan perilakunya dan sudah berkali-kali merasa tidak nyaman dengan gangguannya, namun hingga sekarang pun saudaranya tidak menunjukkan tanda-tanda ingin meledak dan hanya menunjukkan reaksi dingin yang tampaknya telah menjadi bagian dari programnya.


Li Qing He sebenarnya sesabar ini terhadapnya...


Jadi apa alasan saudaranya bertindak seperti ini?

__ADS_1


"Berhenti memperlihatkan senyuman jelekmu dan hentikan tatapan tidak sopanmu itu. Aku masih saudaramu, jangan terlalu kurang ajar," ujar Li Qing He dengan kekesalan yang semakin menumpuk. Semenjak Li Qing Yu kehilangan topengnya di hadapannya, orang ini tidak pernah berhenti mengganggunya. Li Qing He sudah kehabisan hitungan soal berapa kali dia dibuat gelisah oleh anak ini. Semakin lama perilaku Li Qing Yu juga semakin keterlaluan.


Sampai sekarang Li Qing He masih tidak mengerti apa yang menyebabkan perubahan Li Qing Yu ini. Pertanyaan ini masih menggantung di benaknya sampai sekarang dan entah sudah berapa kali dia merenungkan sebaris pikiran ini. Anak ini sering bertindak seolah sedang kerasukan jiwa aneh dengan senyuman yang terus melebar di wajahnya itu. Terkadang Li Qing He bahkan merasa kalau Li Qing Yu mungkin telah dikutuk oleh kutukan kuno tertentu atau mungkin anak ini salah mengkonsumsi obat-obatan yang secara tidak sengaja merusak otak normalnya. Kalau tidak apa lagi alasan anak ini selalu menatapnya dengan tatapan seperti hantu yang kelaparan.


Li Qing He merasa sakit kepala selama minggu-minggu berat ini. Dia selalu sadar kalau ada yang terus memperhatikannya selama dia mengajar siswa-siswanya bersama Wei Si An di lapangan terbuka. Ketika dia melihat ke arah datangnya tatapan yang menusuk itu, yang dilihatnya adalah Li Qing Yu yang tersenyum dari balik jendela kaca.


Dia enggan mengakui kalau kadang tatapan yang diarahkan oleh Li Qing Yu kepadanya membuatnya merasa seperti sedang dalam posisi seekor mangsa yang dikendalikan oleh predator. Ketika pikiran itu terlintas, dia merasa ingin menertawakan pikiran absurd nya. Namun faktanya Li Qing He sadar kalau instingnya tidak pernah salah dan Li Qing Yu memang memberinya tekanan aneh yang mampu membuatnya tegang.


"Ge..."


"DaGe!"


Li Qing He tersadar dari lamunannya dan melihat Li Qing Yu telah menggerakkan tubuhnya untuk setengah membungkuk ke depan dan melambaikan tangannya di depan wajahnya.


"Apa yang kamu pikirkan hingga seserius itu?" tanya Li Qing Yu dengan kerutan di wajahnya. Pemuda itu sekarang sudah kehilangan senyuman main-main di wajahnya dan hanya ada kecurigaan serta penyelidikan di matanya yang menusuk menembus Li Qing He.


"Bukan urusanmu."


Nada ketus yang sudah sering didengar Li Qing Yu membuat ekspresinya kembali normal. Dia memutar bola matanya dan ingin membalas semburan kasar Li Qing He, namun sebelum dia sempat melakukannya suara lonceng yang familiar kembali bergema dan mengirimkan getaran yang menarik perhatian orang.


"Ding!"


Ketika lonceng berbunyi semua yang mendengarnya langsung tahu bahwa kompetisi antar kelas tingkatan kedua telah dimulai.

__ADS_1


__ADS_2