The Legends : Tale Of Immortality

The Legends : Tale Of Immortality
Chapter 61: Kata-kata Yue Qing Ye


__ADS_3

Setelah Wei Lan keluar dia disambut oleh pertanyaan cemas dari dua temannya yang sedari tadi menunggu di luar.


"Bagaimana dengan mereka?"


"Apa Guru BaiLi ada mengatakan sesuatu?"


"-..."


Wei Lan membiarkan teman-temannya menyelesaikan pertanyaan mereka sebelum menjawabnya dengan sabar satu persatu.


BaiLi Yun Hua menatap tiga orang dari kelas BaiLi Yun Xiao dan Yue Qing Ye dari samping. Dalam benaknya adegan pertempuran tadi masih diputar dengan detil.


Mereka kuat.


Orang-orang ini memiliki usia yang hampir serupa dengan dirinya, namun mereka jauh lebih kuat dari yang bisa dicapainya sejauh ini. Hanya dia yang tahu mengenai bakat legendarisnya, namun ironisnya dia yang seharusnya bisa mencapai tingkat BaiLi Yun Xiao dan Yue Qing Ye sekarang bahkan tidak sebaik orang-orang ini dengan bakat normal.


Alasan kenapa dia bisa tampil begitu kuat di pertandingan sebelumnya semua karena jati diri darah suci miliknya. Kalau hanya murni mengandalkan keterampilan nyata miliknya, dia tidak akan bisa mengalahkan lawannya.


Agak masam ketika BaiLi Yun Hua harus berpikir sampai sejauh ini, tapi mau tak mau dia tidak bisa membantah beberapa rumor tentang dirinya yang tersebar di mana-mana. Dia benar-benar pemborosan yang menyia-nyiakan hadiah dari Tuhan kan...


Wei Lan yang harus menenangkan teman-temannya merasakan pandangan dari arah tertentu yang disorotkan kepadanya. Dia mencari ke arah asalnya tatapan itu dan pupil hijaunya bertabrakan dengan seorang pemuda kurus yang kemarin baru saja menimbulkan sensasi.


Itu BaiLi Yun Hua, orang yang kemarin menghancurkan kawan dan lawannya hingga babak belur.


"Jangan berisik."

__ADS_1


Suara dingin memotong kericuhan Mu Xiang dan satu pemuda lainnya yang tidak berhenti cemas menanyakan kondisi tiga pasien di dalam kamar kepada Wei Lan. Tatapan mereka diarahkan kepada guru mereka yang sedari tadi tidak mengucapkan sepatah kata pun setelah momen transmisi suaranya.


"Mereka akan baik-baik saja. Dari semua yang terluka, hanya Yu Feng yang kondisinya sedikit lebih buruk. Tapi dengan keahlian Yun Xiao, mereka akan pulih seperti sedia kala, jadi daripada kalian terus ribut di sini renungkan kembali pertandingan tadi," ujar Yue Qing Ye ketika dia mengarahkan pandangannya ke bawah dan menatap arena yang sekarang memiliki sesi pertandingan lain yang sedang dimainkan.


Kalimat Yue Qing Ye membuat para siswanya terdiam. Mereka kembali mengingat momen memalukan yang baru terjadi pada mereka. Hebatnya mereka tidak hanya mempermalukan diri mereka sendiri setelah serangkaian kata-kata penuh percaya diri yang mereka lontarkan, tetapi mereka juga menyeret wajah kedua guru mereka ikut jatuh ke tanah.


BaiLi Yun Xiao dan Yue Qing Ye tidak menuntut mereka atau pun menghakimi mereka atas ketidakmampuan mereka, Guru BaiLi bahkan sedang berusaha memperbaiki kerusakan yang terjadi pada teman-teman mereka. Tidak ada yang mengingatkan mereka tentang aib yang baru mereka lalui, tapi di sini mereka justru hanya berkokok dan meneriakkan kegelisahan mereka yang tidak akan membantu situasi saat ini.


Mu Xiang menggigit pipi dalamnya dan menarik nafas dalam-dalam. Gadis itu memberanikan diri untuk maju selangkah dan menatap guru mereka yang sedang membelakangi mereka.


"Maafkan kami Guru. Kami tidak bekerja dengan baik di pertandingan ini."


Keheningan konstan menyapu ruangan itu selama beberapa detik dan ketegangan semakin meningkat dengan tidak adanya jawaban yang diberikan oleh Yue Qing Ye. Ketika keringat sudah mulai bercucuran di dahi Mu Xiang karena detak jantungnya yang berdebar kencang bersama kegugupan yang semakin meningkat, Yue Qing Ye akhirnya kembali berbicara.


"Untuk apa kamu meminta maaf padaku. Memangnya tadi kalian sengaja meremehkan musuh?"


"Lalu untuk apa kamu meminta maaf? Kalian sudah berusaha meskipun hasilnya sia-sia," potong Yue Qing Ye dengan dingin. Dia masih memiliki wajah beku seperti gunung es ketika dia menatap situasi pertandingan milik tim lain di arena.


Tenggorokan Mu Xiang semakin mengering ketika rasa bersalahnya meningkat. Gadis itu memiliki ekspresi tertekan yang agak menyedihkan bagi sosok cantiknya. Suara Yue Qing Ye memang tidak memiliki kemarahan atau kekesalan dan nada suaranya masih tanpa emosi seperti biasanya, tapi kata-kata gurunya membuat Mu Xiang merasa semakin tersudutkan.


Yue Qing Ye hanya menyatakan fakta yang sedang terjadi. Mereka telah berusaha sekuat tenaga untuk merumuskan metode yang mampu merebut kemenangan dari lawan mereka meskipun rasanya benar-benar sulit. Namun meskipun begitu, usaha mereka tidak ada artinya. Mereka masih kalah, dan tim mereka bahkan memiliki berbagai kerusakan yang harus merepotkan Guru BaiLi untuk memperbaiki mereka.


Mu Xiang menelan ludah kering, sebelum dia ingin mengungkapkan kegagalan mereka, suara lain sudah lebih dulu memotong tindakannya.


"Karena kami telah mempermalukan diri kami sendiri dan juga menyeret harga diri guru-guru kami ikut dilumuri lumpur bersama kami."

__ADS_1


Mu Xiang dan teman pria mereka secara refleks menatap Wei Lan. Tidak seperti Mu Xiang yang melukiskan semua emosi penderitaannya di wajahnya, ekspresi Wei Lan tidak mengandung rasa bersalah ataupun penyesalan. Sebaliknya pemuda elf itu memiliki raut wajah serius dan tegas. Dia mengungkapkan letak kesalahan mereka secara terbuka di depan Guru Yue tanpa berkedip.


"Kalau begitu fokuslah untuk memperbaiki kelalaian kalian dan amati semua gerak-gerik peserta yang merupakan lawan kalian. Cari tahu kelemahan mereka dan mulai susunlah rencana untuk mengatasi lawan yang di luar kemampuan kalian dengan pikiran yang rasional."


"Kalian benar, kalian tidak hanya menjatuhkan harga diri kalian tetapi juga harga diriku dan Yun Xiao. Karena itulah pastikan untuk mengambil kembali harga diri yang sudah kalian injak sendiri ke tanah. Terutama milik kami, kalau tidak setelah acara ini berlalu, aku akan memastikan kalian memiliki serangkaian pelatihan neraka yang tidak akan pernah berani kalian lupakan."


BaiLi Yun Hua dibuat kaget dengan kalimat berani Yue Qing Ye. Orang yang dingin dan acuh tak acuh ini ternyata juga bisa mengancam siswanya seperti ini. Tapi yang lebih tidak terduga adalah Yue Qing Ye sebenarnya sedang mengulurkan permen dan cambuk pada siswanya. Orang ini ternyata tahu yang namanya menghibur orang lain. Apalagi dari pengalamannya, sepertinya ini adalah kalimat terpanjang yang dikatakan sekaligus tanpa jeda oleh orang ini.


Biasanya Yue Qing Ye akan menolak untuk mengucapkan sepatah kata pun pada orang lain kecuali bangsanya.


"Baik!"


Sementara BaiLi Yun Hua sedang memproses sisi baru Yue Qing Ye ini, suara keras yang memenuhi seisi ruangan membuatnya keluar dari renungannya.


Tiga orang yang mengambil ancaman Yue Qing Ye berbalik menyerukan pemahaman mereka terhadap kata-kata guru mereka. Kegelisahan awal telah digantikan dengan tekad baja yang menggelora.


BaiLi Yun Hua sedikit mengangkat alisnya. Orang-orang ini benar-benar kembali dibangkitkan oleh serangkaian kalimat panjang Yue Qing Ye. Yah... kalau dilihat dari beberapa sisi, tampaknya Yue Qing Ye memiliki beberapa kesamaan dengan salah satu guru mereka, Li Qing He.


Berbicara soal Li Qing He, mau tak mau dia bertanya-tanya kenapa sampai sekarang guru mereka tidak menghubungi mereka. Tidak hanya Li Qing He, Wei Si An pun sama. Sebagai guru, bukankah dua orang ini seharusnya mengucapkan beberapa kata kepada siswa mereka yang mengangkat peringkat kelas hingga posisi teratas?


Ingatan tentang transmisi suara Li Qing He yang tiba-tiba mengganggu konsentrasinya di tengah pertandingan kembali berkibar. Mungkinkah... gurunya masih marah?


Tapi, mereka sudah menang, jadi seharusnya guru yang satu itu tidak akan terlalu mempersulit dirinya kan?


Huh... tapi siapa yang bisa disalahkannya...

__ADS_1


Benar-benar merepotkan...


__ADS_2