
Ditengah ramainya orang berlalu lalang, tiba puluhan orang menunggangi kuda dengan laju yang cukup cepat sehingga menyebabkan debu beterbangan kesana kemari.
Ada beberapa masyarakat yang saling berbisik seakan mengenal sosok mereka, ada juga yang memasang raut bingung dan juga pernasaran atas kehadiran puluhan orang tersebut.
Namun, satu hal yang pasti bahwa saat ini puluhan orang tersebut berhenti didepan sebuah kedai makanan sederhana, tepatnya didepan Kedai Bunga Kersen Hijau.
Li An yang sibuk membereskan bekas makanan tamunya didalam kedai merasakan aura membunuh berada diluar kedainya.
Dengan segera ia bergegas keluar kedai untuk mengetahui siapa pemilik aura membunuh tersebut.
Li An dengan raut kebingungan menatap mereka, ia tau siapa mereka.
Beberapa dari mereka memakai jubah putih dan sebagiannya lagi memakai zirah dengan senjata lengkap. Mereka dari Sekte Anggrek Putih dan prajurit Kekaisaran Qing.
Pria berjubah putih yang tampak seumuran dengan Li An turun dari atas kuda dan berjalan mendekati Li An.
"Katakan dimana putrimu?" tanyanya.
Dengan raut bingung Li An menjawab, "Putriku? Apa maksudmu?" sautnya.
"Berita tentang putrimu yang meracuni Mo Xun telah menyebar keseluruh kekaisaran Qing..." katanya.
"Kami bahkan sudah menyebarkan sketsa wajahnya, tapi tak ada satupun yang bisa menemukannya, dan aku yakin kau pasti menyembunyikan putrimu itu dari kami!" sambungnya menekan setiap kata-katanya.
"Haha, jadi kalian tak berhasil menemukannya? Putriku itu memang pandai bersembunyi..." kata Li An diiringi dengan tawa yang membuat orang yang diajaknya bicara menjadi kesal.
"Cepat katakan dimana putrimu! Nyawa Mo Xun dalam bahaya, dia membutuhkan penawar dari racun itu secepat mungkin, jika tidak aku akan membunuhmu!"
"Mo Ahn Dong, penatua sekte Anggrek Putih sekaligus kakek dari Mo Xun, apa kau masih bisa berkata seperti itu saat aku mengalahkanmu beberapa waktu yang lalu?" saut Li An mengompori.
Ya, Li An mengenal Mo Ahn Dong, ia adalah Kakak seperguruan Li An saat berguru disalah satu sekte.
Mo Ahn Dong selalu menyimpan dendam pada Li An dari dulu hingga sekarang, bahkan sekitar 40 hari yang lalu ia sempat mengajak Li An untuk bertarung dengannya, tetapi hasilnya selalu sama, ia selalu kalah dari Li An sehingga itu yang membuatnya tak suka pada Li An.
Mo Ahn dong bahkan telah berjanji, bahwa ia tak akan mati sebelum ia bisa mengalahkan Li An dan tak akan membiarkan Li An mati kecuali karena dirinya.
Itulah Mo Ahn Dong, menyimpan iri yang begitu dalam pada Li An sehingga membuatnya terus berlatih agar bertambah kuat melebihi Li An.
"Apa yang kau katakan! Enyalah sekarang!" teriak Mo Ahn Dong mulai bergerak menyerang Li An.
Mereka yang ada disekitar Mo Ahn Dong dan Li An segera menjauh agar tak terkena serangan.
Bagaimana pun mereka berdua memiliki kemampuan yang sangat kuat dan sangat jarang orang yang mampu mengalahkan mereka.
__ADS_1
***
"Dimana ibu? Bukankah kata Zue ibu berada disini?" ucap Zhang Me pada dirinya sendiri.
Saat ini ia sedang berada dibawah sebuah pohon yang cukup besar sehingga dapat digunakan untuk berlindung.
Matanya sibuk mengamati sekitar hingga pandangannya terjatuh pada barang belanjaan yang tergeletak bebas di tanah tanpa pemilik.
Zhang Me memeriksanya, dan mendapatkan banyak sekali sayuran, buah-buahan dan juga daging.
Zhang Me menoleh dan bertanya pada wanita yang berdiri tidak jauh darinya, "Apa ini milikmu?" wanita tersebut hanya balas menggeleng.
Zhang Me hanya menghembuskan nafasnya pelan, ia membereskan belanjaan tersebut dan menyusunnya dengan rapi.
Sehingga tak sengaja indra penciuman Zhang Me menangkap aroma yang sangat ia kenali. Ya, aroma itu sangat mirip aroma racun milik ibunya.
"Sesuatu pasti terjadi pada ibu, dan semua ini adalah miliknya..." gumam Zhang Me.
Tak lama ada seorang pria paruh baya datang menghampirinya, "Apa yang sedang kau cari?" tanya nya.
"Paman, apa kau melihat wanita yang tadi ada disini?" kata Zhang Me.
"Apa maksudmu pemilik semua barang itu?" sautnya menunjuk belanjaan yang tadi dirapikan oleh Zhang Me.
Zhang Me mengangguk antusias, "Ya, kau benar, apa kau melihatnya?"
Tangan Zhang Me terkepal kuat, auranya tak sengaja mengucur keluar akibat marah, sehingga membuat orang yang berkeliaran disekitarnya merasa tertekan.
Sadar akan kecerobohannya, Zhang Me segera menarik kembali auranya.
"Paman, apa kau tau dimana tempat bandit itu berada?" tanya Zhang Me pada pria tadi.
Pria itu menunjuk ke arah belakang Zhang Me, "Markas mereka ada sebelah sana, tapi jika kau mencari wanita itu, kemungkinan besar ia dibawa ke Rumah Singgah Lotus..." jawabnya.
"Rumah Singgah Lotus?" ulang Zhang Me memastikan.
Pria itu mengangguk, "Ya, sebaiknya kau kesana terlebih dahulu sebelum terlambat." balasnya lalu beranjak pergi meninggalkan Zhang Me.
"Aku tau dimana tempat itu tuan..." ucap Fang Je tiba-tiba muncul dari bayangan Zhang Me.
"Cepat bawa aku kesana..." balas Zhang Me langsung melompat ke punggung Fang Je.
"Aku rasa kau tak akan keberatan jika menggendongku bukan?"
__ADS_1
"Tentu saja tuan..."
Entah mengapa setelah melakukan kontrak darah dengan Zhang Me, Fang Je menjadi tak bisa menolak perkataannya, dan ada rasa puas tersendiri yang dirasakan oleh Fang Je saat memenuhi keinginan Zhang Me. Berbeda dengan sebelumnya, yang merasa kesal dan tak suka pada setiap perkataan Zhang Me.
Dengan kecepatan tinggi, Fang Je berlari dengan Zhang Me yang berada dipunggungnya menuju Rumah Singgah Lotus.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka tiba ditempat tujuan. Bangunan yang sangat besar dan mewah dimana terdapat papan ukiran bertuliskan "Rumah Singgah Lotus"
Zhang Me yang berada di punggung Fang Je segera beranjak dari tempatnya, ia memperhatikan pengunjung yang keluar masuk dari Rumah Singgah Lotus.
"Ayo kita masuk..." ucap Zhang Me berjalan duluan.
Fang Je hanya mengangguk dan mengekor dibelakang Zhang Me.
Saat tiba didalam, Fang Je menjadi lebih waspada karena Rumah Singgah Lotus dipenuhi dengan bandit-bandit yang ada di kota Lehan.
Sedangkan dibalik jubahnya Zhang Me malah tersenyum melihat pemandangan yang ada didepannya, "Ini seperti di kelab pada kehidupanku sebelumnya, hanya saja disini terlihat seperti penginapan dan kurang musik..."
"Silahkan tuan, anda bisa duduk disana..." ucap pelayan yang datang menghampiri mereka.
Zhang Me mengangguk lalu berjalan dan disusul oleh Fang Je menuju meja yang memiliki tiga kursi kosong yang dimaksud pelayan tersebut.
"Fang Je, sebaiknya kau cari ibuku diseluruh sudut bangunan ini..." pintanya dan dibalas anggukan oleh Fang Je.
Baru saja Fang Je ingin beranjak dari tempatnya, tiba-tiba saja terjadi kericuhan. Seorang pria sedang melempar wanita dengan sangat keras hingga terbentur pada tembok dan membuatnya retak.
Suasana pun menjadi hening, mereka yang ada disana memasang raut senang dan tertawa bahagia melihat wanita tersebut kesakitan.
Zhang Me mengerutkan keningnya, merasa aneh sebab seharusnya mereka merasa iba atau kasihan pada wanita itu.
Ia menoleh menatap Fang Je lalu kemudian beralih menatap wanita dengan pakaian robek yang sedang membelakanginya itu.
Ada banyak luka bekas cakaran dipunggung serta lengannya yang membuat Zhang Me sedikit kasihan padanya.
"Kasihan sekali..." ucap Zhang Me pelan.
Ia segera menghampiri wanita tersebut dan membantunya untuk berdiri.
"To-tolong selamatkan aku..." katanya lirih.
Zhang Me membeku ditempatnya, tiba-tiba saja hatinya terasa tersayat dan nafasnya menjadi sesak.
Ia menoleh dan menatap lekat wanita itu dan menyingkirkan rambut panjang yang menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Ibu..."
Terimakasih sudah membaca:')