The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)

The Most Wanted Queen (Pindah Dimensi)
Chapter 43- Turnamen IX


__ADS_3

Babak pertarungan antar kelompok telah berakhir dimana kelompok Zhang Me yang keluar sebagai pemenang sekaligus penutup.


Yin Yin mengumumkan bahwa peserta yang masih bertahan tersisa 10 orang karena banyak sekali peserta yang memilih mengundurkan diri demi untuk menyelamatkan nyawanya, dan peserta yang tersisa ialah kelompok Zhang Me dan sikembar Pa Chin dan Pe Chin.


Yin Yin juga mengatakan bahwa di babak selanjutnya peserta diberikan kebebasan untuk memilih siapa yang akan menjadi lawan mereka dan bertarung di arena pertarungan.


Kemudian Yin Yin mempersilahkan peserta untuk berpikir lalu memilih dan memutuskan siapa yang akan menjadi lawannya.


"Aku menantang gadis cantik yang ada disana..." kata Pa Chin menunjuk Zhang Me sambil mengedipkan matanya.


"Aku akan melawan nona Zhang Me." ucap Hui Xin.


"Aku juga!" tambah Mi Yue


"Aku juga akan melawannya." ikut Pe Chin.


Mendengar keputusan mereka Yin Yin menepuk jidatnya pelan dan berkata, "Itu tidak bisa, kalian harus memilih lawan yang berbeda."


"Tidak masalah, aku akan melawan mereka." ungkap Zhang Me.


"Tidak! Kalian tidak boleh seenaknya untuk memutuskan." protes Yin Yin tak suka.


Dengan wajah kecut Yin Yin mengubah pertandingan yaitu membuat para peserta agar mendapat pengakuan.


Ia menjelaskan bahwa di babak ini peserta akan bertarung melawan para juri dan juga tamu kehormatan. Dalam pertarungan ini peserta tidak dituntut untuk menang tapi bagaimana cara mereka mendapatkan pengakuan dari lawannya.


"Jadi aku yang akan menentukan dengan siapa kalian akan bertarung." kata Yin Yin.


Dengan jelas Yin Yin berkata, "Pa Chin bertarung melawan Tao Ming Patriark dari Sekte Gunung Salju.


"Pe Chin bertarung melawan Mi Muxin Patriark dari Sekte Telaga Biru."


"Hui Xin melawan Yue Shen Patriark dari Sekte Bulan Sabit."


"Me Yui melawan Cao Xueqin Patriark dari Sekte Mawar Perak.


"Yon Li Wei melawan Li Jun Jian Patriark dari Sekte Anggrek Putih."


"Zhou Peigong melawan Bi Xai Pemimpin dari Badik Suci."

__ADS_1


"Wu San Gui melawan Yong Dung Pemimpin dari Giok Kehidupan."


"Kwang Soo Gu akan bertarung melawan He Shen, Pemimpin Kelompok Kelabang Hitam."


"Pangeran kedua Lang Yizo melawan Shen Zue Pemimpin dari Gazuura."


"Dan yang terakhir Zhang Me melawan Feng Lu, Pemimpin dari Organisasi Musang Merah Darah."


Setelah Yin Yin menentukan semuanya ia kemudian mempersilahkan yang pertama kali menaiki arena pertarungan adalah Zhou Peigong yang berasal dari Sekte Gunung Salju melawan Bi Xai, pemimpin dari kelompok Badik suci yang merupakan kelompok aliran putih.


Jika dilihat dari wujudnya Zhou Peigong dan Bi Xai terlihat seumuran namun sebenarnya umur Bi Xai berbeda sangat jauh dengan Zhou Peigong.


Begitulah di dunia ini, saat seseorang memiliki kemampuan yang cukup maka mereka dapat membuat wujudnya terlihat awet muda.


Dengan perasaan was-was, Zhou Peigong berusaha untuk menenangkan dirinya saat berhadapan dengan Bi Xai yang berhasil menekannya meskipun pertarungan belum dimulai.


Langit yang mulai mendung menandakan sore hari tak membuat semangat para penonton dan semua orang dalam menyaksikan Turnamen ini.


Mereka memfokuskan pandangan mereka ke arena pertarungan tepatnya ke arah Zhou Peigong dan Bi Xai.


Terlihat Zhou Peigong sedang memejamkan matanya sebentar dan sesaat kemudian suhu berubah menjadi sangat dingin dan mencekam membuat semua orang harus menghangatkan tubuh menggunakan tenaga dalam.


Aksi Zhou Peigong membuat semua orang terpukau dengan kemampuannya yang mampu mengubah sebuah elemen menjadi objek nyata karena sangat jarang orang yang mampu melakukannya sebab membutuhkan banyak tenaga dalam.


Bi Xai yang merupakan lawannya melakukan kuda-kuda untuk bersiap menerima serangan dari Zhou Peigong.


Zhou Peigong mulai mengayunkan pedang tipisnya ke arah Bi Xai dengan cepat tapi belum cukup cepat untuk seseorang seperti Bi Xai karena serangannya mampu dihalau begitu saja bahkan Bi Xai membuat pedang milik Zhou Peigong patah dan hancur lebur menjadi serpihan es hanya menggunakan jari telunjuknya.


Zhou Peigong sangat terkejut, di sektenya ia merupakan jenius nomor satu pada generasinya dan tidak ada yang bisa mengalahkannya tapi didepan seorang seperti Bi Xai ia tak lebih dari sekedar debu yang tak berdaya.


"Jika kau bisa menyentuh pakaianku maka aku akan mengakuimu." kata Bi Xai sambil tersenyum hangat.


Mendengar perkataan Bi Xai, Zhou Peigong mulai memikirkan cara bagaimana agar ia dapat menyentuh pakaian Bi Xai karena meskipun terdengar mudah tapi sebenarnya sangat sulit untuk dilakukan.


Bi Xai tidak melakukan apapun, ia hanya berdiri diam ditempatnya menunggu apa yang akan dilakukan Zhou Peigong karena ia tidak akan mau menyerang seseorang yang bukan tandingannya apalagi tanpa permasalahan apapun.


Zhou Peigong kembali memunculkan pedang tipis yang terbuat dari es yang kini sudah ada dikedua tangannya dan tanpa pikir panjang ia bergerak menyerang Bi Xai yang hanya mengahalau serangannya tanpa membalas.


Mungkin semua orang menganggap Zhou Peigong bodoh karena memilih untuk menyerang Bi Xai dimana sudah jelas bahwa ia tidak akan mampu mengalahkannya namun sebenarnya itu tidak semudah kelihatannya.

__ADS_1


"Aku sudah menyentuh pakaianmu bahkan berhasil mendapatkannya." ucap Zhou Peigong menaik turunkan alisnya menggoda sambil menunjukkan sebuah robekan pakaian berukuran kecil milik Bi Xai.


Semua orang menganga tak percaya merasa kagum dengan kecerdasan Zhou Peigong. Sebenarnya Zhou Peigong menyerang Bi Xai hanya untuk mengalihkan perhatiannya tanpa menyadari bahwa disetiap serangan Zhou Peigong menyebabkan lelehan air yang ada di pedang esnya mengenai pakaian Bi Xai dan dengan cara itu ia mengendalikan lelehan air tersebut kembali menjadi es dan merobek pakaian Bi Xai.


"Baiklah aku mengakuimu." kata Bi Xai kesal karena sudah merasa tertipu oleh Zhou Peigong.


Yin kemudian mempersilahkan mereka menuruni arena pertarungan dan meminta Zhang Me dan Feng Lu yang kemudian akan menjadi lawan diatas arena pertarungan.


Feng Lu yang berhadapan dengan Zhang Me berdiri kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia tak tau harus bagaimana, apa ia harus melawan pemimpinnya sendiri? pikirnya.


Zhang Me yang mengerti apa yang dipikirkan Feng Lu berusaha untuk menahan tawanya dan melangkah satu langkah kedepan kearah Feng Lu.


"Aku mengakuimu!" sontak Feng Lu langsung berteriak.


"Hahaha!" Zhang Me tidak bisa lagi menahan, ia tertawa melihat Feng Lu yang panik padahal ia hanya melangkah bukan menyerangnya.


Semua orang menatap Feng Lu karena merasa heran saat Feng Lu tiba-tiba mengakui Zhang Me tanpa harus melakukan apapun bahkan dengan suara panik.


Feng Lu berusaha untuk mengatur napasnya dan berkata tenang, "Aku tidak harus melawanya untuk mengakuinya kan? lagipula aku dapat melihat bahwa anak ini memiliki potensi yang luar biasa." ungkap Feng Lu mengerti tatapan semua orang yang seolah-olah bertanya.


Pertarungan antara peserta dan juri serta tamu kehormatan berjalan lancar dan kali ini tidak ada gangguan sama sekali.


Beberapa peserta sudah mendapat pengakuan dan ada juga yang tidak hingga kini tiba saatnya pertarungan terakhir antara Mi Yue  dan Cao Xueqin, Patriark dari Sekte Mawar Perak.


Diatas arena Cao Xueqin menatap Mi Yue, sebenarnya ia merasa sedikit kecewa dan malu karena tak ada satupun peserta yang berasal dari sektenya yang berhasil lolos pada babak ini.


"Aku tidak akan mempersulit dirimu, kau cukup tunjukan kemampuanmu yang paling kau andalkan dan buat aku terkesan."


Mi Yue tampak berpikir, ia menoleh kearah Hui Xin yang berada di bawah arena dengan ekspresi cemas menatap Mi Yue. Ia terlihat bingung apa yang akan ia tunjukkan pada Cao Xueqin.


Sedetik kemudian Mi Yue tersenyum miring dan auranya mendadak berubah membuat Zhang Me mengerutkan kening melihat perubahan Mi Yue yang sangat drastis.


Mi Yue melambaikan tangan diudara dan tiba-tiba muncul sebuah pisau kecil di tangannya lalu kemudian menggerakkan tangannya seolah membuat sebuah irisan diudara.


Tidak terjadi apapun hingga Cao Xueqin menyadari terdapat sebuah goresan kecil berada di wajahnya yang mengeluarkan sedikit darah.


"Bagaimana mungkin?" kata Cao Xueqin terkejut bukan main.


Kecuali Zhang Me, penonton dan semua orang tak kalah terkejut melihat kejadian tersebut sebab mereka belum pernah melihat sesuatu yang seperti itu.

__ADS_1


"Aku mengakuimu..."


__ADS_2