
Setelah acara Turnamen usai semua orang bergegas kembali pulang berbeda dengan pengunjung yang datang dari luar kota. Mereka memilih untuk mencari penginapan untuk beristirahat malam ini dan kembali esok hari.
Termasuk ketiga Patriark dari kelima sekte besar aliran putih yang ada di kekaisaran Qing yaitu Mie Muxin Patriak dari Sekte Telaga Biru, Yue Shen Patriak dari Sekte Bulan Sabit, dan Tao Ming, Patriak dari Sekte Gunung Salju.
Sebenarnya kekaisaran telah menawari mereka untuk istirahat di istana namun mereka menolak kecuali Cao Xueqin dan Li Jun Jian yang memilih beristirahat diistana kekaisaran.
Bersama dengan murid-muridnya, ketiga Patriark tersebut sepakat untuk istirahat di sebuah penginapan mewah yang ada di kota Lehan dan kembali besok pagi.
Mereka semua bergegas membersihkan diri dan bersiap-siap untuk makan malam bersama disebuah kedai mewah yang berada tidak jauh dari penginapan mereka.
Kedai tersebut adalah kedai Bunga Kersen Hijau yang baru saja buka. Kemewahan dan keindahan yang ada pada kedai tersebut memang tidak bisa untuk diabaikan.
Saat segerombolan Patriark sekte terbesar dan terkuat di kekaisaran Qing tiba disana tentu saja mendapat perhatian penuh termasuk pemilik kedai, Li An.
"Suatu kehormatan karena para orang-orang hebat ini bersedia mampir dikedai ini." ucap Li An menyambut mereka.
"Tentu saja, kau patut merasa beruntung." balas Mie Muxin sedikit angkuh.
"Baiklah, aku akan mengantar kalian ke ruang VIP." kata Li An.
Ia menyampaikan bahwa kehadiran mereka sangat berarti sehingga Li An dengan senang hati membuat mereka menempati ruang VIP yang berada dilantai empat dengan fasilitas yang lebih dari yang lainnya.
Dengan antusias Li An juga meminta kepala dapur untuk menyiapkan makanan yang istimewa dan lezat untuk mereka semua.
"Ayah!" tiba-tiba teriakan keras yang memekikkan telinga memenuhi seisi ruangan lantai dasar.
Zhang Me dengan santai berjalan masuk ke kedai sambil melambaikan tangannya pada Li An lalu memeluk dan menciumi pipi Li An gemas.
"Me'er hentikan, saat ini sedang banyak orang." ucap Li An berbisik pelan pada Zhang Me.
"Biarkan saja, dimana ibu?" tanya Zhang Me.
"Dia sedang didapur." jawab Li An.
"Aiss, ibu sangat keras kepala, bukankah sudah kubilang untuk beristirahat saja." omel Zhang Me sambil berjalan menuju dapur.
Fang Je yang datang bersamanya memilih untuk menghampiri Li An dan membantu jika ada yang dibutuhkan.
Sementara Zhang Me sudah berkeliaran disekitar dapur. Menyapa dan mengerjai para pelayan yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuk para pengunjung.
"Waahhh, makanan ini kelihatan sangat lezat, biar kucoba sedikit saja..." kata Zhang Me dan meraih makanan yang baru saja selesai dihidangkan.
"Yaampun nona, makanan itu untuk tamu VIP." omel salah satu pelayan.
"Biarkan saja..." balas Zhang Me tak peduli.
"Biar kucoba ini juga." tambah Zhang Me.
"Tuan! lihatlah nona Zhang Me, dia memakan semua makanan untuk pengunjung." adu pelayan karena stres dengan kelakuan Zhang Me.
"Hahaha." Sedangkan Zhang Me tertawa puas atas penderitaan orang.
"Me'er..." tegur Meng Ye keluar dari bagian lain dapur.
Melihat ibunya, Zhang Me tersenyum senang lalu mendekat dan memeluk Meng Ye.
"Kau darimana saja? Kau tidak membuat masalah lagi kan?" tanya Meng Ye.
__ADS_1
"Apa maksudmu ibu, tentu saja tidak. Aku hanya mengajak Jeje untuk bermain-main disekitar sini." jawab Zhang Me.
"Benarkah?" tanya Meng Ye memastikan dan dibalas anggukan oleh Zhang Me.
"Apa ibu baru saja memasak?" tanya Zhang Me saat mendapati tubuh ibunya beraroma rempah-rempah.
Meng Ye mengangguk dan berkata, "Ibu harus membantu mereka karena pengunjung sangat ramai."
"Kau seharusnya istirahat ibu, aku akan mencarikan banyak pelayan agar kau tidak bersusah payah lagi."
Meng Ye tersenyum. Ia menghangat mendengar perkataan Zhang Me yang sangat peduli dengannya. Para pelayan pun ikut terpanah karena kepedulian Zhang Me terhadap Meng Ye.
"Kau sungguh anak yang baik." kata Zhang Me.
"Ah, ibu membuatku malu saja." balas Zhang Me dengan ekspresi malu-malu membuat Meng Ye tersenyum geli.
"Kau istirahat lah ibu, aku juga ingin kekamarku." tambah Zhang Me berlalu meninggalkan Meng Ye.
Kedai Bunga Kersen Hijau di bangun dengan tingkat lima atau memiliki lima lantai. Lantai dasar hingga lantai empat digunakan untuk pengunjung kedai dimana lantai empat adalah ruang VIP.
Sedangkan lantai lima atau lantai paling atas terdapat beberapa kamar yang dibuat untuk digunakan oleh Li An, Meng Ye, Zhang Me dan bahkan kamar untuk Fang Je juga ada dan sisanya untuk siapapun yang ingin menempatinya, baik pelayan atau pekerja di kedai yang ingin istirahat.
"Jeje!" panggil Zhang Me saat keluar dapur.
Fang Je yang sedang mengobrol dengan Li An tak sadar langsung mengumpat karena teriakan Zhang Me membuat jantungnya terasa ingin melompat keluar dan kemudian meminta ijin pada Li An untuk menghampiri Zhang Me.
"Ada apa? Suara mu itu sangat menggangu telingaku." protes Fang Je tak suka.
"Kau sangat berisik Jeje, aku ingin kekamarku dan cepat gendong aku." ucap Zhang Me langsung menaiki punggung Fang Je tanpa memperdulikan semua pandangan yang mengarah padanya.
Dan tanpa sepengetahuan Zhang Me, sejak ia datang semua pengunjung mulai berbisik tentang nya dengan rasa penasaran.
"Aku merasa pernah melihat gadis itu."
"Kau benar, wajah nya sangat familiar..."
"Tapi dia sangat cantik seperti Dewi..."
"Tapi sepertinya pria tadi adalah kekasihnya."
"Kau benar, bagaimana mungkin gadis secantik dia tak memiliki kekasih? Aku rasa itu sangat mustahil."
"Tuan!"
Li An yang sedang menyambut pengunjung menoleh saat salah satu pengunjung memanggilnya untuk mendekat.
Dengan sikap sopan dan senyum ramah Li An menatap pria muda dihadapannya dan berkata, "Ada yang perlu kulakukan?"
"Apa kau pemilik kedai ini?" tanyanya.
"Iya benar."
"Aku hanya ingin mengatakan bahwa makanan disini sangat lezat, akan disayangkan jika kau tak menyediakan arak."
Li An tersenyum kikuk, selain makanan dan beberapa minuman segar ia tidak menyediakan arak atau minuman yang memabukkan sebab Meng Ye melarangnya.
"Maafkan kami atas ketidak nyamanan mu."
__ADS_1
"Tidak masalah, dan siapa gadis yang tadi memelukmu?" tanyanya lagi.
Ekspresi Li An langsung berubah, ia tahu bahwa yang dimaksud pria didepannya adalah putrinya Zhang Me.
"Dia putriku." jawab Li An datar dan sedikit tegas.
Pria yang bertanya tadi hanya mengangguk menanggapi Li An lalu melanjutkan makannya dan membiarkan Li An berlalu pergi.
Beberapa orang yang mendengar obrolan Li An dan pengunjung tadi mulai memikirkan cara agar bisa mendekati Zhang Me.
Sedangkan Zhang Me yang digendong Fang Je hanya tersenyum puas dibelakang membalas tatapan semua orang setiap kali ia dan Fang Je berlalu melewati ruangan demi ruangan yang penuh dengan pengunjung.
Hingga mereka sudah berada di lantai empat dan mendapati banyak orang yang sedang asik mengobrol.
Namun kedatangannya membuat semua orang yang ada disana menjadi diam dan menatapnya serta tiba-tiba menjadi kaku saat melihat kehadiran Zhang Me.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Fang Je berhenti berjalan saat salah satu diantara mereka berbicara pada Zhang Me.
"Apa kau mengikuti kami?"
"Apa salah satu diantara kami ada yang telah menyinggungmu?"
"Atau kau berubah pikiran dan ingin bergabung di salah satu Sekte kami?"
"Katakan apa kau ingin bergabung di sekte Bulan Sabit?"
"Tidak, dia pasti ingin bergabung di sekte Gunung Salju."
"Kalian terlalu berharap, tentu saja ia akan bergabung di sekte Telaga Biru, benar kan?"
Tao Ming, Mie Muxin dan Yue Shen mulai adu mulut berusaha membuat Zhang Me tertarik sebab besar harapan mereka menginginkan Zhang Me bergabung disekte mereka.
"Apa kalian tidak waras? Kedai ini adalah milik ayah dan ibuku jadi aku bisa berada disini kapanpun aku mau." ucap Zhang Me.
"Dan berhenti membujukku, aku tidak tertarik pada satupun sekte kalian." lanjutnya.
"Hei, gadis sombong! Berhenti menghina kami seperti itu!"
Seorang gadis manis berambut pendek membuka suaranya dan menatap Zhang Me sinis. Dilihat dari pakaiannya gadis itu berasal dari Sekte Telaga Biru, dia adalah Ha Ram, gadis yang sempat membuat Zhang Me tertarik saat di Turnamen.
Zhang Me menyipitkan matanya menatap Ha Ram dan berkata, "Tutup mulut mu jika kau masih menyayangi nyawamu." ucap Zhang Me pelan namun terasa seperti senjata berbahaya yang mampu membuat Ha Ram bungkam seketika.
Zhang Me kemudian melototkan matanya pada Ha Ram sambil menggigit bibir bawahnya mengancam dan eminta Fang Je untuk segera ke kamarnya.
Reaksi Zhang Me membuat mereka saling menatap dan timbul sedikit rasa kuatir karena telah menyinggung Zhang Me termasuk Ha Ram namun ia hanya berusaha untuk tetap bersikap biasa saja.
Tak lama beberapa pelayan datang dengan membawa nampan berisi makanan untuk para tamu VIP.
"Hei kau!" panggil Mie Muxin saat salah satu pelayan yang membawa makanan berlalu begitu saja.
"Kau ingin kemana dengan makanan ditanganmu?"
"Makanan ini untuk Nona Zhang Me." jawab pelayan tersebut.
"Putri dari pemilik kedai ini." tambah pelayan lain yang sedang menyajikan makanan didepan Mie Muxin.
__ADS_1