The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)

The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)
Chapter 37- Turnamen III


__ADS_3

Di istana kekaisaran tepatnya di lokasi diadakannya Turnamen, para penonton menatap serius pada potongan plakat yang melayang.


Potongan-potongan plakat tersebut adalah milik seluruh peserta yang sedang menjalankan Babak Kedua di Hutan Keramat.


Para peserta yang berhasil membunuh Binatang Buas otamatis potongan plakat miliknya yang diletakkan di kotak akan melayang dan menunjukkan nama dan jumlah binatang yang telah mereka bunuh.


Salah satunya adalah potongan plakat milik Mi Yue yang melayang diudara dan menunjukkan angka satu serta memancarkan cahaya berwarna ungu yang pertanda ia telah membunuh satu Binatang Buas tingkat tinggi.


Ada tiga pembagian warna sesuai dengan tingkatan Binatang Buas.


Saat Plakatnya berwarna Putih maka peserta berhasil membunuh Binatang Buas tingkat rendah, sedangkan Biru untuk Binatang Buas tingkat sedang dan Ungu untuk Binatang Buas tingkat Tinggi.


Makanya Plakat milik Mi Yue menjadi perhatian karena plakat miliknya menjadi satu-satunya yang memancarkan cahaya berwarna ungu.


Para penonton cukup menyayangkan ini karena mereka tidak bisa melihat para peserta bertarung melawan Binatang Buas membuat mereka merasa sedikit kecewa.


"Andai saja kita dapat melihat para peserta bertarung, mungkin ini akan sangat menyenangkan..."


"Kau benar, aku merasa jenuh jika hanya melihat plakat-plakat itu melayang..."


"Ya kau benar, sangat membosankan..."


"Pergi saja ke Hutan Keramat jika ingin melihatnya..."


Disisi lain di Hutan Keramat, para peserta sedang berjuang melawan setiap Binatang Buas yang menghampiri mereka.


Mereka cukup kewalahan, ternyata jumlah Binatang Buas yang ada di Hutan Keramat sangatlah banyak.


Binatang Buas yang ada disana cukup cerdik, mereka berkelompok menyerang para peserta sehingga mereka kesusahan untuk menghadapinya.


Bahkan belum cukup lama mereka berada di Hutan Keramat tapi sudah ada beberapa peserta yang mematahkan plakatnya sehingga mereka langsung kembali ke lokasi Turnamen.


Berbeda dengan Zhang Me yang sudah sejak tadi bersandar santai di bawah pohon rindang sambil memejamkan matanya menikmati tidur panjang yang menenangkan hingga lupa apa tujuannya datang ke Hutan Keramat.


Namun, tiba-tiba salah seorang pria muncul dan melihat keberadaan Zhang Me sehingga membuatnya berhenti sejenak.


Wajah Zhang Me yang bercadar membuatnya semakin penasaran. Dari jarak yang cukup jauh ia melempar Zhang Me dengan batu kecil beberapa kali.


Zhang Me yang terganggu membuka matanya dengan kesal. Ia menatap seorang pria yang juga tengah menatapnya, lalu kemudian kembali memejamkan mata bersikap tak peduli.


Pria yang mendapat perlakuan seperti itu dari Zhang Me menganga tak percaya. Seharusnya Zhang Me merasa kuatir dan waspada, pikirnya.


Pria itu kembali melemparnya dengan batu kecil, dalam hati Zhang Me berkata, "Jika sekali lagi pria itu melemparku maka aku akan membunuhnya."


"Hei, siapa kau?" tanya pria tersebut.


"Apa perlu kau mengetahuinya?" saut Zhang Me tanpa membuka matanya.


Pria tersebut mengerutkan kening mendengar suara Zhang Me, ia menyadari bahwa orang yang diajaknya bicara adalah seorang wanita.


"Apa kau salah satu dari peserta yang mengikuti Turnamen? dan berniat membunuh Binatang Buas disini?" tanyanya.


"Ya." jawab Zhang Me.

__ADS_1


"Berapa banyak yang telah kau bunuh?" tanyanya lagi.


Zhang Me membuka matanya dan melotot pada pria dihadannya lalu berkata, "Belum ada, memang kenapa? Dasar pria menyebalkan, cepat pergi dari sini!" usir Zhang Me.


"Kau yang seharusnya pergi dari sini, ini adalah tempatku." balasnya.


Zhang Me memandang pria tersebut dari atas sampai bawah setelah mendengar perkataannya. Dari awal ia mengira bahwa pria ini adalah salah satu peserta sepertinya tapi apa yang baru saja dikatakan membuat Zhang Me curiga.


"Kau tinggal disini?" tanya Zhang Me.


"Tentu saja." jawabnya.


"Apa kau bukan peserta seperti aku?" tanya Zhang Me lagi.


"Tentu saja bukan, aku tidak akan pernah mau sama seperti kalian yang sangat keji dan selalu menyerang bahkan membunuh kami tanpa sebab!" katanya penuh penekanan.


Zhang Me cukup terkejut mendengar jawaban yang dilontarkan, padahal para peserta hanya membunuh Binatang Buas, bukan Manusia. Atau mungkin ada peserta yang diam-diam membunuh manusia yang tinggal di daerah Hutan Keramat?


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Zhang Me lagi.


Ia mulai tersadar bahwa bisa saja atau mungkin di daerah Hutan Keramat terdapat sebuah desa atau apapun itu dimana para manusia tinggal. Tapi di tempat bahaya seperti Hutan Keramat apa ada yang mampu bertahan hidup disekitar sini?


Zhang Me dilema dengan pikirannya sendiri, rasa penasaran yang menggebu-gebu membuatnya harus mencari tau kebenarannya.


Pria yang ditanya Zhang Me tidak menjawab, ia menjadi gugup dan menjadi salah tingkah membuat Zhang Me semakin curiga akan sesuatu.


Zhang Me berdiri, ia menatap pria tersebut dan menganilisnya.


Zhang Me berkerut setelah menganalisis pria dihadapannya, ada sesuatu yang aneh, pria dihadapannya sangat berbeda dari manusia pada umumnya.


"Cepat katakan, kau siapa?" tanya Zhang Me sangat penasaran.


"Apa kau..." kata Zhang Me terpotong.


Pria itu langsung menyerang Zhang Me dan terjadilah pertarungan diantara mereka.


Zhang Me yang tidak siap harus menerima serangan pria tersebut dan mendapatkan luka cakar pada lengannya.


"Kuku-kuku tanganmu itu sangat menyebalkan..."


Zhang Me melihat lukanya sambil tersenyum lalu menghalang serangan pria tersebut. Ia membiarkan pria itu terus menyerangnya sehingga ia berada pada posisi bertahan dan berlanjut dalam waktu yang cukup lama.


Pria tersebut menjadi kesal karena merasa dipermainkan hingga ia tidak sadar bahwa ia telah lengah dan memberikan kesempatan pada Zhang Me untuk melancarkan serangannya.


Pertarungan terus berlanjut, setiap kali Zhang Me memiliki kesempatan untuk menyerang, ia hanya akan memberikan sebuah pukulan ringan membuat pria tersebut bertanya-tanya apa maksud dari Zhang Me.


"Apa maksudmu?" tanyanya berhenti bertarung.


"Ada apa?" saut Zhang Me.


"Katakan mengapa kau hanya memberiku pukulan yang tidak berarti seperti tadi?"


Zhang Me tampak terlihat sedang berpikir dan berkata, "Entahlah, aku hanya merasa tak ingin melukaimu..."

__ADS_1


"Kecuali..."


Pria tersebut mengerutkan keningnya, "Kecuali apa?"


"Kecuali jika kau tidak memberitahu siapa kau, maka aku bisa saja membunuhmu." jawab Zhang Me.


Pria tersebut tertawa keras mendengar perkataan Zhang Me, "Apa kau gila? kau bahkan tidak bisa melukaiku!" katanya bangga.


Srett!


Pria tersebut berhenti tertawa, ia menegang dan wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Ia menatap sebuah goresan panjang dan sangat dalam yang dihasilkan Zhang Me di tubuhnya pada bagian dada hingga perut.


Kini tatapannya pada Zhang Me berubah menjadi horor. Orang yang berdiri didepannya adalah monster yang mampu melukainya bahkan hanya sekejap mata.


Zhang Me menyentuh darah dari luka pria tersebut menggunakan jari telunjuknya lalu mencicipinya dibalik cadar dan berkata, "Emm, darahmu sangat manis."


Pria tersebut melotot tak percaya, ia tidak menyangka bahwa wanita didepannya akan melakukan sesuatu seperti itu.


Selang beberapa detik tubuh mereka memancarkan cahaya yang sama, cahaya berwarna abu-abu.


"Hm? cahaya apa itu?" tanya Zhang Me menyadarinya.


Pria tersebut hanya diam, ia menatap lukanya yang tak hentinya mengeluarkan darah segar dan membuatnya segera melepas baju dan merobeknya lalu kemudian ia gunakan untuk menutup lukanya. Zhang Me yang melihatnya entah mengapa menjadi cemas dan gelisah.


"Apa yang terjadi padaku?" kata Zhang Me membatin.


Untuk pertama kalinya ia merasa bersalah setelah melukai seseorang. Ia kemudian mengambil sesuatu dari balik jubahnya lalu diberikan pada pria tersebut.


"Taburkan ini pada lukamu." kata Zhang Me menyerahkan sebuah botol kecil yang berisi bubuk berwarna kuning pudar.


Pria tersebut meraih dan memperhatikannya teliti lalu berkata, "Apa ini?"


"Taburkan saja..." jawab Zhang Me lalu berjalan pergi dari sana.


Pria tersebut membuka tutup botolnya lalu ditumpahkan pada luka yang ada pada dada hingga perut lalu kemudian ia merasakan perih yang amat sangat dan setelah itu lukanya perlahan tertutup dan mengering seketika.


Ia cukup terkejut dan kagum dengan bubuk yang diberikan Zhang Me, meskipun tidak menghilangkan bekas lukanya tapi setidaknya lukanya bisa sembuh dengan sangat cepat.


Ia kemudian segera berlari untuk menyusul Zhang Me yang sudah berada jauh didepannya.


Saat sudah berada dekat dibelakang Zhang Me, ia hanya diam mengikuti dari belakang hingga sebuah cahaya menyelimuti tubuh Zhang Me membuatnya terkejut bukan main.


"Dia..." katanya terpotong.


"Auuuuuuuuu...!!"


Raungan Serigala tiba-tiba memenuhi seluruh hutan membuat Zhang Me berhenti berjalan dan menjadi waspada saat mendengar suara raungan serigala itu sangat dekat darinya.


***


Saya ucapkan terimakasih sudah membaca dan jangan lupa untuk selalu men support aku yaa^^


Aku juga mohon maaf karena keterlambatan update, itu disebabkan suatu kendala dan untung saja pihak nt/mt bisa membantu, jadi saya ucapkan terimakasih pada pihak nt/mt:)

__ADS_1


__ADS_2