
Perjalanan yang akan ditempuh Lang Ruo dan gerombolannya menuju istana tidaklah jauh, sebab kota Lehan adalah ibu kota sekaligus kota yang paling dekat dengan Istana Kekaisaran Qing.
Disepanjang perjalanan Mo Ahn Dong mengoceh mengenai Zhang Me, ia tak mempercayai bahwa gadis kecil itu yang telah meracuni Mo Xun.
Tak lama kemudian, akhirnya mereka mencapai gerbang utama Istana Kekaisaran Qing dan mendapati seseorang sedang dihalang oleh penjaga gerbang.
Lang Ruo turun dari atas kuda dan menyerahkan kudanya pada pengawal, diikuti oleh Mo Ahn Dong dan murid sekte Anggrek putih yang ikut bersamanya lalu kemudian menghampiri penjaga gerbang.
"Apa yang terjadi?" tanya Lang Ruo.
"Untung lah kau baru tiba, mereka berusaha menghentikanku untuk tidak memasuki istana..."
Lang Ruo mengerutkan kening, ia tak mengetahui siapa gadis bercadar yang ada dihadapannya.
Mengerti raut wajah Lang Ruo, gadis bercadar itu membuka cadarnya dan memperlihatkan wajahnya pada Lang Ruo.
Lang Ruo lagi-lagi terpesona, gadis bercadar itu adalah Zhang Me.
"Maaf pangeran, dia terlihat mencurigakan, kami hanya tidak ingin ada penyusup memasuki istana..." ungkap salah satu penjaga.
"Buka gerbang nya, dia akan masuk bersamaku..." kata Lang Ruo.
Penjaga tersebut mengangguk dan segera membuka gerbang.
"Siapa dia? mengapa harus ikut bersama kita?" tanya Mo Ahn Dong pelan pada Lang Ruo tapi masih dapat didengar oleh Zhang Me.
"Dasar kakek tua..." ledek Zhang Me.
Mo Ahn Dong melototkan matanya geram, ia tau siapa yang ada dibalik cadar tersebut.
Ia ingat sekali dengan gadis yang menyebutnya kakek tua, tapi ia merasa heran bagaimana bisa Zhang Me bisa tiba lebih dulu dari mereka? pikir Mo Ahn Dong menerka-nerka
Kemudian gerbang utama terbuka, membuyarkan lamunan Mo Ahn Dong dan segera memasuki istana bersama dengan yang lainnya.
Zhang Me mengedarkan pandangannya keseluruh halaman istana yang sangat luas. Begitu indah dan asri.
Banyak pepohonan hijau, bunga-bunga indah yang tumbuh subur disekitaran istana, terdapat pula gazebo yang disuguhkan dengan kolam buatan yang tak kalah indah.
__ADS_1
Didalam istana sendiri, sangat megah dan begitu memanjakan mata. Tak bisa dipungkiri, Istana Kekaisaran Qing memang sangat menakjubkan, Zhang Me pun mengakuinya.
"Istana ini sangat indah, jika suatu hari ada keluarga kekaisaran yang berani mengusikku, maka istana ini akan kujadikan milikku..." batin Zhang Me licik.
"Aku akan langsung mengantarmu untuk menemui Mo Xun..." ucap Lang Ruo ditengah jalannya.
Zhang Me mengangguk dan berjalan beriringan disamping Lang Ruo, diikuti oleh Mo Ahn Dong dan murid sekte Anggrek Putih yang ikut bersamanya tadi.
Dengan Istana yang begitu luas, cukup membutuhkan waktu untuk keruangan Mo Xun, dan dari jarak sepuluh langkah, Zhang Me dapat melihat jelas ada banyak orang yang berkumpul di depan pintu suatu ruangan yang sudah dipastikan adalah tempat Mo Xun dirawat.
"Salam kaisar..."
"Salam ayah..."
Kecuali Zhang Me, Lang Ruo dan Mo Ahn Dong beserta muridnya menunduk memberi salam penghormatan pada kaisar yang memimpin kekaisaran Qing, yaitu kaisar Lang Baeyou.
Semua tatapan mengarah pada Zhang Me yang hanya diam berdiri ditempatnya tanpa memberikan penghormatan pada Kaisar Lang Baeyou.
Lang Ruo sendiri tak heran, ia ingat dengan jelas dengan Zhang Me yang tak menunduk padanya saat pertama kali bertemu.
"Kau benar adik, siapapun harus menunduk saat bertemu dengan ayah..." saut Lang Yizo, ia adalah Pangeran kedua, saudara kembar dari Lang Yiyie.
Zhang Me hanya diam tak peduli, ia meletakkan kedua lengannya didepan dada sambil memberikan tatapan tajamnya, baginya tak penting untuk meladeni mereka.
"Hei! Apa kau bisu? atau tuli ha?!" gertak Lang Yiyie.
"Kakak, siapa yang kau bawa ini? Dia menyebalkan sekali..."
"Bisakah kau diam? Kau sangat mengganggu..." ucap Zhang Me dingin.
"Dia adalah orang yang telah meracuni Mo Xun, dan dia akan segera menyembuhkannya..." jelas Lang Ruo.
"Oh, jadi kau yang telah meracuni kakak Xuxun ya, akan ku balas kau!"
"Tunggu!"
Lang Yiyie baru saja ingin memasang ancang-ancang untuk menyerang Zhang Me tapi dihalangi oleh Lang Ruo.
__ADS_1
"Cepat bawa aku menemui pria bodoh itu agar aku bisa segera menyembuhkannya dan pergi dari sini, kalian benar-benar membuatku muak..." ucap Zhang Me pada Lang Ruo.
Lang Ruo mengangguk saja lalu menuntun Zhang Me memasuki ruangan tersebut untuk menemui Mo Xun dan meninggalkan Lang Yiyie dengan perasaan kesal.
Di dalam ruangan, Zhang Me dapat melihat Mo Xun yang terbaring lemah ditempat tidur dan ada banyak alkemis yang tengah merawatnya.
Para Az lkemis memberi penghormatan pada Lang Ruo lalu keluar ruangan saat Lang Ruo memberi kode.
Zhang Me duduk disisi tempat tidur sambil memperhatikan wajah pucat Mo Xun dan berkata, "Kau sangat beruntung karena aku tidak akan membiarkan siapapun lolos setelah menyinggungku ataupun keluargaku, tapi karena kau pria bodoh, jadi ya sudahlah aku biarkan..."
Lang Ruo terperangah mendengar perkataan Zhang Me, ia tak mengerti bagaimana jalan pikiran gadis kecil itu.
"Aku sangat menikmati wajah kesakitannya ini, aku ingin membiarkannya menahan sakit sebentar lagi, tapi pria bodoh ini sangat lemah."
"Aisss, benar-benar membosankan..."
Lang Ruo hanya menggelengkan kepalanya, sedari tadi Zhang Me hanya mengoceh membuatnya benar-benar geram.
Zhang Me berdiri dari tempatnya lalu berjalan keluar ruangan.
"Kau mau kemana?" tanya Lang Ruo.
Zhang Me berhenti dan menoleh, "Apa maksudmu? aku telah mengobatinya, untuk apa aku harus berlama-lama disini?" katanya.
Lang Ruo menganga tak percaya, mengobati? kapan? ia bahkan tak melihat Zhang Me melakukan apapun, pikirnya.
Zhang Me berjalan pelan mendekati Lang Ruo, "Apa kau ingin melakukan sesuatu bersamaku?" bisik Zhang Me ditelinga Lang Ruo sambil memberikan sentuhan pada wajah Lang Ruo.
Lang Ruo memejamkan matanya seolah menikmati sentuhan Zhang Me, Jantungnya kembali berdebar dan jaraknya yang begitu dekat dengan Zhang Me membuatnya sulit untuk bernafas.
"Dasar bodoh..." rutuk Zhang Me lalu berjalan keluar.
Lang Ruo hanya tersenyum senang mendengar rutukan Zhang Me seperti orang yang sedang kasmaran.
"Tidak tidak..." Lang Ruo menggelengkan kepala, membuyarkan apa yang dipikirkannya.
Saat tersadar, ia melihat Mo Xun sahabatnya yang tidak terlihat pucat lagi membuatnya percaya bahwa Zhang Me telah mengobatinya meskipun sejujurnya ia masih penasaran bagaimana Zhang Me mengobatinya.
__ADS_1