
Dari atas udara, Zhang Me yang sedang melayang merasa takjub mengamati kota Lehan yang terlihat sangat indah dari atas.
Banyak sekali bangunan mewah yang indah dan orang-orang yang berlalu lalang kesana kemari.
Cukup lama Zhang Me mengamati keadaan kota Lehan dan merasa cukup, lalu kemudian dengan perlahan ia turun dan berpijak disebuah halaman belakang rumah yang sepi.
Dengan antusias Zhang Me segera beranjak dari sana, tapi terlebih dahulu ia memperhatikan sekitar untuk memastikan tidak ada yang melihatnya turun dari atas.
Dengan langkah yang santai Zhang Me ikut berbaur dengan penduduk sekitar.
Ia menjadi pusat perhatian karena penampilannya yang begitu mencolok. Meski begitu, tidak sedikit yang terpesona dengan kecantikan wajah yang sebagian ditutupi oleh topeng.
Ditambah lagi dengan jubah panjang yang diberikan Li An padanya hanya mampu menutupi bagian belakang dan memamerkan bagian depannya membuat para pria menatap minat padanya.
"Lihat penampilan gadis itu, aneh sekali..."
"Kau benar."
"Tapi dia terlihat sangat cantik..."
"Dia adalah jelmaan dewi bertopeng!"
"Kau benar! Aku akan sangat bahagia jika menjadi pasangannya."
Berbagai ucapan yang dilontarkan orang-orang tak membuat Zhang Me terganggu sedikitpun.
Ia hanya terus berjalan tanpa memperdulikan sekitarnya hingga seseorang tak sengaja menabraknya.
Bruak!
Zhang Me menghentikan langkahnya dan menatap seorang anak laki-laki yang terlempar cukup jauh setelah menabraknya.
Anak itu bangkit dari jatuhnya lalu mengibaskan tangan pada pakaiannya yang dipenuhi debu dan kemudian berjalan mendekati Zhang Me.
"Bibi apa kau baik-baik saja?" tanyanya dengan nada khawatir.
Zhang terdiam, ia tak menduga reaksi anak itu akan seperti ini. Seharusnya pertanyaan itu dilontarkan oleh Zhang Me untuk dia yang terjatuh dan ditambah lagi dengan panggilan yang diberikan anak itu padanya.
"Siapa namamu?" tanya Zhang Me.
"Namaku Le Mian bibi..."
Zhang Me mengangguk dan berkata, "Ada apa denganmu? Mengapa kau tiba-tiba saja menabrakku?"
Zhang Me dengan usilnya memasang ekspresi pura-pura marah tanpa memperdulikan wajah pias Le Mian.
"Bibi aku mohon jangan marah, aku tidak sengaja melakukan itu..." ucap Le Mian tertunduk.
Sedetik setelah itu Zhang Me langsung tertawa, menurutnya wajah Le Mian sangat lucu saat sedang ketakutan seperti itu.
Sedangkan Le Mian menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia mulai berpikir apa gadis yang ada dihadapannya ini gila?
Zhang Me menghentikan tawa lalu berkata, "Pergilah sebelum aku tidak membiarkanmu pergi." ujar Zhang Me.
Tanpa berlama-lama Le Mian segera berlari sekencang mungkin meninggalkan Zhang Me.
Zhang Me menggelengkan kepala melihat kepergian Le Mian lalu kembali melangkah namun terhalang oleh sesuatu yang menarik perhatiannya.
Ia menunduk meraih sebuah batu berwarna hitam pekat dengan ukuran segenggam yang tergeletak diatas tanah.
"Batu apa ini? Aneh sekali..." ujar Zhang Me.
Ia memperhatikan batu yang ada digenggamannya dengan intens lalu meletakkannya di balik jubah.
Setelah itu Zhang Me berjalan kembali hingga menemukan sebuah pintu keluar masuknya orang-orang banyak.
Tempat itu adalah pusat perbelanjaan yang ada dikota Lehan, tempat yang menjadi tujuannya saat ini.
Zhang Me berjalan melewati pintu masuk dan bergabung ditengah hiruk pikuknya orang-orang yang berjalan kesana kemari.
Tampak setiap pedagang menawarkan dagangannya pada pengunjung yang berdatangan.
"Budak budak! Hanya seharga 25 koin emas!"
"Ayo segera, sebelum kehabisan!"
Zhang Me mengerutkan keningnya mendengar teriakan seorang pedagang yang menjual budak.
Ia tidak menduga ternyata dikota ini diperbolehkan untuk jual beli budak.
__ADS_1
Zhang Me mendekat ke tempat pedagang tersebut dan menemukan beberapa orang terlihat tertarik untuk membeli budak yang dijual pedagang itu.
Ada 7 orang, 5 gadis yang masih terlihat muda dan 2 pemuda yang terduduk dengan kondisi mengenaskan. Mereka adalah budak yang ditawarkan.
"Aku ingin 5 gadis itu dengan masing-masing seharga 10 koin emas." ujar seorang pembeli.
Penjual yang memilik keperawakan pendek, gendut dan berkumis tampak berpikir untuk mempertimbangkan tawaran yang diberikan oleh pembeli.
"Baiklah, daripada tidak sama sekali." ucapnya setuju.
Pedagang tersebut melepaskan ikatan 5 gadis tersebut lalu diserahkan pada pemilik yang telah membelinya.
Disisi lain, Zhang Me tampak berpikir hingga ia meraih sekantong koin emas dibalik jubahnya dan dilemparkan pada pedagang budak.
"Aku membeli mereka berdua seharga semua koin yang ada dikantong itu." ucap Zhang Me.
Pedagang tersebut mengeluarkan isi kantong yang dilemparkan Zhang Me padanya dan berhasil membuatnya membulatkan mata sangking kagetnya.
Beberapa orang yang tadinya tertarik pada budak tersebut mengalihkan pandangan pada Zhang Me, mereka tak menyangka seorang gadis kecil menawarkan harga yang cukup tinggi hanya untuk membeli budak.
"I-ini, kau membeli mereka dengan jumlah sebanyak ini?" tanyanya tak percaya.
Zhang Me mengangguk kemudian melirik pada kedua pemuda yang akan ia beli.
Tanpa berpikir lama, pedagang segera melepaskan ikatan kedua pemuda tersebut.
Kedua pemuda itu tak bergerak dari tempatnya. Mereka berpikir apa yang akan dilakukan gadis kecil itu pada mereka karena berani membeli dengan harga tinggi.
"Mengapa kalian menatapku seperti itu?" ucap Zhang Me pada mereka yang sudah menjadi budaknya.
Mereka jadi gelagapan dan salah tingkah mendengar teguran Zhang Me, tapi dengan cepat mereka bisa mengendalikan diri mereka.
Tak bisa dipungkiri, kecantikan Zhang Me selalu Membuat siapapun yang melihatnya menjadi terhipnotis.
"Bawa aku ke restoran yang menyediakan menu yang paling enak." ujar Zhang Me pergi dari sana dan diikuti kedua budaknya.
Salah satu dari mereka menunjukkan jalan menuju Restoran Daun Persik yang cukup terkenal dengan menu yang juga lezat.
Tak butuh waktu lama mereka tiba disana karena jaraknya memang cukup dekat.
"Cepat masuk." ujar Zhang Me yang merasa sudah tak sabaran.
"Maaf kalian tidak boleh masuk." ucap seseorang yang bertugas menjaga pintu masuk restoran pada kedua budak Zhang Me.
"Mengapa? Mereka akan masuk bersamaku." ucap Zhang Me.
"Maaf, tapi penampilan mereka sangat jelek dan bau. Kenyamanan tamu adalah yang terpenting di restoran ini." sautnya.
Zhang Me terdiam, apa yang dikatakan penjaga itu memang benar. Tapi, tidak ada yang boleh menentang setiap keputusan yang diinginkannya.
Zhang Me langsung meraih belati yang ada dibalik jubahnya dan menempelkannya pada leher penjaga tersebut.
"Apa kau masih ingin hidup?" tanya Zhang Me dengan nada mengancam.
Penjaga tersebut merasakan sesuatu seperti ketakutan yang luar biasa, ini yang pertama kalinya ia merasakan hal seperti itu.
Entah mengapa saat menatap mata Zhang Me ia menjadi tak berdaya dan merasa terintimidasi.
"Ba-baik, kalian boleh masuk." ucapnya cepat.
Zhang Me tersenyum dan menyimpan kembali belatinya lalu meminta budaknya untuk segera masuk.
Budak Zhang Me sendiri masih melayang layang dengan pikiran mereka masing-masing.
Mereka memikirkan bagaimana mungkin petugas keamanan yang ditugaskan untuk menjaga pintu Restoran Daun Persik yang memiliki kemampuan cukup kuat dapat ditundukkan dengan mudah hanya dengan ancaman dari gadis kecil.
Sedangkan Zhang Me dengan santai melangkah mendekati pelayan dan berkata, "Aku ingin memesan makanan yang paling lezat ditempat ini." ucap Zhang Me.
"Tapi nona muda, itu akan sangat mahal." saut pelayan sambil tersenyum ramah.
"Aku tidak peduli, yang penting aku bisa menikmatinya." balas zhang Me.
"Baiklah, kalau begitu nona muda bisa menunggu dilantai tiga."
Zhang Me mengangkat satu alisnya, "Mengapa harus lantai tiga?" tanyanya.
"Karena nona memesan makanan yang paling lezat dan tentu saja yang paling mahal, berarti secara otomatis nona adalah pengunjung spesial." jelas pelayan antusias.
Zhang Me mengangguk tanda mengerti dan mengikuti arahan pelayan untuk kelantai tiga.
__ADS_1
Pelayan itu tersenyum senang melihat kepergian Zhang Me, ia akan mendapat tambahan gaji setiap ada yang memesan menu spesial.
Namun ia merasa sedikit heran pada dua pemuda dengan penampilan mengenaskan sedang mengikuti gadis kecil yang baru saja memesan makanan.
Disisi lain, lagi-lagi Zhang Me menjadi pusat perhatian saat berjalan menaiki lantai tiga.
Kecantikan misterius yang dimilikinya membuat siapapun enggan untuk mengalihkan pandangan darinya.
Zhang Me yang berjalan didepan berbalik menatap kedua budaknya, "Apa aku terlihat sangat cantik hingga mereka tak bisa melepas pandangannya dariku?" tanya Zhang Menunjuk kearah pengunjung dengan sudut matanya.
"Tuan kau memang sangat cantik." salah satu dari mereka tak sengaja mengeluarkan kata itu.
Zhang Me tersenyum dan mengedikkan bahu lalu melanjutkan berjalan kelantai tiga.
Saat tiba diatas, Zhang Me memilih duduk di kursi yang dekat dari jendela.
Dilantai tiga sendiri hanya terdapat 7 meja untuk pengunjung, dan saat ini tidak ada siapapun dilantai tiga kecuali dirinya dan kedua budaknya.
"Mengapa kalian berdiri? Cepat duduk." ucap Zhang Me melihat budaknya hanya berdiri.
"Maaf tuan, kami merasa tidak pantas semeja dengan anda."
"Cepat duduk atau kubunuh kalian semua." ancam Zhang Me.
Mereka dengan refleks segera duduk karena perkataan Zhang Me adalah perintah mutlak bagi mereka.
"Siapa nama kalian?" tanya Zhang Me menatap mereka satu persatu.
Sedangkan yang ditatap tertunduk malu.
"Aku Gau He..." pria dengan tubuh lebih tinggi menjawab.
"Dan aku Bo Nan..." pria dengan warna kulit gelap menjawab.
Zhang Me mengangguk lalu berkata, "Aku Zhang Me..."
Mereka tersenyum canggung, sekarang mereka tau gadis kecil yang menjadi tuannya bernama Zhang Me.
"Dan jangan panggil aku dengan sebutan tuan." ucap Zhang Me.
Gau He dan Bo Nan saling tatap, "Lalu kami harus memanggilmu apa?" tanya Gau He.
"Apapun yang kalian inginkan, kecuali sebutan tuan." Jawab Zhang Me.
"Bagaimana jika putri kecil?" usul Bo Nan.
"Tidak, tidak. Lebih baik jika nona manis." saut Gau He.
Zhang Me tersenyum sambil mengibaskan tangannya, "Terserah kalian sajalah..."
Ditengah pembicaraan mereka, tiba-tiba saja masuk sekelompok orang yang duduk tidak jauh dari kelompok Zhang Me.
Mereka menatap kemeja Zhang Me dengan tatapan menghina membuat Zhang Me sedikit kesal.
Tak lama setelah itu makanan yang dipesan Zhang Me tiba dan diantarkan oleh dua pelayan.
Pelayan tersebut meletakkan semua pesanan diatas meja dan betapa kaget nya Zhang Me saat melihat apa yang disajikan untuknya.
Zhang Me menutup mulutnya dengan kedua tangan karena perutnya terasa diaduk-aduk hingga membuatnya mual.
Dengan susah payah Zhang Me menahan diri untuk tidak mengeluarkan isi perutnya.
Zhang Me melotot menatap kedua pelayan dan berteriak, "Makanan apa ini?! Apa ini yang disebut makanan yang paling lezat?!" bentak Zhang Me.
Kedua pelayan tersebut kebingungan, apa yang mereka sajikan memang makanan yang paling lezat direstoran Daun Persik.
"Putri kecil tenang lah." ujar Bo Nan berusaha menenangkan Zhang Me yang sedang marah.
"Cepat panggil pemilik restoran ini, atau akan kuratakan bangunan ini dalam sekejap!" teriak Zhang Me.
Saat ini ia sangat marah karena makanan yang disajikan untuknya tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Bagaimana tidak? Makanan yang disebut makanan paling lezat adalah semangkok kuah dengan jari-jari manusia yang mengapung diatasnya.
Bukan hanya itu, terdapat juga sebuah hati manusia yang dihidangkan dengan potongan daging yang diketahui oleh Zhang Me adalah daging manusia dan masih banyak lagi hidangan lain dari organ tubuh manusia.
Tentu saja itu membuat Zhang Me murka, karena Zhang Me akan menjadi serigala buas saat sedang lapar.
Terima kasih sudah membaca.
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu mendukung cerita ini yaa...
Salam sayang dari author hehe